Silaturrahmi ke Kampung Muslim Sindu Sidemen, Karangasem – Bali (Tulisan 10)

Gambar: Discoverindo.comPada tulisan sebelumnya telah saya uraikan bahwa seiring dengan penaklukan Lombok oleh kerajaan Karangasem,  raja mengambil orang-orang bertuah di Lombok untuk ditempatkan sebagai pasukan pertahanan di berbagai wilayah Karangasem.  Ada yang ditempatkan mengelilingi Puri Kanginan seperti Kampung Dangin Seme, Kampung Bangras, namun ada yang ditempatkan untuk mematai-matai dan atau menjaga wilayah perbatasan seperti Segar Katon, Ujung Pesisi, Kebulak Kesasak, Bukit Tabuan,  Saren Jawa, Kecicang,  serta di Kampung Sindu.

Pada tulisan ini saya ingin menjelaskan tentang apa dan bagaiman sejarah dan eksistensi kampung Islam ini, salah satu dari sekian kampung lama Islam yang sempat saya kunjungi. Ceritanya dimulai, ketika raja Karangasem mengalahkan kerajaan Selaparang,  Lombok, dimana raja Karangasem akhirnya membawa orang-orang sakti Selaparang untuk dijadikan “beteng” kerajaan Karangasem. Sebagian dari mereka di tempatkan di wilayah Sindu-Buu-Tegal,  termasuk yang ada di Kecicang, dan di Ujung,  yang bukti sejarahnya dapat ditelusuri misalnya dari adanya makam-makam kuno di daerah-daerah ini.

Mereka yang ditempatkan di Kampung Sindu, Kampung Bueu, dan Kampung Pidade semula hanya tiga orang,  tanpa istri,  sehingga mereka akhirnya mengambil istri dari lokasi.  Keturunan dari ketiga pasang keluarga itulah itulah yang menjadi cikal bakal komunitas  muslim Sindhu Sidemen. Tanah yang diberikan kepada mereka berasal dari Griya Sindu (Brahmana),  bukan hadiah dari Puri. Kenapa yang memberi Griya dan bukan Puri ? Alasannya, kala itu memang Griya yang memiliki tanah lokasi. Karena itu puri Karangasem lantas kirim surat ke Ida Prada Gede di griya.  Pada saat itu siapapun yang memiliki tanah melebihi aturan yang ditentukan, dimintakan oleh raja untuk sebagian diberikan kepada “kaum muslim”  yang sengaja didatangkan tadi. “Akhirnya,  di kasihlah tanah di kampung sini. Dan itupun tiga orang yang ngasih, yakni dari Griya Sindu, Griya Buu, dan Griya Tegal –kini masuk wilayah Sindu Sidemen– yang masing-masing diberikan kepada satu orang asal Lombok”, jelas  H. Fauzi, Tokoh Muslim Kp. Sindu Sidemen, Karangasem.

Karena itu,  meski Puri yang membawa mereka ke Bali,  tetapi penghormatan kepada Griya juga terbangun,  mengingat mereka yang memberikan tanah. Apalagi dalam keseharian akhirnya tiga orang muslim tadi ngayah ke griya. “Ngayah artinya tiap hari “membantu/beraktivitas” di Griya,  dan kebutuhan sehari-hari termasuk makan juga ditanggung Griya. Ngayah bukan berarti bekerja di griya, sebab tugas utama orang-orang bertuah tadi adalah membentengi Karangasem.  “Nongkrong saja,  tidak ngapa-ngapain juga bisa, karena makan sudah dari griya. Namun, mereka tampaknya ingin memiliki aktivitas lain,  sehingga mereka akhirnya juga menggarap tanah dari Griya”.

Orang Griya yang semua kaya,  juga bersikap sama alias tanpa perhitungan dalam soal materi.  Semula kepada orang Islam diberi tanah di Bueu,  tapi setelah berketurunan ditambah lagi di Sindu,  dan belakangan melebar ke Pidade. Oleh karena itulah, hubungan Muslim – Griya menjadi sangat dekat. Kalau di griya ada upacara, umat Islam diundang.  Umat Islam dikasih dikasih mentahnya, lalu mereka memasak sendiri untuk memastikan kehalalan hidangan.

Dari tiga pasang keluarga akhirnya berkembang menjadi 12 KK. Satu anak bernama Kupi Winarse (Datuk Winarse) tetap tinggal di Sindu Sidemen menjadi cikal bakal komunitas di kampung tersebut. Selain itu ada pula Kupi Parti yang akhirnya oleh raja Karangasem dikirim  ke Bedugul (sekarang masuk kabupaten Tabanan) dengan tujuan untuk memata-matai kerajaan Mengwi. Mereka babat hutan Bedugul serta menjadi cikal bakal komunitas Islam di sana.  Anak yang lain ada yang dikirim ke Kampung Kramas (sekarang masuk kabupaten Gianyar) juga untuk tugas yang sama. Makanya,   ketika gunung Agung meletus di Karangasem tahun 1970 an,   banyak orang Sindu Sidemen mengungsi ke Bedugul dan  keKeramas,  karena di kedua kampung itu mereka memiliki hubungan kekerabatan.

Ditinjau dari garis ibu,  komunitas Sindu Sidemen semua sebagai keturunan wanita Hindu lokal.  Oleh karena itu dapat dipahami jika toleransi antar komunitas keagamaan (terutama dengan Griya) di wilayah itu sangat luar biasa, akibat adanya jalinan genealogis tadi. “Termasuk datuk saya (baca: Datuk Nuruddin) ngawini wanita Hindu juga. Makanya kita punya sepupu di Hindu,  di Brahmana”,  tandas H. Fauzi.

Rumah kaum Griya kala itu umumnya berpagar tembok tinggi.  Anak gadis pedanda pun sangat terhormat, tidak boleh pergi sendirian, bahkan mandi pun harus dikawal. Di kalangan Griya ada kepercayaan,  ketika seorang anak gadis/perawan keluar rumah sendirian –dengan alasan apapun–,  dia dianggap terbuang. Tetapi,  sebagai orang tua para pedanda tadi tentu tetap memperhatikan nasib anak gadisnya yang terbuang tadi.  Mereka berpandangan,  lebih baik menikahkan anak gadisnya yang terusir tadi kepada kaum Muslim dibandingkan membiarkan merana apalagi kawin dengan kaum Sudra. Sebab,  mereka  mengakui agama yang suci,  istilah yang dirujukkan pada agama Islam. Oleh karena itu,  terhadap anak gadis terbuang ini,  bapaknya biasanya  membuat “rekayasa” agar mereka dikawini kaum muslim saja dengan cara “mengarahkan” mereka menuju kampung (Islam). Bahkan, untuk tujuan itu biasanya semua keperluan perkawinan ditanggung pihak Griya. “Kan malu kalau anaknya terbuang tak ada yang mengawini”,  kata H. Fauzi lagi. Walhasil, kawin mawin Islam – Hindu (keturunan Griya) cukup banyak kejadiannya.

Sampai kini kawin lintas komunitas ini juga terjadi,  hanya sebab dan prosesnya yang berbeda.  Umumnya,  dengan cara: pihak pria muslim membiarkan wanita Hindu (yang lagi jatuh cinta) yang datang ke kampung Islam.  Dengan cara itu,  maka pria Islam dan kampung Islam tidak melakukan kesalahan adat, sebab yang datang adalah pihak wanita Hindu.  “Kalau putrinya datang kesini biarkan. Kalau dia  minta kawin, tinggalkan dia sini, biarkan. Ndak salah kita”,  kata H. Fauzi.  Berikutnya, pihak pria datang ke keluarga wanita di desa adat,  memberi tahu soal anak gadisnya. “Kalau ke Griya ngomongnya harus dengan bahasa Bali asli, apalagi Bali halus. Dengan cara itu, biasanya berjalan lancar tanpa persoalan”.  Sampai kini komunitas Kampung Sindu Sidemen memang fasih berbahasa Bali halus,  termasuk anak-anak mudanya. Oleh karena itu,  keberadaan mereka oleh kaum Hindu diakui sebagai orang Bali (asli).  Biasanya,  kalau sudah ada sinyal positif dari  pihak wanita (Hindu),  proses pengislamannya langsung oleh MUI. Kaum mualaf  ini berikutnya dibina di Kampung Lebah,  Klungkung.  Namun,  setelah ada Yayasan Annisa,  mereka cukup dibina di tempat ini.  Pengajian ibu-ibu Annisa,  sebenarnya dilakukan sebulan sekali,  tetapi khusus untuk pembinaan muallaf bisa dilakukan pertemuan tiap hari, sesuai kebutuhan.

Proses perkawinan yang terjadi umumnya tidak menimbulkan persoalan.  Bahkan,  karena banyaknya jalinan genealogis tadi akhirnya membangun sikap toleransi bahkan harmoni. Mereka saling saling undang di acara pernikahan,  atau bahkan kematian. Intinya,  saling datang mendatangi.  Harmoni tersebut terbangun berdasar kesadaran masing-masing pihak. Ketika nyepi misalnya,  lampu di rumah-rumah orang Islam tetep nyala,  tetapi azan di masjid otomatis tidak memakai pengeras suara.  Ketika nyepi bersamaan dengan hari jum’at misalnya,  biasanya pecalang yang justru mengantar umat Islam yang ingin jum’atan. “Kampung Buu kan disini (baca: di Sindu) jum’atannya, sekitar satu setengah kilo jaraknya. Dijemput. Dikawal.  Itu bagusnya. Kalau deket-dekat mesjid masih jum’atan. Ada acara apapun pecalang sangat membantu.  Kasih minum saja. Mereka kalau kasih uang gak mau. Karena sudah merasa pecalang kita (juga).  Sebab, di sini kan kalau ada orang meninggal kita pasti kesana. Kerukunan”,  jelas H. Fauzi.

Harmoni juga terlihat dalam acara hari besar Islam. Ketika Idul Fitri umat Islam biasa melakukan takbir keliling. Ketika Maulid nabi  umat Islam juga melakukan pawai,  dengan arak-arakan rudat dan  hadrah. Beda antara hadrah dan rudat adalah: Kalau hadrah memakai rebana,  sedangkan rudat memakai gendang besar. Kesenian rudat dan hadrah ini memang pernah berhenti,  karena Muhammadiyah pernah mem bid’ahkan. Namun,  sekarang kesenian ini muncul kembali, bahkan akhirnya dilombakan. Rudat di Sindu Sidemen menceritakan sesuatu dengan bahasa hikayat,  dengan cara dilagukan. Pakai lampahan, pakai tari-tarian. Intinya berupa tari-tarian, ada nyanyiannya yang berbahasa  Arab tetapi kebanyakan sudah berbahasa Indonesia. Secara substansi menceritakan Sejarah Hasan dan Husen dalam pertempurannya melawan Yazid, yang ditampilkan dengan iringan rebana. Rudat di Sindu oleh H. Fauzi disebut sebagai kesenian dari Lombok, meski sampai di Sindu lantas dirubah-rubah namun tetap mempertahankan nilai sejarah, yakni: kisah Hasan dan Husen. Mode busananya semula diadop dari Istambul lengkap dengan memakai pedang.  Namun,  di era sekarang pedang tidak lagi digunakan.

Pada setiap pawai takbiran dan maulid Nabi orang-orang Hindu ikut menikmati. “Kalau ndak keliling, marah mereka.  Gak ngundang , marah mereka.  Jadi,  Harus (diarak) kesana. Mereka yang akhirnya jaga jalan,  biar (arakan) sampai selesai itu. Malahan peserta dikasih aqua, minuman. Hanya Idul Fitri sama maulid nabi. Hanya dua itu. “,   jelas H.  Fauzi.

Bahkan,  untuk subak saja kampung Islam Sindu Sidemen tidak dikenai biaya aliat gratis,  bukan saja untuk keperluan masjid,  tetapi juga untuk pengairan sawah.  Memang,  dulu ada inisiatif dari kalangan Hindu agar komunitas dimintai sumbangan adat,  mengingat mereka berada di wilayah desa adat puseh. Berarti  tiap ada acara di puseh, setiap KK muslim juga terkena iuran. Namun,  inisiatif itu tampaknya tidak diteruskan,  sebab H. Fauzi yang kala itu hadir dalam rapat mewakili komunitas Islam juga mengajukan permintaan sebaliknya.Artinya, pada setiap acara hari besar Islam,  setiap KK Hindu ganti memberikan sumbangan.  Padahal,  jumlah warga Hindu jauh lebih besar  (ada 18 banjar dan sekian ratus KK),  oleh karena itu logikanya jumlah sumbangan yang akan diberikan warga Hindu kepada kegiatan umat Islam jauh lebih besar dibanding jumlah sumbangan warga muslim (yang hanya 190 KK) yang akan diberikan pada acara adat Hindu di Pure. “Mungkin karena kalkulasi untung rugi,  maka ide ini akhirnya tidak pernah ditindaklanjuti”,  kenang H. Fauzi.

Memang,  sesekali terjadi konflik kecil,  tetapi umumnya  karena pemuda minum. “Biasanya,  antara mereka yang minum kita ajak keluar kampung, lantas kita adu sekalian: silahkan berkelahi di luar.  Akhirnya mereka tidak jadi berkelahi”,  kata H. Fauzi yang menjadi ustadz di Yayasan La Roiba, Klungkung.  Bahkan, peristiwa bom Bali pun pengaruhnya tidak mampu merasuk ke tempat ini.

Komunitas Islam kampung Sindu saat ini kebanyakan berprofesi sebagai pedagang. Dagang tahu, tempe, atau apapun  dagangan bahan pangan.  Ada pula yang berdagang kain, ayam,  bahkan dagang sapi.  Mereka umumnya berdagang di pasar-pasar Sidemen, di Pecangkram, dan pasar-pasar lain.  Tradisi berdagang ini sudah berlangsung ratusan tahun sejak terbangunnya komunitas Islam di kampung itu. “Sudah 450 tahun. Tapi memang betul-betul orang sakti para orang tua dulu. Buktinya waktu mau jualan, mereka dirampok, dibacok tembus tapi nggak berdarah.  Makanya perampok-perampok akhirnya gak berani. Itulah saktinya orang dulu”,  terang H. Fauzi dengan nada bangga.

Saat ini,  banyak warga kampung Islam Sindu memiliki sawah.  Namun demikian,  untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka tetap beraktivitas sebagai dagang, profesi keturunan. Oleh karena itu,  umumnya penggarap sawah milik kaum muslim Sindu justru dari kalangan Hindu. “Kita tetep dagang. Tanah kita diolah orang hindu.  Artinya terbalik lah (baca: dibanding era dahulu”,  kata H. Fauzi mengakhiri penjelasannya.

Di Kampung Islam Sindu terdapat sebuah masjid kuno, yang dibangun di era generasi pertama Muslim.  Sayang sekali,  sama dengan hampir di semua masjid kuno di kabupaten lain di seluruh Bali,  masjid Sindu pun bangunannya sudah tidak lagi memiliki sisa-sisa kelampauan.  Fisik bangunan,  semuanya  sudah merupakan bangunan baru sama sekali.  Hanya tempat wudlu saja yang masih memperlihatkan nuansa era lama,  tapi itupun dibangun sudah di era tahun 1970an, dan bukan peninggalan leluhur kaum Sindhu.

Satu-satu yang tidak berubah dari lingkungan masjid kuno itu adalah air wudlu yang terus menggelontor tanpa henti,  karena air disuplai dari subak secara gratis tanpa bayar sama sekali. Sebab, pada dasarnya air subak tidak berkurang,  tetapi hanya mampir sejenak ke masjid,  lantas dialirkan kembali.  Sebelum meninggalkan kampung Islam Sindu, saya menyempatkan diri mengambil air wudlu dari tempat ini.  Nyess… dingin sekali,  bahkan rasa sejuknya menjalar sampai ke ulu hati. Subhanallah.***

DHURORUDIN MASHAD

Gambar: Discoverindo.com

2 responses to this post.

  1. bagus ceritanya pak, salam kenal ya dari ameisfine.com sy tinggal di Bali

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: