Amanah Pada Harta Negara

Sobat, pernahkah sampean  mendengar sebuah hadits Nabi yang memberi informasi bahwa orang yang tak dapat dipercaya, figur yang khianat bila mendapat amanat, adalah bagian dari wajah kemunafikan ? Kalau sampaen belum pernah mendengar apatah lagi membacanya, maka ada baiknya saya sampaikan petuah Nabi pada kesempatan ini. Begini bunyinya:  Aayatul munaafiqi tsalaatsun idzaa hadatsa kadzaba, wa idzaa wa’ada akhlafa,  wa idza’tumina khoona: Ciri-ciri orang munafik itu ada tiga  jumlahnya, yaitu, bila berkata senantiasa ngibul bin dusta,  ketika bersepakat-berjanji selalu tak menepati alias mengingkari, tatkala dipercayai  pasti mengkhianati.

Dengan pertanda tadi, nyata sekali betapa gampang melihat ciri  manusia-manusia munafik di sekeliling kita. Siapapun orangnya, apapun pangkat dan derajadnya, bila wajahnya coreng moreng alias belepotan dengan salah satu  dari ketiga (apalagi semua) tanda tadi, maka ia adalah si munafik. Mungkin saja orang itu salat jengkang-jengking tiap harinya, bergelar Kyai di depan namanya, bersorban bahkan berjubah pakaiannya, namun bila ia memenuhi tanda-tanda yang dikemukakan nabi tadi, ia “pasti” masuk kelompok si munafik tadi. Singkat kata, kemunafikan bisa nempel pada siapa saja, tanpa pandang bulu siapa orangnya, kecuali orang yang bisa menjaga dirinya.

Sobat, terus terang saya khawatir, jangan-jangan  tanpa sadar kita terperangkap pula dalam 3 jaring  kemunafikan tadi. Kekhawatiran ini bukan mengada-ada, lho  sobat.  Apa pasal ? Sebab jaring-jaring kemunafikan tampaknya telah sedemikian tertebar di sekeliling kita, bahkan hampir menjadi sesuatu barang obralan yang terasa wajar-wajar saja. Apalagi ephoria politik di negeri kita kini telah menggejala di semua lini kehidupan, bukan hanya di kota metropolitan, tapi telah merembes pula ke kota kecil atau malah di pedesaan. Ephoria politik ini  sobat, menurut saya, telah memperbanyak penebaran jejaring bin perangkap kemunafikan tadi.

Banyak hidung kini menakar diri terlalu tinggi guna mengumbar ambisi ingin  menjadi petinggi negeri. Setiap hidung dengan berjuta ambisi mengkampanyekan diri dengan mengumbar beribu bahkan berjuta janji. Dus, akankah mereka yang berambisi  lengkap dengan barisan punokawan (baca: pendukung) nya ini sadar dengan apa yang mereka obralkan, ataukah hanya dimaksudkan sebagai janji politik yang lantas dilupakan ? Padahal, ketahuilah sobat, bahwa alwa’dud dainun, janji adalah hutang, yang mesti dibayarkan.

Sobat, ada yang membikin hati saya lebih miris lagi, yakni ketika  kaum ambisius tadi obral janji, seringkali omongannya dipolesi dengan kata-kata ghibah, menjelek-jelekkan saingannya. Pertanyaannya, apakah omongan celaan itu berlandas pada fakta bin kenyataan yang bisa dipertanggung jawabkan? ataukah hanya ucapan ngibul yang semata-mata didasarkan pada sikap su’udzon  bin dugaan negatif atau bahkan sebagai fitnah dalam rangka menjatuhkan lawan? Jika ghibah yang dilakukan tak memiliki dasar, maka si ambisius telah menuai keburukan murokab alias kejelekan dobel-dobel, yakni: (1). su’udzon pada orang lain. Padahal inna ba’dlo dzonni rijsun min ‘amalisy syaiton: sesungguhnya sebagian dzon (prasangka) itu keji, sebagai bagian dari perbuatan setan. (2). Fitnah, yang hukumnya lebih kejam dibanding pembunuhan: Alfitnatu asyaddu minal qotl. (3). Kebohongan, yang dari sisi apapun tak ada kebaikan, tapi malah jadi tanda kemunafikan. Naudzubillah.

Sobat. Taruhlah barisan kaum ambisius  berhasil menjual janji-janjinya, sukses menjual obralan kata-katanya, dipilih  massa  menjadi wakil atau bahkan pemimpin mereka. Tapi, akankah mereka menjadi wakil dan atau pemimpin yang amanah, menjalankan kepercayaan yang diberikan kepadanya ? Hal ini, menurut saya, menjadi lebih problematik lagi. Apa pasal ? Orang yang berambisi pada kekuasaan, hampir pasti memiliki agenda tersembunyi di  balik hati. Oleh karena itu Nabi pernah mengingatkan agar kekuasaan tak diberikan pada orang yang berambisi (apalagi minta diberi) kekuasaan.

Sobat, ingatkah sampean pada pernyataan Clausewitz bahwa Power tends to corrupt, kekuasaan cenderung korup ?. Terus terang, saya sependapat dengan pendapat itu, apatah lagi jika diarahkan pada si ambisius yang ketika berusaha merealisir angan-angan bin ambisinya menghalalkan segala cara, termasuk menebar lembaran-lembaran rupiah  untuk membeli (istilah halus dari menyuap) suara pemilih.  Hampir  pasti, orang model ini, punya agenda besar ketika berkuasa: yakni mengisi kembali pundi-pundinya yang berkurang atau bahkan ludes akibat dibagi-bagi ketika berjuang merebut kekuasaan. Dus, penguasa model ini sulit diharapkan menjadi pemimpin yang amanah bagi anak buah bin rakyatnya.

Terus terang, sobat, indikasi ke arah ini memang cenderung kuat. Apalagi sejarah kehidupan sosial politik kita memang penuh  dengan coretan-coretan hitam korupsi. Berbagai kajian seperti yang dilakukan Universitas Goettingen dan Transparancy International (1995), Transparancy International (1999), Political and Economic Risk  Consultancy (2001 dan 2002) telah menunjukkan kenyataan korup ini. Na’udzubillah. Itulah realitas wajah bopeng negara kita, dimana tak sedikit aparat dan atau pejabat  bermental korup. Itulah wujud pengkhianatan alias ketidak-amanah-an para pemimpin, atau  bahkan kita sebagai bangsa.

Kesalahan kolektif sebagai bangsa ? Ya. Itu benar adanya. Sebab, kita tak pernah kapok menerima suap atau bahkan melakukan penyuapan  dalam keseharian kita ketika berhadapan dengan aparat negara. Kita tak kunjung jera untuk memilih pemimpin berdasar tolok ukur omongan alias retorikanya  saja,  tak pernah menakar mereka berlandas track-record keseharian hidupnya. Bahkan, kita, ketika menjadi pedagang, menebar kebohongan dan mengurangi takaran. Tatkala menjadi guru/dosen ataupun peneliti, asyik ngasong di luaran, tapi gaji tetap diambil perbulan. Dan masih banyak lagi profesi  yang dijadikan lahan “korupsi”.  Itulah bopeng-bopeng wajah ketidak-amanah-an kita.

Sobat, mungkin sampean berpendapat, mustahil menjadi manusia ideal yang amanah, kecuali hanya terwujud dalam dongeng hayal yang berarti tak pernah ada dalam alam nyata. Mencari yang haram saja susah, apalagi yang halal, itulah logikanya.  Sobat. Pendapat itu sama sekali keliru, ngawur, tak berpijak pada seabreg kisah nyata tentang keagungan sifat manusia yang telah tergores dalam sejarah keutamaan manusia. Kisah Amir bin Qois misalnya, hanyalah salah satu dari realita tentang keutamaan manusia. Mau tahu ceritanya ? Beginilah runtutannya….

Ketika kaum Muslimin berhasil menguasai Madain, sebuah kota di bawah kekuasaan Kerajaan Persia (baca: sekarang Iran), pimpinan penaklukkan  menyuruh  bala tentaranya mengumpulkan ghonimah alias harta rampasan  perang.  Para anak buah segera menjalankan perintah, tak lama kemudian selesailah pengumpulan ghonimah. Kala itu datanglah seorang  pria dengan memanggul karung dengan beratnya, lalu dia menyerahkan  pada petugas pengumpul harta. Mereka lantas membuka karung  alias bungkusan, ternyata didapatilah emas, perak, dan bebatuan mulia alias permata. Jika ditotal jendral nilai ghonimah yang dibawa satu orang pria itu saja, jumlahnya sama alias sebanding dengan jumlah yang mereka kumpulkan secara bersama.

Kepada sang pria, mereka berkata, “Jumlah ini banyak sekali, sesuatu yang belum pernah kami lihat selama ini.

Sang pria tersenyum ceria, namun para petugas justru menyambung perkataannya dengan kalimat tanya, “Apakah kamu telah mengambil sedikit dari ini  harta ?.

Sang pria menjawab mantap, “Demi Allah Ta’ala. Kalau bukan karena ghonimah adalah hak Allah SWT, maka ini semua tak akan kuberikan pada kalian semua, bahkan tak akan kuangkat dari tempatnya“.

Mereka dalam hati mengagumi kejujuran si pria ini, lantas bertanya kembali, “Siapa engkau ini?”

Si pria berkata,”Aku tak akan berkata pada kalian siapa saya sebenarnya, agar kalian dapat memuji saya. Aku hanya ingin memuji Allah Ta’ala, dan aku hanya ridlo pada ganjaran dari Nya“.

Setelah mengakhiri ucapannya tadi, si Pria lantas ngeloyor pergi.  Para pengumpul ghonimah diam-diam menugaskan seseorang untuk mengikuti, untuk menyelidiki jatidiri dari sang lelaki asing ini.  Sang utusan bertanya pada kanan-kiri, termasuk pada kenalan dan sahabat si pria ini. Akhirnya tahulah bahwa pria itu tak lain adalah Amir bin Qois.

Subhanallah. Sobat, itulah si Qois dengan kisah amanahnya, yang dapat dijadikan satu argumentasi  bin alasan, bahwa di balik bopengnya sejarah manusia oleh kebohongan  dan pengkhianatan, ternyata masih ada manusia yang konsisten dengan sikap amanahnya. Saya yakin, kita sebagai bangsa pasti bisa melakukan hal serupa, dimulai dari diri kita, lalu keluarga kita. Jika semua keluarga telah mengembangkan sikap amanah, hakekatnya, bangsa  pun telah menjadi komunitas yang amanah. Amin. ***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: