Selesaikan Konflik Secara Bijak

Sobat, mungkinkah, sehari saja, dunia ini dapat kosong melompong bin lowong dari sebuah konflik kemanusiaan, sehingga yang ada hanya kedamaian?  Kedamaian absolut, itulah angan-angan saya, kendati hanya berlangsung sehari saja. Jika kondisi itu bisa terwujudkan, alangkah indahnya kita punya kehidupan.

Tanpa menunggu kelamaan, saya sudah bisa langsung menerka jawaban sampean: tak mungkin alias mustahil bin tangeh lamun. Kedamaian absolut dalam kehidupan, hanya sebuah hayalan. Apa pasal? Sebab, manusia di alam semesta punya nafsu,  ambisi alias keinginan.  Faktor inilah yang memungkinkan manusia untuk bersaing atau bahkan bermusuhan untuk dapat mewujudkan ambisi dan keinginannya. Di  dunia hewan saja misalnya, macan makanannya hewan lain di kiri-kanannya, sehingga untuk memenuhi kebutuhan dia harus membunuh santapannya. Inipun wujud dari sebuah konflik di alam kebinatangan. Di alam manusia lebih parah lagi, sebab  berbeda dengan hewan yang akan merasa cukup bila kebutuhan pangan telah terpenuhi,  maka manusia punya ambisi dan keinginan tiada ujung pangkal yang pasti. Bahkan, seandainya mampu, dunia ini pasti ditelan pula oleh manusia yang tanpa batas keinginannya.

Sobat,  akibat ambisi yang tinggi tak terperi, yang banyak tak terhitungkan, sementara sumber yang ada terbatas jumlahnya, maka terjadilah persaingan bahkan perebutan kekuasaan. Di sinilah titik picu terjadinya konflik. Bahkan, perbedaan pemikiran pun –yang sifatnya non materiil– dapat menyebabkan perseteruan. Lantas apa yang diperebutkan dalam soal pemikiran ? Yang diperebutkan adalah ego sebagai pemenang, ego sebagai orang yang merasa lebih benar, bahkan mungkin dengan kemenangan pemikirannya dia berambisi dapat diproklamirkan sebagai orang hebat di kiri-kanannya.

Konflik semacam ini bukan saja melanda di kalangan kaum awam, bahkan  lebih banyak menggejala di lingkungan orang-orang hebat atau setidaknya merasa dirinya hebat. Masing-masing merasa  pendapatnya yang benar, sehingga cenderung memaksakan pemikirannya.  Bahkan, seandainya Tuhan tak mencipta setan penggoda pun konflik seperti ini dapat terjadi, terutama akibat macam-macam ambisi ini. Setan memang musuh terbesar umat manusia, tapi masih ada yang lebih besar yakni hawa nafsunya sendiri. Tak berlebihan jika Rosul menyatakan bahwa jihadil  akbar (perang terbesar) dalam kehidupan adalah jihad melawan hawa nafsu.

Sobat,  kenapa nabi sampai mewanti-wanti  soal ini? Sebab ini menjadi titik  terawan dalam kehidupan umat manusia. Ego, ambisi, hawa nafsu itulah yang paling sering membangun jejaring konflik tanpa perlu memandang latarbelakang dan tingkat pendidikan, bahkan termasuk latar belakang pemahaman agama. Lihat  antar tokoh agama kita, baik yang berada dalam wadah organisasi massa keagamaan  apalagi mereka yang bergelut dalam organisasi politik Islam. Gontok-gontokan menjadi sesuatu yang tak asing terpampang di depan mata kita. Bisa saja mereka memakai segudang dalih, argumentasi, bahkan berusaha disakral-sakralkan dengan mencari-cari dalil dari hadits nabi atau bahkan kitab suci. Tapi, kita bisa  membaca yang dominan lebih banyak ambisi dan ego tadi. Masing-masing merasa  hebat, paling benar  sendiri.

Memang, konflik adalah keniscayaan dalam kehidupan. Artinya, tidak mungkin konflik dapat  dinihilkan dalam kehidupan.  Tapi,  sobat, sebaik-baik orang yang berkonflik adalah dia dan mereka yang  berusaha optimal untuk mencari titik temu atau dengan istilah keren Ishlah namanya. Sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang mau meminta  maaf alias ampunan, tapi akan lebih baik lagi bila mau  memberi pemaafan. Konflik  adalah hal biasa, tapi minta maaf, apalagi mau memberi maaf, itulah yang luar biasa. Patut kiranya kisah konflik dua kakak beradik putra sayyidina Ali dijadikan salah satu teladan. Inilah kisahnya,

Ali bin Abi Tholib adalah suami dari Fatimah Azzahra, putri bungsu nabi Muhammad SAW. Dari wanita utama ini, sayyidina Ali dikaruniai dua putra bernama Hasan dan Husain. Setelah Fatimah meninggal, Ali karromallaahu wajhahu menikah lagi dengan seorang wanita Bani Hanifah. Dari wanita ini dikaruniai seorang putra yang terkenal dengan sebutan Muhammad bin  Al Hanafiah.

Suatu hari, Hasan kisruh dengan adiknya, Muhammad,  akibat berselisih dalam suatu masalah. Bahkan, ketika keduanya berpisah,  untuk pulang ke rumah masing-masing, suasana hati mereka masih diselimuti kemasgulan tadi.

Sebagai adik,  tentu saja Muhammad tetap menghormati sang kakak, Hasan, apalagi sebagai kakak tertua. Oleh karena itu, sampai di rumah, tanpa  istirahat sesaatpun, Muhammad langsung mengambil kertas dan pena, untuk  berkirim surat pada saudara tuanya. Kurang lebih isinya demikiaan,

Dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang. Dari Muhammad bin Ali bin Abu Tholib. Kepada saudaranya  Hasan bin Ali bin Abi Tholib.

            Sungguh bapakku dan bapakmu adalah sama, Ali bin bi Thalib. Engkau tidak lebih utama dariku, namun  akupun tidak lebih baik darimu dalam hal itu. Akan tetapi, engkau wahai saudaraku, memiliki kemuliaan yang aku  tak bakal mampu merengkuhnya,  keutamaan yang tak mungkin aku mampu meraihnya. Ibumu adalah Azzahra binti Rosulullah. Sedangkan ibuku  hanyalah satu dari sekian wanita Bani Hanafiah. Aku sadar betul bahwa meskipun bumi ini dipenuhi oleh wanita-wanita seperti ibuku, pasti tetap tak akan mampu menandingi kemuliaan ibumu.

            Oleh karena itu duhai kakakku,  begitu surat ini sampai kepadamu, segeralah pakai selendangmu, kenakan alas kakimu, dan bersegera mendatangiku untuk memaafkan kesalahanku. Aku berharap jangan  sampai aku mendahuluimu menuju keutamaan pemaafan, karena engkau sebenarnya lebih berhak mendapatkannya dibanding aku. Wassalam”.

Membaca surat dari adik lelakinya ini, Hasan bersegera makan sekedarnya, lantas mengenakan selendang dan terompahnya, serta bersegera menemui saudara lelakinya, Muhammad. Hasan memberi pemaafan, berdamai, akur, bahkan menangis di pundak adiknya. Dia menangisi, menyesali kemarahan yang telah dia tumpahkan pada adiknya, seraya ganti minta maaf dari sang adik.

Sobat, Konflik adalah suatu  hal yang biasa dalam kehidupan.  Yang terpenting untuk kita lakukan adalah bagaimana mengembangkan mau minta maaf dan atau memberi maaf kesalahan penyebab konflik. Apapun alasannya, tak ada  manusia bisa luput dari kesalahan.  Manusia itu tempat  salah dan lupa, alinsaanu mahalulkhoto’ wa nisyaan. Tak ada satupun manusia yang lepas alias terbebas dari kesalahan dan kelupaan.  Namun, sebaik-baik manusia adalah mereka yang bersegera dan senantiasa menyadari kesalahan dan kelupaannya.

Pun, sebaik-baik manusia yang menyadari kesalahan dan kealpaannya adalah mereka yang bersegera meminta ampunan dari Allah SWT. Tobat, itulah namanya. Namun, penyesalan atas kesalahan itu  adalah yang  sebenar-benarnya alias taubatan nasuha, yakni menyesal atas segala kesalahan dan berjanji untuk tak melakukan kesalahan serupa. Bukan penyesalan tomat, setelah tobat lalu kumat. Bukan pula kapok  lombok, ketika kepedasan menyesal, tapi lain kali makan lombok lagi.

Kesalahan kepada manusia tak akan diampuni oleh Tuhan, sebelum si sesama manusia memaafkannya. Sebaik-baik kita adalah orang yang terlebih dahulu mau meminta maaf, dan akan menjadi lebih baik lagi kalau mau memberi maaf. Orang yang tak mau memberi maaf  adalah wujud dari sifat pelit dan arogan. Allah saja mau memberi ampunan ketika hamba Nya meminta, lantas kenapa kita yang hanya makhluq berlagak sok untuk tak memberikan pemaafan ?. Siapapun yang pelit dalam memberikan pemaafan, maka jangan harapkan memperoleh pemaafan dari Tuhan.***

 

DHURORUDIN MASHAD

Gambar: Saripedia.Wordpress.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: