Keutamaan Tak Ditentukan Usia, Tapi Karya

Sobat, belasan tahun lalu, ketika masih kuliah saya sempat mendebat dosen. Saya yakin betul bahwa  pendapatnya salah, dan pendapatku yang betul.  Apalagi saya membawa pula referensi pemikiranku, yakni buku yang telah kubaca. Tahukan sampean, apa kata dosen saya?, Menurutnya, dengan nada agak marah, pendapatnya benar juga, sebab referensinya berbeda. Dia janji akan bawa referensi alternatif pada lain  hari. Janji tinggal janji, janji itu tidak pernah ditepati.  Hari berikutnya, ia tak jadi menunjukkan rujukannya, dan saya pun enggan menagihnya. Sobat, apa makna di sebalik peristiwa itu  ?  Maknanya, sebagai dosen, ia merasa lebih tahu dibanding mahasiswanya. Ketika dikoreksi ia  merasa gengsi, karena telah menakar  diri sebagai orang yang mumpuni.

Ketika  SMA saya juga sempat mengoreksi  kekeliruan bacaan  alQur’an seorang tua, yang kebetulan membaca  disamping saya. Aneh!!!, bukannya dia berterima kasih, tapi ia malah melototkan matanya pada saya. Sobat, lagi-lagi, si orang tua merasa gengsi menerima koreksi, nasehat, saran dari orang yang jauh lebih muda.

Sobat, apakah arogansi usia menggejala pada setiap orang yang berusia lebih tua  atas yang  muda?.  Sebab, terlalu sering kita mendengar ungkapan, “tahu apa kamu anak kecil”, “kamu kan masih anak bau kencur”, serta masih seabreg ungkapan senada. Arogansi usia, senior atas yunior, orangtua pada anak,  dosen/guru pada mahasiswa/murid,  kyai pada santri, atasan pada bawahan  bila dilanggengkan sangat berbahaya bagi kemajuan.  Bukankah demikian sobat ? Arogansi senioritas model ini dapat menghambat kemajuan, karena ide kreatif si muda selalu dihadang kaum tua. Makin bahaya lagi, arogansi model ini dapat melanggengkan kekeliruan yang dilakukan senior, orang tua, dosen/guru, Kyai  tanpa mau dikoreksi.

Dari perspektif Islam, arogansi senioritas model begini sama sekali tak dibenarkan. Karena Islam mengajarkan keutamaan bukan berdasar pada umur, pangkat, jabatan,jenis kelamin, kekayaan,  tapi mengukur keutamaan berdasar parameter budi pekerti, ketaqwaan, kedermawanan, dan yang tak kalah penting ilmu pengetahuan. Inna akromakum ‘indalla-hi atqo-kum: sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah  adalah yang paling bertaqwa (AlQur’an), tak peduli kaya atau miskin, muda atau tua, penguasa atau rakyat jelata.  Bukankah demikian sobat ?  Saya yakin, sampean lebih tahu  dariku.

Islam menandaskan, Innallaaha laa  yandluru ilaa ahsaabikum, wa laa ilaa  ansaabikum, wa laa ilaa ajsaamikum, wa laa ilaa amwaalikum, walakin yandluru ilaa quluubikum wa a’maalikum: sesungguhnya Allah tidak memandang pada derajadmu,  tidak pada leluhurmu, tidak pada jenis kelaminmu, tidak pada kekayaanmu, tapi hanya melihat pada hatimu dan perbuatanmu (Al  Hadits). Sobat, usia juga tidak menjadi tolok ukur,  meski Islam mengajarkan agar  kaum muda hendaknya hormat pada si tua.  Nabi pernah mengingatkan soal ini, Syabbun Syakhiyyun hasanulkhuluqi ahabbu ilallaahi min syaikhin bakhiilin ‘aabidin  sayyiilkhuluqi: pemuda yang dermawan lagi berkelakuan baik lebih disukai Allah daripada orang tua yang bakhil, berkelakuan buruk, meski ia rajin  ibadah. Inilah bukti ajaran bahwa Islam tidak mendasarkan keutamaan pada senioritas, tapi pada akhlaq. Dan yang membuat manusia menjadi utama adalah pula ilmu pengetahuannya, yarfa’illaahu   ladziina  aamanuu walladziina uutul ‘ilman darojatan: Allah mengangkat orang beriman dan orang-orang berilmu  beberapa derajad (lebih tinggi dibanding orang lainnya).

Ajaran keutamaan yang didasarkan pada akhlaq dan ilmu (bukan  senioritas  ini) sangat dijunjung era Nabi,  sahabat, dan bahkan era kekhalifahan. Inilah satu contoh saja dari bukti nyata,

Sobat, Era Daulah Abbasyiah  berjaya, negeri  Basrah (di Irak) menjadi kota Ilmu Pengetahuan dan atau kota pendidikan. Negeri ini menjadi tempat berkumpulnya para Ulama (baca: ilmuwan) mumpuni, baik di bidang ilmu ibadah keagamaan maupun ilmu keduaniawian. Kota Basrah di huni lebih dari 400 ahli fiqh Islam (Fuqohaa’),  ahli hadits (Muhadditsiin), dan para penghafal al Qur’an (Hafidziin).

Suatu hari, Khalifah Al Mahdi, penguasa Daulah Abbasyiah berkunjung ke kota Basrah. Mendengar kedatangan sang khalifah, para ulama berkumpul, berembug guna memilih pimpinan rombongan dalam menemui sang Khalifah.  Maklum, sang khalifah termasuk figur yang punya kepedulian perkembangan ilmu pengetahuan sekaligus hormat pada para ilmuwan. Dus, ketika datang ke Basrah pun pertemuan dengan para ilmuwan  (ulama) menjadi satu agenda utama kunjungannya.  Dalam pertemuan para ulama sepakat  bulat untuk  mengangkat seorang pemuda bernama Iyas. Ia jejaka belia, namun sangat mendalam pengetahuannya.

Tatkala khalifah Al Mahdi bertemu dengan para Ulama, dia mendapati bahwa pimpinan rombongan adalah seorang anak muda,  sementara anggota rombongannya banyak berusia tua. Kenyataan ini kontan membuat Al Mahdi terperangah. Heran. Kenapa para orang tua memilih anak belia untuk memimpin mereka. Al Mahdi bertanya, “tidak adakah diantara anda orang yang lebih tua usia  dari pemuda ini untuk memimpin ?.

Para  ulama terdiam. Sang Khalifah memperhatikan Iyas, pemuda  belia di hadapannya, lalu bertanya, “Berapa usiamu, wahai anakku?.

Dengan sigap Iyas menjawab mantab, “Semoga Allah melimpahkan berkah  sekaligus memanjangkan usia anda, wahai Amirul Mu’minin. Sesungguhnya usiaku saat ini tidak berbeda dengan usia Usamah bin Zaid, ketika Rosulullah menunjuknya sebagi panglima perang, yang di  dalamnya terdapat Umar Ibnul Khottob dan hampir semua sahabat senior. Masyarakat  Islam sampai kini sudah sama-sama mengetahui bahwa Usamah kala itu masih belia, 18 tahun usianya“.

Mendapat jawaban penuh sindiran namun bernuansa mengingatkan  sang khalifah tidak marah. Dia menatap Iyas  dengan pandangan teduh, tersenyum,  seraya berkata, “majulah duhai anakku,  semoga Allah  Ta’ala memberkahimu“.

Sobat.  Coba, menurut sampean kira-kira hikmah apa yang dapat  dipetik dari itu cerita ? Menurut saya sih, sebenarnya banyak sekali hikmahnya,  namun terlalu panjang  jika harus dibahas tuntas dalam ini tulisan.  Namun,  setidaknya dapat kita ringkas menjadi  dua saja, (1). Keutamaan seseorang bukan karena usia, jenis kelamin, keturunan, atau pangkat dan kedudukan, atau kekayaan yang berhasil dikumpulkan, tapi keutamaan akhlaq budi pekerti dan ilmu yang dimiliki, persis seperti saya ungkapkan di depan tadi. Assyarofu bil adabi laa bin nasaabi. (2). Para meter kedua untuk menilai keutamaan seseorang terletak pada ilmu pengetahuan yang dimilikinya, setelah ketaqwaannya. Allah meninggikan orang-orang berilmu beberapa derajad. Dalam situasi perang, orang yang utama adalah yang paling paham tentang strategi perang. Dalam dunia ekonomi perdagangan, orang yang paling utama adalah para ahli ilmu ekonomi jual beli. Demikian seterusnya. Intinya, keutamaan sesuai dengan lapangan dan tantangannya, bukan pada usia, kelamin, keturunan, dan seterusnya.

Sobat, dengan memahami bahwa Allah menghormat seseorang lebih dikarenakan ketakwaan dan ilmu pengetahuannya, maka kita pun perlu itba’ pada Nya, menghormati seseorang pada iman dan ilmunya, bukan pada tolok ukur  yang lainnya. Sobat, bagaimana menurut sampean ? Saya yakin sampean akur dengan pendapat saya.***

Foto: Berbagicoretan.wordpress.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: