Waspadai Musuh Persatuan-Persaudaraan

Sobat,  terus terang, akhir-akhir ini saya merasa agak gundah dengan kehidupan keagamaan kita, umat Islam. Lho, kok bisa ?  Kenapa ?  Bukankah, animo masyarakat dalam mengkaji Islam kian membahana di seluruh dunia ? Bukankah  masyarakat kita makin banyak yang berbaris menunaikan haji ke tanah suci ? Bukankah pula, lautan jilbab kian mewarnai  keseharian bumi kita ?  Lantas apa yang disedihkan? Itulah mungkin seabreg tanda tanya dari sampean.

Serentetan pertanyaan yang mungkin sampean ajukan memang benar adanya. Cuma, satu  hal sampean masih perlu mencermati lagi yakni fenomena maraknya pemikiran aneh-aneh di kalangan umat  yang kian memprihatinkan. Bungkusnya bisa macam-macam, dan merk yang mereka tampilkan juga bisa kebarat-baratan. Tulisan-tulisan sebagai ekspresi pemikiran mereka juga diramu dengan bahasa yang genit. Mungkin, agar terkesan trendy dan terasa catchy. Itu hanya mungkin lho ? Hanya analisis dan bukan su’udzon. Mereka ada yang menyelenggarakan jum’atan pria-wanita dengan imamnya  seorang wanita seperti yang  sempat terjadi di Amerika. Ada pula masjid khusus cewek  yang sempat berdiri di  Belanda. Di negeri kita pun bermunculan pikiran-pikiran tak kalah nyleneh dan aneh nuansanya. Terus terang, sobat, kenyataan itulah yang membuat saya gundah, bingung,  sedih. Memang  sih, pemikiran aneh ini sedikit sekali. Tapi, ekspose pemikiran mereka  di media tak ketulungan hebatnya.

Sobat, betapa tidak menyedihkan. Ketika orang lain asyik berlomba menggali ilmu pengetahuan dan teknologi untuk mensejahterakan kehidupan manusia, kita, umat Islam malah asyik berkutat dengan berbagai pemikiran kontroversial yang justru kontra-produktif bagi kemajuan umat. Satu sama lain saling menghujat, saling bersaing dalam memperlantang pendapatnya, semata-mata agar orang mengakui bahwa dirinya menjadi manusia hebat di jagad raya. Seolah merasa diri sebagai manusia super, sehingga ketika kekeliruannya dikoreksi, diingatkan, agar kembali ke jalan kebenaran, mereka menantang  dengan arogan, menyebut pihak lawan sebagai orang yang beriman dalam kejumudan atau bahkan kebodohan.

Sobat, sikap seperti itu sebenarnya tak aneh dan bukan sesuatu yang baru. Sebab, sejak dahulu al Qur’an telah menerangkan soal beginian, persis ternukil dalam surat al Baqoroh: 13, waidzaa qiilalahum aaminuu  kamaa aamanan naasu qooluu  annu’minu kamaa aamanas sufahaa’ Alaa  innahum  humussufahaau walaaqin laa ya’lamuun: Jika dikatakan pada mereka agar beriman seperti orang Islam lainnya, mereka menjawab, “haruskah kami beriman seperti imannya orang-orang bodoh ? Ketahuilah bahwa mereka itulah yang sebenarnya bodoh tapi mereka tak menyadarinya.

Mereka sok keminter, menyebut ayat al Qur’an tertentu sudah tak sesuai jamannya, sehingga kontan memancing reaksi keras dari komunitas Islam pada umumnya. Akhirnya yang terjadi adalah friksi bin konflik dalam komunitas Islam. Persaudaraan Islam tercabik  hanya karena pemikiran yang  tak perlu. Tapi ketika  diingatkan agar mereka tak membuat kerusakan, mereka menjawab, justru ingin mengajak pada kemajuan.  Argumentasi model begini juga bukan hal baru, tapi telah pula dinukilkan dalam al Qur’an (Q.S. al Baqoroh: 12) sejak dulu. Wa idzaa qiila lahum laa tufsiduu fil ardli qooluu innamaa nahnu muslihuun: dan bila dikatakan pada mereka agar tidak berbuat kerusakan di bumi, mereka menjawab kami justru berbuat untuk kebaikan. Padahal, alaa innahum humul mufsiduuna walaaqin laa yasy’uruun: ketahuilah bahwa mereka  berbuat kerusakan, tapi mereka tak menyadari.  Lha dalah, kalau sudah begini bagaimana,  Sobat  ?, tentu sampean  juga merasa sedih kan ?

Saya yakin, dengan menyadari realitas ini sampean pasti gundah seperti saya. Sebab, di tengah konflik internal umat  model begini,  musuh-musuh Islam pasti bersorak kegirangan, atau bahkan memanfaatkan orang-orang aneh dalam Islam untuk kian bersemangat merusak umat baik dengan cara mendangkalkan keimanan lewat berbagai kegamangan pemikiran, atau bahkan kalau perlu dengan langsung menyusupkan kaum munafik untuk merusak Islam dari dalam. Siapa mereka ? Mereka adalah wa minannaasi man yaquulu aamannaa billaahi wa bil yaumil aakhiri wamaahum bi mu’miniin: sebagian manusia yang menyatakan diri sebagai orang beriman pada Allah dan hari akhir, tapi hakekatnya mereka tidaklah beriman.

Nah, sobat, hati-hatilah terhadap orang model tadi. Sebab, target utama kaum munafik memang ingin merusak Islam dari dalam. Yukhoodi’unallaaha wal ladziina  aamanuu wamaa yakhda’uuna  illaa anfusahum wamaa yasy’uruun. Fii quluubihim marodlun fazaada humullaahu maradlon walahum  ‘adzaabun aliim bimaa kaanuu yakdzibuun:  Mereka  hendak menipu Allah dan orang-orang beriman, dan tidaklah mereka dapat menipu kecuali diri mereka sendiri. Dalam hati mereka ada penyakit dan Allah akan menambah penyakit itu, dan bagi mereka adalah siksa yang pedih akibat kebohongan mereka  (Q.S.  Al Baqoroh: 10).

Na’udzubillah, semoga fitnah seperti ini tak bakal terjadi. Kalau pun sudah terlanjur terjadi, semoga segera diakhiri. Orang-orang munafik  segera terbuka kedoknya, dan orang-orang keminter segera sadar bahwa  dia sebenarnya tidak  pinter, dan orang-orang yang merasa hebat segera bertaubat dan sadar bahwa ada dzat yang jauh Maha hebat.

Sobat, melihat fenomena kekinian ini, adalah menjadi tanggung jawab kolektif kita sebagai umat, untuk terus menegur mengingatkan.  Watawaa shoubilhaqqi watawaa shoubisshobr. Tanggung jawab kolektif?  Ya, tanggung jawab kolektif,  dimana setiap kita, umat Islam, punya tanggung jawab, tanpa mempertentangkan jenis kelamin, tanpa membedakan umur. Memangnya  anak-anak termasuk pula ?  Kalau memang bisa, kenapa tidak ? Bahkan, hal ini pernah terjadi di era kehidupan nabi. Ah  yang  benar ? Benar  sekali. Inilah kisahnya…..

Pada masa nabi Muhammad SAW masih hidup, tersebutlah seorang anak bernama Amir, putra dari seorang pria bernama Said. Namun, Said meninggal ketika Amir masih kanak-kanak atau bahkan balita dalam usia. Tak lama kemudian, ibunya menikah lagi dengan seorang pria bernama al Jullah.  Jullah sangat sayang pada Amir, begitu pula sebaliknya, Amir sangat hormat dan patuh pada ayah tirinya.

Suatu hari, Rosulullah menyeru umatnya untuk mempersiapkan diri menghadapi peperangan. Dalam sejarah, perang itu dikenal dengan Perang Tabuk. Anehnya, Jullah kelihatan enggan untuk bergabung dalam peperangan, bahkan enggan pula memberikan sedikit harta untuk bantuan. Sementara orang lain justru berlomba-lomba untuk terlibat jihad peperangan, dan banyak yang rela mengeluarkan hartanya di tengah kemiskinan.

Melihat ulah Jullah, Amir segera bertanya pada sang ayah, “Wahai ayahanda, kenapa engkau enggan membantu Rosulullah ?. Padahal engkau orang kaya, memiliki banyak harta. Ayah, seandainya sedikit saja infak engkau keluarkan  untuk membantu peperangan, pasti tak akan membuat engkau bangkrut kekurangan“.

Mendengar nasehat anak tirinya, ternyata tak menumbuhkan kesadarannya, tapi justru memancing keangkuhannya. Al  Jullah berkata, “Jika Muhammad benar dalam dakwah kenabiannya, niscaya kami ini lebih buruk dari keledai bin kuda“.

Amir terperangah mendengar ucapan sang ayah. Ia menjadi sadar betapa ayah tirinya yang telah mendeklarasikan diri sebagai Muslim, ternyata tak lebih dari seorang munafik. Rasa hormat sebagai anak lantas sirna, rasa kasih karena senantiasa telah disayang menjadi hilang. “Demi Allah, wahai Al Jullah“, kata Amir dengan gemas tak lagi menyapa dengan ucapan ayah, “Ketahuilah, sebenarnya tak ada seorang pun di muka bumi ini yang aku sayangi setelah Muhammad bin Abdullah kecuali Engkau. Engkaulah orang yang paling ku cinta,  dan engkau pula orang yang paling besar memberi aku. Namun, sungguh kali ini  engkau telah mengucapkan sebuah perkataan yang jika aku sebutkan berarti aku telah mengganggapmu sebagai orang yang sangat buruk. Namun, jika hal itu kusembunyikan berarti aku telah berkhianat pada amanah yang ada dipundakku, yang berarti pula telah menghancurkan diriku dan agamaku“.

Amir terdiam sesaat, ucapannya sedikit tersekat di kerongkongan akibat kesedihan bercampur kemarahan. Sejenak kemudian dia kembali menguasai diri dan keadaan, lantas melanjutkan ucapan, “Aku berketetapan hati untuk mengadukan ucapanmu kepada Rosulullah. Oleh karena itu, bersiap-siaplah kamu,  untuk memberikan alasan dan  argumentasi ucapanmu“.

Bukan hanya gertakan, tapi Amir benar-benar merealisir ancaman. Dia beranjak menemui Nabi, mengadukan ucapan sang bapak tiri, yang sebenarnya sangat ia sayangi. Mendapat aduan dari Amir tadi, Nabi segera memanggil Al Jullah untuk menemui, sedangkan Amir tetap duduk di sisi Nabi untuk menjadi saksi.

Di hadapan Nabi, al Jullah membantah semua tuduhan tadi. Bahkan ia berani bersumpah menyebut nama Allah segala, bahwa ia tak pernah mengucapkan perkataan nista. Melihat gelagat ini, Amir segera bermunajad pada Ilahi, berdo’a agar Allah menunjukkan kebenaran tentang kedustaan Al Jullah tadi. Walhasil, kala itulah turun wahyu kepada Nabi, “Mereka (kaum munafik) bersumpah dengan (nama) Ilahi, bahwa mereka tak berkata (yang menyakiti).  Sesungguhnya mereka telah mengucapkan kekafiran, dan telah menjadi kafir setelah Islam…….Maka jika mereka bertaubat (atas kesalahannya), hal itu lebih baik bagi mereka.  Dan bila mereka berpaling, niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan siksaan yang pedih di dunia dan  akherat.  Dan sekali-kali mereka tak akan punya pelindung maupun penolong di muka bumi (Q.S. At-Taubah: 74).

Mendengar firman Allah ini, badan Al Jullah  kontan gemetar ngeri, seluruh sendinya menjadi lemas seolah tanpa tenaga  lagi. Lidahnya terasa kelu akibat ketakutan dan kengerian yang menyelubungi. Kontan ia menyatakan, “Aku bertaubat wahai Nabi. Aku mohon ampun duhai utusan Ilahi. Amir yang berkata benar sedangkan aku yang berucap bohong mengibuli“.

Sejak saat itu, Al Jullah menjadi muslim sejati. Setiap kepadanya disebutkan nama Amir si putra tiri, dia pasti berkata, “Semoga Allah membalasnya dengan kebaikan dariku. Sungguh, anakku ini telah menyelamatkanku dari kekafiran. Sungguh, putraku ini telah memerdekakanku dari api neraka“.

Sobat, itulah contoh tanggung jawab anak manusia meski umurnya masih muda untuk mengingatkan sebuah kekeliruan. Dia bersikap keras terhadap musuh Islam, meski mengklaim diri sebagai Muslim, meski musuh itu menjadi bagian dari saudara dan atau bahkan sebagai orang tua. Sobat, berdasar kisah nyata  tadi, atau bahkan merujuk pada ayat-ayat yang sempat kita diskusikan tadi, ada beberapa hal yang hendak saya tandaskan pada ini tulisan:

(1). Iman adalah aqdu bil qolbi, qoulu billisaani, wal ‘amalu bil arkani, meyakini dalam hati, mengikrarkan dengan ucapan, dan mengamalkan dengan perbuatan.  Tanpa kelengkapan itu deklarasi keimanan patut dipertanyakan. Setiap orang berhak dan boleh mendeklarasikan diri sebagai Muslim-Mu’min (orang Islam dan beriman). Tapi, setiap orang dapat pula menilai orang lain tentang keislaman dan keimanannya. Ketika dia tak pernah sholat misalnya, adalah absah orang menyangsikan keislaman dirinya. Apalagi, jika orang yang mengaku Islam, tapi tidak sholat itu sering menjelek-jelekan Islam, maka orang model ini patut dicurigai bahwa mungkin dia orang munafik, serigala berbulu domba, menggunting dalam lipatan, musang berbulu ayam. Orang model ini telah dinukilkan dalam alqur’an: wa idzaa laqulladziina aamanuu qooluu aamannaa, wa idzaa kholau ilaa syayaathiinihim qooluu innaa ma’akum, innamaa nahnu mustahziuun : bila mereka berjumpa dengan orang beriman mereka menyatakan diri sebagai beriman,  tapi ketika kembali ke setan-setan (sekutu) nya dia berkata bahwa aku bersama kalian, sesungguhnya aku terhadap orang Islam hanya berolok-olok (meledek) saja.

Oleh karena itu sebagai orang beriman perlu cerdas dalam mencermati seorang panutan, terutama pada  orang yang memperlihatkan tanda-tanda seperti disebutkan tadi. Umat perlu kritis, tidak taqlid meski orang nyleneh tadi populer oleh media massa. Ketahuilah bahwa  sifat taqlid (selain  kepada Allah dan Rosulnya)  sangatlah buruk, persis  disindir oleh Nabi: latattabi’anna sunana man qoblakum, syibron bisyibrin,  wa dziroo’an bidziroo’in, hatta lausalakuu hujro dhobbin, lasalaktumuuh: sesungguhnya kamu mengikuti jalan-jalan  orang sebelummu, sejengkal demi sejengkal, dan sehasta demi sehasta, sehingga seandainya mereka menempuh lubang biawak, niscaya kamu akan menempuhnya.

(2). Keimanan tidak diukur dari usia, sebab  anak kecil  bisa saja lebih beriman dari orang tua. Keimanan tidak diukur dengan kepahaman keagamaan, sebab bisa saja seorang awam lebih beriman dibanding orang-orang yang ilmu keagamaannya lebih mapan. Namun,  demikian orang yang beriman yang dilandaskan pada ilmu pengetahuan lebih utama dibanding orang yang  ilmunya pas-pasan.

Dalam kehidupan sehari-hari, para orang tua biasanya lebih dihargai dibanding anak-anak, dan para ulama lebih dihormati dibanding orang awam. Namun, perlu dipahami bahwa orang muda yang lebih beriman dibanding orang tua, orang awam yang lebih beriman dibanding kyai bin ulama, memiliki posisi  utama dimata Ilahi. Inna akromakum ‘indallaahi atqooqum.

(3). Kemarahan adalah bagian dari sifat iblis bin setan. Dapat dipahami jika orang marah yang tak mampu mengendalikan diri disebut kesetanan. Dapat dipahami pula jika nabi mengajarkan, jika seseorang marah hendaknya diredakan dengan cara duduk, jika tidak mempan hendaknya berwudlu, dan jika belum reda pula hendaknya ia sholat. Whudlu dan sholat adalah cara terampuh menyingkirkan setan yang nebeng dalam kemarahan.

Namun, bukan berarti Muslim tak boleh memiliki (atau bahkan membunuh) sikap amarah. Amarah adalah sesuatu yang manusiawi  alias satu sifat yang melekat pada diri insani. Hanya saja, seutama-utama manusia adalah dia yang dapat mengendalika sikap amarahnya.

Satu-satunya kemarahan yang dibolehkan adalah marah hanya karena Allah: akibat kebenaran dilecehkan. Ketika Allah dan kebenaran dilecehkan, atau bahkan berusaha digeser dengan kemungkaran, kemarahan boleh dimunculkan. Peperangan sebagai ekespresi kemarahan misalnya, telah dilakukan di era Nabi, guna menegakkan kebenaran agama  suci yang saat itu dihadang oleh musuh-musuh Ilahi. Sobat,  bagaimana dengan sampean ? akankah sampean marah bila agama kita dilecehkan atau setidak-tidaknya diubeg-ubeg alias diobok-obok sehingga kehidupan umat jadi keruh ? Sobat, saya menanti jawaban.***

foto : hidupberkah.com

4 responses to this post.

  1. Posted by ARman on 20/03/2012 at 3:03 pm

    saya (insyaAlloh) sangat marah kalo ada yg niat ngacak2 islam, Cak Duro

    Balas

  2. Posted by Hendy on 21/03/2012 at 7:56 am

    aku iyo lho cak nDhuro lan cak ng’Arman… tapi kadang-kadang marahnya gak seperti waktu muda dulu, spontan dan ‘menghunus pedang’, sekarang marahnya ke dalam, tafakur, mencari tahu segala sesuatu yang melandasi pelaku dan perilaku pelecehan terhadap Islam untuk kemudian suatu saat disharing ke keluarga dan teman-teman..

    Balas

    • memang, kemarahan tak harus diekpresikan dengan teriakan yang justru bisa kontra-produktif. ucapan – tulisan – sentuhan kasih sayang – termasuk do’a berisi kebajikan (baca: bukan melaknat), kadangkala bisa juga menyentuh perasaan dan atau mengubah keburukan. Rubba qoulin asyaddu min soulin: terkadang ucapan itu lebih tajam dibanding mata pedang.

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: