Dangin Sema, Kecicang, dan Saren Jawa : Kampung Lama Islam di Karangasem – Bali (Tulisan 9)

Adalah H. Hasyim, pria sepuh berusia 78 yang sampai kini memiliki kepedulian luar biasa terhadap toleransi dan harmonisasi hubungan antar umat di Karangasem khususnya dan Bali pada umumnya. Dari kakek yang telah memiliki 38 cucu dan 13 cicit inilah saya dan teman-teman mendapatkan banyak sekali informasi tentang apa dan bagaimana muslim dan Islam,  bukan saja di Karangasem tetapi juga di Bali pada umumnya.

Lelaki beranak 16 dari tiga istri ini  mampu membaca lontar sebagai sumber kultural dari kaum Hindu Bali.  Beliau memiliki banyak koleksi lontar, beberapa diantaranya malah sempat dibaca di hadapan saya dkk.  Bahkan,  teman saya, mas Hamdan dan Indri sempat memotret beberapa. Lontar-lontar itu sebagian berbahasa Bali sebagian lagi berbahasa Jawa Kawi.  ”Kakek saya dahulu seorang pujangga.  Dan saya disuruh belajar lontar oleh bapak saya.  Tujuan saya adalah untuk menjembatani pengertian antara kaum Hindu dan Muslim,  melalui sumber-sumber historis ini”,  kata H. Hasyim.   Pria mantan ketua MUI Karangasem ini tinggal di salah satu kampung kuno komunitas Islam peninggalan generasi pertama Muslim Lombok. Kampung Dangin Sema,  itulah tempat tinggal kakek tua tapi masih jauh dari kesan renta.

Dangin berasal dari bahasa Bali, artinya timur.  Sedangkan Sema artinya kuburan.  Lokasi ini dahulunya memang kuburan, tempat orang-orang di hukum mati oleh raja. Setiap orang yang dihukum mati di lokasi ini kepalanya dipenggal. Karena itu,  tidak ada yang berani tinggal di lokasi yang dianggap simbit, angker ini.  ”Kakek moyang saya yang namanya Raden Nangglung Baye, yang mau tinggal di sini.  Dia berkata pada raja:  Ya tuanku,  kalau tidak ada yang berani tinggal di sini biarlah saya  yang  tinggal di sini”,  jelas H. Hasyim menceritakan leluhurnya yang berasal dari Lombok.  H. Hasyim adalah generasi ke delapan, sedangkan dia telah memiliki buyut.  Berarti sampai di tahun 2010 setidaknya muslim Lombok yang tinggal di Karangasem sudah pada generasi kesebelas.

Hal yang unik dari kampung Dangin Seme,   termasuk kampung kuno Islam lainnya,  setiap generasi kepadanya diajarkan garis silsilah leluhur,  sebagai wujud ”kebanggaan” bahwa mereka merupakan keturunan orang-orang bertuah yang keberadaanya di Bali bukan datang (untuk mencari penghidupan) tetapi sengaja di datangkan oleh Raja Karangasem, karena kehebatan mereka memang dibutuhkan. ”Saya diajari bapak saya, bapak saya diajar oleh kakek saya,  begitu seterusnya  untuk menghafal keturunan. Seperti orang Arab kalau ndak hafal sampai 21 keturunan kan ndak diakui. Nama saya Hasyim, orang tua saya Ahmad, makanya Hasyim bin Ahmad, bin H. Tahir, bin Ratnimah, bin Arkane, bin Arkani, bin Artine, bin Nanglung Baye”,  jelas H. Hasyim dengan nada bangga.

Kampung kuno Dangin Seme ini dihuni sekitar 400 KK. Mata pencahariannya dahulu 80 persen adalah penjahit.  namun di era sekarang,  bermacam profesi.  Khusus untuk PNS, terhitung sangat sedikit.  Dari 400 KK yang ada,  jika dikalkulasi secara umum, bahwa satu KK terdiri dari seorang ayah, ibu,  dan dua orang anak maka total penduduknya bisa sekitar 1.600 ribu Jiwa.  Tetapi angka itu sebenarnya hanya kalkulasi minimal,  sebab pada kenyataannya setiap KK memiliki lebih dari dua putra. Bahkan,  H. Hasyim sendiri memilik 16 anak. Dari 16 anak melahirkan 38 cucu, yang berarti rata-ratanya melampaui angka dua.

Satu hal yang menarik perhatian saya selama menuju dan atau menyusuri kampung Dangin Seme ini adalah banyaknya masjid yang berhasil kami temui. Bahkan,  tepat di depan rumah H. Hasyim terdapat masjid yang luar biasa megahnya,  tentu saja untuk ukuran Bali.  Hal ini tentu saja sempat kami tanyakan:  “Pak Hasyim,  disini begitu banyak mesjid. Apa itu tradisi dari Lombok  yang terkenal dengan pulau seribu menara ?

“Ah,  itu yang mau saya ceritakan”, jawab H. Hasyim tangkas.   “Dahulu,  para leluhur kampung muslim ketika awal datang di Karangasem melihat bahwa di setiap rumah ada sangga kecil. Berikutnya, di setiap kampung ada dadya  (pura) yang  besar.  Realitas ini menumbuhkan ghirah alias semangat dari para leluhur muslim Karangasem untuk memperlihatkan identitas aslinya,  agar keberadaan mereka juga mendapat perhatian dari lingkungannya. Walhasil,  walaupun komunitas muslim di setiap kampung kecil saja jumlahnya,  tetapi mereka tetap membangun musholla. Bahkan,  kala itu meski hanya ada lima orang muslim saja,  mereka membikin mushola.  Apalagi,  musholla akhirnya tidak hanya berfungsi untuk shalat saja, tetapi dimanfaatkan untuk silaturrahmi membahas berbagai persoalan secara bersama. Awalnya begitu. Akhirnya setiap kampung ada mushola. Sekarang di Karang Asem ada 60 an”,  tandas  H. Hasyim.  Padahal umat Islam di Karangasem angkanya tidak lebih dari 16.000,   yang hidup secara terpecah-pecah dalam sekitar 50 komunitas.  Dan di setiap kampung hampir pasti dibangun sebuah mushola.

Di Dangin Sema di era sekarang corak keislamannya sudah jauh terpisahkan dari kultur Wetu Telu.  Dapat dikatakan,  meski generasi pertama ada pengaruh Wetu Telu,  tetapi di era kekinian pengaruh itu dapat dikatakan telah terkikis habis. Bahkan,  kultur yang terbangun tampaknya tidak lagi tersekat oleh isu khilafiah,  melainkan semua umat menempatkan diri sebagai orang Islam.  Tak ada NU atau Muhammadiah,  sebagaimana masih tampak dalam komunitas muslim di Sudihati-Kintamini, Kabupaten Bangli. ”(Antar aliran) ndak ada apa-apa. Kita sama-sama Jum’atan. Di sini sudah ndak ada NU –  Muhammadiyah. Siapa yang mau baca qunut,  dia tetep di sini. Jadi ndak ada masalah. Kalau (taraweh) di mesjid kebanyakan 11 rakaat. Tapi ada juga yang 23 rakaat”,  kata H. Hasyim.

Di Dangin Seme dan Karangasem pada umumnya,  pembinaan umat Islam dilakukan oleh masjid-masjid. Di setiap mesjid, setiap ba’da asyar ada yang membacakan satu dua hadits. Selain itu ada pula yang mengadakan pengajian bulanan. Juga ada yang mengajarkan kultum alias kuliah tujuh menit setiap habis maghrib.  Di Karangasem,  termasuk Kampung Dangin Seme juga telah memiliki banyak taman kanak-kanak Islam, taman baca alqur’an alias TPA dan TK Islam, baik yang TK Muhammadiyah maupun  TK NU.

Selain Dangin Sema,   kampung Kecicang juga patut untuk diceritakan eksistensinya.  Sebab,  pertama,  baik Kecicang maupun Dangin Sema sama-sama perwujudan dari kampung kuno Islam di Karangasem.  Kedua,  keduanya saat ini merupakan sentra komunitas Islam terbesar di perkotaan. Asal usul cerita berawal dari salah seorang muslim bertuah asal Lombok yang didatangkan raja Karangasem,  yang bernama Balok Sakti yang memiliki nama asli K.H. Abdul Rahman.  Sampai di Karangasem,  Balok Sakti ditugaskan menjaga perbatasan di wilayah  Karang Tohpati,  tetapnya di perbatsan kecamatan Bebandem dan Selat.  Balok Sakti ini mengambil istri seorang wanita muallaf dari Sibetan dan dikarunia dua orang anak, namun meninggal semua.  Balok Sakti lantas menikah lagi dengan wanita muallaf dari Karang Telu serta mendapatkan 11 orang keturunan.  “Dari kesebelas anak ini beranak pinak yang lantas membentuk kantong-kantong muslim di Karangasem,  seperti Kecicang Islam, Karang Tohpati,  hingga ke Buitan”,  jelas Kasi Urais Depag Kabupaten Karangasem.

Tidak semua komunitas Islam “tua” di Karangasem berasal dari Lombok,  tetapi ada pula yang berasal dari Jawa,  seperti Kampung Saren Jawa. Kisah Saren Jawa ini bermula dari seorang  muslim utusan raja Mataram bernama Raden Kyai Jalil. Ketika  berada di Karangasem,  kebetulan ada seekor sapi  besar (wadak) mengamuk membuat kekacauan kesana-kemari di wilayah Karangasem.  Konon, Kyai Jalil yang berhasil membunuh wadak di lokasi yang bernama Sare (Tidur).  Atas jasanya itu,  wilayah Sare akhirnya dihadiahkan kepada Kyai Kholil sebagai tanah pelungguhan.  Dia kemudian menetap serta beranak cucu di wilayah Sare,  yang karena penghuninya berasal dari Jawa,  maka akhirnya dikenal sebagai Saren Jawa.  Saren Jawa inilah yang di era kekinian telah menjadi salah satu sentra komunitas Muslim disamping Dangin Seme. Di Saren Jawa terdapat sebuah masjid tertua yang disebut santreng oleh warga setempat,  yang dahulu bentuknya konon menyerupai pura dengan meru puncak pitu.  Kini,  santreng yang diberi nama Fathul Jalil ini,  tidak lagi difungsikan.

Selain Lombok dan Jawa,  ada pula komunitas kuno Islam yang berasal dari  pedagang dan hasil pengungsian dari Bugis-Makasar menyusul kekalahan kerajaan Gowa oleh Belanda. Salah satu komunitas ini ada di desa Bungaya Timur, kecamatan Bebandem.  Di tempat itu bahkan ada bukti arkeologis berupa makam perintis Islam bernama Habib Ali bin Zainal Abidin Alaidrus yang berasal dari Sulawesi.  Makam ini berdampingan dengan pemakaman umat Hindu setempat,  sekaligus sebagai bukti telah adanya toleransi Islam-Hindu sejak dahulu.

Sejarah kampung-kampung Islam di Karangasem memang telah lama usianya.  Tapi tak ada satu pun sekolah yang memiliki Kurikulum khusus membahas sejarah ini.  Akibatnya,  baik dari kalangan Islam maupun Hindu di Karangasem banyak yang tidak tahu tentang asal usul Muslim dan sejarah akulturasi yang harmonis antara dua komunitas.  Di kalangan generasi muda Islam,  sejarah Islam Karangasem atau Bali pada khususnya,  menurut H. Hasyim,  biasanya disebarluaskan melalui  ceramah-ceramah dalam berbagai acara bahkan termasuk acara perkawinan. “Kalau kawinan saya pake bahasa Bali Kromo Inggil, sehingga umat Hindu pun lain penerimaannya,  dan menganggap bapak Hasyim (yang muslim) ini adalah orang Bali asli.  Sesungguhnya kami sudah 8 turunan,  sehingga  kami bukan Lombok lagi.  Bagaimana saya bilang saya orang Lombok ?,  padahal bahasa yang saya kuasai bahasa Bali  ?”,   tandas H. Hasyim. Problemnya,  dewasa ini jarang sekali anak-anak muda Muslim –bahkan juga kaum muda Hindu– yang mampu berbahasa Bali halus (kromo Inggil), padahal bahasa itu menjadi salah satu sarana penghubung emosional antara umat Islam dan Hindu di Bali.

Singkat kata,  penguasaan bahasa  Bali halus saat ini sebenarnya menjadi tantangan bagi generasi muda muslim Bali.  Dengan memakai bahasa Bali kromo Inggil  penerimaan umat Hindu atas orang-orang  Islam akan jauh lebih positif.  Apalagi ditambah dengan penguasaan kultural dan sejarah,  bahkan meskipun sejarah kedatangan Islam lengkap dengan pola hubungan muslim – puri, tentu akan membangun penerimaan bahkan penghormatan dari komunitas Hindu.   Hal semacam ini sering dialami H. Hasyim sendiri.  ”Saya bicara di Denpasar,  kurang lebih 450 pendengarnya. Ceramah  saya tentang Bali, sejarah dan kultur Bali. Di Bali kalau tidak kenal Bali dan tidak tahu Bali ndak akan sukses, atau  malah akan dibenci”,  jelas H. Hasyim.  ”Mereka malah heran, kok pak Haji lebih tahu (tentang Bali). Saya ngomong melebihi (waktu),  saya mohon maaf pada panitia karena bicara melebihi ketentuan (waktu).  Tetapi orang-orang Hindu justru bica: Terus pak, terus pak. Saya bertanya: Bagaimana pak panitia ? Akhirnya ditambah 10 menit”.  Pengalaman-pengalaman H. Hasyim ini memberi bukti bahwa bahasa dan pemahaman kultural ternyata dapat membuka pintu penerimaan,  ternyata dapat mempererat tali persaudaraan.

Di kampung Dangin Seme memiliki peninggalan kesenian yang dibawa leluhur dari Lombok, yang sampai kini masih bisa dinikmati bukan saja oleh komunitas Islam tetapi juga kaum Hindu.  Yaitu kesenian Rebana.  Rabbana tetapi lagunya lagu angklung,  perpaduan lagu Islam dan Bali.  Kesenian itu,  di Karangasem biasa dimainkan untuk menghibur dalam acara perkawinan.  Sedangkan, di Kampung Kecicang dan Kampung Sindu  kesenian yang masih hidup adalah rudat. Dahulu kesenian rudat ada pula di Dangin Seme,  tetapi dewasa ini sudah tidak ada. Kesenian itu menghilang sejak  generasi keenam.  « Disini ndak ada (ruddat). Dulu ada,  tapi setelah kakek saya sudah tidak ada »,  jelas H. Hasyim nadanya mencerminkan penyesalan.

Khusus Magibung,  tradisi ini masih bisa ditemui baik di Kampung Dangin Seme,  maupun di Kampung Kecicang.  Tradisi makan bersama ini juga masih bisa ditemukan di Gelgel,  sebagai cikal bakal komunitas muslim tertua di tanah Bali.  « Memang asalnya Tradisi ini lahir dan berkembang di kalangan Hindu.   Magibung itu makan berhadapan. Orang hindu magibung itu, bekas nasinya, bekas suapnya, ndak boleh dibawa (ke nampan lagi, tetapi) harus dibuang”,  jelas H. Hasyim dengan mengibas-ngibaskan tangan kanan ke samping, sebagai tanda mempraktekkan apa yang ia ucapkan. ”Makanya, di sampingnya (orang-orang) banyak nasi dibuang. Kalau (yang nempel di tangan dimasukkan lagi) diketahui,  bisa perang saudara. Karena disebut carekan, disebut sisa,   sehingga  ndak boleh dibawa kesini lagi. Jadi tangan harus bersih”,  jelas H. Hasyim,  lengkap sekali infonya. Menurut H. Hasyim, Magibung seperti itu biasanya terjadi intra umat. Artinya Magigung antara muslim –  hindu tidak pernah ada, khususnya di Kampung Dangin Seme. ***

DHURORUDIN MASHAD

Foto : Balimetaksu.Com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: