Hubungan Historis-Kultural Muslim – Hindu di Klungkung, Bali (Tulisan 3).

Pada hari keempat di kabupaten Klungkung,  saya dan teman-teman diajak pak Hasan Bicks menelusuri kembali jalan di kampung-kampung kuno Muslim.  ”Agar suasana kehidupan komunitas muslim Klungkung nyantel dalam ingatan”,  tegas pak Hasan sambil menyetir mobil dengan  penuh waspada.  Maklum, hari itu kami memang berniat melanjutkan perjalanan ke kabupaten Bangli.

Pagi  itu udara terasa dingin.  Langit mendung tipis,  dan mentari malu-malu menampakkan diri.  Bahkan,  gerimis kecil mulai turun membasahi bumi.  Udara di luar membeku,  tetapi alhamdulillah kami di dalam mobil tidak ikut beku. Kami tetap terhangatkan oleh semangat  yang menyala untuk mengunjungi kampung-kampung muslim di Bali lainnya.

Sebelum meninggalkan Klungkung,  kami   diajak mampir dahulu ke pelabuhan rakyat di desa Kusamba.  Ini merupakan kunjungan yang kesekian kalinya ke pelabuhan rakyat untuk menuju pulau Nusa Penida ini. Kenapa kami merasa perlu balik ke tempat ini ?  Alasannya hanya satu: menyantap sate ikan yang luar biasa lezatnya.  Sebenarnya,  tempat dan penyajiannya  tak ada yang istimewa alias sederhana saja.  Tetapi,  rasa khas nya  benar-benar menendang lidah kita.  Menunya: sate ikan yang ditusuk dengan potongan kecil pelepah daun kelapa,  sop dengan isi pentolan bakso terbuat dari ikan juga,  plecing kangkung,  kacang goreng, ditambah sambal yang pedasnya menyengat lidah kita.   Sungguh,  kelezatannya masih kuingat kembali ketika saya menulis naskah ini.

Di Kabupaten Klungkung   komunitas-komunitas muslim yang baru tumbuh sejak era pariwisata sebenarnya tidak ada.   Lima Kampung Muslim yakni Gelgel,  Lebah,  Jawa,  Kusamba, dan Toya Pakeh semuanya merupakan kampung Kuno.  Kaum Muslim yang  datang belakangan apalagi di era pariwisata Bali sejak tahun 1970an  sebagian kecil menginduk kepada kelima kampung kuno itu, tetapi kebanyakan justru tinggal membaur di komunitas-komunitas Hindu. Kaum pendatang baru di Klungkung ini pun jumlahnya tidak terlalu signifikan. ”Di Kabupaten Klungkung jumlah seluruh Muslim maksimal hanya sekitar 30 ribu jiwa atau sekitar 8000 KK yang sebagian terbesar tinggal di 5 Kampung kuno Muslim.  Bahkan,  angka itu sebenarnya masih kebesaran,  terutama jika dirujukkan pada realitas jamaah sholat di hari raya”,  kata ketua MUI Klungkung, Mustafid Amna.

Jika jumlah itu dibagi oleh komunitas 5 kampung Muslim,  maka rata-rata maksimal hanya berpenduduk 6 ribu jiwa perkampung.  Dengan data semacam ini maka jumlah pendatang Muslim di Klungkung tentu sangat sedikit. ”Di Kampung Gelgel saja misalnya,  kampung seluas 8,5 hektar yang dihuni 288 KK Muslim itu,  ternyata pendatangnya hanya tercatat 10 KK yang umumnya berprofesi sebagai pedagang”,  ungkap Kepala Kampung Gelgel, Hanani.

Masyarakat Muslim di Klungkung secara kesejarahan memiliki hubungan khusus dengan masyarakat Hindu lokal,  termasuk khususnya dengan elit pemerintahan kerajaan. Komunitas-komunitas Muslim lama di berbagai tempat (terutama kampung Gelgel dan Kampung Lebah) memiliki hubungan historis dengan Penguasa Hindu,  sehingga mereka secara kesejarahan diperlakukan secara sangat terhormat,  termasuk dalam simbolitas undangan di setiap acara adat yang diselenggarakan  keturunan para raja. Jika di Puri ada hajatan seperti Pitra Yadnya atau potong gigi (masangih) tokoh Kampung Islam lama biasanya diundang ke Puri dengan status yang justru diistimewakan, posisi duduk setingkat dengan raja.  Kesenian Islam bahkan pula ditampilkan dalam acara-acara adat mereka.

Ada satu hal lain dimana muslim Gelgel memperoleh keistimewaan, yakni: khusus masjid kampung Gelgel mendapatkan aliran air subak secara gratis seberapapun kuantitas yang digunakannya. Air subak terus mengalir deras siang malam –untuk keperluan bersuci– tanpa dipungut biaya.  Jika ada sebagian orang Hindu mempertanyakan hal ini,  otoritas Puri langsung tampil membela,  karena perlakuan istimewa ini  memang telah dijalankan ratusan tahun lamanya,  ada sejarah di dalamnya,  sehingga sampai kapanpun tak boleh digugat apalagi dibatalkan keberlakuannya.

Realitas kedekakatan kampung Islam dengan Puri itu terbangun, karena:

Pertama,   secara historis memang terjadi ikatan emosional antara komunitas Muslim dengan sebagian besar raja Klungkung,  terutama akibat  dukungan komunitas Muslim tersebut dalam berbagai peperangan antar kerajaan di Bali.  Perlu dicatat bahwa di era lama,  peperangan antar kerajaan di Bali memang seringkali terjadi.  Dalam peristiwa-peristiwa inilah kaum Muslim  kala itu dimintai bantuan agar menjadi bagian dari pasukan khusus.

Kedua,  terdapat hubungan perkawinan antara Muslim keluarga raja, bahkan juga diikuti pada level masyarakat biasa, yakni antara para pengikut, saudara, dan keturunan tokoh-tokoh Islam dengan wanita-wanita Hindu. Proses kawin mawin ini bahkan juga terjadi di kampung-kampung Islam yang muncul pada periode-periode berikutnya (tetapi juga kampung tua),  seperti kampung Kusamba, Kampung Jawa, dan Kampung di Nusa Penida.

Realitas sosio historis ini secara psikis akhirnya menumbuhkan ikatan emosional genealogis antara komunitas Hindu lokal dengan  kaum Muslim lama.  Oleh karena itu sebutan Nyamo Slam/saudara Muslim bukan sekedar istilah basa-basi tetapi memang memiliki sejarah genealogis. Kedua hal tersebut menyebabkan hubungan erat antara komunitas muslim lama dan kaum Hindu, bahkan sampai disebutnya sebagai Nyamo Slam,  saudaraku Muslim.

Sejarah masuknya Islam ke sejumlah lokasi di Bali yang kini lebih dikenal dengan Banjar Muslim, tidak merupakan satu kesatuan yang utuh, namun satu sama lainnya kemudian saling berinteraksi. Namun perlu dicatat bahwa Keberadaan muslim Klungkung terhitung paling tua dalam catatan sejarah Muslim Bali. Mereka yang terutama tinggal di Gelgel bahkan tercatat sebagai  generasi pelopor muslim di wilayah Bali pada umumnya.

Sebagaimana telah disinggung pada tulisan sebelumnya (tulisan pertama), kedatangan Muslim pertama di Bali  terjadi sejak era Dalem Ketut Ngelesir.  Sebagai kepanjangan penguasa Majapahit,  Dalam Ketut Ngelesir  (1380-1460) memang pernah mengadakan kunjungan ke Majapahit, ketika Hayam Wuruk mengadakan konperensi kerajaan-kerajaan vasal (taklukan) di seruruh Nusantara. Ketika kembali Ketut Ngelesir diberi 40 orang pengiring beragama Islam. Kaum muslim tersebut lantas menetap di Bali bertindak sebagai abdi dalem kerajaan Gelgel,  serta  menempati satu permukiman dan membangun sebuah masjid dan menjadi  tempat ibadan umat Islam tertua di Bali. Sejak itu komunitas muslim mulai muncul di Bali dan terus berkembang, walaupun tidak sepesat di Jawa.

Ketika Dalem Waturenggong (1460-1550) menggantikan Ketut Ngelesir,  perkembangan Islam di nusantara makin pesat terutama setelah tahun 1518 Demak/ Raden Patah (putra Brawijaya V) meruntuhkan Majapahit (pimpinan orang yang menyebut diri Brawijaya VII) dengan berbagai alasan politik. Di era Demak inilah, misi Islam datang lagi ke Gelgel, Klungkung.

Memang,  waktu itu Watu Renggong yang tak lain cucu Dalem Krisna Kepakisan tidak berkenan terhadap Islam.   Banyak muncul versi bagaimana cara Waturenggong menolak himbauan Islam,  namun  satu versi yang dianggap kuat adalah Waturenggong menantang pimpinan ekspedisi (Dewi Fatimah, yang masih kerabat Waturenggong sendiri) untuk mengadu kesaktian,  dan ternyata Waturenggong menang.  Konsekuensinya misi Islam tidak dapat diterima melalui jalur kerajaan,  sedangkan  kaum muslim dalam ekspedisi itu diijinkan bergabung dalam komunitas Muslim Gelgel yang telah ada sebelumnya. Mereka membangun  misi dengan cara lain yakni kawin mawin  dengan wanita lokal serta membangun cikal bakal komunitas-komunitas muslim di Bali.  Ketika kampung Gelgel sudah tak mampu menampung,  kerajaan memberi tanah pelungguhan baru di kampung Lebah. Dua kampung itulah sebagai komunitas muslim tertua di tanah Bali. Bahkan Watureggong konon senantiasa memberikan sangu/tambahan bekal kepada umat muslim yang akan menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci Mekkah. Keturunan komunitas yang telah ada sejak 500 tahun lalu ini jejak sejarahnya masih ada dan masih mempertahankan adat istiadat dan keyakinannya. Mereka bersosialisasi dengan masyarakat sekitar dan saling berinteraksi dengan kaum Hindu.

Hubungan Muslim – Hindu Klungkung dalam konteks kekinian tetap harmonis. Kalaupun  terjadi friksi umumnya terkait dengan kenakalan remaja (seperti beberapa kali terjadi di kampung Lebah). Namun,  tetap harus dicermati bahwa: terutama seiring dengan terbangunnya Bali sebagai wilayah wisata maka problema-problema baru memang muncul.  Tetapi umumnya,  problema bukan bersifat kultural,  tetapi lebih bersifat ekonomi.  Dengan status wilayah wisata,  maka banyak pendatang baru, yang umumnya muslim. Problemnya adalah: motivasi utama mereka adalah ekonomis,  tanpa diimbangi oleh usaha pemahaman terhadap kultur dan kearifan lokal. Problema politik nasional ditambah euphoria politik otonomi daerah  –yang acapkali dibumbui oleh eksploitasi semangat primordial oleh mereka yang berebut kuasa– tampaknya ikut pula merembeskan pengaruh negatifnya terhadap konstelasi hubungan sosial  di wilayah Klungkung.

Rinai kecil pelan-pelan membesar.  Suaranya makin lama kian bergemuruh. Sesekali kilat menyambar di udara,  meski tanpa suara.  Langit menangis.  Udara membeku.  Tapi kami tetap bersemangat melanjutkan perjalanan,  menerobos hujan menuju kota tujuan: Bangli.   ***

Dhurorudin

foto : balipicanusa2010.blogspot

6 responses to this post.

  1. Posted by Mohammad Shoelhi on 21/02/2012 at 11:55 am

    Nah ini yang kutunggu-tunggu melengkapi tulisan sebelumnya. Terima kasih mas Dhuro

    Balas

  2. Posted by rahmatullah on 30/07/2013 at 8:52 pm

    cerita yang indah,saya bangga sebagai muslim klungkung

    Balas

  3. Posted by nina diana on 05/03/2016 at 8:52 pm

    sya telah memabaca buku muslim Bali,mencari harmoni yang hilang. sungguh sangat menarik dan menginspirasi sya dalam menulis tugas akhir. dalam buku itu, ada refernsi yg sya ingin tahu, menganai karya Saleh Saidi & Yahya Anshori (eds), Sejarah Keberadaan Umat Islam di Bali, Denpasar: MUI, 2002, ini mrupakan krya berupa buku atau apa? bila iya, sya bisa dpatkan karya itu dimana pa? sbelumnya sy ucpkan terima kasih, sukses slalu pak..

    Balas

    • Mbak nana. Yang anda tanyakan itu berupa buku kumpulan tulisan (buku bunga rampai), dan pak saleh saidi adalah salah satu penulisnya sekaligus editornya. Saat itu saya foto copy, seingat saya di perpustakan daerah di denpasar. semoga anda sukses.

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: