Menasehati Secara Bijak

Sobat, masih lekat dibenakku  tentang ucapanmu, bahwa Ilmu pengetahuan menempati posisi dan porsi super penting dalam  agama Islam. “Hal ini bukan sekedar klaim alias mengada-ada”, demikian  katamu kala itu ketika kau berusaha meyakinkanku. Bahkan wahyu pertama yang diberikan Allah pada Nabi Muhammad, bicara soal ilmu pengetahuan dan asal muasalnya, yakni bacaan.  Kala itu malaikat Jibril merengkuh Nabi untuk menyampaikan firman Ilahi: Iqro’ bismi robbik alladzii kholaq, kholaqol insaana min ‘alaq, iqro’ wa robbukalakrom alladzii  ‘allama bilqolam, ‘allamalinsaana maa lam ya’lam: bacalah dengan menyebut asma  tuhanmu yang menciptakan, mencipta manusia dari segumpal darah, bacalah dan tuhanmu muliakanlah, yang mengajarkan dengan perantaraan qolam, mengajari manusia dari apa-apa yang tak diketahuinya.

Dari wahyu perdana tadi ada beberapa hal utama terkait dengan ilmu pengetahuan, yakni: iqro’ (membaca sebagai pangkal segala ilmu), bismirobbi (belajar berdasar nilai-nilai ketuhanan), kholaqol insaana min ‘alaq (belajar dengan baca alam  semesta dan isinya), maa lam ya’lam (manusia pada hakekatnya tidak tahu atau maksimal sedikit tahu),  bil qolam (belajar lewat tulisan, pentingnya tulis-menulis).

Dari semua komponen tadi terlihat nyata bahwa: pada dasarnya manusia memulai hidup dari ketidaktahuan, lantas belajar melalui baca tulis alias rajin membaca tulisan dan rajin menulis hasil bacaan. Baca tulis inilah sumber segala ilmu pengetahuan. Namun, membaca bukan sekedar dalam  bentuk baca tulisan, melainkan bisa pula membaca  fenomena alam.  Hal paling penting dalam membaca semua dirujukkan pada kesadaran ilahiah, bahwa Dia Allah yang menciptakan segala, menguasai segala, dan atas kehendak  Nya kita diajari hampir segala.

Sobat, sekali lagi,  Islam menempatkan Ilmu di posisi utama  pada umatnya. Tak berlebihan jika menuntut ilmu dihukumi wajib untuk dilakukan, bukan hanya ketika muda, tapi kewajiban seumur-umur kehidupan. Long life education, itulah istilah kerennya. Tholabul’ilmi fariidlotun ‘alaa kulli muslimin walmuslimatin minalmahdi ilallahdi: menuntut ilmu diwajibkan atas tiap orang Islam (laki-laki dan perempuan) dari buaian  sampai ke   liang kubur. Ketika di jaman nabi pusat  ilmu ada di negeri Cina, dan oleh karenanya nabi memerintahkan uthlubul’ilma walau bishshiin:  tuntutlah ‘ilmu walau sampai ke negeri Cina. Nah, sekarang pusat-pusat ilmu ada di wilayah mana ? Dan  bila mampu kitapun mesti pergi ke sana. Insya Allah.

Posisi ilmu memang super penting, sebab segala kebutuhan hidup hanya dapat dipermudah dengan ilmu pengetahuan. Mengobati orang sakit perlu ilmu kedokteran, mempercepat perjalanan perlu ilmu  kendaraan. Bahkan dalam soal agama pun ilmu menjadi basis utama, karena orang berwudlu harus tahu ilmunya, mau sholat tahu tentang tata aturannya, bukan sholat asal-asalan saja.

Tak berlebihan jika orang-orang cerdas cendekia alias ulil albab menempati posisi utama dalam Islam. Yarfa’illaah alladziina aamunu  walladziina uutul’ilma  darojatan: Allah mengangkat  orang-orang beriman dan berilmu beberapa  derajad (lebih tinggi). Meskipun ia muda usia, meski miskin harta, meski rendah tahta, tapi jika  punya ilmu yang tinggi, berarti dia menempati makom yang utama tadi.

Sobat, hanya saja perlu digarisbawahi, jangan lantas orang yang berlimu bersikap tinggi hati, merasa diri seolah menjadi manusia hebat di atas bumi. Hanya dengan kesadaran ini maka si punya ilmu ketika mengajari  orang yang lebih tua, orang  yang lebih kaya, orang yang lebih bertahta, bahkan mengajari siapa  saja dilakukan dengan sangat bijaksana. Persis seperti ilmu padi, makin berisi kian merundukkan diri. Simaklah misalnya, cara sayyina Hasan dan Husain cucu nabi, mengajarkan ilmu yang  dimiliki, dengan cara yang bijak sekali.

Suatu hari, di padasaan alias tempat  perwudluan terdapatlah seorang tua sedang berwudlu dengan tanpa menyempurnakan wudlu. Artinya, si kakek itu berwudlu cukup sekenanya untuk tak disebut asal-asalan saja. Peristiwa itu dilihat putra Ali bin Abi Tholib  dan  Fatimah Az Zahra binti Rosulullah, yakni: Hasan dan Husain.

Keduanya kala itu masih bocah alias kanak-kanak, sehingga tentu merasa malu untuk memberi teguran pada si kakek yang melakukan kesalahan.  Namun, Hasan dan Husain juga tak rela untuk membiarkan orang lain melakukan kesalahan, apalagi dilakukan di depan mata keduanya. Kakak beradik itu lantas bermusyawarah, berembug mencari cara bijaksana dalam menegur kesalahan bapak tua  yang ditemuinya. Intinya, keduanya mencari akal bagaimana teguran  sampai pada sasaran, namun tidak menyinggung perasaan.

Wahai bapak  tua“, Hasan memulai bicara, “saya dan adikku Husain ini berselisih tentang masalah wudlu. Aku menuduh adikku tidak menyempurnakan wudlunya. Sebaliknya, adikku ganti menuduh justru aku yang tidak menyempurnakan wudluku. Wahai bapak, tolonglah kami, engkau menjadi juri penilai bagi wudlu kami, mana diantara kami yng wudlunya benar“.

Si orang tua itu langsung menimpali, “Baiklah. Silahkan mulai wudlu  kalian“.

Akhirnyaa Hasan  berwudlu dengan cara  menyempurnakan, melaksanakan wajib dan sunahnya, cara dan tertib urutannya. Berikutnya giliran Husain melaksanakan wudlu, yang juga dilakukan dengan menyempurnakan, melakukan semua wajib sunahnya, menjalankan semua cara dan tertip  urutannya. Intinya, keduanya melakukan wudlu dengan cara sama tiada beda,  dengan sempurna.

Melihat kesempurnaan wudlu dua bocah itu, sadarlah si bapak tua akan kesalahan yang telah dilakukannya. Dia sadar bahwa kedua bocah itu sengaja menegur  dan mengajarinya dengan cara amat bijaksana.  Kontan si bapak tua berkata, “Tuhanmu telah berbuat baik kepadaku duhai anak-anaku. Kalian berdua berwudlu dengan sempurna, sedangkan aku menjalankan wudlu dengan sekenanya. Semoga Allah membalas kalian  dengan bermacam kebajikan“. Amin.

Sobat, betapa indahnya kaum berilmu yang bijaksana, yang mengeritik dan mengajari orang  yang tak tahu dengan cukup bijaksana.  Pun, betapa penting posisi ilmu pengetahuan dalam kehidupan. Namun, sobat, sekali lagi ilmu perlu dilandaskan pada nilai-nilai ketuhanan. Iqro’ bismirobbik : baca dengan menyebut asma tuhanmu. Ilmu tanpa iman menjadi buta, sedangkan iman tanpa ilmu akan lumpuh, itulah kata Albert Einstein.  Pernyataan itu sangat benar adanya. Islam jauh-jauh hari telah menandaskan fattaqullaaha yaa ulil albaab: bertaqwalah wahai orang-orang yang menggunakan akal.  Taqwa dan akal adalah kunci keutamaan dalam Islam.

Orang yang beriman tanpa dilandaskan pada kepahaman ajaran, maka keimanan akan cenderung ngawur atau setidaknya asal-asalan. Ketika berwudlu, dilakukan tanpa pemahaman (tanpa tahu ilmunya) sehingga awur-awuran. Begitu juga dengan sholat,  puasa, haji, jika semua tanpa dilandasi ilmu tentangnya, ibadahnya akan ngaco akibat dilakukan asal-asalan,  sekehendak hati dan keinginan atau sekedar dugaan. Dapat dipahami jika ilmu pengetahuan menjadi dasar penting dalam implementasi keimanan.

Mengingat pentingnya ilmu dalam  Islam, maka tidak berlebihan jika Allah menempatkan seorang  yang berilmu pada derajad lebih tinggi dari pada manusia lainnya, meskipun ia masih muda, tak memiliki pangkat kedudukan, tak mempunyai harta kekayaan.

Namun, sobat, sampean perlu tahu juga, bahwa orang-orang yang berilmu ketika hendak mengajari apalagi menegor orang lain yang berbuat kesalahan akibat ketidaktahuan, perlu dilakukan secara bijaksana. Tegoran alias  ajaran perlu dilakukan dengan melihat situasi dan kondisi,  melihat umur dan posisi, agar tak menimbulkan ketersinggungan apalagi kemarahan. Tujuan  baik, bila cara yang dilakukan tidak baik, bisa berakibat tidak  baik.

Sebaliknya, orang yang ditegor alias diingatkan pun perlu membuka diri dari manapun asalnya, tanpa perlu bersikap angkuh alias gengsi akibat kedudukan. Siapapun yang menolak nasehat kebenaran hanya karena faktor kedudukan, merupakan sikap arogansi yang jelas-jelas bertentangan dengan aturan Ilalhi.***

DHURORUDIN  MASHAD

Gambar: Ustadchandra.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: