Archive for Desember, 2011

Beramal Tanpa Pamer

Sobat, suatu kali saya menghadiri sebuah pengajian. Terus terang, saya terkagum bin takjub pada gaya bicara sang ustadz alias mubaligh dalam istilah kerennya.  Betapa tidak, ia sangat fasih bicara segala hal tentang kebajikan bahkan tentang keikhlasan. Ayat al Qur’an dan hadits dikutib berulangkali, menandakan bahwa si penceramah bukan  bicara ngawur tanpa landasan dalil Ilahi. Ayat-ayat itu selalu ia lafalkan dengan lagu yang merdu mendayu, persis layaknya qori’ sedang melantunkan ayat-ayat suci. Lantas, dengan suara lantang dan gaya bahasa mempesona, ia menerjemahkannya, lalu menafsirkannya dengan sangat panjang dan super luas. Subhanallah. Ia memang seorang ustadz yang mumpuni. Demikian kesan yang menggelayut di hati.

Tentu saja, batinku merasa terpuaskan oleh acara ini. “Tak rugi, jauh-jauh datang ke tempat ini, meski harus pindah-pindah kendaraan sampai tiga kali“, itulah ucapan dalam hati. Maklum, tempat pengajian memang jauh dari rumahku. Setidaknya, ada dua  keutamaan yang berhasil kureguk dalam acara ini: pertama,  mendapat tambahan pengetahuan, kedua,  memperoleh berkah dari majelis dzikir (ilmu). Sebab, siapapun yang berada dalam sebuah majelis dzikir meskipun tak diniati, ia tak luput dari luberan ridlo dan keberkahan Ilahi. Itulah cuplikan hadits qudsi yang bernah saya baca dan tetap nyantel dalam hati.

Sobat, ada hal penting ingin kuberi tahu pada sampean. Setelah ceramah berlangsung satu jam lamanya, waktu sela pun tiba. Kala itu, si mubaligh memberi sejumlah informasi, salah satunya berupa  pengumuman “minta sumbangan”.

Baca lebih lanjut

Pancaran 2

Lebih lima windu kulangkahkan kaki

cari  rumahku yang abadi.

Tapi, hingga kini ku belum tahu pasti

dimana pintu rumah itu tersembunyi.

Pegal ngilu seluruh sendi,

telusuri jalan hidup cari ajal rindukan mati.

Jantung telah penat menghitung hari-hari,

darah trasa letih guyur raga dahaga ingin ketemu Ilahi,

punggung letih pikul selaksa dosa yang kian berjibun pasti.

O…Ajalku, tunjukkanlah gerbangmu,

agar ku segera masuk istirah, temui Tuhanku.

Mengunjungi Kampung Muslim Gelgel di Klungkung – Bali (Tulisan 1)

Saya sungguh beruntung,  karena di tahun 2011 ini berkesempatan mengunjungi kampung  Muslim Gelgel di Bali.  Saya sebut beruntung,  karena kunjungan spesial ke kampung muslim Bali ini tentu sangat jarang dilakukan oleh Muslim lain di Indonesia.  Mereka umumnya datang ke pulau dewata,  paling-paling hanya untuk berpiknik atau maksimal  untuk keperluan konferensi. Bahkan, apa dan bagaimana umat Islam di Bali mereka mungkin tidak  tahu atau bahkan tidak mau tahu.

Selama di Bali,  Saya (dan beberapa teman dari Jakarta)  didampingi oleh Ahsanuddin Biks (Bali Islam Candi Kuning).  Pak Ahsan –kami lebih suka memanggil Hasan—memang seorang muslim Bali asli. Dia berasal dari desa Candi Kuning di Baturiti/Bedugul Kabupaten Tabanan.  “Kaum Muslim asal Candi Kuning memang biasa menambahkan nama Biks ketika berhubungan dengan orang di luar Bali.  Sebagai identitas”,  jelas pak Hasan tentang sebutan Bick dibelakang namanya.  Baca lebih lanjut

Ungkap Kepribadian Lewat Warna


WARNA apa yang dominan Anda kenakan sehari-hari? Hmm… nice!

Warna tak hanya sekedar menunjukkan selera atau favorit saja lho, tapi juga menunjukkan kepribadian Anda.  Penelitian ini telah dilakukan bertahun-tahun lamanya. Ditemukan bahwa warna favorit, atau warna yang paling mendominasi isi lemari mengungkapkan kepribadian seseorang. So, let’s have fun today. Intip warna favorit yang menceritakan soal Anda yuk!

Hitam

Anda yang menyukai warna hitam cenderung punya pemikiran yang konservatif. Anda sangat tahu apa kelebihan diri Anda. Warna hitam juga cenderung membuat Anda ingin tampil seksi dan percaya diri.

Baca lebih lanjut

Mandikan Aku Bunda

Sobat,  anak adalah amanah tuhan yang dititipkan kepada kita untuk dijaga sebaik-baiknya,  yang pada akhirnya pasti kita akan dimintai pertanggungjawaban oleh Nya. Anak  tidak cukup diberi makan alias harta benda,  tetapi yang tak kalah penting adalah perhatian dan kasih sayang secara ekstra, serta pendidikan tentang kebajikan dan kebijakan untuk menyongsong masa depan. Berikut saya tampilkan kisah terkait yang insya Allah sangat besar hikmahnya.

Rani, sebut saja begitu namanya. Kawan kuliah ini berotak cemerlang dan memiliki idealisme tinggi. Sejak masuk kampus, sikap dan konsep dirinya sudah  jelas: meraih yang terbaik, di bidang akademis maupun profesi yang akan digelutinya. ”Why not the best,” katanya selalu, mengutip seorang mantan presiden Amerika.

Ketika Universitas mengirim mahasiswa untuk studi Hukum Internasional di   Universiteit Utrecht, Belanda, Rani termasuk salah satunya. Saya lebih memilih menuntaskan pendidikan kedokteran. Berikutnya, Rani mendapat pendamping yang ”selevel”; sama-sama berprestasi, meski berbeda profesi.

Alifya, buah cinta mereka, lahir ketika Rani diangkat sebagai staf diplomat, bertepatan dengan tuntasnya suami dia meraih PhD. Lengkaplah kebahagiaan mereka. Konon, nama putera mereka itu diambil dari huruf pertama hijaiyah ”alif” dan huruf terakhir ”ya”, jadilah nama yang enak didengar: Alifya. Saya tak sempat mengira, apa mereka bermaksud menjadikannya sebagai anak yang pertama dan terakhir.

Baca lebih lanjut

Akar Konflik Politik Islam di Indonesia

Cover belakang buku :

Pergulatan perjuangan politik umat Islam di Indonesia tak pernah sepi untuk dibahas. Denyutnya masih terasa hingga kini, ketika gelegar reformasi menderu ke seantero negeri. Yang tak bisa dilupakan, negeri ini dibangun lewat jasa besar umat Islam. Pengorbanan mereka berhulu dari tetesan darah yang mengalir dari ratusan medan perang hingga ke hilir, saat Piagam Jakarta dihapuskan hanya karena ancaman sumir-bahwa Indonesia Timur akan melepaskan diri dari NKRI, jika kesepakatan yang juga dihadiri oleh wakil pihak Kristen itu tetap disetujui. Faktanya, laporan yang diklaim Bung Hatta itu tak bisa dibuktikan hingga hari ini. Baca lebih lanjut

Pancaran 1

 Ya…Robbi

Hanya bagiMu segala puji

Hanya kepadaMu kuserahkan hidup ini