Asal Usul Kampung Muslim di Kabupaten Karangasem – Bali (Tulisan 7)

Pagi sekali,  pak Hasan Bick mengajak kami meninggalkan Bangli. Suasana sangat sejuk,  atau bahkan cenderung dingin.  Dedaunan masih menggigil.  Dahan-dahan juga menggigil.  Bahkan,  pepohonan ikut menggigil.  Kedinginan. Maklum,  semalaman hujan mengguyur bumi Bangli. Namun,  saya tidak terperangkap pada situasi serba dingin ini. Hati saya telah menghangat akibat dibakar keinginan untuk segera menapaki bumi Karangasem yang keberadaannya selama ini hanya ku dengar dari berbagai kabar.

Sekitar jam 11 siang,  pak Hasan membelokkan mobil langsung ke lokasi kantor Departemen Agama (KUA Islam dan Penyelenggara Haji) Karangasem. Di tempat inilah  saya dkk mendapatkan informasi awal tentang enclave-enclave komunitas muslim di Kabupaten Karangasem. “Kabupaten Karangasem memiliki penduduk muslim berjumlah 19 ribu Jiwa.  Mereka hidup tersebar di 6 dari 8 kecamatan di seluruh wilayah Karangasem.  Namun, mereka terutama terkonsentrasi di 4 kecamatan, yakni: Kecamatan Karangasem (11.729 jiwa),  kecamatan Bebandem (4.438 jiwa),  kecamatan Sidemen (820 jiwa),  dan Kecamatan manggis (465 jiwa).  Sisanya sekitar 2000 jiwa tersebar, terutama di kecamatan Kubu dan kecamatan Rendang”,   kata pimpinan Depag urusan Islam,  sambil menyodorkan data tertulis kepada kami.

Muslim di Kecamatan Kubu terutama tinggal di wilayah Galian C.  Sedangkan, muslim di Kecamatan Rendang jumlah muslimnya hanya sekitar 13 KK.   Mereka memang memiliki musholla an Nur, yang sempat dipakai presiden SBY sholat ketika ke Karangasem. Namun,  musholla ini tak boleh dipasang papan nama,  dengan alasan  bertentangan dengan aturan adat setempat.

Komunitas muslim terbesar pertama  berada di kecamatan Karangasem,  yang tersebar di wilayah perkotaan dan pegunungan.  Pertama,  Muslim di perkotaan terutaman ada di kelurahan Karangasem, yang tersebar di 13 dusun/kampung,  antara lain : Kampung Telaga Mas (memiliki kepala dusun muslim),  Dusun Ujung Desa,  Dusun Segara Katon, Karang Tohpati, Karang Langkung, Bangras, Grembeng (atas dan bawah),  Karang Ampel, Jeruk Manis (dikenal dengan Jerman), Karang Tebu, Karang Bedil, Tiing Tali, Dangin Sema (komunitas Muslim terbesar setelah Dusun Kecicang Islam).  Selain itu ada pula di Desa Tegal Linggah,  yang memiliki dua kampung muslim yakni: Karang Cengen dan Kampung Nyuling.  Berikutnya di Kelurahan Subagan, terdapat di dua kampung yakni:  kampung Karang Sokong dan Telaga Mas (bahkan kepala kampungnya muslim).  Kedua,  muslim di pegunungan terdapat di sebelah timur  yakni di Kelurahan/Desa Bukit tersebar di 6 dusun/kampung,  yakni: Bukit Tabuan,  kampung  Anyar, Karang Sasak, Tibulaka Sasak, Tiing Jangkrik,  dan Dangin Kebon.  Selain itu di Desa Tumbu juga ada,  tepatnya di Dusun Ujung Pesisi karena letaknya memang di ujung laut.

Kantong Muslim terbesar kedua terdapat di Kecamatan Bebandem,  yakni di dusun Kecicang Islam (kampung Islam terbesar di Karangasem) yang terdapat di Banjar Kangin,  Banjar Lebah  Sari, dan  Dusun Saren Jawa.  Adapun kecamatan dengan komunitas muslim terbesar ketiga ada di Sidemen,  yakni di dusun Sinduwati yang mencakup kampung Sindu, Buu dan Tegal. Selain ketiga kecamatan tadi,  kecamatan Manggis sebagai tempat komunitas muslim terbesar keempat, yang terdapat: di Buitan, Padang Bai,  dan Pertamina Manggis.  Di Buitan meski muslim hanya 27 KK, namun telah memiliki masjid.   Di Padang Bai  ada pula masjid milik pelabuhan,  dan kaum muslimnya pun umumnya para pegawai kapal  (yang transit). Begitu pula di Pertamina Manggis  kaum muslimnya adalah para pekerja dan pemili usaha kecil (warung) di lokasi itu.

Setelah mendapatkan data kuantitatif, pak Hasan Bick mengantarkan saya dkk menemui tokoh-tokoh Islam dan Hindu untuk mendapatkan informasi seputar sejarah dan konteks hubungan sosial komunitas muslim di kabupaten Karangasem ini. Keberadaan Muslim Karangasem mula-mula dibawa oleh raja Bali (era Kerajaan Karangasem) dari daratan Lombok.   Waktu itu Lombok memang berada dibawah pendudukan kerajaan Karangasem.  Secara historis,  penguasaan Bali atas Lombok sebenarnya terjadi jauh sebelum kerajaan Karangasem,  yakni sudah terjadi di sekitar abad 16  oleh kerajaan Gelgel era kepemimpinan Watu Renggong.  Waktu itu Watu Renggong (pasca runtuhnya Majapahit oleh Demak) berhasil menguasai  Blambangan (1512),  bahkan meluas sampai ke Lombok (1520),  Sumbawa.  Tujuan Waturenggong kala itu memang untuk membendung pengaruh Islam Demak memasuki Bali. Logika Waturenggong ini dapat dipahami sebab kala itu Bali memang menjadi tempat pelarian  orang-orang yang pintar dan kuat-kuat akidah kehinduannya. Era keruntuhan Mojopahit memang pangeran-pangeran yang tak mau masuk Islam lari ke Bali.  Sebagian ada juga yang lari ke gunung Bromo yang kala itu rombongan dipimpinan Pangeran Seger dan istrinya Roro Anteng.  Walhasil,  anak keturunan mereka pun akhirnya disebut suku Tengger (baca: Gabungan dari Roro AnTeng dan Joko SeGer).

Lombok memang menjadi target strategis penguasaan Watu Renggong (berkuasa sejak 1460-1550) untuk menghadang Islam Demak,  sebab Lombok kala itu sudah terpengaruh Islam. Artinya,  Islam sudah masuk dan menyebar ke wilayah itu.  Kedatangan Islam ke Lombok terjadi sekitar 450 tahun lalu atau sekitar tahun 1500 an.  Islam semula masuk dari arah utara (baca: Lombok utara),  lantas untuk mengefektifkan pengaruh,  wilayah penyebaran sengaja dibagi dua sesuai dengan dua tokoh utama pelaku penyebaran, yakni: Raden Mas pengging dan Raden Mas Prapen alias Sunan Mas Ratu Pratikel (hidup tahun 1548-1605). Raden Mas Prapen  tidak lain adalah buyut dari Sunan Giri (hidup tahun 1487-1506),  sehingga dia sering disebut sebagai Sunan Giri ke IV. Sedangkan Raden Mas Pengging  atau Ki Ageng Pengging tidak lain adalah Ki Kebo Kenongo (ayah Joko Tingkir alias Mas Karebet). Raden Mas Pengging ini menjadi murid Syekh Siti Jenar. Melalui misi kedua orang itulah akhirnya Lombok menjadi penganut Islam,  meski dengan ciri dan watak yang belum murni.  Istilah Islam Wetu Telu misalnya,  refleksi dari adanya kerancuan Islam itu.

Wilayah Lombok muslim inilah yang berhasil ditaklukkan Gelgel pimpinan Waturenggong.  Namun,  Gelgel pasca Watu Renggong ”berantakan” sendiri terutama akibat konflik internal.  Banyak wilayah akhirnya mendeklarasikan sebagai kerajaan sendiri,  serta menempatkan Gelgel hanya sebagai pusat kultural belaka. Dengan rontoknya kekuatan Gelgel,  Lombok tentu lepas pula dari penguasaan Bali.  Namun,  pada perkembangan waktu Karangasem berhasil menaklukkan dan meluaskan kerajaannya ke Lombok.

Sebelum Karangasem melebarkan kekuasaan ke Lombok, untuk penjajakan raja menjalin lawatan (perkenalan-persahabatan) politik dengan beberapa raja. Di kerajaan Pejanggi Lombok Tengah, raja berkenalan dengan  Datuk Pejanggih yang memiliki anak muda  bernama Mas Pakel.  Sebagai tanda perasudaraan, raja Bali mengundang Mas Pakel datang dan tinggal di Bali alias  diangkat menjadi keluarga kerajaan Karangasem.

Mas Pakel adalah seorang pemuda gagah, ganteng, dan sangat sopan, sehingga para putri raja bahkan istri raja sangat menyukainya.  Akibatnya,  keluarga lingkungan kerajaan banyak yang merasa iri atau sakit hati.  Mereka lantas membuat fitnah bahwa: Mas Pakel merusak pagar ayu, merusak istri raja, merusak putri-putri raja,    yang mestinya dijaga. Gencarnya profokasi menyebabkan raja termakan oleh cerita ini,  sehingga membuat rekayasa untuk menyingkirkan pemuda Pakel. Pakel ditunjuk menjadi panglima,  dan seolah dikirim  untuk melawan musuh.  Namun,  di wilayah yang kini  ada di kawasan  Tohpati Mas Pakel berusaha untuk dibunuh. Mas Pakel sangat sakti,  sehingga tidak bisa mati. Meski demikian,  Pakel yang sendirian juga tidak bisa selamat dari pengeroyokan.  Konon ia lantas mengambil sikap, ”Saya sekarang tahu bahwa saya direkayasa untuk dibunuh. Kalau mau membunuh saya bawalah saya ke Pantai Ujung”. Proses berikutnya ada tiga  versi:Pertama,  Di pantai  Mas Pakel tetap gagal dibunuh, sehingga akhirnya diusir balik ke Lombok dengan memakai perahu kecil (perahu pancing). Adapun makam yang ada di dekat Panjai Ujung, Karangasem itu,  bukan makam Ratu Mas Pakel (yang dikenal dengan sebutan Sunan Mumbul) tetapi makam Raja Pejanggi yang ditawan Raja Karangasem hingga meninggal. Kedua,  ketika patih yang ditugaskan untuk membunuh mengayunkan pedang,  Mas Pakel tiba-tiba menghilang dari pandangan dan berlari di atas air.  Patih lantas membuat rekayasa untuk lapor pada raja,  dengan membunuh seekor anjing dan hatinya diserahkan pada raja sebagai bukti bahwa dia telah menjalankan perintah.  Namun,  beberapa hari setelah peristiwa itu,  tiba-tiba muncul seberkas sinar tempat Mas Pakel menghilang,  dan tanah yang semula rata berubah menjadi gundukan menyerupai kuburan.  Sejak itulah Mas Pakel dijuluki dengan sebutan Sunan Mumbul.  Ketiga,  Pakel akhirnya memang dibunuh,  karena dia telah melepaskan kesaktian. Mayatnya dikubur di Pantai itu.  Namun,  ketika hendak dibunuh dia mengeluarkan kutukan: ”siapapun yang membunuh, semua keturunannya kalau lewat lokasi ini akan sakit jika tak bisa kencing di sekitar sini”.  Perkataan Pakel ini dipercaya menjadi tuah oleh komunitas Hindu setempat. ”Saya kenal I Gede Gusti Putu. Dia nunggu dulu nggak mau lewat kalau belum kencing. Kalau belum kencing ndak berani lewat katanya. Dan itu cerita dari orang itu sendiri”,   kata H. Hasyim seorang tokoh muslim Karangasem yang sudah sepuh  menjelaskan. Makam yang dipercaya sebagai kuburan Mas Pakel ini  kini biasa diziarai terutama pada 15 hari pasca lebaran Iedzul Fitri.

Terkait Mas Pakel dalam konteks sejarah penaklukan Lombok oleh Karangasem,  terdapat dua interpretasi  sejarah.

Pertama,  Pengangkatan Mas Pakel sebagai saudara kerajaan dan dipersilahkan tinggal di Karangasem,  sejak awal telah dirancang untuk wahana penjajakan kekuatan:  Ingin tahu berapa kekutannya, dan berapa prajuritnya. Jadi dengan adanya Datuk Mas Pakel atau disebut juga Datuk Pemuda Mas diambil sebagai saudara,  kerajaan Karangasem bisa  leluasa kesana-kemari untuk menyelidiki kekuatan lawan. Setelah mengetahui kekuatan dan kelemahan Lombok,  Mas Pakel yang tidak lagi “dibutuhkan” disingkirkan,  sedangkan penaklukan atas Lombok segera dilakukan. Jadi, pengusiran/pembunuhan Pakel dengan alasan ”merusak pagar ayu keraton”,  hakekatnya sengaja direncanakan untuk  mencari alasan permusuhan alias pengabsah bagi Karangasem untuk melakukan penyerangan terhadap Lombok.

Kedua,  kemungkinan lain raja Karangasem memang tidak melakukan rekayasa, tetapi murni ingin membangun persahabatan dengan Lombok termasuk dengan mengangkat saudara Mas Pakel.  Tetapi,  raja akhirnya termakan fitnah  yang dibangun elemen kerajaan yang anti Islam dan anti Mas Pakel .   Akibatnya,  raja Anak Agung Anglurah Ketut Karangasem benar-benar marah,  mengusir/membunuh Mas Pakel,  bahkan akhirnya melampiaskan kemarahan dengan melakukan perang penaklukan terhadap Lombok (Selaparang dan Pejanggi).

Walhasil,   Lombok akhirnya berhasil ditaklukkan Karangasem (Bali) pada tahun 1692 M,  sebagai tanda penaklukan kedua setelah sebelumnya pernah ditaklukkan Gelgel era Waturenggong. Banyak hal memberi bukti terkait dengan penaklukkan ini.  ”Kampung-kampung di Lombok setelah diduduki Karangasem harus ditambah namanya dengan nama Karang. Makanya kalau ke Lombok nama kampung-kampung (kecuali yang baru) pasti pakai nama Karang. Yang dulu kampung Jangkong menjadi Karang Jangkong. Yang namanya kampong Meranggi menjadi Karang Meranggi. Semua pake Karang, Karang Gentel,  hampir seluruhnya”,    tambah H. Hasyim Ahmad.  Selain itu,  raja Karangasem juga berusaha mempersaudarakan antara Hindu dan Islam dengan cara mengakulturasi bahasa.  Maka diadopsilah bahasa Lombok, Beraye, sementara bahasa Bali yang dibawa adalah Menyame. Maka jadilah Menyame Braye. ”Awalan bahasa Bali pasti Me,  kalau tidak berteman. Sementara Beraye adalah bahasa Lombok, dengan awalan Be. Ketika menjadi bahasa Bali misalnya: Paling tiang Bebatur. Hasil akulturasi itu dijadikan satu bahasa Bali dan Lombok.  Jadi,  awalnya Menyama Braye itu di Puri Karangasem,  lantas menyebar ke seluruh Bali”,  tandas H. Hasyim yang ahli membaca lontar peninggalan generasi lampau.

Selain itu,  setelah penaklukan, orang-orang Lombok yang dianggap sakti lantas dibawa raja ke Karangasem dengan maksud agar membantu keraton.  “Menurut cerita kakek saya, mereka yang didatangkan kebanyakan orang-orang bertuah. Orang-orang yang artinya mempunyai power, tentu sesuai zaman itu. Kalau menurut saya istilahnya ndak sakti, nabi saja dilempar patah giginya. Kalau menurut saya mereka itu orang-orang yang saya anggap mempunyai power dan keberanian, mempunyai pengaruh, mempunyai kepemimpinan karismatik begitulah. Orang-orang seperti itulah yang dibawa kemari”,  tandas H. Hasyim.

Mereka inilah cikal bakal komunitas-komunitas Muslim Karangasem,  yang mayoritas berasal dari Lombok.  Orang-orang sakti ini ditempatkan sepasang-sepang (baca: suami istri) dengan:  memakai strategi mengelilingi Puri Kanginan sebagai tempat raja. Di sebelah selatan  ada Banjar Kodok, di sebelah selatannya lagi kampung Islam Dangin Seme. Di sebelah barat ada desa Hindu, sebelah baratnya lagi Kampung Islam Bangras.  Intinya,  penempatan dilakukan secara selang-seling Islam-Hindu, mengelilingi puri.  ”Itu  strategi raja untuk mempersatukan rakyat Karangasem, sekaligus mengamankan puri”,  tambah H. Hasyim.  Namun,  logika itu juga memberikan arti bahwa puri tampaknya tidak terlalu merasa aman jika hanya dikelilingi rakyat Hindu,  serta memerlukan  pengawalan dari rakyat yang justru beda agama.  Pada kenyataannya memang kalangan Islam dapat dipercaya raja untuk menjadi ”pengawal puri”. Inilah yang menjadi satu sebab kenapa Umat Islam Karangasem dengan Puri menjadi sangat akrab.

Selain Dangin Seme,  kampung-kampung kuno Islam  lain di Karangasem sejarahnya juga sama. Mereka sengaja ditaruh sepasang-sepasang (baca: kira-kira suami istri),  dengan posisi mengelilingi Puri.  Posisi mengelilingi puri dibuat dua lapis. Seperti Dangin Seme termasuk lapisan pertama. Lapisan kedua seperti Segar Katon, Ujung Pesisi, Kebulak Kesasak, Bukit Tabuan, dengan formasi juga mengelilingi puri. Lapis kedua bahkan sampai Saren Jawa dan Kecicang.

Adapun muslim yang ditempatkan di Sindu, spesifik untuk menghadang kerajaan Klungkung. Yang ditaruh di Sidemen untuk menghadang dan memata-matai gerak-gerik kerajaan Klungkung.  Dengan kata lain,  komunitas muslim Sindu –yang jaraknya sekitar 30 km dari Dangin Seme– dulunya memang spesial  untuk memata-matai Klungkung.

Selain Shindu ada kampung Islam lain yang kala itu mempunyai posisi super spesial,  sehingga nama kampung pun memiliki nama yang mencerminkan posisi dan fungsi yang super spesial.  Kamunitas Kampung Karang Tohpati,  adalah contohnya.  Toh itu artinya mempertaruhkan, sedangkan pati atinya jiwa.   “Kala itu kaum Muslim sebenarnya bukan tinggal di Karang Tohpati, tetapi mereka memang tinggal di lokasi Tohpati di wilayah Bebandem di Saren Jawa. Di situlah ada namanya Tohpati, di situlah dulunya dia tinggal,  untuk menjaga kalau ada musuh. Di lokasi itu Tohpati mempertaruhkan Jiwa”,  jelas H. Hasyim. “Kasus ini sama dengan orang-orang  Subagan yang asalnya dari Sekar Bela.  Sekar artinya kembang,  bela maknanya membela.  Jadi dia suka membela raja sampai  namanya wangi seperti kembang karena membela”.

”Makanya,  di sini orang-orang Hindu yang ndak tahu, terutama anak-anak muda, ngomong macam-macam: Kami penumpang. Kami pendatang. Saya katakan kami ke sini bukan cari kerja, kami datang bukan mengemis, kami datang dibawa dan  dibutuhkan oleh raja. Kami ditempatkan disini, dan (sejarah serta eksistensi) kami diakui oleh raja sampai detik ini”,  tambah H. Hasyim menandaskan dengan maksud meluruskan pemahaman.***

DHURORUDIN MASHAD

7 responses to this post.

  1. Posted by lebahjakarta on 15/04/2012 at 11:02 pm

    buzzz buzzz buzzz
    lam kenal

    nice info, thanks

    SalamMadu Juga Sengat

    Balas

  2. Posted by bagus luiiejati on 07/07/2013 at 11:25 am

    ucapan H .hasyim yang terakhir terlalu berlabihan bisa memunculkan panafsiran yang salah dari kaumnya,,ucapan yang bisa memprovokatif..

    Balas

    • Semoga tidak sampai sejauh itu mas Bagus. Karena inti yang ingin ditampilkan adalah mereka telah bersaudara, telah terjadi ikatan historis-genealogis antar dua komunitas. Sehingga pembedaan (apalagi menyebut asli dan pendatang) menjadi tidak patut untuk dikemukakan, kecuali pada mereka yang baru datang di era pariwisata.

      Balas

      • Posted by ngurah on 21/02/2014 at 3:38 pm

        saya setuju, ucapan bapak berlebihan sekali, yg saya tau kenapa setiap ada desa besar hindu di karangasem diisi orang muslim, kerna raja takut klu desa tersebut akan memberontak dengan kerajaan makanya, ditugaskan mata2 orang islam disetiap desa tersebut, dan knapa slalu di ulu desa ditaruh krna biar punah kesaktian orang hindu. tapi klu kita lihat sejarah dari majapahit ampe raja2 kecil ternyata hancurnya kerajaan hindu karena ada pengarauh orang ke3. coba saja bapak telusuri hanpir semua, suksma

      • wah, menarik sekali pendapat anda mas. Coba saja ditulis mas, tentu akan menjadi informasi alternatif yang berharga.

  3. Mas cb di telusuri di tempat sy kampung buitan ada dua buah prasasti masjid. Sy menawarkan jika ada yg mau menelitinya

    Balas

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 46 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: