” Bakhil Tak Bisa Bikin Kaya, Tetapi Justru Sebaliknya”.

Sobat, pada tulisan  ini saya ingin menampilkan sebuah kisah yang pernah diceritakan ibu di masa kecilku. Jika kita  mau merenungkannya insya allah kita dapat memetik hikmahnya untuk meniti kehidupan kita. Intinya kita perlu menjauhi sikap pelit alias bakhil bin kikir.  Berikut kisahnya:
Dulu di sebuah desa di tanah Jawa hiduplah seorang anak manusia yang di lingkungannya diberi sebutan Si Bakhil. Maklum, lelaki usia baya ini amit-amit sifat pelit bin medit nya. Tak secuilpun  harta  yang dipunya pernah ia sedekahkan, karena khawatir akan mengurangi kekayaan yang  dia kumpulkan. Suatu masa, desa tempat tinggal si pelit dilanda paceklik. Masyarakat banyak mengalami kecingkrangan sulit mencari penghidupan. Dalam situasi ini, tak sedikit pengemis wira-wiri minta sedekah dari orang yang dianggap memiliki kelebihan materi.  Tak terkecuali si Bakhil, juga menjadi sasaran pengemis. Meski penduduk miskin  kota rata-rata tahu tabiat si Bakhil, namun paceklik memaksa mereka tetap mencoba minta kepadanya, barangkali dalam situasi begini si Bakhil bisa terketuk hati.

Pengemis A datang, “Tuan…berilah hamba sedikit makanan. Anak hamba yang masih kecil sudah seharian belum makan“, demikian rintih seorang pengemis wanita dengan menghiba, tentu saja benar-benar sambil menggendong anaknya yang letoy kurang makan.

Hati si Bakhil tak tersentuh sama sekali. Dia tak  memberi apapun, kecuali hanya memberi ucapan, “Pergilah sana ke tempat lainnya. Saya do’akan semoga Allah memberimu rizki, dikasih orang makanan“.

Pengemis A pergi. Tak lama datang pengemis B, menengadah kemurahan hati si Bakhil tadi. “Tuan…tolong beri kami sedekah. Jika tuan bermurah hati, pasti mau memberi sedikit derma pada kami. Tuan, beberapa hari ini kami sakit tak memiliki uang untuk berobat. Tuan, tolonglah orang miskin ini“. Demikian rintih si pengemis yang memang kelihatan loyo sekali. Raut mukanya pucat, pertanda ia tidak sehat.

Lagi-lagi si Bakhil tak  tersentuh hatinya. Ia hanya berkata, “pergilah sana, minta pada yang lainnya. Aku do’akan semoga Allah memberi kesembuhan pada penyakitmu“.

Pengemis B pergi, pengemis lainnya (C, D, E, F) datang silih berganti. Namun, tak sekalipun si Bakhil berbelas kasih. Dia tak pernah memberi derma, kecuali hanya do’a. Akhirnya, ganti pengemis G datang menghampiri, “Tuan…, kasihani orang tua renta seperti aku ini.  Aku tak punya anak  ataupun sanak kadang yang bisa membantu. Maksud hati ingin bekerja untuk beli nasi, namun badan rentaku sudah tidak kuat lagi. Tuan… berilah aku sedikit sedekah“.

Tampaknya si Bakhil mulai dongkol tak terperi  karena hari ini begitu banyak pengemis datang menghampiri. Tanpa ngomong ba-bi-bu, pintu rumah segera ditutup sambil ngedumel, “Sial betul saya hari ini. Terlalu banyak pengemis meminta-minta. Jangan-jangan do’aku pun habis lantaran diminta oleh mereka“.

Naudzubillah, si Bakhil benar-benar terbukti pelit bin medit setengah mati. Bahkan,  hanya untuk sebuah ucapan do’a, dia  merasa enggan memberikan apatah lagi harta kekayaan.

Singkat kata, hari berganti hari, tahun berganti tahun. Musim paceklik telah lewat, para pengemispun sudah tak lagi terlihat. Suatu hari, si Bakhil sedang berperahu, menuju seberang guna melamar seorang wanita untuk dijadikan menantu. Sungai itu lebar. Airnya mulak-mulak banyak  sekali. Sampai di tengah sungai, tiba-tiba air berpusar, perahu oling lantas terguling. Kontan, si Bakhil, istri dan putranya terjungkal ke kali. “Tolong…., tolong“, ketiga anak beranak berteriak minta bantuan.

Melihat kejadian itu, mendengar lengkingan menghiba itu, beberapa perahu berusaha mendekat untuk membantu. Sayang, istri dan putra si Bakhil keburu tenggelam karena tak pandai berenang. Sedangkan, si Bakhil terus berenang, berusaha tetap di permukaan, kendati arus sungai sedikit demi sedikit terus menghanyutkan.  Untung, sebuah perahu tua berada  dari arah hulu. Tukang  perahu segera menggaet tangan si lelaki,”Hup!!!.

Tangan telah terpegang, dan si tukang perahu hendak menarik si lelaki untuk naik ke atas perahu. “Engkau si Bakhil“, kata  tukang perahu begitu melihat wajah pria yang ditolongnya. Kontan, dia ingat pada sikap lelaki bakhil di depannya, yang sama sekali cuek pada penderitaan sesamanya. “Aku tak jadi menolongmu“, lanjut si tukang perahu.

Tentu saja wajah si Bakhil berubah pucat pasi karena masih takut mati. Dengan menghiba si Bakhil minta jangan dilepaskan, mohon dirinya diberi pertolongan. Melihat adegan ini tukang perahu lain segera menghampiri, lantas bertanya pada tukang perahu yang masih memegang tangan si Bakhil tadi. Serempak mereka bertanya, “wahai saudara, kenapa engkau tak segera mengentaskannya ?.

“Lihatlah wajahnya“, kata si tukang perahu pada teman-temannya, “bukankah dia si Bakhil? Di masa paceklik aku pernah menghiba minta derma sekedar untuk mengganjal perutku saja. Ternyata sama sekali hatinya tak tersentuh untuk memberi sedikit sedekah. Patutkah bila saat ini aku menolongnya, bahkan bukan sekedar untuk mengganjal perutnya, melainkan justru untuk menyelamatkan nyawanya ?”.

Mendengar ucapan itu, si Bakhil menjadi sadar siapa lelaki di hadapannya. Dia lah pengemis yang pernah ditolaknya. Muka si Bakhil menjadi kian pasi, bukan karena menyesali diri melainkan takut mati. “Tolonglah wahai tuan…, janganlah saya  dilepaskan“,  kata si Bakhil merajuk, menghiba, bahkan terpaksa dengan memanggil lelaki miskin di hadapannya dengan  sapaan tuan. “Jika tuan mau menyelamatkan, apapun permintaan akan saya kabulkan“, lanjut si  Bakhil.

Baiklah. Aku mau menolong, asal kau mau menyumbangkan seluruh kekayaan kepada masyarakat yang membutuhkan“, kata tukang perahu memberi  persyaratan.  Tukang perahu lainnya terdiam. Tampaknya mereka setuju dengan sikap  temannya, mengingat si Bakhil memang termasyhur sebagai lelaki kikir alias pelit bin medit.

Sebaliknya, si Bakhil yang takut mati tak merasa perlu berpikir dua kali, langsung menyetujui persyarataan yang diajukan tukang perahu tadi. “Aku setuju“, kata si Bakhil, disaksikan para  tukang perahu di sekitarnya.

Si Bakhil  akhirnya diselamatkan. Namun akhirnya ia berubah menjadi si miskin papa, karena hartanya yang tumpuk undung habis dibagikan. Si Bakhil tak lagi punya bini, putra, juga harta benda. Harta yang dikumpulkan hari demi hari lewat kerja keras setengah mati, koleksi kekayaan yang terlalu disayangi dan enggan didermakan meski sedikit sekali, akhirnya musnah dalam sekejab diganti dengan tumpangan perahu butut, itupun hanya beberapa menit saja.

Na’udzubillah. Ternyata kecintaan terhadap harta tanpa kira-kira menyebabkan orang menjadi serakah, bakhil tak terkira. Padahal, harta hanya titipan Ilahi, suatu saat bisa diambil kembali, bahkan mungkin dalam waktu mendadak sekali. Itulah kekuasaan  Tuhan, dengan sekali kun fa yakun, nasib manusia bisa dibolak-balik sekehendak Nya. Nilai harta di alam dunia sangatlah relatif. Intan permata memang berharga, namun bagi orang yang hampir tenggelam ban bekas atau sepotong kayu justru jauh lebih berharga dibanding harta atau bahkan dunia beserta isinya.

(Sumber:  Dhurorudin Mashad, Seri Kisah Jenaka Sarat Makna, (Jakarta:  Penerbit Erlangga, 2003),  Jilid 4,  pada Catatan Pengantar.

Gambar: Pondokibu.com).***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: