Archive for Mei, 2012

Allah Maha Pengampun, Segeralah Minta Ampun

Sobat, Alinsaanu, itu, mahalulkhoto’ wannisyan, lho. Artinya, manusia itu tempat salah dan lupa. Sehingga, saya super yakin bahwa tak ada manusia di  atas dunia yang maksum alias suci tanpa berbuat kesalahan sama sekali. Namun, sebaik-baik manusia yang punya kesalahan adalah yang segera sadar pada kesalahannya lantas  bertaubat dengan taubatan nasuha. Apa lagi itu ?  Itu lho, taubat yang sebenar-benarnya, yakni kapok pada kesalahan, dan berjanji tak akan mengulangi itu kekeliruan.

Kata guru ngajiku, sebesar apapun kesalahan, bila si pendosa  benar-benar bertaubat, niscaya Allah pasti mengampunkan. Asal saja tak dilakukan persis seperti orang kepedasan, seolah-olah ia jera untuk tak lagi makan cabe  kedua kalinya.  Namun, lain hari ia  cenderung mengulangi lagi, makan cabe  bin sambal lagi.  Itulah yang  disebut kapok  lombok. Taubat model begini sama saja main-main pada Allah Ta’ala, sehingga Allah pasti tak akan mengampuninya, sebab dia sama artinya mentertawakan Allah saja. Attaaibu min adzdzanbi kaman laa  dzanba  lahu, wal mustaghfiru min  adzdzanbi wahuwa muqiimun ‘alaihi kalmustahzi i birobbihi: orang  yang bertaubat itu seperti orang  yang tidak  berdosa.  Orang yang memohon ampun dari suatu dosa sedang ia tetap padanya, maka ia seperti orang yang mentertawakan Tuhannya (H.R. Ibnu Abbas). Orang seperti itu  pasti dapat balasannya. Intaskhoruu  minnaa fainna naskhoru minkum: Jika kamu mengejek kami,  maka sesungguhnya kami (pun) mengejekmu (Q.S. Hud:  38).

Tapi  bagi orang yang benar-benar taubat, Allah memang memiliki sifat ghofuurun rohiimun: Maha Pengampun dan Maha Pengasih.  Wa ridlwaanun minallaahi akbaru dzaalika huwalfauzul ‘adziim: Dan keridhaan Allah adalah lebih besar, itu adalah keberuntungan yang besar.  Soal ini  ulama  Hasan Al Basri  pernah menjelaskan pada seorang preman tengik pada masanya, yang akhirnya bertobat lantarannya.  Baca lebih lanjut

Kampung Islam Keramas: Sebuah Komunitas Muslim Era Lama di Kabupaten Gianyar – Bali (Tulisan 11)

Hari masih pagi.  Matahari baru saja terbit. Pendaran sinar sang surya menampilkan panorama yang sungguh mempesona. Ku tatap semburat merah di ufuk timur,  sebagai biasan dari sang surya yang baru bangun tidur.  Pohon-pohon masih mengkerut kedinginan. Embun masih menempel di dedaunan. Kulihat burung-burung  berlompatan dari dahan ke dahan,  menyambut pagi dengan hati riang.  Kalbu saya pun bernyanyi riang.  Demikian juga teman-temanku seperjalanan,  wajah mereka memancarkan suasana hati yang lagi diwarnai  keindahan pagi.

Saya bernyanyi-nyanyi kecil sepanjang perjalanan menuju Gianyar. Baru kali ini saya akan menapaki kota ini,  meski telah seringkali saya mendengar keindahan wilayah ini. Ubud misalnya, sepengetahuanku konon identik dengan sentra  keindahan akan alamnya dan keelokan akan karya-karya seninya. Benarkah ? Wallahu a’lam,  sebab saya memang baru menuju ke arah kota ini.

Konon,  kota Gianyar telah berdiri sejak dua seperempat abad lalu,  atau tepatnya 19 April 1771.  Sejarah kota ini tercatat sejak Gianyar dipilih menjadi nama sebuah keraton, Puri Agung yaitu Istana Raja (Anak Agung) oleh Ida Dewa Manggis Sakti.  Sejak itulah lahir sebuah kerajaan yang berdaulat dan otonom yang ikut serta dalam percaturan kekuasaan kerajaan-kerajaan di Bali.

Namun,  jika ditelusuri lebih dalam,  sejarah dari perkembangan wilayah ini jauh lebih tua dibanding tahun 19771.  Perlu dicatat bahwa setelah ekspedisi Gajah Mada (Majapahit) berhasil menguasai Bali, maka di bekas pusat markas laskarnya didirikan sebuah Keraton Samprangan sebagai pusat pemerintahan kerajaan yang dipegang oleh Raja Adipati Ida Dalem Krena Kepakisan (1350-1380), sebagai cikal bakal dari dinasti Kresna Kepakisan. Samprangan ini konon berada di wilayah yang sekarang termasuk Gianyar ini. Di era Ida Dalem Ketut Ngulesir (1380-1460),  pusat kerajaan vassal Mojopahit ini  barulah dipindah ke Gelgel (kini masuk wilayah Klungkung),  dan terus berlanjut di era  Ida Dalem Waturenggong (1460-1550), Ida Dalem Sagening (1580-1625), dan  Ida Dalem Dimade (1625-1651). Baca lebih lanjut

Tanah Liat Membersihkan – Menyembuhkan

Sobat,  tahukan anda bahwa Tanah liat ternyata telah diteliti sebagai bahan kesehatan. Penggunaan tanah liat dengan mengkonsumsinya telah dipraktekkan orang-orang Indian di pegunungan tinggi Andes, penduduk asli Mexico, oleh suku  di Afrika Tengah dan suku Aborigin di Australia.Beberapa suku di Indonesia juga memakan tanah liat untuk mengobati sakit perut. Jika dikonsumsi, tanah liat akan membantu menghilangkan racun dalam sistem pencernaan. Buruli Ulcer (mirip dengan lepra) dan tuberculosis mycobacterium (penyakit yang memakan daging) ternyata dapat disembuhkan dengan terapi ini. Untuk luka luar, tanah liat dipakai untuk mengurangi rasa sakit dan infeksi, baik bagi manusia maupun hewan.

Telah diteliti bahwa hewan, secara insting akan menjilat tanah sebagai diet keseharian mereka dan berguling-guling diatasnya untuk meringankan luka mereka. Lumpur menyehatkan sapi dengan pneumonia. Dokter hewan menggunakannya pada anjing, kucing, kuda, dan lain-lain untuk berbagai macam penyakit termasuk luka , diare, racun dan infeksi. Beberapa burung pemakan tumbuhan beracun, mengkonsumsi tanah liat untuk menetralkan racun tanaman yang mereka makan.

Terapi tanah liat biasanya untuk luka luar, colitis, diare, hemoroid, luka pada perut, masalah pada perut, jerawat, gondok,osteoporosis, anemia, kecantikan, membersihkan organ dalam, anti parasit, membersihkan racun, dan anti radiasi. Anda bisa menggunakan tanah liat sebagai terapi dengan cara mengoleskannya pada bagian yang sakit, memakan/meminumnya, atau berendam dalam bak air yang bercampur dengan tanah liat. Apabila Anda berendam selama 30 menit dalam larutan tanah liat, logam-logam beracun dalam tubuh akan ditarik keluar dan diserap oleh tanah liat tersebut. Baca lebih lanjut

Menasehati Secara Bijak

Sobat, masih lekat dibenakku  tentang ucapanmu, bahwa Ilmu pengetahuan menempati posisi dan porsi super penting dalam  agama Islam. “Hal ini bukan sekedar klaim alias mengada-ada”, demikian  katamu kala itu ketika kau berusaha meyakinkanku. Bahkan wahyu pertama yang diberikan Allah pada Nabi Muhammad, bicara soal ilmu pengetahuan dan asal muasalnya, yakni bacaan.  Kala itu malaikat Jibril merengkuh Nabi untuk menyampaikan firman Ilahi: Iqro’ bismi robbik alladzii kholaq, kholaqol insaana min ‘alaq, iqro’ wa robbukalakrom alladzii  ‘allama bilqolam, ‘allamalinsaana maa lam ya’lam: bacalah dengan menyebut asma  tuhanmu yang menciptakan, mencipta manusia dari segumpal darah, bacalah dan tuhanmu muliakanlah, yang mengajarkan dengan perantaraan qolam, mengajari manusia dari apa-apa yang tak diketahuinya.

Dari wahyu perdana tadi ada beberapa hal utama terkait dengan ilmu pengetahuan, yakni: iqro’ (membaca sebagai pangkal segala ilmu), bismirobbi (belajar berdasar nilai-nilai ketuhanan), kholaqol insaana min ‘alaq (belajar dengan baca alam  semesta dan isinya), maa lam ya’lam (manusia pada hakekatnya tidak tahu atau maksimal sedikit tahu),  bil qolam (belajar lewat tulisan, pentingnya tulis-menulis).

Dari semua komponen tadi terlihat nyata bahwa: pada dasarnya manusia memulai hidup dari ketidaktahuan, lantas belajar melalui baca tulis alias rajin membaca tulisan dan rajin menulis hasil bacaan. Baca tulis inilah sumber segala ilmu pengetahuan. Namun, membaca bukan sekedar dalam  bentuk baca tulisan, melainkan bisa pula membaca  fenomena alam.  Hal paling penting dalam membaca semua dirujukkan pada kesadaran ilahiah, bahwa Dia Allah yang menciptakan segala, menguasai segala, dan atas kehendak  Nya kita diajari hampir segala. Baca lebih lanjut

Silaturrahmi ke Kampung Muslim Sindu Sidemen, Karangasem – Bali (Tulisan 10)

Gambar: Discoverindo.comPada tulisan sebelumnya telah saya uraikan bahwa seiring dengan penaklukan Lombok oleh kerajaan Karangasem,  raja mengambil orang-orang bertuah di Lombok untuk ditempatkan sebagai pasukan pertahanan di berbagai wilayah Karangasem.  Ada yang ditempatkan mengelilingi Puri Kanginan seperti Kampung Dangin Seme, Kampung Bangras, namun ada yang ditempatkan untuk mematai-matai dan atau menjaga wilayah perbatasan seperti Segar Katon, Ujung Pesisi, Kebulak Kesasak, Bukit Tabuan,  Saren Jawa, Kecicang,  serta di Kampung Sindu.

Pada tulisan ini saya ingin menjelaskan tentang apa dan bagaiman sejarah dan eksistensi kampung Islam ini, salah satu dari sekian kampung lama Islam yang sempat saya kunjungi. Ceritanya dimulai, ketika raja Karangasem mengalahkan kerajaan Selaparang,  Lombok, dimana raja Karangasem akhirnya membawa orang-orang sakti Selaparang untuk dijadikan “beteng” kerajaan Karangasem. Sebagian dari mereka di tempatkan di wilayah Sindu-Buu-Tegal,  termasuk yang ada di Kecicang, dan di Ujung,  yang bukti sejarahnya dapat ditelusuri misalnya dari adanya makam-makam kuno di daerah-daerah ini.

Mereka yang ditempatkan di Kampung Sindu, Kampung Bueu, dan Kampung Pidade semula hanya tiga orang,  tanpa istri,  sehingga mereka akhirnya mengambil istri dari lokasi.  Keturunan dari ketiga pasang keluarga itulah itulah yang menjadi cikal bakal komunitas  muslim Sindhu Sidemen. Tanah yang diberikan kepada mereka berasal dari Griya Sindu (Brahmana),  bukan hadiah dari Puri. Kenapa yang memberi Griya dan bukan Puri ? Alasannya, kala itu memang Griya yang memiliki tanah lokasi. Karena itu puri Karangasem lantas kirim surat ke Ida Prada Gede di griya.  Pada saat itu siapapun yang memiliki tanah melebihi aturan yang ditentukan, dimintakan oleh raja untuk sebagian diberikan kepada “kaum muslim”  yang sengaja didatangkan tadi. “Akhirnya,  di kasihlah tanah di kampung sini. Dan itupun tiga orang yang ngasih, yakni dari Griya Sindu, Griya Buu, dan Griya Tegal –kini masuk wilayah Sindu Sidemen– yang masing-masing diberikan kepada satu orang asal Lombok”, jelas  H. Fauzi, Tokoh Muslim Kp. Sindu Sidemen, Karangasem. Baca lebih lanjut

Faktor Tersembunyi Pemicu Gangguan Jantung

Sobat,  tahukah anda bahwa selain faktor genetik dan gaya hidup tak sehat, ternyata ada faktor tersembunyi yang meningkatkan risiko serangan jantung ? Sobat, segera bicarakan dengan dokter jika Anda mengalami lima gangguan di bawah ini:

1. Masalah kulit
Jika Anda memiliki penyakit kulit seperti psoriasis, bersisik, kulit merah, bisa memicu peradangan di dalam tubuh,  sehingga dapat meningkatkan kemungkinan penyakit jantung hampir sama seperti pada perokok.

2. Kurang tidur
Tidur hanya lima jam sehari atau kurang berisiko terkena penyakit jantung lebih besar dan jauh lebih berbahaya, bahkan pada orang sehat.

3. Masalah gusi
Seseorang yang mengalami infeksi bakteri kronis pada gusi periodental, hampir dua kali lebih mungkin untuk mengalami serangan jantung fatal.

4. Komplikasi kehamilan
Mengalami preeclampsia (tekanan darah tinggi dan kandungan protein yang tinggi pada urin) saat hamil berisiko dua kali lebih besar mengalami serangan jantung di kemudian hari, dan juga risiko diabetes kehamilan hingga 70 persen.

5. Stres di tempat kerja
Wanita dengan tuntutan pekerjaan tinggi tapi sulit mengontrolnya berisiko 40 persen lebih tinggi mengalami serangan jantung dan stroke dibandingkan dengan mereka yang memiliki pekerjaan dengan tingkat stres yang rendah.

(Sumber: Prevention/ Diperoleh dari Blog.Indojunkers.com /Melalui Proses Editing)

Gambar: blogs.funeralwase.com

Mutiara Hikmah Kisah 25 Rosul

Kisah-kisah masa lalu selalu menjadi inspirasi bagi manusia berikutnya untuk menimba hikmah kehidupan dan mutiara perenungan menuju kearifan yang lebih mencerahkan.

Rasul-rasul Allah sepanjang sejarah peradaban manusia adalah pelita yang cahayanya terus memberi terang  dalam kegelapan batin kita.  Kegelapan yang menyeruak karena kita menjauh dari sumber cahaya, cahaya Tuhan, Nurullah yang Abadi.

Buku yang bersumber dan merujuk pada surah-surah yang membahas tentang kisah rasul dan nabi yang tercantum dalam Al quran ini mencoba menerangi relung-relung jiwa batin kita,  dengan kisah dan hikmah yang diekstrak dari perjalanan tugas 25 utusan Yang Esa di bumi manusia.

Hikmah, laksana oase, wadi di padang pasir kehidupan.  Laksana hujan dalam rentang bulan-bulan kemarau pemikiran.  Anda perlu hikmah dalam hidup, yakinlah. (Jakarta: Penerbit Erlangga).***