Ambil Keutamaan Meski dari Anak Belia

Sobat, ingatkah sampean  pada sebuah pepatah, “telor meski keluar dari dubur ayam tetap enak dimakan plus menyehatkan,  sedangkan sesuatu meski keluar dari dubur pejabat pasti barang najis dan sangat menjijikkan”. Artinya apa ? Maknanya kita diajarkan untuk melihat sesuatu jangan sekedar di permukaan alias kulitnya saja, tapi hendaknya mencermati lebih detail tentang substansi alias isinya. Segala sesuatu jangan hanya ditakar berdasar penampilannya, tapi dinilai secara utuh dan paripurna.

Jika kita hanya berhenti menilai sesuatu pada kulitnya saja, niscaya amat sangat mungkin menyesatkan kita. Buah manggis misalnya, boleh saja hitam kulitnya, tapi isinya ternyata sangat putih dan enak rasanya. Durian boleh pula berduri kulitnya, tapi legit pula  rasanya. Dus, jika kita menilai durian dan manggis hanya pada penampilan kulitnya, maka kita tak akan memperoleh isinya yang sangat berharga.

Sobat, hal yang sama berlaku ketika kita mengukur hubungan kemanusiaan. Kita menakar dan menilai mereka jangan pada penampilan,  karena itu amat sangat menyesatkan. Sekarang ini banyak sekali orang punya sedan sebagai kendaraan, tapi tak tahunya hasil kreditan.  Mereka tinggal di gedung mewah  bin megah, tapi tiap bulan dibebani oleh hutang yang harus dibayarkan. Kepala nyut-nyutan tiap bulan, karena harus mengalokasikan anggaran untuk  melunasi kreditan. Padahal, banyak orang kampung dengan rumah sederhana, kemana-mana naik omprengan saja, tapi tak dibebani hutang dalam kehidupannya. Nah,  menurut sampean, mana yang lebih kaya antara mereka yang tampil dengan trendy tapi didanai oleh pinjaman  atau mereka yang tampil sederhana tapi seratus persen menjadi hak miliknya ?

Lebih parah lagi, tak sedikit mereka yang tampil wah-wahan ternyata biaya penampilannya diperoleh dari “ngrampok” uang negara,  mulai dari korupsi, hasil kolusi, uang sogokan, bahkan ngembat dari bank negara yang notabene uang simpanan masyarakat jelata. Na’udzubillah.

Sobat, alangkah tidak pantas, menilai seseorang  hanya berdasar pada penampilan. Ketika berhadapan dengan orang gedean, lagak  munduk-munduk hormat segera ditampilkan. Apapun omongannya disimak dengan penuh perhatian. Sebaliknya, ketika ketemu  orang kecil alias bawahan, lagak cuek lah yang dipamerkan. Ketika si kecil memberi nasehat, dicueki atau bahkan mata segera dipelototkan. Tersinggung, itulah yang dirasakan. Padahal Islam mengajarkan, undzur maa qoola wa laa tandzur man qoola: lihatlah apa yang dikatakan, dan jangan melihat siapa yang mengatakan.  Kendatipun keluar dari dubur ayam, yang namanya telur tetap lezat dan menyehatkan. Bukankah demikian ?

Sobat, jika sampean jadi atasan jangan sekali-kali apriori pada pendapat bawahan. Bila sampean jadi orang tua jangan pernah menyepelekan pandangan anak. Tatkala sampean menjadi kakak jangan coba-coba meremehkan si adik. Ketika sampean jadi guru jangan sekalipun menganggap enteng si murid. Bahkan, jika sampean jadi kyai pun jangan merasa selalu lebih paham agama  dibanding santri.  Demikian seterusnya. Sebab, di atas langit masih ada langit, dan tak ada gading yang  tak  retak. Hanya dengan  kesadaran  ini, sampean bahkan siapa saja orangnya akan senantiasa mau dan mampu menerima nasehat, saran atau bahkan kritik terhadap dirinya.

Sobat, pernahkan  sampean mendengar kisah Anas bin Malik, seorang alim, penghapal Al Qur’an, salah satu sahabat erat  Rosulullah dinasehati seorang anak kecil ? Dan si Anas ini mampu dan mau menerima nasehat itu. Begini kisahnya,

Tersebutlah seorang sahabat nabi bernama Anas Bin Malik. Namanya masyhur di kalangan sahabat akibat mendalam pemahaman Islamnya, memiliki kedudukan mulia dalam Islam akibat kesalehannya. Dia seorang penyair ulung, menandakan betapa dalam pengetahuannya, halus budi bahasanya. Bahkan di masa Nabi, Anas bin Malik dianggap sebagai penyair Islam yang cukup mumpuni.  Dapat  dipahami jika tatkala khalifah Abu Bakar melaksaanakan penghimpunan Al Qur’an secara lengkap, baik yang terdokumentasi dalam tulisan, sekaligus yang tersimpan dalam dada para penghafalnya, Anas bin Malik menjadi salah satu rujukannya.

Suatu hari, salah seorang putra Anas meninggal dunia. Sebagai bapak tentu merasa sedih hatinya, akibat di tinggal sang putra. Itu  manusiawi, refleksi dari rasa  cinta kasih yang juga manusiawi. Di tengah kesedihan ketika menghantar pemakaman sang putra, dia berdiri mematung dekat kubur  bahkan meskipun penghantar lain  telah pulang semua. Dia nganjir berdiri, sambil memohon rahmat dan pahala Allah seraya berharap Allah menjadikan anaknya sebagai simpanan  buatnya di akherat  serta bisa menarik  dirinya menuju surga. Anas berdo’a, “Ya Allah, duhai tuhanku. Hamba Mu sekaligus anak hamba Mu telah kembali keharibaanMu. Belaskasihanilah ia, limpahkan rahmatMu padanya. Bukalah bumiMu untuk menerima jasadnya.  Bukalah pintu langitMu  untuk menerima ruhnya”.

Sangat lama Anas nganjir di pekuburan, persis disamping pusara  sang putra. Perasaan sedih akibat berpisah dengan sang putra campur aduk dengan rasa iklas pada ketentuan tuhannya. Terlihat butiran air mata meleleh, membasahi pipinya. Seorang anak, teman  dari mendiang putranya memperhatikan kegundahan  dari Anas ini. Ia lantas mendekati, berdiri di samping Anas.

Setelah Anas mengakhiri  do’a, si bocah belia itu langsung berkata, “Wahai paman, ketahuilah bahwa kekekalan hanya milik Allah. Duhai paman, ketahuilah bahwa Allah pasti akan mengumpulkan kita, dan yakinilah bahwa dia berada di atas kebaikanNya, Insya Allah. Aku mengingatkanMu duhai paman, pulang lah engkau ke rumah, lalu makan dan minum, serta pakailah minyak wangi, semoga Allah menggantimu dengan yang lebih baik”.

Mendengar nasehat seorang  anak, Anas tersenyum. Tangannya memegang kepala si bocah, lantas dibelainya, sambil berkata, “Semoga Allah memberimu barakah wahai Anakku“.

Sobat, dari kisah Anas bin Malik tadi, ada tiga hal patut dicermati,

(1). Perasaan suka-duka, marah-cinta, kecewa-puas adalah manusiawi alias melekat pada setiap diri manusia. Perasaan dikotomis ini silih berganti mewarnai kehidupan manusia sesuai dengan dinamika hidupnya. Itulah yang disebut syahwat alias nafsu pada diri manusia. Sikap-sikap baik perlu dikembangkan, sedangkan sifat-sifat yang potensial menumbuhkan kerusakan seperti duka, marah, kecewa perlu dikendalikan, tapi tak boleh dimatikan. Sikap  marah misalnya, ketika tak dimiliki maka akan menjadi sangat berbahaya, sebab ketika keadilan dan kebenaran telah dilecehkan dia tetap adem ayem tanpa mampu mengekspresikan kemarahannya. Sikap sedih misalnya, ia tak pula patut dimatikan kendati harus dikendalikan, sebab tanpa punya rasa sedih maka dapat  mematikan nurani kemanusiaan  dan kasih sayang. Ketika putra  nabi bernama Ibrahim meninggal, nabipun sedih mengucurkan air mata. Kesedihan nabi bukan lambang penyangkalan pada takdir Ilahi, tapi sebagai ekspresi kasih sayang seorang ayah pada puteranya. Siapapun yang mendapatkan kemalangan dia sabar Allah menjanjikan keutamaan, man  adzhabtu habiibataihi wa shobaro wahtasaba, lam ardlollaahu tsawaaban illaljannati: barang siapa  yang Aku  (Allah) hilangkan kedua kesayangannya lalu ia bersabar dan mengharap pahala, maka Aku (Allah) tidak ridlo pahalanya selain  Sorga.

(2). Kesedihan yang keterlaluan tidak diperkenankan. Kesedihan yang keterlaluan sama artinya menentang ketentuan tuhan, sebab segala yang terjadi di alam dunia tidak lepas dari qodrat dan irodat tuhan. Kesedihan yang keterlaluan sama  artinya dengan tidak percaya tentang masih (bahkan selalu) adanya karunia Tuhan, sehingga seolah ia menjadi putus asa.  Padahal sifat putus ada hanya ada pada orang-orang  ingkar: wamaa  taiasuu min rouhillaah  wamaa yaiasuu illal qoumul kaafirun.

Padahal segala petaka yang menimpa pada diri manusia bisa saja ia merupakan ujian dari tuhan, seberapa  besar kita sabar dan tabah menerima ujian. Idzaa aroodallahu an  yuushoofiya alshoqo bihil balaayaa. Namun, petaka yang menimpa manusia bisa pula berupa teguran, sehingga manusia perlu mengoreksi diri untuk membenahi kesalahan diri. Maa ashoobaka min hasanatin faminallaah, wa maa ashoobaka min sayyiatin famin nafsika.

(3). Kebenaran dari manapun datangnya perlu kita terima, meski berasal dari anak kecil maupun dari bawahan kita. Seringkali usia dan kedudukan menyebabkan orang merasa arogan untuk menerima kebenaran. Ayah terlalu sering merasa gengsi untuk menerima nasehat dari anaknya. Bos terlalu sering merasa gengsi menerima nasehat dari anak buahnya. Inilah wujud kesombongan. Hal ini persis sebagaimana telah didefinisikan nabi  bahwa kesombongan bukan karena memakai baju bagus dan seterusnya, tetapi kesombongan adalah sikap menolak kebenaran dan atau merasa lebih utama dari orang yang lainnya. Sobat, sampai disini, lain kali disambung lagi.***

Foto: Styagreennotes.blogspot.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: