Archive for April, 2012

Pahami Rakyat, Pahami Anak Buah

Sobat, saya ingin tanya pada sampean, adakah manusia sempurna di atas dunia ? Kalau menurut saya sih, tak mungkin ada  manusia sempurna, karena kesempurnaan hanya menjadi sifat Allah Ta’ala.  Bahkan, Nabi pun adalah manusia biasa, yang tak mungkin punya sifat sempurna. Sebab,  kesempurnaan sendiri sama artinya bersih dari kekurangan  dan kekeliruan. Padahal nabipun pasti pernah melakukan kekeliruan, meskipun ia langsung ditegur tuhannya lantas bersegera taubat karenanya.

Sobat, sekali lagi ini menurut saya, bahwa setiap  orang punya kelebihan tapi sekaligus kekurangan.  Dengan kesadaran ini, maka tidak sekali-kali siapa saja yang sedang jaya, merasa  diri sebagai manusia utama di atas  dunia. Tidak sekali-kali akibat merasa diri sebagai manusia hebat, lantas bersikap dumeh alias sok pada orang di bawahnya. Setiap orang punya makom (kedudukan) nya masing-masing. Ada siswa mahir di bidang eksakta, namun lemah dalam bahasa. Ada dosen ahli sejarah, tapi tak paham tentang rumus matematika dan atau pelajaran IPA. Ada seorang ekonom yang brillian, tapi ia buta dalam soal agama. Pokoknya, setiap orang punya kelebihan tapi juga punya kelemahan, sehingga jangan berlagak sok-sokan.

Hal-hal seperti inilah yang perlu dipahami dosen terhadap para siswanya, perlu dipahami para pemimpin terhadap anak  buahnya, perlu dipahami orang tua pada  anak-anaknya. Bahwa siswa, anak buah, anak kandung punya kelebihan sendiri-sendiri disamping kelemahan yang dia miliki. Oleh karena itu,  perlakuan mereka jangan distandardkan secara kaku beku tanpa kompromi. Baca lebih lanjut

Membaca Akulturasi Muslim – Hindu di Karangasem – Bali (Tulisan 8)

Karangasem saya rasakan panas sekali. Matahari memang sedang menyengat.  Tak ada segumpalpun  awan mau menampakkan diri.  Sesekali angin lirih memang berkelebat lewat.  Meski hanya angin sepoi, tapi keberadaannya sedikit membantu  mensirnakan gerah yang acapkali membikin hati saya gundah.

Pak Hasan Bick  saya lihat tetap lincah mengendalikan stir mobil.  Meski tetap konsentrasi,  sesekali ia menjelaskan kampung-kampung muslim yang sempat kami lewati dan atau kami hampiri.  “Wah,  tampaknya pak Hasan paham betul terhadap komunitas-komunitas Islam di Karangasem”,  kataku dalam hati.   Maklum, pak Hasan ternyata seorang asli Karangasem.  “Istri saya yang asli, lahir dan besar,  di Candi Kuning – Bedugul.  Setelah kami menikah,  kami memutuskan tinggal di kampung istri,  menetap di Candi Kuning”,  kata pak Hasan menjelaskan asal usulnya.  Apa yang dikatakan pak Hasan memang ada buktinya. Saya dkk diajak mampir ke rumah adik pak Hasan,  bahkan sempat bertemu dengan kedua orang tuanya.  Itulah bukti yang meyakinkan saya bahwa pak Hasan ternyata memang asli Karangasem.

“Kaum muslim di Karangasem ini,  umumnya keturunan Lombok,  termasuk kami.  Lombok ditaklukkan,  dan kala itu banyak orang Islam di bawa  dipekerjaan oleh kerajaan. Dan sejak itulah komunitas Muslim mulai berkembang di Karangasem”,  ayah pak Hasan bercerita,  meski singkat saja.  Namun,  jika ditelusuri sebenarnya eksistensi umat Islam dan atau Islam telah ada di Karangasem jauh sebelum era penaklukan Lombok.  Jejak Islam di tempat ini misalnya,  dapat ditelusuri dari adanya makam Syekh Yusuf Kembar atau biasa dikenal dengan Kyai Kembar  yang kini terletak di desa Subagan.  Memang tidak ada informasi tertulis tentang keberadaan riwayat Kyai Kembar. Tetapi,  berdasar cerita rakyat, Kyai Kembar ini konon berasal dari Gujarat dan hidup di abad 16.  Dengan demikian berarti keberadaan Kyai Kembar – berarti pula keberadaan muslim–  di Karangasem  sekitar era kerajaan Gelgel.  Baca lebih lanjut

Barang di Rumah yang Mengancam Kesehatan

Sobat,  tahukah anda bahwa  barang-barang di rumah ternyata bisa saja  menjadi sumber penyakit berbahaya ?

1. Talenan kayu. Tatakan saat memotong bahan-bahan mentah untuk di masak ini  Menurut John Oxford, peneliti dari Universitas London, dapat menyimpan ribuan bakteri. Sisa potongan makanan yang mengendap dapat membuat koloni bakteri baru dan mengendap di kayu,  serta akan menempel di setiap bahan makanan yang kita potong.

2. Talenan plastik pengganti talenan kayu. Bahan plastik bisa berbahaya jika tak sengaja terkonsumsi. Jika  talenan sudah tergores, lebih baik ganti yang baru.

3. Sikat gigi. Peneliti dari Universitas Manchester mengungkap : sebanyak 10 juta bakteri bisa berkumpul di sikat gigi, termasuk virus penyakit dan jamur. Disarankan mengganti sikat gigi 2-3 bulan sekali.

4. Handuk. Kondisinya kurang lebih sama dengan sikat gigi. Untuk menghilangkan bakteri  di dalamnya, perlu pemanasan hingga 90 derajat celcius.

5. Bantal. Bakteri yang berkumpul pada bantal bisa menyebabkan gangguan pernapasan, gatal-gatal dan demam. Professor Jean Amberline, dari British Society for Allergy menyarankan untuk mengganti sarung bantal secara teratur, serta mengganti bantal setiap 2 tahun sekali.

(Sumber: Genius Beauty/ Diperoleh Dari Amelia Ayu Kinanti, Y! Newsroom /Melalui Proses Editing).

Gambar: Downloadgambarlucu.blogspot.com

Kegelisahan Berasal Dari Kesalahan

Sobat, ingatkah sampean pada sebuah hadits yang pernah kita baca bersama, ketika  di madrasah dulu? Itu  lho, hadits  tentang definisi kemunkaran. Ingat kan ? Nabi  ketika ditanya oleh sahabatnya, apa tanda-tanda  suatu perbuatan adalah sebuah kemunkaran ? Nabi  menjawab, segala perbuatan yang menimbulkan kegelisahan di hati pelakunya.

Sobat, jawaban Nabi itu memang singkat, tapi sangat padat, plus sangat tepat. Setelah kurenung-renungkan apa yang  disabdakan Nabi memang akurat sekali. Sebab, siapapun yang melakukan kemungkaran pasti  akan merasakan kegelisahan. Ketika bohong,  gelisah takut ketahuan kebohongannya. Tatkala mencuri, gelisah takut ketahuan si pemiliknya. Waktu berzina, gelisah takut kepergok siapa saja. Ketika ngintip, tlingak-tlinguk dahulu takut pula ada yang tahu. Bahkan, sekecil apapun sebuah kemungkaran, pasti si  pelaku akan dilanda kegelisahan. Tentu saja, tingkat kegelisahan tergantung pula pada tingkat kemungkaran yang dilakukan. Semakin besar kemungkaran, semakin besar pula kegelisahan.

Namun, sobat, tingkat kegelisahan, pada akhirnya juga terkait dengan tingkat kesadaran nurani, rasa malu di hati,  dan kepekaan budi. Ketika seseorang telah sangat terbiasa melakukan kemungkaran bin kejahatan,  maka tingkat  kegelisahan bisa menipis,  kendati pasti masih tetap ada. Apa pasal ? Karena hatinya sudah membatu, itulah ungkapan yang biasa kita ucapkan. Orang model ini,  Allah telah menutup hati dan pendengaran mereka, begitu juga dengan penglihatan mereka  dari nilai-nilai kebajikan. Khotamallaahu ‘alaa quluubihim wa’alaa sam’ihim wa’alaa abshoorihim ghisyaawatun walahum ‘adzaabun ‘adziim  (Q.S. AlBaqoroh: 7). Baca lebih lanjut

Asal Usul Kampung Muslim di Kabupaten Karangasem – Bali (Tulisan 7)

Pagi sekali,  pak Hasan Bick mengajak kami meninggalkan Bangli. Suasana sangat sejuk,  atau bahkan cenderung dingin.  Dedaunan masih menggigil.  Dahan-dahan juga menggigil.  Bahkan,  pepohonan ikut menggigil.  Kedinginan. Maklum,  semalaman hujan mengguyur bumi Bangli. Namun,  saya tidak terperangkap pada situasi serba dingin ini. Hati saya telah menghangat akibat dibakar keinginan untuk segera menapaki bumi Karangasem yang keberadaannya selama ini hanya ku dengar dari berbagai kabar.

Sekitar jam 11 siang,  pak Hasan membelokkan mobil langsung ke lokasi kantor Departemen Agama (KUA Islam dan Penyelenggara Haji) Karangasem. Di tempat inilah  saya dkk mendapatkan informasi awal tentang enclave-enclave komunitas muslim di Kabupaten Karangasem. “Kabupaten Karangasem memiliki penduduk muslim berjumlah 19 ribu Jiwa.  Mereka hidup tersebar di 6 dari 8 kecamatan di seluruh wilayah Karangasem.  Namun, mereka terutama terkonsentrasi di 4 kecamatan, yakni: Kecamatan Karangasem (11.729 jiwa),  kecamatan Bebandem (4.438 jiwa),  kecamatan Sidemen (820 jiwa),  dan Kecamatan manggis (465 jiwa).  Sisanya sekitar 2000 jiwa tersebar, terutama di kecamatan Kubu dan kecamatan Rendang”,   kata pimpinan Depag urusan Islam,  sambil menyodorkan data tertulis kepada kami.

Muslim di Kecamatan Kubu terutama tinggal di wilayah Galian C.  Sedangkan, muslim di Kecamatan Rendang jumlah muslimnya hanya sekitar 13 KK.   Mereka memang memiliki musholla an Nur, yang sempat dipakai presiden SBY sholat ketika ke Karangasem. Namun,  musholla ini tak boleh dipasang papan nama,  dengan alasan  bertentangan dengan aturan adat setempat. Baca lebih lanjut

Gosok Gigi Sehatkan Paru-Paru

Memiliki masalah kesehatan pada rongga mulut dapat menyebabkan berbagai penyakit serius, termasuk jantung, stroke, bahkan diabetes. Sebaliknya, bila gusi Anda bersih dan sehat, paru-paru pun akan sehat dan berumur panjang.Journal of Periodontology mencatat menemukan bahwa penyakit gusi dapat meningkatkan risiko untuk berbagai kondisi pernafasan, termasuk pneumonia, infeksi saluran pernafasan atas, bronkitis akut, bahkan penyakit paru obstruktif kronik (PPOK).Dalam studi diketahui bahwa bakteri yang disebabkan penyakit periodontal, yang merupakan peradangan kronis dari jaringan gusi serta tenggorokan atas dan kemudian dapat terhirup ke dalam saluran pernapasan bagian bawah, bisa bersarang di daerah tersebut.

Lambat laun, bakteri itu menghambat pernafasan dan mengakibatkan masalah paru-paru secara serius.  Pasien yang menderita penyakit pernafasan kebanyakan memiliki kesehatan periodontal yang lebih buruk. Inilah yang menjadi petunjuk awal hubungan antara penyakit pernapasan dan penyakit periodontal. Oleh karena itu,  sangat penting  membersihkan rongga mulut dengan tepat, termasuk menyikat gigi setiap hari .

Bagi siapapun sobat yang beragama Islam,  soal pentingnya sikat gigi semacam ini tentu bukan sebagai pengetahuan baru.  Sebab,  nabi telah menekankan tentang arti penting sikat gigi alias bersiwak ini.  Bahkan,  umat Islam disunnahkan untuk bersikap gigi sebelum menjalankan shalat lima waktu.  Jika ajaran tersebut dijalankan,  maka minimal setiap muslim bersiwak (sikat gigi) 5 kali setiap hari.

(Sumber: Siswanto, Lutfi Dwi Puji Astuti  dari VIVAnews/Melalui Proses Editing dan penambahan) .

Sumber gambar : Full-Orange.blogspot.Com

Yuk, Mencari Tuhan

Bagaimana cara menjawab pertanyaan : apakah tuhan benar-benar ada ? Dimana letak tuhan ? Tuhan seperti apa ?,  Tuhan makan dan minum atau tidak, dan seterusnya”. Pertanyaan polos seperti itu, diakui oleh banyak orang, sulit untuk menjawabnya, apalagi kepada anak-anak.

Buku ini sengaja dihadirkan, sebagai bahan renungan bersama, untuk mencari tahu agama mana yang masuk akal, dan siapakah tuhan yang sebenarnya. Dengan berbekal buku sederhana ini, setidaknya kita dapat mulai berdiskusi –setidaknya dengan akal pikiran kita sendiri, sebagai anugerah ilahi– untuk mencari tuhan berdasar logika, bukan menduga-duga berdasar ajaran keturunan belaka, bukan mengira-ngira ibarat beberapa orang buta yang berusaha mengenali gajah, sebagian pegang ekor, sebagian belalai, sebagian perut,  dan seterusnya, sehingga masing-masing tidak pernah mendapat gambaran gajah secara utuh dan paripurna.

Buku kecil dan sederhana ini dapat membantu mengantarkan kita menjadi manusia yang bertuhan dengan berlandaskan zikir sekaligus pikir. (Bandung:  PT Mizan Publika)***