Berbuat Bajik Tak Pandang Pangkat

Sobat, kemarin malam saya baca sebuah buku tentang kepemimpinan. Ada  ungkapan sangat menarik perhatianku dari buku itu, “Pemimpin  hakekatnya adalah pelayan”. Terus  terang saya tak tahu, ajaran dari daerah mana dan dari agama apa yang dijadikan landasan si penulis dalam menuangkan kata-kata itu. Yang pasti, dari pembabakan sampai pada penjelasan panjang lebarnya, substansi yang dipaparkan memang mencerminkan keyakinan si penulis bahwa seorang pemimpin idealnya dan memang seharusnya melayani masyarakat yang dipimpinnya, dan bukan menampilkan diri sebagai orang yang minta  dilayani.

Ditengah mulutku yang komat-kamit membaca  buku, tanpa mampu kukendalikan pikiranku menerawang, ingat pada sebuah kisah yang  pernah diceritakan guru ngaji di kala kecilku. Yakni, kisah Salman al Farisi ketika menjadi pemimpin di sebuah negeri.

Suatu hari, demikian guruku memulai kisahnya, di tengah kota Madain, terdapat seorang pria asing (baca: dari luar kota) berdiri dekat sebuah karung berisi tepung. Karung cukup besar dan berat, sehingga sang pria asing tak cukup mampu memanggulnya. Telah berulang kali dia berusaha mengangkatnya, namun baru beberapa meter sudah ngos-ngosan nafasnya.

Ketika berdiri, menyerah tak mampu mengangkat sendiri, tiba-tiba  melintas di hadapannya seorang lelaki. Melihat penampilannya yang sangat sederhana, dengan postur tinggi besar sekaligus kekar otot-ototnya, si pria asing langsung menerka, “pasti dia seorang tukang panggul alias kuli“. Tanpa pikir untuk kedua kalinya, pria asing itu langsung melambaikan tangan memanggilnya, “Bang…, tolong saya, panggulkan karung ini !!!.

Lelaki yang  dimintai tolong sekilas tersenyum mengangguk, lantas membungkuk. Dia mengangkat karung di hadapannya, lantas memanggulnya, sambil mengikuti pria asing yang menyuruhnya.  Setiap kali berpapasan dengan orang, si lelaki besar itu pasti mengucapkan salam. Yang diajak salam pun pasti menyambutnya, bahkan selalu menawarkan diri untuk menggantikannya. Namun, si “kuli panggul” selalu menolaknya.

Suatu  kali, keduanya berpapasan dengan kerumunan orang. Setelah saling memberi salam, anehnya mereka saling berlomba menawarkan diri untuk menggantikannya, memikul karung itu. Melihat adegan aneh ini, sang pria asing lalu bertanya pada kerumunan orang tadi, “kenapa kalian berdesak-desak seperti ini ? Dan kenapa kalian sangat antusias untuk menggantikan memanggulkan karungku yang berat ini?

Mereka menjawab, “Ketahuilah olehmu bahwa pemikul barangmu ini, adalah Salman Al Farisi. Dia adalah gubernur kota ini“.

Mendengar penjelasan mereka tadi, lelaki asing itu  langsung pucat pasi. Ia memang dari luar kota hanya untuk mengunjungi kerabatnya, sehingga dia tak mengenal wajah gubernurnya, dan hanya tahu namanya. Dengan suara bergetar, badan gemetar, si pria segera memohon sang “kuli panggul” meletakkan karungnya, sekaligus mohon maaf karena tak mengenali gubernurnya.

Anehnya, gubernur Salman Al Farisi bersikeras untuk tetap memanggul karung, mengantarkan sampai ke tempat tujuan. Kepada sang gubernur pria asing itu lantas bertanya kurang enak hati , “Wahai bapak gubernur,  kenapa anda bersikeras mengangkatkan karung berat ini ?”.

Salman menjawab, “Aku telah mendapati diriku pada kedurhakaan, sehingga ingin sekali aku kembali kepada kebenaran.  Karena aku mendapatimu dalam kesusahan, maka ku berkehendak untuk memberikan pertolongan“. Salman menarik nafas lega, lantas  melanjutkan ucapannya, “Sungguh aku telah memenuhi kewajibanku terhadap salah seorang rakyatku. Terhadap persoalan ini, pasti kelak di hari kiamat nanti, aku akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Ilahi“.

Sobat, itulah sepenggal cerita singkat tentang manusia adiluhung bernama Salman  Al Farisi. Apa yang dia lakukan sebagai pemimpin, persis mencerminkan logika dari penulis buku yang kubaca tadi, bahwa pemimpin adalah pelayan bagi masyarakatnya.

Sobat, pangkat  dan jabatan memang dapat membuat orang cenderung jadi arogan. Pejabat model ini biasanya jaga jarak dengan orang-orang bawahan, bahkan meski mereka semula adalah teman  akrabnya.  Ketika menjadi kroco mumet (baca: bawahan) punya sikap ramah tamah, tapi ketika menjadi bos berubah tampil dengan keadigungannya, berusaha tampil dengan  wajah angker, atau setidaknya diangker-angkerkan.  Menjaga perbawa,  itulah istilah yang sering dijadikan alasan. Apa pasal ? Menurutnya, jika menjadi seorang atasan tetap berakrab-akrab alias tak membuat jarak dengan anak buah, bawahan biasanya cenderung nglunjak alias bersikap seenaknya, kurang memperlihatkan penghormatan  apatah lagi kepatuhan. Dikasih ati ngrogoh rempelo, itulah istilah jawanya. Sikap nglunjak alias tak  tahu makom, tak tahu posisi dan porsi inilah yang umumnya menyebabkan seorang atasan khawatir untuk bersikap ramah, grapyak semanak, dan lebih suka tampil dengan kesan angker atau bahkan arogan.

Sobat, menurut sampenan bagaimana cara menjembatani hubungan atasan – bawahan agar lebih mencerminkan sifat melayani dan bukan arogansi ?  Menurut saya, satu-satunya cara masing-masing pihak, bawahan dan atasan, pimpinan dan anak buah, perlu menyadari makom dan kedudukannya, peran dan  fungsinya. Hanya dengan cara ini seorang atasan yang asal mulanya sebagai teman, ketika menjadi bos akan tetap berusaha tampil sebagai  teman, sebab, dia meyakini bahwa anak buah dalam soal kedinasan  akan tetap tampil profesional sesuai peran dan fungsinya, sesuai makom alias kedudukannya.

Sobat, kisah Salman Alfarisi tadi mengajari bahwa Pangkat dan derajad tak sepantasnya menghalangi seseorang untuk berbuat kebajikan, apalagi sampai menumbuhkan kesombongan. Sebab, harta dan tahta itu hanya titipan Allah Ta’ala yang sifatnya sementara saja. Maa ‘indakum yanfaduu wamaa  ‘indallaahi baaqin  : Apa yang di sisimu itu habis dan apa yang di sisi Allah  itu kekal (Q.S. An-nahl: 96). Oleh karena itu, harta dan tahta jangan membuat kementus alias takbur bin sombong karena keduanya bisa lenyap kapan saja. Sebaliknya, seorang miskin papa dan rakyat jelata, jika Allah menghendaki bisa saja menjadi kaya raya dan berpangkat tak terkira. Itu semua sangat mungkin terjadi, sebab, maa yaftahillahu linnnasi min rohmatin falaa mumsika lahaa: Rahmat yang dibukakan Allah kepada manusia  tidak ada yang dapat menahannya (Q.S. Al Faathir: 2).

Untuk berbuat kebajikan tak perlu mempertimbangkan posisi dan kedudukan. Tak ada cerita dalam sejarah bahwa akibat berbuat kebajikan, maka kedudukan dan kehormatan seseorang menjadi melorot. Seorang menteri yang berpakaian safari, turun dari mobil mercy misalnya, menyeberangkan wanita tua renta yang hendak nyeberang jalan raya, hampir pasti tak bakalan anjlok harga diri dan kehormatannya. Seorang direktur utama dengan dasi bertengger di dadanya, mau menolong  orang kecelakaan tak akan turun pula kehormatannya.  Akibat  kebajikannya, sang menteri dan direktur utama justru akan mendapat penghormatan lebih di mata orang-orang di  sekitarnya. Insya Allah.***

DHURORUDIN MASHAD

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: