Pura Langgar Di Bunutin: Bukti Sejarah Islam Permulaan di Bangli – Bali (Tulisan 6)

Selama penelusuran  di Kabupaten Bangli,  umumnya saya memperoleh informasi bahwa Muslim Bangli baru mulai berkembang di tahun 1970an.  Namun,  jika ditelusuri lebih mendalam sebenarnya eksistensi Muslim di Bangli sudah ada jauh sebelum era kemerdekaan.  Tercatat misalnya,  pernah ada seorang Muslim bernama Tengku Hasan yang berasal dari Aceh. Beliau datang ke Bangli karena lari dari kejaran Belanda,  sehingga orang ini sangat dihormati orang Bali yang juga anti kolonial.  Bahkan Tengku Hasan itu akhirnya kawin dengan orang Bali.  “Konon dia punya satu anak lelaki, Tengku Zaenudin, yang juga memiliki nama Bali Putu Badung. “Jadi,  keluarga Pak Putu Badung ini dipercaya sebagai muslim yang pertama kali tinggal di kota Bangli”,  jelas H. Lukman.

Bahkan,  untuk kabupaten Bangli secara keseluruhan,  sejarah kedatangan Muslim usianya jauh lebih tua dari eksistensi Tengku Hasan tadi. Eksistensi Pura Langgar di wilayah Bunutin misalnya,  menjadi bukti otentik dari kedatangan Islam. Langgar merupakan istilah khas Jawa Timur untuk menyebut masjid kecil alias musholla, tempat ibadah orang Islam.  Sedangkan,  pura merupakan tempat ibadah orang Hindu. Dengan demikian,  Pura Langgar merupakan refleksi  nama dari dua tempat peribadatan bagi dua komunitas agama: Hindu dan Islam.

Pura Langgar berada di Desa Bunutin, Kecamatan Bangli, Kabupaten Bangli. Rumah persembahyangan umat Hindu ini dikenal pula dengan nama Pura Dalem Jawa. Perlu waktu sekitar 15 menit melaju dengan kendaraan bermotor dari Kota Bangli ke arah selatan untuk sampai ke pura ini. Lokasinya di sisi Timur jalan raya,  lantas memasuki sebuah gang sekitar 100 meter.

Pura yang dikelola Puri Bunutin ini memiliki sisi sejarah sangat panjang, yang konon ada kaitannya dengan Kerajaan Blambangan tempo dulu. Bahkan, leluhur kalangan Puri Agung Bunutin juga berasal dari trah Raja Blambangan, Jawa Timur. Apa dan bagaimana sejarah keberadaan Pura Langgar ?

Kisahnya bermula dari sosok raja Bunutin yakni I Dewa Mas Wilis yang memiliki dua istri. Sang permaisuri (padmi) melahirkan dua putra:  Ida I Dewa Mas Blambangan dan Ida I Dewa Mas Bunutin. Dari istri penawing (selir) lahir : I Dewa Wayahan Mas, I Dewa Made Mas, dan I Dewa Nyoman Mas.  Ketika Mas Wilis turun tahta digantikan Mas Blambangan,  raja baru ini mendadak sakit parah usai penobatan. Penyakit berlarut-larut bahkan sampai lima tahun,  meskipun berbagai upaya pengobatan telah diupayakan.

Adik kandungnya,  Ida I Dewa Mas Bunutin, merasa iba lantas berinisiatif melakukan dewasraya di Mrajan Agung, melakukan yoga samadhi melalui seorang perantara (balian). Ketika mengalami kerauhan dari mulutnya keluar sabda, “Wahai Mas Blambangan, Mas Bunutin, dan semua yang ada. Aku Dewaning Selam yang bernama Tuhan Allah. Aku minta supaya dibuatkan pelinggih Langgar tempatmu sembahyang kepadaKu. Jika tidak , maka terus-menerus secara turun-temurun akan menderita sakit berat, walau tidak akan mati”.   Inti perintah itu adalah:  Mrajan Agung yang sudah ada perlu dilengkapi sebuah pura berbentuk langgar. Ini dianggap sebagai Pelinggih Ida Bhatara Dalem Blambangan untuk mewujudkan bhakti kepada kawitan. Jika tidak dibuatkan pelinggih berupa langgar, penyakit sang raja tidak akan sembuh. Raja Bunutin bakal menderita selamanya. Namun, jika dibuatkan langgar, penyakit beliau akan sembuh. Prosesnya tanpa obat. Jika kelak sehat, hidupnya akan selamat sejahtera, bahagia tanpa kekurangan apa pun. Namun, jika ada yang menolak membuat langgar kelak tidak akan selamat. Bahkan, mereka yang menolak ini dibayangkan akan turun wangsa kesatriaannya.

Tiga bersaudara dari ibu selir tidak setuju membangun langgar, serta siap menerima segala risikonya. Mereka menganggap permintaan membuat langgar dalam areal pura tidak sesuai ajaran Hindu. Namun, Raja Bunutin dan adiknya, Mas Bunutin, tetap membangun langgar, apalagi setelah direstui Raja Gelgel (sekarang masuk wilayah Klungkung).  Persetujuan Gelgel ini tidak terlalu aneh, sebab Gelgel sendiri memang memiliki rakyat –yang mengabdi kepada kerajaan– dari kalangan Muslim (yang tingggal di Kampung Gelgel) yang terjadi bahkan sejak Dalem Ketut Nglesir (sebelum 1460) dan Watu Renggong di tahun 1460-1550. Bahkan,  merujuk ke era Gelgel berarti pembangunan Langgar ini pun setidaknya terjadi  di tahun 1500 an juga.

Ketiga saudara yang tak sepakat (Wayahan Mas, I Dewa Made Mas dan I Dewa Nyoman Mas) terhadap pembangunan Langgar akhirnya dipanggil untuk tinggal di Puri Gelgel. Namun, ketiga orang itu akhirnya dituduh bersekongkol saat terjadi aksi kudeta yang diotaki lima patih Kerajaan Gelgel (yakni: Kyai Batan Jeruk, I Gusti Tusan, I Gusti Abian Nangka, I Gusti Bebengan, dan I Dewa Anggungan). Para tersangka termasuk ketiga saudara seayah Mas Blambangan pun ikut hengkang. I Dewa Wayahan Mas lari ke Desa Abian Bambang, Karangasem. I Dewa Made Mas lari ke Denbukit, Desa Banjar, Buleleng.  Sedangkan I Dewa Nyoman Mas memilih ke Tukad Unda. Bahkan,  jejak keturunan mereka akhirnya tak diketahui hingga kini.  Dengan demikian,  “sabda” dari Dewaning Selam terhadap siapa yang mengikuti perintahnya dan siapa yang mengingkarinya menjadi terbukti.  Jika pembangunan Langgar itu dirujukkan pada era pemberontakan di Gelgel (oleh Patih Batanjeruk) berarti peristiwa itu terjadi di tahun 1556 M. Dengan demikian,  usia Langgar itu sudah lebih dari 450 tahun.  Atas dasar sejarah itulah, maka secara turun-temurun keberadaan Pura Langgar mendapat penghormatan sangat  besar dari masyarakat Hindu di Bunutin hingga kini.

Namun,  ada versi yang agak berbeda terkait dengan kesembuhan sang Raja.   informasi alternatif menyebutkan bahwa raja yang sakit berhasil disembuhkan oleh seorang ulama Islam.  Bahkan, ulama ini akhirnya diangkat menjadi tabib kerajaan,  serta memberi pelayanan pengobatan pula kepada masyarakat setempat. Dialah pendiri bangunan langgar sebagai tempat ibadah keluarga dan para pengikutnya. Bahkan, ditempat itu pula,  akhirnya ia dimakamkan setelah wafatnya.  Langgar  itulah yang sampai kini tetap dihormati, oleh masyarakat Bunutin.  “Bangunan langgarnya memang sudah lama hilang. Mungkin bangunan dasarnya saja yang sama : yang kalau boleh kita katakan makam ya”,  kata H. Luqman yang pernah menjadi ketua MUI Bangli,   “Peninggalannya masih,  Batu tempat sujud malah dikeramatkan oleh mereka. Terus ada air kelembutan. Air kelembutan konon oleh aulia Islam dahulunya dipakai untuk wudhu. Kini air itu malah dipakai sebagai air suci. Mereka melestarikan pada jalur spiritual yang begitu ya”.

Terlepas versi mana yang lebih akurat,  setidaknya terkait dengan keberadaan Pura Langgar,  terdapat dua hal yang patut digarisbawahi:

Pertama, Realitas Pura Langgar di puri Bunutin menunjukkan bahwa eksistensi Muslim di Bangli sebenarnya sudah ada sangat lampau,  di tahun 1500 an, hanya saja memang terhenti atau tidak berkembang seperti di wilayah-wilyah lain di Bali.  Komunitas muslim Bangli baru berkembangkan lagi di tahun 1970-1980an.

Kedua, keberadaan Pura langgar menunjukkan adanya akulturasi yang bersifat kelampauan antara budaya Islam dengan Hindu. Akulturasi itu dipegang secara kukuh oleh orang Hindu Bangli sampai saat ini. Dalam  ritual upakara Galungan di Pura Langgar misalnya,  sesajen babi hanya boleh disajikan di Pura Dalem. Sajen babi tidak boleh di bawa ke Bale Agung, Kaler, dan Pajenengan. Bahkan, Banten atau sesajen satu-satunya di Bali yang diberi nama sajen selam hanya ada di Bangli. Selam adalah penyebutan Islam oleh lidah orang Hindu Bali. Karena disebut sajen selam,  maka yang disajikan hanya makanan-makanan yang tidak diharamkan orang Islam.

Masyarakat Hindu Bunutin secara umum terus merawat pura langgar dan mengikuti apa yang sudah jadi adat leluhur. Disitu yang boleh disajikan untuk tingkatan yang tertinggi harus itik. Babi tidak boleh, dan hanya dibolehkan di luar kawasan pura langgar. Memang,  untuk kawasan pura dibolehkan babi,  tetapi habis itu ke tempat yang paling suci yang disebut  pura langgar dia harus naik tangga lagi. “Nah di lingkungan yang tertutup ini, letaknya di  tengah-tengah,   berbagai hal yang dilarang Islam,  tidak boleh ada”,  terang H. Lukman. “Tempat utama atau tertinggi di pura itu biasa pula disebut utamaning Mandala. Dengan demikian,  justru lokasi langgar  itu yang dianggap paling suci oleh umat Hindu Bunutin”.

Bangunan yang disebut langgar itu memiliki ciri khas berundak dua,  berpintu empat,  serta atapnya bertingkat dua.  “Konon, dua tingkat atap dan dua undak itu melambangkan syariat dan tarekat dalam Islam.  “Syariat adalah hukum yang mengatur tata kehidupan dan peribadatan umat,  sedangkan tarekat adalah jalan menuju Tuhan”,  demikian penjelasan Ida I Dewa Ketut Raka,  sebagaimana saya kutib dari sebuah tulisan. Ida I Dewa Ketut Raka adalah penglisir Pura Langgar alias Pura Dalem Jawa ini. Sayang sekali saya tak sempat bertemu dengan penglisir itu,  dan hanya bertemu dengan bu Mangku,  sebab suaminya memang sudah meninggal.

“Silahkan masuk saja, pak” kata bu Mangku sangat ramah mempersilahkan, “Kebetulan kita lagi ada upacara rajekwesi”.  Namun,  saya terus terang merasa tidak nyaman untuk blusukan ke dalam,  takut mengganggu acara. Hanya dua temanku,  Hamdan dan Indri yang nekad masuk dengan syarat melilitkan selendang kuning ke pinggangnya.

Meski tidak ikut blusukan masuk,  banyak hal tetap bisa saya dapatkan dengan cara ngobrol dengan seorang ibu yang sedang sibuk mempersiapkan banten untuk upacara.  Ibu itu menjelaskan bahwa upacara rajekwesi merupakan proses ritual terhadap segala perabotan yang terbuat dari besi,  termasuk kendaraan,   agar semua tidak menimbulkan celaka,  tetapi justru membawa keberkahan bagi kehidupan mereka. “Umat Hindu di sini juga mengenal istilah Qurban,  seperti dalam Islam yang kita sebut dengan upacara titimamah dengan menggunakan pakelem berupa godel bang (merah).  Bedanya, jika umat Islam melakukan korban pada hari raya Idzul Adha,  maka upacara qurban di Pura Langgar dilaksanakan pada Tilem Sasih Kawulu,  atau sekitar bulan Pebruari”,  tambah ibu tadi.

“Pakelem berupa godel bang, itu apa maksudnya bu ?,  tanya saya tak mengerti. “Maksudnya, sapi muda berambut merah,  sebagai unsur alami yaitu untuk menjaga keselarasan kosmis.  Sapi adalah simbul dari bumi ibu karena semua bagiannya dapat digunakan untuk kepentingan manusia”,  tandas ibu itu mengakhiri penjelasannya. Sayang sekali,   saya lupa menanyakan namanya. Tetapi,  saya tentu tidak lupa untuk berterima kasih kepadanya.

Senja membayang.  Angin berhembus pelan.  Dengan laju pelan pak Hasan menyetir mobil menembus gerimis timis yang  terus membayangi kami dalam perjalanan.***

2 responses to this post.

  1. saya sangat tertarik dengan tulisan ini, ada beberapa fakta yg diungkap dan ditulis namun ada juga beberapa analisa dan anggapan yg saya saya rsa kurang tepat, fakta yg ada tentang bentuk bangunan didalam pura yg sering disebut sebagai langgar(ibadah islam), yang bukan fakta adalah kedatang/pengaruh islam dikatakan sekita abad 14-15 M iotu adalah salah besar, saya sendiri adalah ketyurunan langsung Raja Gelgel Bali yang memiliki sumber prasasti lengkap tentang penyebaran islam di Bali, keluarga kami dari trah Dalem Balmabangan mereka baru mengungsi ke Bali setelah dikalahkan oleh VOC yg bersekutu dengan mataram sekitar abad 18 M, pada abad 14-15 mereka merupakan keluarga raja Blambangan yag masih saudara kandung dari raja Gelgel Bali, bangunan itu sendiri merupakan pelengkap kaul dari keturunan raja Blambngan yg menetap di Bali, yg tidak ada kaitannya dengan sabda turunnya wahyu alah di Pura tersebut, karena itu tidak mungkin, bungkankah alah hanya diterima oleh muhamad saja, karena pada jaman itu dilarang berkembang dilur Gelgel oleh Raja Dalem waturenggong, jadi mustahil hal itu terjadi, sejarahnmya mirip seperti kedatangan islam di Gelgel, dimana mereka itu merupakan murid /santri dari wali songo yang menyerahkan diri menjadi abdi Raja Gelgel karena wali songo telah kalah dalam adu ilmu. tidak ada yang bernama kerajaan bunutin di Bangli. jadi tulisan ini sebagai pengetahuan cukup baik namun tidak dapat dijadikan referensi untuk perkembangan islam di Bangli apalagi di Bali.

    Balas

    • terima kasih pak Gede Cakra atas komentar dan masukannya. Itu akan menjadi informasi alternatif yang sangat memperkaya pengetahuan saya. Memang, informasi ada banyak versi yang saya dapatkan, sehingga saya seolah harus menyusun puzzle untuk menjadi sebuah gambar yang pas. Tulisan saya ini anggap saja sebagai tulisan populer yang masih awal, yang mungkin bisa dijadikan salah satu pijakan alternatif yang sangat awal oleh penulis lain untuk melakukan kajian secara ilmiah berdasar sumber-sumber yang lebih akurat. Semoga tulisan sederhana dari saya ini dapat memancing orang lain untuk melakukan kajian lebih lanjut, sehingga dapat menumbuhkan semangat nyama braya berpijak pada semangat historis kultural leluhur kita yang umumnya sangat bijaksana.

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: