Pimpinan Bagi Semua Golongan

Sobat, masih ingatkah  sampean tatkala sebulan lalu kita malam-malam berhalaqoh membahas kepemimpinan dalam Islam ?  Saya yakin, sampean masih ingat alias tak bakal melupakan. Ketahuilah sobat, selepas kita berdiskusi malam itu, aku tak bisa tidur karenanya. Satu  hal melekat kuat dalam pikiranku  yang  sebenarnya telah penat. Apa itu ? Dialah hadits nabi yang telah sampean kutip kala itu. Kullukum ro-‘in wakullukum masu-lun ‘an  ro’iyyatihi, bahwa setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap pemimpin pasti akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Nah, kalau kita masih single alias bujangan maka akan dimintai tanggungjawab kepemimpinan atas  diri  sendiri. Kalau sudah punya anak istri pertanggungjawabannya jadi dobel-dobel, yakni atas diri sendiri sekaligus terhadap anak istri. Menjadi ketua RT berarti bertanggung jawab atas diri sendiri, keluarga, dan anggota masyarakat di lingkungan RT nya. Nah, bagaimana kalau menjadi ketua RW, menjadi  lurah,  camat, bupati, gubernur dan presiden. Dus !!!  Berarti tanggungjawab yang diembannya menjadi kian tumpuk undung bukan ? Masya Allah.

Sobat, terus terang, setiap kali berpikir kembali tentang pertanggung jawaban kepemimpinan saya menjadi ngeri  dibuatnya. Tentu saja bukan hanya tanggung  jawab pada sesama manusia di dunia, tapi tanggung jawab pada Allah Ta’ala di alam baka. Untuk mempertanggungjawabkan  diri sendiri saja sudah setengah mati takutnya, apatah lagi menjadi pemimpin  negara. Walah-walah. Tentu jauh lebih berat tak terkira.

Tapi, sobat, anehnya di negeri kita, banyak orang berambisi menjadi pemimpin negeri. Saya tak tahu,  apakah mereka sudah merasa sukses memimpin  diri sendiri  dan keluarga, sehingga mereka sangat percaya diri alias berambisi untuk menjadi pemimpin  negeri. Terus terang, saya bertanya dalam hati, apakah mereka sudah tahu konsekuensi menjadi pemimpin, baik ketika dihadapan manusia apatah lagi dihadapan Allah Ta’ala. Tapi, yah…, itulah realitanya.

Saya berharap, mereka yang berambisi jadi petinggi negeri telah membaca hadits nabi tadi, sehingga mereka mempersiapkan diri sesempurna mungkin untuk mempertanggungjawabkan kepemimpinannya. Karena, hanya dengan kesadaran itu, mereka yang berambisi jadi pemimpin negeri akan mengembangkan sikap ngajeni dan ngayemi pada rakyat yang  dipimpinnya. Ngajeni yaitu menghormat dan memperlakukan rakyat sebagai tuan, persis dengan prinsip bahwa pemimpin adalah pelayan bagi anak buah dan rakyatnya.  Ngayemi berarti berusaha optimal untuk mensejahterakan  atau setidaknya memenuhi kebutuhan rakyat yang dipimpinnya.

Bicara soal ini, sangat relevan untuk kita contoh sikap Umar bin Khotob ketika menjadi amirul mu’minin alias pemimpin bagi masyarakatnya. Kisahnya begini……

Di negeri Mesir, tersebutlah seorang wanita berkulit hitam legam bernama Furtunah. Dia seorang miskin papa, dengan rumah sangat sederhana. Bahkan dinding rumahnya yang super sederhana, suatu hari runtuh akibat dimakan usia. Karena tak mampu untuk memperbaiki sendiri temboknya, Furtunah lalu kirim surat ke Amirul Mu’minin Umar bin Khottob di Madinah ibukota negara. Intinya, sebagai rakyat ia menuntut agar sang khalifah membangunkan kembali tembok rumahnya.

Mendapat surat dari rakyat yang dipimpinnya, yang otomatis menjadi tanggungannya, Umar bersegera kirim surat ke Mesir pada gubernurnya.  Isi surat bukan teguran marah, tapi berupa perintah, agar sang gubernur mencari wanita bernama Furtunah. Jika telah ditemukan, gubernur diperintahkan segera membangunkan kembali rumah si wanita yang  hidup kecingkrangan alias penuh kekurangan

Gubernur Mesir melaksanakan perintah, mencari wanita negro bernama Furtunah, lantas membantu memperbaiki rumah. Setelah selesai gubernur kirim surat pada Khalifah, isinya memberitahu bahwa dia sudah menjalankan perintah.

Mendapat kabar itu Umar sangat  gembira, memuji Allah SWT, yang telah menjadikannya sebagai pelayan bagi rakyatnya, pelayan bagi hamba-hamba Nya. Padahal Umar kala itu adalah sang penguasa, dengan wilayah membentang sedemikian luasnya. Seandainya, Umar mengabaikan isi surat yang dikirim seorang wanita miskin, negro, di sebuah pelosok negeri yang belum pernah ia kunjungi, tentu tak akan ada orang yang mempertanyaan persoalan ini. Namun bagi Umar sekecil apapun persoalaan, di hari akhir dia akan dimintai pertanggungjawaban.

Sobat, itulah Sayyidina umar, seorang pemimpin yang sangat perhatian pada rakyat yang dipimpinnya, kendati dia seorang wanita jelata, renta, dan tinggal jauh terpencil dari ibu kota negara. Ada beberapa hikmah yang dapat dipetik dari sikap khalifah kedua dalam Islam itu, yakni:  (1). Seorang pemimpin pasti akan dimintai pertanggungjawaban atas  kepemimpinannya. Seorang pemimpin yang utama, ia menjadi pelayan bagi masyarakatnya. Idealnya, pemimpin dapat memenuhi segala kebutuhan dan hajad dari orang yang dipimpinnya. (2). Tidak membiarkan rakyat menderita, tanpa sepengetahuannya. Apalagi sampai membuat kebijakan yang  sangat aniaya pada rakyat jelata, membebani rakyat dengan aturan yang tak mampu di tangggungnya. Sebab, perlu dicatat bahwa kaum tertindas sangat mustajab do’anya. (3). Agar hajad rakyat dapat dipenuhi, agar kebijakan tak bersifat aniaya pada rakyatnya, maka pemimpin perlu senantiasa introspeksi, senantiasa mau dikritisi, senantiasa mau menerima masukan dari manapun asalnya, termasuk dari orang-orang kecil tak mbrejaji. Sebab, nasehat dan bobot pemikiran  tidak tergantung pada derajad orangnya. Bisa saja nasehat dari orang kecil papa justru lebih mantap isinya dibanding dari profesor pikun ataupun jendral petak. Undzur  maa qoola walla tandzur manqoola. Telur meski keluar dari  dubur ayam, pasti jauh lebih bermakna dibanding “sesuatu” yang keluar dari dubur raja.  (4). Pemimpin perlu sidak, jangan nongkrong menunggu laporan dari bawahan yang  cenderung ABS alias Asal Bapak Senang.  Masukan dari bawahan yang jelek-jelek jangan ditanggapi dengan kemarahan, tapi disikapi dengan mencari pemecahan. Sebab, kemarahan akan menyebabkan anak buah menjadi takut untuk menginformasikan kebenaran.

Sobat, andai kata para pemimpin kita punya sikap seperti wataknya Umar bin Khottob,  tentu kita punya negara akan menjadi gemah ripah loh jinawi, toto tentrem kerto raharjo. Insya Allah.***

foto: catatanraufmendunia.wordpress,com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: