Pahami Rakyat, Pahami Anak Buah

Sobat, saya ingin tanya pada sampean, adakah manusia sempurna di atas dunia ? Kalau menurut saya sih, tak mungkin ada  manusia sempurna, karena kesempurnaan hanya menjadi sifat Allah Ta’ala.  Bahkan, Nabi pun adalah manusia biasa, yang tak mungkin punya sifat sempurna. Sebab,  kesempurnaan sendiri sama artinya bersih dari kekurangan  dan kekeliruan. Padahal nabipun pasti pernah melakukan kekeliruan, meskipun ia langsung ditegur tuhannya lantas bersegera taubat karenanya.

Sobat, sekali lagi ini menurut saya, bahwa setiap  orang punya kelebihan tapi sekaligus kekurangan.  Dengan kesadaran ini, maka tidak sekali-kali siapa saja yang sedang jaya, merasa  diri sebagai manusia utama di atas  dunia. Tidak sekali-kali akibat merasa diri sebagai manusia hebat, lantas bersikap dumeh alias sok pada orang di bawahnya. Setiap orang punya makom (kedudukan) nya masing-masing. Ada siswa mahir di bidang eksakta, namun lemah dalam bahasa. Ada dosen ahli sejarah, tapi tak paham tentang rumus matematika dan atau pelajaran IPA. Ada seorang ekonom yang brillian, tapi ia buta dalam soal agama. Pokoknya, setiap orang punya kelebihan tapi juga punya kelemahan, sehingga jangan berlagak sok-sokan.

Hal-hal seperti inilah yang perlu dipahami dosen terhadap para siswanya, perlu dipahami para pemimpin terhadap anak  buahnya, perlu dipahami orang tua pada  anak-anaknya. Bahwa siswa, anak buah, anak kandung punya kelebihan sendiri-sendiri disamping kelemahan yang dia miliki. Oleh karena itu,  perlakuan mereka jangan distandardkan secara kaku beku tanpa kompromi.

Sobat, sekali lagi menurut saya, pemimpin perlu mampu dan mau membaca potensi anak buah secara jujur, tanpa harus memaksakan  standard  dan parameter berdasar maunya sendiri. Hanya pemimpin yang mampu baca potensi anak buahnya dia dapat mengantarkan semua  kepada kesuksesan. Sebaliknya, hanya pemimpin yang memaksakan ambisi berdasar ukuran pribadi, menyebabkan anak buah kecewa bahkan ujung-ujungnya membentur pada kegagalan. Logika ini berlaku pada kehidupan dari  segi apapun,  bahkan termasuk dalam kepemimpinan ibadah (seperti sholat), persis seperti kisah yang pernah terjadi di era  Rosulullah.

Salah seorang sahabat Rosul bernama Muadz sering mengerjakan sholat berjamaah di rumah bersama keluarganya. Salah seorang makmum langganan dalam jamaah Muadz ini adalah seorang pemuda bernama Salim, berasal dari Bani Salamah.

Suatu hari, Muadz ketinggalan jamaah sholat dengan Rosulullah, lantas pulang memimpin jamaah sholat keluarganya. Sebagaimana biasa, Salim ikut makmum di belakangnya. Kali ini, Muadz sangat memanjangkan sholatnya, membuat pemuda Salim merasa gerah karena memiliki hajad yang harus segera diselesaikannya. Salim lalu memisah dari jamaah, setelah selesai segera beranjak bertolak ke  rumah.

Muadz mendapat aduan dari makmum  lain tentang firqohnya  si Salim dari sholat jamaah. Kontan roman Muadz terlihat memerah, lantas berkata marah, “Sungguh, pada diri Salim terdapat  benih kemunafikan. Perbuatan ini pasti akan  kuadukan pada Rosulullah.”

Kabar tentang Ucapan Muadz akhirnya sampai pula pada telinga Salim, sehingga dia merasa perlu pula untuk berkata, “Akupun pasti akan mengadukan perbuataan Muadz pada Rosulullah“.

Akhirnya, keduanya memang sama-sama merealisir ucapannya, mendatangi Rosul lantas mengadu kepada Rosul, tentang peristiwa yang sama, namun masing-maasing melihat dari sudut pandang berbeda. Muadz mengadukan Salim sesuai dengan penilaiannya. Salim ganti  menimpali dengaan alasannya, “Wahai Rosul“, kata Salim menimpali sekaligus ganti mengadukan Muadz tadi, “Muadz sangat memanjangkan sholatnya“.

Mendengar semua pengaduan, Rosul lantas berkata, “Wahai Muadz, apakah engkau hendak membuat fitnah ?”.

Setelah itu Rosul ganti berkata Salim, “Apa yang engkau kerjakan di waktu sholat  wahai keponakanku ?.

Salim sang anak muda lantas berkata, “Aku membaca ummul Qur’an  surat al Fatihah, mohon pada Allah tentang surga Nya, merajuk pada Allah agar dihindarkan dari neraka  Nya. Duhai pamanku, Muadz kelak pasti akan tahu bahwa tidak ada kemunafikan di dalam hatiku“.

Beberapa waktu berselang. Akhirnya terwujudlah seruan  jihad, dan Salim pun melibatkan diri dalam  jihad. Setelah perang usai, Rosul lantas  bertanya pada Muadz, “Wahai Muadz, apa yang diperbuat pemuda Salim yang sempat bertengkar denganmu ?.

Muadz menjawab, “Wahai Rosul, Allah yang benar dan aku yang berdusta. Salim telah syahid di jalan Nya“.

Shobat, pemimpin dalam sholat hendaknya memahami makmumnya, jika isinya para orang tua renta, maka sholatnya jangan terlalu lama, karena kondisi fisik makmum tidak prima. Meski makmum isinya masih muda semua, juga tidak bijak dilakukan sholat dengan panjang alias berlama-lama, kecuali hanya bila telah dinyatakan sebelumnya dan mendapat persetujuan makmumnya, bahwa sholat akan berlangsung lama. Tanpa persetujuan makmumnya, sholat hendaknya dilakukan sewajarnya, tidak terlalu cepat juga tak terlalu lama, sebab siapa tahu makmum ada yang punya hajat untuk segera  dilakukannya.

Dalam soal keduniaan juga sama, pemimpin (imam) ketika membuat kebijakan perlu mempelajari dahulu kemampuan dan kesiapan masyarakat untuk menerima dan menjalankan kebijakannya.  Jangan asal hantam kromo, kebijakan dibuat  tanpa meminta masukan pada mereka yang akan menjalankan kebijakan.  Sebab, tanpa konsultasi alias meminta masukan pada rakyatnya, kebijakan yang dimaksudkan untuk  kebaikan rakyat, mungkin saja justru menjadikan kesengsaraan bagi mereka.

Pemimpin yang baik adalah yang aspiratif, memahami aspirasi rakyatnya, memahami kapasitas mereka yang dipimpinnya. Ia harus mencermati potensi  orang-orang di  belakangnya, sehingga tidak membebani mereka di luar batas kemampuanya. Siapapun pimpinan yang membuat peraturan melebihi batas toleransi masyarakatnya ia hakekatnya telah zalim, suatu hal yang justru dibenci Allah. Innii harromtu ‘ala nafsi  dzulmi wa ‘alaa ‘ibaadii falaa  tadloolamuu: Sesungguhnya Aku (Allah) mengharamkan kezaliman atas diri Ku dan atas para hamba Ku, maka  janganlah kalian saling menzalimi (H.R.  Muslim).  Bahkan Allah sendiri tak pernah membebani  hambaNya melebihi kapasitas mereka, laa yukallifullaaha nafsan illaa wus’aha.

Islam mengajarkan yassiruu walaa tu’assiruu basysyiruu walaa tunaffiruu: permudahlah jangan kamu persulit, berilah kabar gembira jangan kamu takut-takuti. Menjadi pemimpin perlu kemampuan berimprovisasi dan berinovasi untuk mencarikan jalan keluar bagi rakyatnya agar dapat hidup secara lebih leluasa bahagia. Apa saja dilakukan pemimpin untuk mensejahterakan rakyatnya, tentu saja selama kebijakannya tidak bertentangan dengan hukum dan aturan Tuhan.

Pemimpin yang justru membuat rakyat kian menderita, kian sengsara, kian takut dibuatnya, hakekatnya dia bukan pemimpin yang adil, tapi justru pemimpin yang zalim. Padahal  rakyat yang terzalimi dan teraniaya, do’anya sangat makbul di hadapan Allah Ta’ala.***

 

DHURORUDIN MASHAD

Foto: Lagu2anak.Blogspot.Com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: