Berkunjung ke Kampung Muslim Kusamba, di Klungkung-Bali (Tulisan 2)

Setelah hari pertama dan kedua blusukan ke Kampung Gelgel, Kampung Lebah, dan Kampung Jawa,  pada hari berikutnya  dengan diantar pak Hasan Bick saya (dan beberapa teman, yakni: mas Hamdan Basyar,  Indriana Kartini, Heru Cahyono alias Ali Abdurrahman,  dan Afadlal) meluncur ke Kampung Kusamba yang juga merupakan salah satu komunitas Muslim Bali kuno di Klungkung. Kusamba terletak di Kabupaten Klungkung, Bali bagian Timur. Dari Denpasar butuh waktu tempuh sekitar 1,5 jam sampai ke sana. Selain dikenal sebagai pantai nelayan, Kusumba konon juga menjadi pusat pembuatan garam secara tradisional yang terbesar di pulau wisata ini.

Di Kusamba,  kami lihat banyak ibu-ibu dan remaja putri yang memakai jilbab. Sedang laki-lakinya bersongkok atau berkopiah putih. Ini menjadi simbol bahwa perkampungan tersebut adalah perkampungan Muslim. Simbol ini sangat penting di Bali, untuk membedakan mana masyarakat yang beragama Islam dan yang bukan. Sebab,  kalau lelaki Hindu yang dikenakan adalah udeng, yakni ikat kepala yang terbuat dari kain, persis seperti lelaki Jawa yang sempat kulihat di masa kecilku dahulu. Selain itu,  kaum Hindu baik wanita maupun pria banyak yang melilitkan kain di pinggang mereka, yang kebanyakan kuning atau sebagian lagi putih warnanya.

Namun,  dalam beberapa segi sebenarnya antara Muslim-Hindu di Kusamba telah melakukan akulturasi,  mengingat antara kedua komunitas ini telah memiliki hubungan geneologis yang kokoh akibat proses kawin mawin antar keduanya. Di kalangan umat Islam Kusamba misalnya,  mereka memakai juga nama-nama Wayan, Ketut, Nengah sebagai ciri khas kebalian mereka.  Wayan Mohammad Syaefullah,  seorang tokoh Kusamba yang saya temui,  merupakan salah satu contoh akulturasi nama dari : kebalian dengan keislaman.    Muslim Kusamba juga memiliki kemampuan berbahasa Bali halus,  sebagai lambang bahwa mereka adalah bagian dari komunitas asli Bali.

”Legenda nama Kusamba terjadi ketika seorang muslim asal Banjar  Kalimantan datang merapat ke Pantai desa itu. Ketika orang Banjar melihat seseorang (konon  pedagang  asal  Bugis)  sedang sholat lantas didekatinya. Si Bugis lantas bertanya : ”siapa kamu ?. Si Banjar menjawab: ”Ku Sama”,  yang di telinga si Bugis  terdengar Kusamba”, jelas Wayan Mohammad Syaefullah,  tokoh asli Kusamba yang pernah menjabat kepala desa setempat sejak 1984-2002 (Wawancara di Klungkung, 25 Mei 20011).

Kampung Islam Kusamba dikenal sebagai kampung Islam yang menyimpan banyak sejarah Islam di Bali. Dalam catatan sejarah disebutkan bahwa Desa Kusamba, Klungkung memiliki ikatan sejarah yang sangat besar atas perkembangan Islam di Tanah Dewata. Bukti sejarah tersebut ditandai adanya makam Habib Ali Bin Abubakar Bin Umar Bin Abubakar Al Khamid. Letaknya tepat di pesisir pantai Kusamba, Klungkung. Semasa hidupnya Habib Ali dikenal sangat dekat dengan keluarga Kerajaan Gelgel, Klungkung. Bahkan, ia ditunjuk menduduki jabatan sebagai penerjemah atau ahli bahasa yang bertugas mengajarkan bahasa Melayu kepada Raja yang saat itu dipimpin oleh Raja Dewa Agung Jambe. Karenanya Habib Ali mendapat perlakuan yang istimewa dari Raja. Ia diberi seekor kuda jantan putih yang gagah perkasa untuk melakukan tugas kerajaan. Tak hanya itu, ia merupakan satu-satunya rakyat biasa yang bebas keluar masuk kerajaan.

Konon karena perlakuan istimewa ini  akhirnya sempat menghembuskan angin permusuhan di internal kerajaan. Apalagi ia seorang Muslim yang “oleh kelompok dengki” dinilai tidak sesuai dengan keyakinan yang dianut waktu itu. Kedekatannya dengan Raja Dewa Agung Jambe akhirnya menuai petaka. Suatu hari,  usai menghadap sang raja, Habib Ali dihadang oleh sekelompok pasukan tak dikenal. Akhirnya, terjadi pertempuran (tepatnya: pengeroyokan) sengit dan tidak imbang yang mengakibatkan Habib Ali terbunuh. Mendengar penterjemahnya tewas, raja Klungkung, Dewa Agung Jambe memerintahkan prajurit kerajaan untuk memakamkan jasad Habib Ali di tepi pantai Kusamba, tempat dimana ia wafat.

Selain makam tersebut, bukti sejarah terkait keberadaan masyarakat Islam di Kusamba adalah penemuan benda bersejarah yaitu al-Qur’an tertua. Qur’an ini diakui telah berusia hampir 400 tahun. Al-Qur’an tertua tersebut ditulis tangan oleh ulama besar asal Bugis. Konon, al-Qur’an yang ditemukan di Kusamba merupakan salah satu al-Qur’an kembar tiga. Ternyata, al-Qur’an tertua di Bali ditulis dan dibuat sebanyak 3 buah dalam kurun waktu yang berbeda oleh ulama yang sama. Sayangnya, siapa pembuat ketiga al-Qur’an kembar tersebut sampai kini belum diketahui (Bahrul Ulum/Suara Hidayatullah AGUSTUS 2008).  Dan sayang sekali juga,  saya tidak berkesempatan melihat ketiga al Qur’an itu.

Dalam konteks kekinian  Hubungan masyarakat kampung yang mayoritas keturunan Banjar ini dengan kampung lainnya yang beragama Hindu secara umum sangat baik. Masyarakat Hindu bersikap toleran terhadap warga Muslim. Di kampung ini terdapat juga sebuah masjid yang cukup besar, bernama Masjid Al-Huda. Selain itu,  kampung ini juga memiliki sarana pendidikan berupa sekolah Islam.

Hal lain yang menarik,  ternyata sebagaimana komunitas Gelgel, hubungan masyarakat Muslim di kampung Kusamba dengan pihak kerajaan juga sangat baik. Demikian juga hubungan  Muslim Kusamba dengan komunitas Hindu di sekelilingnya,  semua terjalin sangat baik.  “Memang,  pernah sekali terjadi gesekan.  Kala itu terjadi pengepungan orang-orang Hindu terhadap kampung ini. Hal itu terjadi akibat kesalahpahaman saja.  Dan kala itupun,  penyulut peristiwanya bukanlah Muslim Kusamba,  tetapi seorang pendatang yang kebetulan kurang paham terhadap kultur Bali.  Dia membentak-bentak secara keterlaluan terhadap seorang Hindu dari kasta Brahmana –tapi miskin– yang kebetulan melakukan kesalahan.  Hal ini sempat menimbulkan ketersinggungan ”secara kolektif”.  Tapi,  setelah saya lakukan dialog dengan tokoh-tokoh Hindu,  akhirnya kami saling memaafkan.  Sebab,  kami  satu sama lain  hakekatnya kan memiliki hubungan kekerabatan akibat proses kawin mawin.  Nenek saya pun berasal dari komunitas mereka, seorang muallaf asal Hindu ”,  ungkap Wayan Mohammad Syaefullah, pengusaha penyewaan alat-alat berat ini.

Umat Islam di Kusamba secara historis dikenal sebagai umat yang jujur dan teguh memegang janji. Anggapan ini sudah ada sejak zaman nenek moyang mereka. Misalnya, dalam hal perjanjian untuk tidak saling mengganggu, atau menyakiti antar umat yang berkeyakinan beda.  Umat Islam adalah kelompok yang belum pernah mengingkari perjanjian-perjanjian seperti itu.  Selain itu, umat Hindu Klungkung juga melihat kaum Muslim itu sebagai masyarakat yang memiliki aturan lengkap. Misalnya aturan dalam kehidupan sehari-hari. “Mereka sangat hormat kepada muslim yang taat menjalankan agamanya,  secara percaya diri memperlihatkan identitas keislamannya,  seperti dilakukan komunitas muslim asli Bali.  Orang-orang Islam pendatang yang tidak shalat,  mabuk, yang tidak taat agama lah yang justru menyebabkan kaum Hindu menjadi kurang respek pada umat Islam”,  tegas Wayan.

Pada dasarnya umat Hindu di tempat itu memandang positif terhadap  umat Islam. Hal ini karena sudah terbukti bahwa Islam bisa hidup berdampingan dengan masyarakat sekitarnya. Buktinya, setiap adanya perayaan nyepi yang bersamaan dengan shalat Jumat, bisa berjalan beriringan.  Pada saat Nyepi, meski umat Hindu melaksanakan catur berata panyepian (mati karya, mati lelangunan, mati geni, dan mati lelungan), namun umat Islam juga menunaikan shalat Jumat di masjid,  tentu saja dengan  tidak menggunakan pengeras suara ke luar, tapi cukup ke dalam,  agar tidak mengganggu umat Hindu yang sedang merayakan hari besarnya.

Di Kabupaten Klungkung sebenarnya terdapat satu lagi kampung kuno Muslim yaitu

Kampung Toya Pakeh di Kecamatan –atau tepatnya pulau– Nusa Penida. Untuk menuju ke tempat itu,  kita harus naik kapal –atau tepatnya perahu—rakyat dalam waktu dua setengah jam.  “Bahkan,  waktunya bisa lebih lama terutama bila ombak lautan sedang bergejolak”,  jelas pak Hasan. “Oleh karena itu,  bila bermaksud mendatangi Toya Pakeh,  minimal kita butuh waktu seharian,  untuk pulang pergi dan  sedikit menyempatkan waktu menelusuri lokasi”. Namun, sejak semula saya memang tak berniat ke lokasi itu,  mengingat perahu rakyat di tempat itu tergolong kecil, sedangkan gulungan ombaknya terbilang besar.  Hati saya merinding  membayangkan bila harus berayun-ayun di samodera menuju Toya Pakeh.

Kampung Toya Pakeh sebenarnya merupakan pengembangan dari komunitas Gelgel-Bugis-Banjar di Kusamba.  Maka hampir sama dengan masyarakat kampung Gelgel yang merasa punya hubungan genealogis dengan kampung Lebah,  komunitas Kusamba merasa punya hubungan darah dengan masyarakat Toya Pakeh.  “Dapat dipahami jika sampai kini di Kusamba misalnya,  masih beroperasi pelabuhan (rakyat)  yang sangat penting menghubungkan Pulau Bali dengan  Pulau Nusa Penida”, jelas Wayan Mohammad Syaefullah mengakhiri penjelasannya.  Dengan berakhirnya penjelasan dari tokoh asal Kusamba tadi,   maka berakhir pula kunjungan kami di kampung Kusamba ini.  Dengan menembus hujan rintik-rintik di senja hari,  mobil kami beranjak meninggalkan kampung kuno yang dihuni komunitas muslim asli Bali.

DHURORUDIN MASHAD

foto :potlot-adventure.com

13 responses to this post.

  1. Posted by Mohammad Shoelhi on 19/01/2012 at 11:13 am

    Tulisan ke-2 ini lebih jelas memberi gambaran tentang Muslim Bali.
    Dengan begini perkiraanku Bali hanya dihuni Hindu tak terbukti.
    Sekarang aku jadi tahu di sana ada saudaraku juga.
    Terima kasih mas Dhuro.

    Balas

  2. Posted by Muhammad Amir on 01/09/2012 at 12:59 pm

    Asw. Terimakasih Mas Dhuro sudah mengangkat cerita daerah asal saya. Saya lahir dan besar hingga SMA di Kampung Lebah. Ibu saya asal Kampung Gelgel, ayah saya memang keturunan Banjar. (saya generasi keempat). Keluarga saya keturunan Banjar tersebar juga di Kampung Kusamba dan Kampung Toya Pakeh. Wassalam. Made Amir-Gorontalo.

    Balas

    • Assalamu alaikum wr wb, Made Amir, semoga selalu dalam lindungan ALLAH SWT. Saya Wahyuddin Lutfi di Banjarmasin. Dapatkah saya memperoleh informasi lebih banyak ttg. sejarah orang-orang Banjar di Kampung Islam Kusamba? Yang di maksud ‘banjar’ disini apakah ‘banjar’ di Kalimantan (Selatan)? Informasi sangat saya perlukan untuk melengkapi tulisan saya di web-blog saya: Suluh Banjar.blogspot.com. Semoga Anda tidak keberatan berbagi informasi. Ini e-mail saya: uddin21banjar@gmail.com. Wassalam

      Balas

  3. sama-sama mas. beruntung sekali saya berkesempatan datang ke sana

    Balas

  4. Assalamu alaikum wr wb. Alhamdulillah, atas berkat rahmat ALLAH SWT silaturahim kita tersambung. Mas Dhuro, saya minta tolong nih, mohon disambungkan silaturahim ini dengan Mas Muh.Amin di Gorontalo. Saya ingin sekali menulis mengenai sejarah Orang-Orang Banjar di Bali, terutama Kusamba. Tolong sambungkan dengan beliau ya Mas Dhuro. Ini email saya: uddin21banjar@gmail.com. Atau bisa hubungi saya via: 0853 4867 1562. Saya di Banjarmasin. Jenguk dan follow juga blog saya: Suluh Banjar.blogspot.com. Penting sekali , Mas. Wassalam

    Balas

    • Wassalamu ‘alaikum. terima kasih masih mas Wahyuddin. Wah, saya sangat mendukung bila anda ingin menulis muslim Kusamba, sehingga akan dapat membuka wawasan banyak orang tentang apa, bagaimana muslim bali yang sebenarnya. Sayang sekali saya belum kenal dengan mas Muh. Amin di Gorontalo. Insya Allah akan saya kunjungi blog anda. Trims

      Balas

    • Assalamualaikum w.w. Mas Dhororudin. Bisakah saya minta tolong? Kan untuk mengetahui e-mail address dari Made Muh.Amir tentu hanya bisa dilakukan oleh pemilik blog, dalam hal ini adalah Mas Dhororudin sendiri. Bisakah saya diberi tahu email dari Made Muh. Amir?

      Balas

  5. Assalamualaikum w.w. Sangat disayangkan sekali, ketika saya kirimi ssu-rel ke alamat sdr. Made Muhammad Amir, ternyata tak bisa terhubung sama sekali. Saya menghimbau/memohon; siapa pun yang mengenal sdr. Made Muhammad Amir agar memberikan informasinya ke saya via: 0853 4867 1562 atau email ke: uddin21banjar@gmail.com. Semoga sdr. Made Muhammad Amir dimudahkan ALLAH SWT bertemu dengan saya, lewat perantaraan apapun.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: