Mengunjungi Kampung Muslim Gelgel di Klungkung – Bali (Tulisan 1)

Saya sungguh beruntung,  karena di tahun 2011 ini berkesempatan mengunjungi kampung  Muslim Gelgel di Bali.  Saya sebut beruntung,  karena kunjungan spesial ke kampung muslim Bali ini tentu sangat jarang dilakukan oleh Muslim lain di Indonesia.  Mereka umumnya datang ke pulau dewata,  paling-paling hanya untuk berpiknik atau maksimal  untuk keperluan konferensi. Bahkan, apa dan bagaimana umat Islam di Bali mereka mungkin tidak  tahu atau bahkan tidak mau tahu.

Selama di Bali,  Saya (dan beberapa teman dari Jakarta)  didampingi oleh Ahsanuddin Biks (Bali Islam Candi Kuning).  Pak Ahsan –kami lebih suka memanggil Hasan—memang seorang muslim Bali asli. Dia berasal dari desa Candi Kuning di Baturiti/Bedugul Kabupaten Tabanan.  “Kaum Muslim asal Candi Kuning memang biasa menambahkan nama Biks ketika berhubungan dengan orang di luar Bali.  Sebagai identitas”,  jelas pak Hasan tentang sebutan Bick dibelakang namanya. 

Bersama Hasan Bicks inilah kami bersilaturrahmi mengunjungi kampung-kampung Muslim di pulau Dewata, termasuk khususnya kampung Gel-gel, cikal bakal komunitas muslim di negeri seribu pura ini.   Sedikit orang tahu bahwa meski dikenal sebagai pulau Dewata,  tetapi Bali sebenarnya menyimpan khasanah keislaman yang terhitung luar biasa.  Di seluruh pelosok negeri yang mayoritas Hindu itu,  terselip berbagai kampung Muslim yang berumur sangat tua dengan segala kultur yang ikut mewarnai spektrum sejarah negeri itu. Sejumlah komunitas Muslim di Bali antara lain tersebar di Banjar Saren Jawa di wilayah Desa Budakeling (Karangasem), Gelgel (Klungkung), Kepaon, Serangan (Kota Denpasar), Pegayaman (Buleleng) dan Loloan (Jembrana), dan masih banyak lagi kampung kampung lain yang penduduknya mayoritas Muslim.

Apa dan bagaimanakah  Kampung Gelgel ?   Kampung ini dari pusat kota Denpasar meluncur ke arah timur melalui jalan By Pass melalui jalan pantai di Gianyar dan Klungkung (dengan menempuh sekitar 65 km). Penduduk kampung ini  menurut Kepala Kampung Gelgel, Hanani,  kini (tahun 2011) berjumlah 286 KK.  Mereka dahulunya petani dan pemelihara kuda/dokar, tetapi seiring perkembangan Pariwisata Bali mereka beralih ke usaha konveksi seperti  pakaian, kerajinan daun lontar yang antara lain berisi kaligrafi, bahkan menjadi penyuplai utama pasar Seni Sukawati yang sangat kesohor bagi para wisatawan. ”akibat bom Bali 2002 yang berimbas pada anjloknya jumlah wisatan,  menyebabkan banyak pengrajin Gelgel gulung tikar”, uangkap Kepala Kampung Gelgel, Hanani.

Desa Kampung Gelgel  ini merupakan komunitas Muslim yang paling spesial, sebab kampung Gelgel ini merupakan komunitas Muslim pertama di pulau dewata.  Kedatangan muslim generasi pelopor ini dilakukan orang Jawa di era Dalem Ketut Ngelesir berkuasa di Bali (1380-1460 M).  Sebagai wilayah taklukan Mojopahit  Dalem Ketut Ngelesir memang mengadakan kunjungan ke Mojopahit, ketika Prabu Hayam Wuruk (1350-1389 M) mengadakan konferensi kerajaan-kerajaan vassal di seluruh Nusantara di awal 1380 an. Ketika kembali ke Gelgel  Dalem Ketut Ngelesir diberi 40 orang pengiring.  Keempat puluh orang pengawal itu ternyata semua beragama Islam, serta akhirnya menetap bertindak sebagai abdi dalem kerajaan Gelgel serta  menempati satu wilayah di Gelgel.  ALASAN KENAPA ke empatpuluh pengiring yang ditugaskan Majapahit semua dipilih orang Islam,  meski mayoritas penduduk Majapahit kala itu mayoritas Hindu,  tentu sangat menarik dan menantang untuk diteliti lebih lanjut.  Hal yang sudah pasti adalah para pengiring itu lantas mendirikan sebuah masjid, sekaligus menandai sebagai tempat ibadah umat Islam tertua di Bali. Masjid yang kini bernama Masjid Nurul Huda kini terletak di pinggir jalan raya.  Sayang sekali tempat ibadah peninggalan muslim Bali generasi pertama itu kini sama sekali tak meninggalkan ciri-ciri era kelampauan  pada bentuk bangunannya.

Ketika Waturenggong (1460-1550) menjadi penguasa Bali,  kekuatan Majapahit kian surut.  Bahkan,  sekitar tahun 1518, Demak pimpinan Raden Patah (yang tak lain putra Brawijaya V) dengan berbagai alasan politik  akhirnya menaklukkan Majapahit yang kala itu telah direbut dan dipimpin orang yang menyebut diri Brawijaya VI dan berikutnya VII, meski kedua orang itu bukan dari trah Wijaya.

Berikutnya,  di era Demak inilah ekspedisi silaturahmi dari kerajaan Islam Demak datang ke Gelgel, Klungkung yang kala itu dipimpin Watu Renggong.  Ekspedisi damai  ini secara permukaan bertujuan untuk menjalin hubungan sebagai sesama mantan vassal Mojopahit, sama-sama memiliki darah Mojopahit.  Namun,  inti tujuan ekspedisi ini adalah untuk menyebarkan Islam. Tampaknya Watu Renggong tidak berkenan terhadap Islam.  Apalagi penguasa Gelgel kala itu telah menempatkan Danghyang Nirartha alias Pandita Sakti Wawu Rawuh  yang  migrasi dari Jawa (Daha lantas ke Blambangan) ke Bali justru karena menghindar dari Islamisasi. Sebab,  dengan perkembangan Islam yang pesat di Jawa, maka ruang gerak kebagawantaannya menjadi semakin pudar.  Logikanya adalah,  Nirartha hampir pasti  menasehatkan kepada sang penguasa untuk tidak menerima Islam Demak.

Penolakan Waturenggong memang tidak dilakukan secara frontal, karena:  pertama,  hubungan Muslim dan penguasa Bali  tidak ada problem bahkan telah  dicontohkan oleh Ketut Ngelesir melalui 40 pengiring muslimnya yang setia.  Kedua,  Watu Renggong tidak ingin membangun hubungan negatif dengan penguasa Demak. Ketiga,  justru karena pengakhiran Mojopahit era Brawijaya VII oleh Demak telah mengukuhkan Bali dari status vassal Mojopahit  serta menjadi kerajaan merdeka.

Seperti Mojopahit, Demak memang juga melancarkan aksi politik perluasan wilayah: mengislamkan seluruh Jawa bahkan akhirnya merontokkan kejayaan Mojopahit. Tetapi,  penguasaan Demak atas wilayah-wilayah  Mojopahit dalam konteks agama tidak sekedar melalui kekuasaan.  Menurut De Graaf dan Pigeaud, cerita yang bertebaran dalam masyarakat Jawa banyak yang menyebut Islamisasi berlangsung damai. Artinya,  peradaban Jawa-Mojopahit-Hindu sedikit demi sedikit diislamkan.  Terbukti, agama dan corak kemasyarakatan pra Islam (Hindu dan Buddha) masih tetap bertahan sampai pada abad ke 16.  Ekspedisi damai Demak terhadap Gelgel juga menjadi tambahan bukti dari logika tadi.

Dalam sejarah di sebutkan bahwa utusan (yang menghadap Waturenggong) datang dari Mekah. Berdasar sumber C.C. Bergh diketahui bahwa utusan Mekah tersebut  yang dimaksud adalah  dari Demak Bintoro.  Ekspedisi 100 orang ini dipimpin Dewi Fatimah.   Kala itu Waturenggong menantang pimpinan ekspedisi untuk mengadu kesaktian.  Watu Renggong bersedia disunat (dipotong kulup kelaminnya sebagai salah satu tanda keislaman)  asalkan Fatimah mampu memotong bulu kakinya.   Ternyata, Fatimah gagal melakukan yang berarti Waturenggong sebagai pemenang. Fatimah akhirnya dihukum mati (dengan cara membunuh dirinya) dengan tikaman keris. Mayat Dewi Fatimah lantas  dikuburkan di Desa Satra sekitar 3 km selatan Klungkung atau 1,5 km baratdaya Gelgel. Hingga sekarang lokasi kuburan Dewi Fatimah itu dikenal dengan Sema Jarat atau Sema Pajaratan.  Jarat merujuk nama Gujarat India, dimana para saudagarnya sangat berjasa dalam pengislaman di tanah air,  sehingga hampir setiap orang Islam juga dinisbahkan dengan Gujarat. Kuburan itu terletak tepat disamping sungai dan sempat terkena banjir bandang,  sehingga pekuburan terseret banjir dan hilang bekas-bekasnya.    Bahkan,  Tanah Jarat –bekas tanah makam leluhur—itu, menurut kepala Kampung Gelgel,  Hanani,  akhirnya dijual kepada orang Hindu yang tinggal di desa Satra,  dan hasil penjualan akhirnya dibelikan tanah untuk membangun madrasah di kampung Gelgel.

Dengan tidak dibunuh tetapi dihukum bunuh diri atas Fatimah,  Watu Renggong punya tujuan strategis agar tidak menimbulkan konflik bersenjata Gelgel  Vs. Demak yang telah terbukti berhasil mengalahkan kerajaan besar Majapahit.  Oleh sebab alasan itu pula,  meskipun Waturenggong tak mau menjadi Muslim,  tetapi anggota ekspedisi tidak diusir. Kaum muslim itu akhirnya bergabung dalam komunitas Muslim Gelgel 40 pengiring Muslim di era Dalem Ketut Pengelesiran. Mereka lantas kawin mawin  dengan wanita lokal serta membangun cikal bakal komunitas muslim Bali.

Meski semangat membendung Islam sangat kuat menggejala dalam benak Raja Bali dan Penasehatnya,  tetapi komunitas Muslim Gelgel tetap hidup aman.  Kepada mereka diberikan sebidang tanah di pesisir pantai  sekitar Gelgel, bahkan ditambah lagi dengan kampung Jawa kampung dan kampung Lebah seiring dengan membengkaknya jumlah umat Islam.  Ketiga kampung ini memang spesial diberi oleh Puri lengkap dengan kuburan Muslimnya. Dapat dipahami jika kampung Muslim tadi,  menurut kepala desa Kampung  Gelgel, Hanani,  sekarang memiliki status kepemilikan dengan sertifikat. Padahal kaum Hindu disekitar komunitas kampung Muslim justru hanya memiliki status tanah Magersari Puri, sebagai pekarangan  desa atau meminjam/hak pakai saja  meski untuk waktu selamanya.

Kaum Muslim di ketiga wilayah itu mempertahankan adat istiadat dan keyakinannya tetapi tetap bersosialisasi dengan masyarakat sekitar dan saling berinteraksi dengan saudara-saudaranya yang Hindu dalam pergaulan akrab dan saling menolong.  Tidak ada kultur sejarah adanya konflik terbuka antara Amat Hindu dan Muslim.  Kalaupun di era belakangan muncul letupan konflik,  hal itu terutama terjadi hanya karena persoalan anak muda. Keharmonisan historis antar komunitas ini dapat dilihat misalnya dari realitas adanya Pura di samping makam leluhur  Umat Islam yang biasa disebut Sema Jarat. Sebagai penghormatan Pura terhadap Kuburan tokoh-tokoh Islam itu,  pura sejak dahulu melarang dua hal:  membawa sesajian daging babi dan melakukan upacara sabung ayam/tajen/tumpah getih,  dua hal yang memang Sangat dilarang dalam Islam.

”Tradisi di Pura itu bahkan telah berubah menjadi kepercayaan di kalangan Hindu Gelgel bahwa pelanggaran terhadap aturan leluhur ini dipercaya dapat membawa sial. Oleh sebab itu,  aturan tersebut dipegang kokoh sampai kini”, ungkap  Nasrullah mengakhiri penjelasannya.  Ucapan guru asli kampung Gelgel itu sekaligus menandai akhir kunjungan  kami ke kampung Muslim Bali generasi paling awal ini.***

Dhurorudin

sumber foto : internet

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 46 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: