Tidak Taklit Dan Mengira-ngira Saja

Sobat, berikut ini saya tampilkan sebuah kisah yang pernah diceritakan ibu di masa kecilku.  Kisah ini sangat membekas di benakku,  bahkan terus nyantel hingga dewasa. Karena substansinya, menurut saya, super penting maka tidak ada salahnya untuk saya bagi kepada sobat semua. Selamat membaca.

Kala dahulu di pedalaman pulau Jawa,  ada sebuah kampung bernama Dusun Mbebek. Penduduknya beragama Islam,  tapi pemahaman mereka pada agama hanya permukaan.   Mereka hanya Islam karena keturunan,  tapi tidak pernah belajar menambahi pemahaman. Mereka memang rajin melakukan upacara/ritual yang dianggap agama,   tapi tak peduli  – tak paham pada aturan yang dibolehkan atau justru dilarang oleh agama.  Suatu hari, para orang awam yang tak pernah berusaha menjadi paham,  menjalankan  shalat jama’ah. Mereka seolah-olah tampak khusuk, meski di hati mereka mblangkrah kemana-mana, bersliweran pikiran soal keduniaan.  Tiba-tiba salah  seorang jamaah kentut keras sekali, “Dutt, Bret…. !!!.

Mendengar kentut ini, orang di dekatnya langsung nyeletuk, “Hus…, sembahyang tak boleh kentut. Batal“.

Jamaah di samping berikutnya, ganti berkata, “Kamu juga  batal, sebab orang  sembahyang tak boleh bicara“.

Berikutnya orang di depannya menyahut, “Kamu juga bicara, berarti kamu juga batal“.

Orang disampingnya ikut nyeletuk, “Hanya aku yang tak bicara, berarti aku sendiri yang sah sholatnya“.

Suasana sholat makin riuh, karena setiap jamaah saling nyeletuk. Tak tanggung-tanggung, akibat situasi ini, ganti imam ikut menimpali, “Hus…diam  semua.  Saya jadi bingung tak konsentrasi, akibat kalian ribut sekali“.

Alhasil, akibat kebodohan mereka, peserta sholat jamaah mulai imam sampai makmumnya batal semua.

Suatu hari, salah seorang penduduk dari negeri pedalaman ini plesir menjadi musafir. Orang tadi akhirnya sampai di sebuah negeri, dimana penduduknya relatif lebih  baik pemahaman agamanya,  kendali semangat ritualnya sama dan setara. Ketika tiba hari  Jum’at, musafir asal pedalaman Jawa ini segera mencari masjid untuk jum’atan. Ia memilih duduk tepat di belakang imam.  Maklum, seperti saya jelaskan tadi, semangat ritual penduduk asal pedalaman Jawa kala itu semuanya memang cukup tinggi, hanya saja tanpa diikuti ilmu beragama secara memadai.

Nah, akhirnya waktu sembahyang tiba, dan sang muadzin mengumandangkan iqomat, tanda dimulainya sholat. Sholat berjalan sebagaimana biasa sampai rekaat kedua tiba. Kala itu, kaki orang asal pedalaman Jawa alias musafir tak sengaja menendang kepala makmum di baris belakangnya. Kebetulan makmum yang tertendang kepalanya adalah seorang bocah. Karena  mangkel kena tendangan, si bocah dengan iseng mengitik-itik alias membuat geli telapak kaki orang di depannya tadi. Si musafir asal pedalaman Jawa tentu kegelian, namun pikirannya menyangka itulah cara sholat di negeri yang ia singgahi.  Dengan tanpa pikir dua kali, ia ganti mengitik-itik orang di depannya yang tak lain adalah sang Imam sholat.

Kontan, sang imam yang penggeli dan tak mampu menahan geli akhirnya gelinjangan kegelian, bahkan ditimpali dengan tawa  cekikian. Akibat peristiwa ini tentu sholat jamaah menjadi bubar berantakan.

Naudzubillah. Itulah kebodohan dalam beragama, yang akhirnya menyebabkan berantakannya kehidupan beragama.  Semoga kisah fiktif ini dapat dijadikan i’tibar agar peristiwa beragama yang serupa atau substansinya nyaris sama tidak pernah terjadi (atau tidak berlarut-larut terjadi) di lingkungan kita.  Cara beragama tak sepantasnya hanya didasarkan pada agama keturunan  atau ngintil di belakang trend ikut-ikutan. Hal yang lebih penting, keberagamaan perlu diperkuat lewat pembelajaran terutama dari sumber aslinya, Al Qur’an dan Hadits, dengan diperkaya berbagai informasi ijtihad para ahli. Hanya dengan beragama  berlandas dzikir dan fikir, menggabungkan antara iman, ilmu dan amal, akan menjadikan umat beragama secara sehat.

Sumber:  Dhurorudin Mashad, Seri Kisah Jenaka Sarat Makna, (Jakarta:  Penerbit Erlangga, 2003),  Jilid 5, Pada Catatan Pengantar

foto : faridwajdiarsya.wordpress

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: