Archive for Januari, 2012

Pancaran 5

Duh Gusti…

aku mohon ampunan Mu melalui kelembutan sifat Mu

aku mohon petunjukMu melalui taufik hidayah Mu

aku mohon berkah Mu melalui kasih sayang Mu

aku mohon rahmat Mu melalui ridlo inayat Mu

aku mohon segala sesuatu melalui kemurahan sifat Mu

Duh Gusti…

apakakah permintaanku

terlalu berlebihan bagi Mu ?

Musik dalam Peradaban Islam

Bagaimanakah Islam memandang musik? Ada dua pandangan di dalam Islam terhadap musik. Ada ulama yang membolehkan dan ada pula yang melarangnya. Perbedaan ini muncul lantaran Alquran tak membolehkan dan melarangnya.

Ulama terkemuka Dr Yusuf Al-Qardawi dalam bukunya, Al-Halaal wal Haraam  fil Islam, memperbolehkan musik dengan sejumlah syarat. Sebenarnya, sejumlah ritual keagamaan yang dijalankan umat Islam mengandung musikalitas. Salah satu contohnya adalah alunan adzan. Selain itu, ilmu  membaca Alquran atau ilm al-qiraah juga mengandung musik.

Meski begitu, Al-Albani melarang umat Islam untuk bermusik. Ia mendasarkannya pada salah satu hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari. “Akan ada dari ummatku kaum yang menghalalkan zina, memakai sutra, minuman keras, dan alat-alat musik.”

Secara umum, umat Islam memperbolehkan musik. Bahkan, di era kejayaannya, umat Islam mampu mencapai kemajuan dalam bidang seni musik. Terlebih lagi, musik dan puisi menjadi salah satu tradisi yang berkembang di Semenanjung Arab sebelum kedatangan Islam.

Pencapaian peradaban Islam dalam bidang musik tercatat dalam Kitab Al-Aghani yang ditulis oleh Al-Isfahani (897 M-967 M). Dalam kitab itu, tertulis sederet musisi di zaman kekhalifan, seperti Sa’ib Khathir (wafat 683 M), Tuwais (wafat 710 M), dan Ibnu Mijjah (wafat 714 M). Penyebaran  Islam ke seluruh penjuru jazirah Arab, Persia, Turki, hingga India, semuanya memilik tradisi musik. Baca lebih lanjut

Kaligrafi: Hanya Permainan Warna (1)

Al’ilmu nuurun waljahlu dlolamun: Ilmu itu cahaya dan bodoh itu kegelapan (Al Hadits). Sebaiknya kita tidak hanya saling silang mengutuk kegelapan. Mulai detik ini, mari kita bersama menyalakan lentara, meskipun hanya satu yang kita punya, untuk menyusuri jalan hidup yang lebih berkeadaban.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Hanya BoToL BeKaS (1)

Innallaaha jamiilun wa yuhibbu aljamala: Allah itu Maha Indah dan suka pada keindahan (Al-Hadits). Marilah kita bersama memperindah dunia melalui karya-karya kita, dalam bentuk apapun dan dimulai dari sekecil apapun.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Berkunjung ke Kampung Muslim Kusamba, di Klungkung-Bali (Tulisan 2)

Setelah hari pertama dan kedua blusukan ke Kampung Gelgel, Kampung Lebah, dan Kampung Jawa,  pada hari berikutnya  dengan diantar pak Hasan Bick saya (dan beberapa teman, yakni: mas Hamdan Basyar,  Indriana Kartini, Heru Cahyono alias Ali Abdurrahman,  dan Afadlal) meluncur ke Kampung Kusamba yang juga merupakan salah satu komunitas Muslim Bali kuno di Klungkung. Kusamba terletak di Kabupaten Klungkung, Bali bagian Timur. Dari Denpasar butuh waktu tempuh sekitar 1,5 jam sampai ke sana. Selain dikenal sebagai pantai nelayan, Kusumba konon juga menjadi pusat pembuatan garam secara tradisional yang terbesar di pulau wisata ini.

Di Kusamba,  kami lihat banyak ibu-ibu dan remaja putri yang memakai jilbab. Sedang laki-lakinya bersongkok atau berkopiah putih. Ini menjadi simbol bahwa perkampungan tersebut adalah perkampungan Muslim. Simbol ini sangat penting di Bali, untuk membedakan mana masyarakat yang beragama Islam dan yang bukan. Sebab,  kalau lelaki Hindu yang dikenakan adalah udeng, Baca lebih lanjut

Pancaran 4

Di sini ku menanti

Kemarin, hari ini, entah sampai kapan lagi,

ku  akan terus menanti, agar peroleh cinta kasih Mu  Ya..Robbi.

Di sini aku berjanji.

Sekarang, lusa, entah sampai kapan waktunya,

senantiasa ku berusaha, untuk gapai kasih sayang Mu Ya.. Azza wa jalla.

Di sini, di mana saja,

aku slalu mabuk arak pesonaMu Duhai… Ilahi.

ingin rasanya, kumanunggalkan jiwa ragaku

dalam rengkuhan Mu,

dalam nafas Mu,

dalam sinar mata dan senyum Mu.

Sekarang, atau kapan pun waktunya,

Slalu kurindu lekatnya sukma

pada raga,

pada netra,

pada kening dan bibirMu.

O…, akankah harapanku

hanya hayalan bertabur dosa,

atau justru sesuatu yang Kau damba dari setiap hamba.

Di sini… kurindukan jawab Mu.

Musik Blues Ternyata Berasal Dari Tradisi Islam


Blues dikenal sebagai sebuah aliran musik vokal dan instrumental yang berasal dari Amerika Serikat (AS). Musik yang mulai berkembang pesat pada abad ke-19 M itu muncul dari musik-musik spiritual dan pujian yang biasa dilantunkan komunitas kulit hitam asal Afrika di AS. Musik yang menerapkan blue note dan pola call and response itu diyakini publik AS dipopulerkan  oleh ‘Bapak Blues’–WC Handy (1873-1958).

Percayakah Anda bahwa musik Blues berakar dari tradisi kaum Muslim? Awalnya, publik di negeri Paman Sam pun tak meyakininya. Namun, seorang penulis dan ilmuwan serta peneliti pada Schomburg Center for Research in Black Culture di New York, Sylviane Diouf, berhasil meyakinkan publik bahwa Blues memiliki relasi dengan tradisi masyarakat Muslim di Afrika  Barat.

Baca lebih lanjut