Reformasi Sistem Pemilu

Cover Belakang:   Sepanjang usia republik ini, pemilu dirasa tak pernah betul-betul mencerminkan asas demokrasi. Dalam format politik nasional,  system kepartaian memang telah diwujudkan, disamping memformalkan pemilu yang,  secara teoritis,  dilaksanakan setiap lima tahun sekali.

Meskipun demikian, pemilu yang langsung, umum, bebas, dan rahasia (luber) tidak pernah menjadi kenyataan. Pemilu yang luber hanyalah slogan dan retorika. Di era Orde Baru, misalnya pemanfaatan Golkar, monoloyalitas birokrasi, dinajiskannya budaya oposisi, susunan Panwaslak Pemilu, dan penerapan dwifungsi ABRI merupakan bukti bahwa pemilu yang semestinya luber tercemar oleh kooptasi penguasa.

Untuk mengembalikan pemilu kepada esensinya, diperlukan reformasi total baik pada system maupun teknis penyelenggaraannya.  Termasuk reformasi peran social politik ABRI dan campur tangannya dalam pemilu.

Meski buku ini telah lama terbitnya,  tetapi isinya masih sangat relevan dengan problem kekinian,  terutama dalam rangka membangun pemilu yang demokratis tidak manipulatif,  baik dari segi prosedur maupun substansinya. (Jakarta: PT Gramedia  Widiasarana Indonesia).***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: