Muslim di Kota Bangli – Bali (Tulisan 4)


Pagi menguasai mayapada.  Sinar mentari  masih malu-malu menampakkan dirinya. Awan tipis bergerak berarak, sesekali sempat menutupi sang surya. Saya dan teman-teman sepagi itu sudah menapak bumi Bangli,  salah satu kabupaten di tanah Bali. Di lokasi ini sekali lagi,  saya ingin melanjutkan silaturrahmi ke kampung-kampung  Muslim.

“Alhamdulillah”,  desisku dengan suara pelan, nyaris tak kedengaran. Mobil kami berhenti tepat di sebuah warung makan. Di depannya terpampang tulisan  besar:  Depot Muslim. Dari tulisan ini ada dua pesan yang dapat kutangkap: pertama, pemilik warung hampir pasti berasal dari Jawa Timur. Sebab,  istilah depot  yang saya tahu memang dipergunakan orang-orang dari ujung timur pulau Jawa.  Kedua,  menu yang disajikan di warung dijamin halal bagi setiap muslim.

Hups…jangan berprasangka dulu, ya… Dalam hal ini,  saya sama sekali tak bermaksud mengembangkan primordialisme agama dan atau daerah: hanya mau beli di toko milik Muslim dan atau dari Jawa. Bahkan, sebelum masuk ke depot saja, saya telah mampir dulu ke toko warung Bali–Hindu untuk beli sesuatu.  Bagaimana saya tahu,  toko itu milik orang Hindu ? Gampang untuk mengenalinya.  Pertama,  di depan warung terdapat rangkaian wadah janur kecil berisi bunga dan atau beras persembahan (seingatku bernama canangsari). Kedua, di setiap rumah/toko orang Hindu “pasti” di depannya terdapat tempat persembahyangan kecil (seingatku bernama sangga) yang diselimuti kain khas bali.  Ketiga, saya sempat ngobrol dengan pemiliknya yang ternyata memang asli Hindu Bali. Bahkan,  sampai hari kelima di Bali,  saya lebih sering belanja di toko-toko orang Hindu-Bali untuk berbagai keperluan sehari-hari.

Hanya khusus untuk makan,  di wilayah manapun ketika Muslim minoritas –termasuk di Bali– saya memang harus meyakinkan diri menyantap makanan halal: halal dalam zat nya (bukan barang najis,  seperti mengandung babi dll) maupun dalam proses pengolahannya (termasuk sembelihan secara Islam).  “Di Bali ini,  meskipun disebut Restoran Padang,  Warung Soto Kudus,  atau apapun sebutannya,  jika tidak secara eksplisit dinyatakan: rumah makan Muslim,  atau rumah makan Halal, maka hati-hati untuk mampir makan.  Sebab,  belum tentu dijamin halal”,  kata pak Hasan Bick beberapa kali mengingatkan.  Nah,  berbekal label  “Depot Muslim” itu,  saya dkk. langsung masuk depot dengan penuh keyakinan.

Alhamdulillah,  berbekal ngobrol ringan dengan  pemilik warung yang ternyata asli Madura itu saya dapat gambaran awal tentang kantong-kantong Muslim di kota Bangli. “Dibanding wilayah lain di Bali,  Muslim Bangli terhitung paling kecil”,   jelas ibu pemilik Depot, “Di Bangli kota ada beberapa kantong komunitas Muslim,  seperti di Bebalang, banjar Blumbang, banjar Kawan, dan banjar  Cempage (Cempaka ?).  Ada juga komunitas Muslim lebih besar jumlahnya,  tetapi berada di  luar kota, yakni Kintamani. Selain itu ada pula muslim di pegunungan terpencil,  namun kecil sekali jumlahnya”.

Setelah saya mengecek data dari BPS,   jumlah Muslim di Bangli memang hanya  2.573 jiwa (Bali Dalam Angka,  2010).  Jumlah tersebut tersebar  terutama di empat kecamatan, yakni: Kecamatan Susut ada 158 jiwa,  Kecamatan Bangli terdapat 1.475 jiwa,  Kecamatan Tembuku  ada 9 jiwa, dan di Kintamani tercatat 931 jiwa.   Dari data tersebut tampak betapa jumlah Muslim sangat kecil,  apalagi dibanding komunitas Hindu yang mencapai 195.825 jiwa.  Jika dihitung dalam prosentase,  maka jumlah muslim hanya 1, 29 prosen dari  seluruh penduduk yang mencapai 199.229 jiwa.  Namun,  jumlah itu tetap lebih banyak dibanding kaum Protestan/Katolik yang hanya 0,22 persen,  apalagi Budha yang  cuma 0, 19 persen.

Untuk menampung acara peribadatan seluruh muslim Bangli,   mereka (berdasar data BPS tahun 2009) telah memiliki tiga masjid  yakni satu di Bangli dan dua di Kintamani.  Sementara untuk musholla,  di Susut ada satu dan di Bangli ada 5 buah musholla.

Berbekal informasi dari ibu Madura tadi dan ditambah data awal dari BPS Bangli,  saya dkk. berarak menuju komunitas muslim di banjar Bebalang guna mencari informasi tentang kehidupan Muslim khususnya di Bangli kota. Sampai di lokasi,  kami langsung menuju ke sebuah masjid besar, yang ternyata masjid Agung Bangli.  “Dalam pemilu kada terakhir di Bangli,  jumlah pemilih muslim tercatat 1300 jiwa. Jika ditambah dengan anak-anak di bawah 17 tahun,  maka jumlah Muslim Bangli paling sekitar 3000 jiwa”,   jelas seorang tokoh Muslim Bangli,  H. Lukman yang berhasil saya jumpai. Penjelasan itu tidak jauh berbeda dari data BPS yang mencatat sekitar 2.573. Jika ditambah dengan orang muslim yang hanya memiliki Kipem (Kartu Identitas Penduduk Musiman) atau bahkan tidak tercatat,  maka jumlah 3.000 jiwa tidaklah terlalu kebesaran.

Secara umum tercatat bahwa sejarah perkembangan komunitas Muslim Bangli dimulai sekitar tahun 1970-1980an. H. Lukman misalnya,  diajak orang tuanya, Muhammad Husin,  pindah dari Banyuwangi ke Bangli pada Juni 1976.  Kala itu di kota Bangli baru ada sekitar 12 KK Muslim. “Itupun kadar keagamaannya tidak jelas. Mereka hobi main judi, ikut sajen (adu ayam),  tidak jum’atan apalagi shalat lima waktu”,  tandas H. Lukman.  Jumlah tersebut sedikit berkembang, ketika datang Muslim lain dari aneka daerah. Mereka kebanyakan tugas sebagai PNS atau polisi,  sehingga tinggalnya pun di asrama polisi. Bersama mereka inilah orang tua saya lantas membentuk komunitas  Ikatan Keluarga Islam Bangli (IKIP) dengan diketuai R. Sumardi. Di tahun 1976 itu pula mulai digagas untuk membangun masjid. Kalau soal kuburan, sejak awal tak ada persoalan,  sebab memang sudah ada tanah kubur peninggalan Belanda. Setelah tanah berhasil didapatkan,  setahun berikutnya masjid pun pelan tapi pasti mulai didirikan.  “Waktu itu Kapolres nya pak Suseno PBA  dan Kajarinya Makmur Hadi.  Keduanya muslim”,  kenang H. Lukman.

Komunitas muslim di perkotaan Bangli mulai membesar,  terutama mulai tahun 1986, ketika para pedagang mulai masuk.  Bahkan, untuk menampung kebutuhan peribadatan masjid yang letaknya di Bebalang itu pun akhirnya tahun 1997 direnovasi hingga keberadaannya berkembang sampai sekarang menjadi masjid agung.

Di era kekinian,  komunitas Muslim khusus di sekitar Bangli kota memang tidak begitu banyak.  Keberadaan mereka terutama tersebar di empat banjar :  Bebalang,  banjar Blumbang, banjar Kawan, dan banjar Cempage,    serta sebagian lain tersebar di banyak tempat. Untuk mengikat silaturrahmi antar muslim,  telah dibentuk sekitar 14 majlis taklim, yang mencakup kecamatan Susut, kecamatan Kota, dan  Cempage. Khusus pada setiap malam Jum’at para ketua majlis taklim bersilaturrahmi di mesjid Agung di Bebalang. “Sebenarnya,  umat Islam Bangli juga memiliki sebuah masjid masjid Jami’ di kecamatan Kintamini, jauh dari kota. Selain itu masih ada beberapa musholla:  di Blumbang ada 3, di Bebalang ada 4,  sementara di Cempage,  di banjar Kawang,  dan di Susut masing-masing  punya 1 musholla”,  kata H.  Luqman menambahkan.

Berbeda dengan wilayah lain di Bali,  di  kabupaten Bangli  umat Islam tidak memiliki kampung muslim,  kecuali hanya di Kecamatan Kintamani. Kantong komunitas muslim memang ada di beberapa tempat,  tetapi tidak sampai “dilegitimasi” sebagai Kampung Muslim. Di seluruh wilayah Bangli,  komunitas muslim berada di dalam banjar adat. Dengan posisi ini,  setidaknya ada beberapa konsekuensi penting yang harus dihadapi:

Pertama, kepada komunitas muslim dikenakan pungutan-pungutan dengan alasan adat, yang tentu saja penggunaannya untuk keperluan adat Hindu-Bali. Hal ini berlaku di semua  komunitas Muslim di kota Bangli,  kecuali hanya di sekitar masjid Agung dimana  umat Islam tidak kena aturan adat.  Pengenaan adat dalam konteks ini bukan karena tanah yang ditempati merupakan bagian dari tanah adat.  Di Bebalang misalnya,  umat Islam tidak ada yang menempati tanah adat,  tetapi  tanah hak milik  asli yang telah dibeli. Meski demikian,  secara kewilayahan komunitas Islam tetap disebut tercakup dalam wilayah adat banjar tertentu,  sehingga harus membayar iuran untuk kepentingan adat. “Khusus untuk tanah adat aturannya beda lagi, karena sewa tanahnya tanah adat, bayar sewanya ke adat. Biasanya 7 bulan sekali, yakni waktu perayaan pura, penyewa harus bayar ke adat”, tambah H. Luqman.

Kedua,  terkait keterlibatan umat dalam kegiatan adat yang tentu saja memiliki substansi kehinduan. Bagi umat Islam,  realitas ini menjadi sangat problematic.  Namun,  melalui tokoh-tokoh Islam yang terlibat dalam Forum Komunikasi Antar Umat Beragama,  problem itu lantas didiskusikan bahkan disampaikan kepada Bupati.  “Bahwa umat Islam memiliki prinsip Hablum minallah (hubungan dengan tuhan) dan hablum minanas (hubungan antar sesama manusia). Untuk hablum minannasnya silahkan umat Islam diajak kerja bakti bersama.  Tetapi khusus hablum minaullah, urusan peribadatan, kita ga bisa.  Mereka mau atur, tetapi kita punya waktu sendiri yang tidak bisa mereka atur.  Persoalan ini masih   dalam proses”,   kata H. Luqman.

Ketiga, karena berada di banjar adat, maka kalau ada persoalan-persoalan tentu akan diselesaikan oleh adat. Jika seorang Muslim mati misalnya,  harus lapor ke banjar adat. “Banyak problem terkait dengan soal ini. Misalnya, ketika kematian bersamaan waktu dengan ada upacara adat, maka pemakaman harus menunggu setelah upacara adat selesai.  Umat Islam bisa juga terpaksa mensiasati pemakamannya, misalnya dilakukan pada jam 10 malam. Problem lainnya,  walaupun si muslim punya rumah,  tetapi mayat tidak boleh ditaruh rumah. Akhirnya,  terpaksa disiasati mayat ditaruh dimasjid,  setelah itu langsung dikubur agar tidak terjadi konflik”,  jelas H. Lukman.

Namun, secara umum kehidupan Muslim di Bangli sangat aman dan nyaman. Terutama,  menurut H. Luqman mantan ketua MUI Bangli,  karena ada ikatan emosional dimana para   kelian adat adalah teman-teman sepermainan diwaktu muda. Apalagi,  di Bangli tokoh muslimnya menetap, tidak pindah-pindah,  sehingga silaturrahmi dengan tokoh-tokoh Hindu lokal bersambung terus.

Dari berbagai informasi yang berhasil saya peroleh,   secara umum memang dikatakan bahwa:  sebenarnya orang Hindu Bali di Bangli  sejak dahulu bersikap sangat baik terhadap umat Islam,   muslim asli maupun pendatang.  “Dahulu kalau takbir lebaran,  kita keliling. Mereka kaum Hindu keluar menonton di pinggir jalan,  ketawa-ketawa,  tangannya dada-dada. Harmonis sekali. Dahulu kita tahlilan selamatan mereka ikut bersila, harmonis betul dulu. Tahun 1980 an harmonis sekali”,  kata H. Luqman membenarkan.

Baru sekitar sepuluh tahun terakhir ini saja,  mulai sedikit ada problem. Setelah bom Bali meletus,  sejak itulah mulai ada problem. Mereka,  yang umumnya anak muda dn tak tahu sejarah,  melihat semua orang  Islam sebagai pendatang. Padahal,  “anak saya lahir di Bali, saya dengan anak yang sudah berumur 30 tahun. Berarti,  justru lebih lama saya menginjak Bali ini, dibanding orang Hindu yang muda-muda itu.  Tapi sampai sekarang ini konotasinya masih dianggap belum orang  Bali. Sekarang konotasinya kita nomaden : di Jawa ndak dianggap orang Jawa,  di Bali ndak dianggap orang Bali”,  jelas H. Luqman,  “Jadi,  kadang-kadang lucu kalau saya bicara sama teman-teman di Parisade.  Di forum itu,  ketika kebetulan hari raya,  saya ditanya:  gak pulang ? Maksudnya apa ndak mudik ?  Jawab saya:  pulang ke mana ?  Lha wong saya ini orang Bali”.

Realitas inilah yang kini agak menjadi problem bagi umat Islam.   Meskipun lahir di Bali dan sudah turun temurun ada di Bali,  tetapi logika umum yang dibangun masih dianggap bukan orang Bali. “Jadi yang dianggap hanya yang beragama Hindu. Kalau diluar itu dianggap pendatang, walaupun lahir di Bali, hidup di Bali, sampai tua, sampai beranak cucu, tetap bukan orang Bali. Jadi  identitas Bali adalah Hindu. Kalau diluar itu tidak kategori orang Bali. Logika seperti ini perlu dibenahi”,   Kata H. Luqman mengakhiri penjelasan.

Udara masih temaram.  Mendung menggelayut di angkasa.  Meski siang hari,  tapi mentari tidak kunjung menampakkan diri.  Setelah mendapat banyak informasi dari tokoh-tokoh Muslim –juga Hindu– di Bangli,  kami masih menyempatkan waktu mengelilingi kota Bangli, terutama menyusuri  lokasi-lokasi komunitas muslim yang jumlahnya terhitung masih sedikit sekali.  Rinai turun ke bumi,   tetapi hati kami bernyanyi,   mensyukuri nikmat Ilahi yang tak terperi.***

DHURORUDIN MASHAD

foto:kin-sell.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: