Beramal Tanpa Pamer

Sobat, suatu kali saya menghadiri sebuah pengajian. Terus terang, saya terkagum bin takjub pada gaya bicara sang ustadz alias mubaligh dalam istilah kerennya.  Betapa tidak, ia sangat fasih bicara segala hal tentang kebajikan bahkan tentang keikhlasan. Ayat al Qur’an dan hadits dikutib berulangkali, menandakan bahwa si penceramah bukan  bicara ngawur tanpa landasan dalil Ilahi. Ayat-ayat itu selalu ia lafalkan dengan lagu yang merdu mendayu, persis layaknya qori’ sedang melantunkan ayat-ayat suci. Lantas, dengan suara lantang dan gaya bahasa mempesona, ia menerjemahkannya, lalu menafsirkannya dengan sangat panjang dan super luas. Subhanallah. Ia memang seorang ustadz yang mumpuni. Demikian kesan yang menggelayut di hati.

Tentu saja, batinku merasa terpuaskan oleh acara ini. “Tak rugi, jauh-jauh datang ke tempat ini, meski harus pindah-pindah kendaraan sampai tiga kali“, itulah ucapan dalam hati. Maklum, tempat pengajian memang jauh dari rumahku. Setidaknya, ada dua  keutamaan yang berhasil kureguk dalam acara ini: pertama,  mendapat tambahan pengetahuan, kedua,  memperoleh berkah dari majelis dzikir (ilmu). Sebab, siapapun yang berada dalam sebuah majelis dzikir meskipun tak diniati, ia tak luput dari luberan ridlo dan keberkahan Ilahi. Itulah cuplikan hadits qudsi yang bernah saya baca dan tetap nyantel dalam hati.

Sobat, ada hal penting ingin kuberi tahu pada sampean. Setelah ceramah berlangsung satu jam lamanya, waktu sela pun tiba. Kala itu, si mubaligh memberi sejumlah informasi, salah satunya berupa  pengumuman “minta sumbangan”.

Adakah hal aneh ?  Tentu saja tak ada yang aneh dalam soal ini. Apalagi kita terlalu sering ketemua model-model permintaan sumbangan, mulai dari yang meratap mengeksploitasi rasa kasihan sampai pada yang  bernada pemaksaan.  Pongoleksi sumbangan di kendaraan umum adalah contoh yang terlalu sering memperlihatkan cara-cara tadi. Bukankah begitu ? Sobat, saya yakin sampean  akur dengan pendapatku. Bahkan, acara jum’atan tak jarang dijadikan sasaran permintaan sumbangan. Ustadz yang menjadi khotib di masjid misalnya, tak jarang merangkap sebagai pencari dana, mengumumkan pada jamaah jum’at bahwa ia butuh dana untuk kegiatan “keagamaannya”.  Bahkan,  ada pula sebuah mobil putar-putar kampung dengan mendrop dan menebarkan lusinan orang untuk dikerahkan minta sumbangan di kampung  yang disinggahinya, lagi-lagi juga dengan alasan keagamaan.

Sobat, saya tak tahu, kenapa “minta-minta” seperti ini bersliweran yang tak jarang berbalut nama agama,  meski agama mengajarkan, alyadil ‘ulya khoirun minal yadissufla: tangan di atas lebih baik dari  tangan di bawah.  Sobat, kunci jawabannya menurut saya satu saja: mungkin selama ini kita terlalu pelit untuk mengeluarkan sedekah tanpa melalui proses minta-minta. Bahkan, dengan dimintapun,  tak jarang kita tetap enggan mengeluarkan recehan sedekah apatah lagi gebokan uang infak.  Nggegem, itulah istilah jawanya, yang dalam  terminologi umum disebut pelit bin medit alias kikir bin bakhil.  Seolah tumpukan harta akan terus dibawa-bawa meski sampai ke liang lahat sana.

Sobat, kembali ke acara pengajian, saya tak tahu, manakah yang menjadi agenda alias niatan  utamanya dalam penyelenggaraan pertemuan, apakah pengajiannya ataukah mencari sumbangannya. Sebab, prosesi pengumpulan dana ternyata berlangsung cukup lama. Kala itulah, “wajah-wajah gelisah” dari kaum  pelit terpancar dari sorot matanya. Sebab, apapun  alasannya acara-acara pengumpulan dana semacam ini memang menjadi momok alias sesuatu yang paling dibenci atau bahkan ditakuti kaum bakhil bin pelit. Tapi, realitas inipun bukan fokus utama perhatian saya, sebab saya terlalu sering ketemu model-model si pelit yang memancarkan kegelisahan ketika disodorkan proposal sumbangan.

Lantas  apanya yang aneh ?  Nah, inilah anehnya. Dalam prosesi permintaan sumbangan Pak ustadz mencatat satu persatu nama pemberi sumbangan, lantas mengumumkan si penyumbang dan jumlah sumbangan. Bahkan, pengumuman diteriakkan keras-keras melalui  laud-speaker. Beginikah  ajaran beramal dalam  Islam, persis seperti dilakukan pak Ustadz yang fasih dalam mengutip ayat-ayat al Quran disamping hadits nabi sang utusan ? Sobat, saya yakin sampean pernah baca sebuah ajaran, bahwa sedekah sebaiknya dilakukan secara ikhlas atau bahkan diam-diam? ibarat tangan kanan memberi  tangan kiri tidak  mengetahui: rojulun tashoddaqotin akhfaa hattaa laa ta’lama syimaalahu maa tunfiqu yamiinuhu.  Bahkan, secara ekstrim  diibaratkan bak buang hajat, dibuang lantas dilupakan? Nah, menurut pendapat sampean, bagaimana menyikapi cara si ustadz yang menggembar-gemborkan nama penyumbang lengkap dengan jumlah sumbangan ? Kalau menurutku,  sekali lagi ini menurutku, cara begini potensial mendorong si penyumbang besar merasa bangga dengan rekor sumbangannya, sebaliknya, si penyumbang kecil  merasa agak malu dengan sumbangan recehannya.   Hal ini jelas sangat berlawanan alias kontradiktif dengan ajaran keikhlasan yang ditandaskan si ustadz selama pengajian.

Sobat, terus  terang nuraniku sempat muncul dugaan buruk alias su’udzon pada pak Ustadz.  Pengumuman dimaksudkan untuk mendorong agar orang jor-joran memberi sumbangan, agar  lebih bergengsi dengan jumlah sumbangannya, sehingga pengajian  berikutnya pak Ustadz dapat mengumpulkan sumbangan sebanyak-banyaknya. Terus terang, sobat, dalam hati saya marah dengan prosesi sumbang-menyumbang dengan cara begini. Di tengah rasa amarah itu, di benakku terbersit ingatan sebuah kisah keikhlasan amal kebajikan dari seorang anak manusia bernama Umar bin Khotob dan Abu  Bakar Asshidiq yang berusaha  menutup rapat-rapat amal kebajikan yang dilakukan diam-diam alias penuh kerahasiaan. Dalam kisah disebutkan……

Umar bin Khotob r.a. merawat  seorang wanita tua sekaligus buta. Setiap hari Umar membantu membersihkan rumahnya, sekaligus menyediakan makanan sang nenek renta. Namun, Umar selalu berpesan pada sang nenek agar tak menceritakan pada orang tentang kebajikan yang telah dia lakukan.

Sebagaimana biasa, hari itu Umar datang berkunjung ke rumah sang wanita renta, untuk mengurusi kebutuhannya. Namun sesampai disana, ia mendapati rumah nenek sudah dalam keadaan bersih dan rapi semua. Makanan juga telah terhidang di sana.  Melihat situasi ini,  Umar lantas bertanya pada sang nenek buta tadi, “Wahai nenek, siapakah yang telah mengerjakan semua ini ?.

Sang nenek menjawab, “seorang lelaki beriman pada Allah Ta’ala. Sebagaimana anda, dia pun mewasiatkan padaku agar tak memberitahukan kebaikannya pada siapa saja“.

Umar tak banyak tanya. Hanya saja, pada hari berikutnya Umar datang pagi-pagi buta. Namun, ia tak masuk rumah sang nenek renta, tapi pilih sembunyi di sebuah tempat saja, untuk mengamati siapa lelaki yang kebajikannya tak ingin diketahui orang lainnya. Tak berapa lama, lelaki yang ditunggu tiba, ternyata dia adalah Abu Bakar ash-shidiq r.a.

Umar akhirnya keluar dari persembunyiannya, lantas mendekati Abu Bakar sahabatnya, yang tak lain sang Amirul Mu’minin yang dalam konteks sekarang setingkat dengan pejabat Presiden  dan atau Perdana Menteri. Umar memeluk sahabatnya sambil berkata, “Ternyata engkau wahai Amirul Mu’minin. Aku kagum kepadamu, karena aku tidak pernah mendahuluimu dalam satu perkara kebajikan, kecuali engkau telah lebih dahulu melakukan“.

Sejak saat itu Umar senantiasa mengulang-ulang kata itu, “Tidak pernah aku mendahului Abu Bakar dalam menuju kebajikan, kecuali pasti dia telah mendahuluiku“.

Sobat, menurut saya,  kisah tadi setidaknya mengajarkan tiga keutamaan, (1). Muslim yang ikhlas akan dengan sendirinya mengembangkan sikap Fastabiqul khoirot,  berlomba dalam kebajikan, tanpa gembar-gembor melakukan pengumuman. (2). Iri yang dibolehkan hanya satu, yakni iri terhadap sebuah kebajikan, sehingga dia sendiri ingin melakukan kebajikan serupa bahkan kalau bisa lebih baik darinya. (3). Berbuat kebajikan hendaknya ikhlas lillahi ta’ala, seoptimal mungkin sembunyi-sembunyi dari pengetahuan manusia, guna  menghindari riya’ atasnya. Sebab, riya’ bisa menyebabkan kebangkrutan dari ganjaran tuhan.  Bahkan, kalau perlu ibarat tangan kanan memberi, tangan kiri tak mengetahui seperti saya kemukakan di depan  tadi. (4).  Dalam hal beramal ketika ditanyakan kepada Rosulullah,”wahai rosulullah, dalam apakah keselamatan itu ? Rosul menjawab, anlaa ya’malul ‘abdu bi thoo’atillaahi yuriidu bihannaas: seseorang janganlah mengamalkan ketaatan kepada  Allah dengan menghendaki manusia. Amal karena manusia adalah syirik tersembunyi.  Riya’ termasuk perbuatan hati yang buruk, dan riya’ dalam ibadah sama artinya dengan  mentertawakan Allah Ta’ala. (5). Dalam  sebuah hadits qudsi disebutkan, bahwa di akherat  nanti orang yang pertama diadili adalah orang yang mati syahid, orang yang mempelajari-mengajarkan al Qur’an (baca: ustadz), dan orang yang dilapangkan harta kekayaannya dan mendermakannnya. Sebagian  dari mereka ternyata masuk neraka, karena: si syahid berperang agar disebut orang pemberani dari kanan kiri, si ahli al Qur’an mengajarkan  kitab Allah agar disebut orang yang mumpuni, dan si kaya beramal agar disebut  dermawan oleh lingkungan yang dia tinggali.

Kepada ketiga golongan  manusia itu Allah akan berkata : Engkau telah mendapatkan apa yang kau harapkan  (baca: pujian manusia). Lantas wajahnya  ditarik, sehingga  ia dilemparkan ke dalam neraka.  Dengan demikian, mereka yang beramal hanya karena manusia tadi, akhirnya menjadi manusia  yang masuk ke neraka pertama kali. Naudzubillah.

Dus, berdasar kisah itu pula,  sobat, maka cara-cara pak ustadz mengoleksi sumbangan tadi menurut saya sangat tidak patut untuk diteladani apalagi diikuti, karena  dapat menjadi  sarana penyebab amalan riya’ tadi.***

Dhurorudin Mashad

sumber foto : didiksugiarto.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: