Kampung Islam Keramas: Sebuah Komunitas Muslim Era Lama di Kabupaten Gianyar – Bali (Tulisan 11)

Hari masih pagi.  Matahari baru saja terbit. Pendaran sinar sang surya menampilkan panorama yang sungguh mempesona. Ku tatap semburat merah di ufuk timur,  sebagai biasan dari sang surya yang baru bangun tidur.  Pohon-pohon masih mengkerut kedinginan. Embun masih menempel di dedaunan. Kulihat burung-burung  berlompatan dari dahan ke dahan,  menyambut pagi dengan hati riang.  Kalbu saya pun bernyanyi riang.  Demikian juga teman-temanku seperjalanan,  wajah mereka memancarkan suasana hati yang lagi diwarnai  keindahan pagi.

Saya bernyanyi-nyanyi kecil sepanjang perjalanan menuju Gianyar. Baru kali ini saya akan menapaki kota ini,  meski telah seringkali saya mendengar keindahan wilayah ini. Ubud misalnya, sepengetahuanku konon identik dengan sentra  keindahan akan alamnya dan keelokan akan karya-karya seninya. Benarkah ? Wallahu a’lam,  sebab saya memang baru menuju ke arah kota ini.

Konon,  kota Gianyar telah berdiri sejak dua seperempat abad lalu,  atau tepatnya 19 April 1771.  Sejarah kota ini tercatat sejak Gianyar dipilih menjadi nama sebuah keraton, Puri Agung yaitu Istana Raja (Anak Agung) oleh Ida Dewa Manggis Sakti.  Sejak itulah lahir sebuah kerajaan yang berdaulat dan otonom yang ikut serta dalam percaturan kekuasaan kerajaan-kerajaan di Bali.

Namun,  jika ditelusuri lebih dalam,  sejarah dari perkembangan wilayah ini jauh lebih tua dibanding tahun 19771.  Perlu dicatat bahwa setelah ekspedisi Gajah Mada (Majapahit) berhasil menguasai Bali, maka di bekas pusat markas laskarnya didirikan sebuah Keraton Samprangan sebagai pusat pemerintahan kerajaan yang dipegang oleh Raja Adipati Ida Dalem Krena Kepakisan (1350-1380), sebagai cikal bakal dari dinasti Kresna Kepakisan. Samprangan ini konon berada di wilayah yang sekarang termasuk Gianyar ini. Di era Ida Dalem Ketut Ngulesir (1380-1460),  pusat kerajaan vassal Mojopahit ini  barulah dipindah ke Gelgel (kini masuk wilayah Klungkung),  dan terus berlanjut di era  Ida Dalem Waturenggong (1460-1550), Ida Dalem Sagening (1580-1625), dan  Ida Dalem Dimade (1625-1651).

Dua Raja Bali yang terakhir yaitu Ida Dalem Segening dan Ida Dalem Dimade telah menurunkan cikal bakal penguasa di daerah-daerah. Ida Dewa Manggis Kuning (1600-an) penguasa di Desa Beng adalah cikal bakal Dinasti Manggis yang muncul setelah generasi II membangun Kerajaan Payangan (1735-1843). Salah seorang putra raja Klungkung Ida Dewa Agung Jambe yang bernama Ida Dewa Agung Anom muncul sebagai cikal bakal dinasti raja-raja di Sukawati (1711-1771) termasuk Peliatan dan Ubud. Pada periode yang  sama yaitu periode Gelgel muncul pula penguasa-penguasa daerah lainnya yaitu I Gusti Ngurah Jelantik menguasai Blahbatuh dan kemudian I Gusti Agung Maruti menguasai daerah Keramas yang keduanya adalah keturunan Arya Kepakisan.

Melalui proses dinamis selama beberapa decade dalam pergumulan antar elit-elit  tradisional, salah seorang diantaranya sebagai pembangunan kota kerajaan yang disebut Gianyar. Dialah Ida dewa Manggis Sakti (generasi IV dari Ida Dewa Manggis Kuning). Peristiwa ini terjadi pada 19 April  1771.

Nah,  lantas apa dan bagaimana  komunitas Islam era lama di Gianyar ?  serta adakah hubungan erat antara kampung lama komunitas Islam dengan puri Gianyar,  seperti terjadi di wilayah lain di Bali ? Saya dan kawan-kawan berusaha menelusuri persoalan ini.  Berbeda dengan kompung-kampung Islam era lama di berbagai wilayah lain di Bali yang kebanyakan memiliki hubungan erat dengan puri agung,  ternyata dalam konteks Gianyar saya tidak mendapatkan datanya.  Memang,  saya dkk  mendapatkan satu kampung lama komunitas Islam, yakni kampung Islam keramas.  Juga, memang saya mendapatkan bahwa kampung Keramas memiliki hubungan erat dengan puri,  tetapi ternyata yang disebut puri dalam konteks ini bukan puri Agung,  tetapi  puri Keramas.

Puri adalah nama sebutan tempat tinggal bangsawan Bali, khususnya mereka yang masih merupakan keluarga dekat raja-raja Bali. Berdasarkan sistem pembagian triwangsa atau kasta, puri ditempati oleh bangsawan berwangsa ksatria. Sedangkan untuk tempat kaum Brahmana biasa disebut dengan Griya.

Perlu diingat bahwa setelah Kerajaan Gelgel mulai terpecah pada pertengahan abad ke-18, terdapat beberapa kerajaan, yaitu Badung (termasuk Denpasar), Mengwi, Tabanan, Gianyar, Karangasem, Klungkung, Buleleng, Bangli dan Jembrana.  Di era Indonesia sekarang ini  dari berbagai kerajaan tadi  yang tidak memiliki kabupaten hanyalah Mengwi saja,  yang sekarang sebagian besar menjadi wilayah kabupaten Badung dan Tabanan.

Puri-puri di Bali dipimpin seorang keturunan raja, yang umumnya dipilih oleh lembaga kekerabatan puri. Pemimpin puri yang umumnya sekaligus pemimpin lembaga kekerabatan puri, biasanya disebut sebagai Penglingsir atau Pemucuk.  Para keturunan raja/ wangsa kesatriya tersebut  bisa dikenali dari gelar pada nama mereka, seperti: Ida Bagus,  I Gusti, Cokorda, Anak Agung Ngurah, Dewa Agung, Ratu Agung, Ratu Bagus dan lain-lain.

Dalam kasus Gianyar ini,  setelah saya telusuri  ternyata terdapat beberapa nama puri antara lain: Puri Agung Payangan, Puri Gianyar, Puri Agung Ubud (Puri Saren), Puri Agung Peliatan,  Puri Keramas, Puri Medahan, Puri Agung Sukawati, Puri Agung Singapadu , Puri Agung Tegal Tamu, Puri Agung Negara, Puri Kaleran Negara, Puri Agung Lebih, Puri Kedisan Tegallalang, Puri Pejeng, Puri Ageng Blahbatuh, Puri Agung Blahbatuh (Kaleran), Puri Agung Blahbatuh (Kelodan),  Jero Karang Kasap (“http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Puri_di_Bali&oldid= 5191 805).

Nah,  dari sekian puri tadi,  yang memiliki hubungan erat dengan kampung muslim Keramas adalah  Puri Keramas. Dari sisi historis,  Kampung Islam Keramas ini keberadaaannya ternyata telah ada jauh sebelum kolonial Belanda bercokol di tanah Bali. Kampung Muslim Keramas bermula dari Raja Gusti Agung Keramas (Puri Keramas)  yang kala itu membutuhkan seorang pedanda untuk menjadi pemuka agama di wilayahnya.  Setelah melakukan serangkaian pencarian, raja akhirnya menemukan seorang resi yang dianggap  pas, yang kebetulan berasal dari Kampung Sindu di wilayah Karangasem. Sindu kala itu memang  menjadi sentra kaum Brahmana alias berisi kaum Griya,  sebutan sentra tokoh agama.

Resi dari Griya Sindu bersedia menerima tawaran Puri Keramas dengan syarat diperbolehkan mengajak serta beberapa rekan muslim  untuk menemani  tinggal di Keramas.  Persyaratan diterima,  sehingga sang resi mengajak enam orang Muslim  Sindu menuju Keramas.  Nah,  di Lokasi inilah, kepada kaum muslim lantas diberikan tanah untuk sawah,  kebun,  serta untuk tempat ibadah, pemukiman, dan pemakaman.

Tujuan utama sang resi mengajak serta beberapa orang Muslim adalah untuk menjadikan mereka sebagai pengawal atau pelindung di tempat barunya.  Oleh karena itu,  sangat dipahami jika keenam muslim tersebut tentu orang-orang pilihan,  keturunan kaum bertuah yang dibawa raja Karangasem dari Lombok setelah penaklukan atas wilayah itu.   Dari 6 pria sakti asal  Sindu (yang akhirnya mengawini wanita hindu lokal) inilah akhirnya beranak pinak membentuk komunitas muslim Keramas hingga saat ini. Di tahun 1963 ketika gunung Agung meletus,  beberapa keluarga dari Kampung Sindu di Karangasem mengungsi ke tempat ini.  Sebab,  mereka memiliki jalinan kekeluargaan dengan komunitas muslim Keramas.  Kedatangan kaum Muslim dari Sindu Karangasem “periode Indonesia”  ini akhirnya ikut mewarnai  komunitas Muslim lama di Keramas.

Dahulu Ketika terjadi konflik-konflik di tingkat lokal,  komunitas muslim Keramas konon menjadi satu kekuatan terpenting dalam membela puri. Kaum Muslim Keramas asal usulnya memang dari warga kampung  Sindu    –  Karangasem yakni keturunan warga Lombok yang dikenal sebagai komunitas yang memiliki tuah. “Mitos kesaktian itu bahkan berlanjut hingga sekarang, sehingga  komunitas Kampung Keramas hingga kini masih diperhitungkan karena kemampuan pencak silatnya”,  jelas Syamsuddin tokoh Keramas yang berhasil saya dkk.  jumpai di masjid Keramas.

Karena sejarahnya yang khas inilah,  maka hubungan warga muslim Keramas dengan Puri Keramas hingga kini tertap terjalin dengan cukup baik. Setiap  ada acara di Puri Keramas,  kaum Muslim Keramas  selalu dilibatkan. Bila mengundang kaum Muslim,  Puri tak hanya mengundang secara lisan atau tulisan,  tetapi sekaligus menyertakan bahan makan mentah agar diolah sendiri oleh kaum Muslim.  Hasil masakan ini dibawa dalam acara Puri sebagai santapan kaum muslim selama acara. Secara bergenerasi, Puri memang sangat memahami bahwa orang Islam tidak makan babi dan tidak memakai alat apapun yang tersentuh zat babi.  Oleh karena itu bahan dan proses pemasakan termasuk alat masaknya diserahkan sepenuhnya kepada umat Islam.

Realitas perbedaan ini secara ratusan tahun ternyata tak menjadi ganjalan dalam prosesi acara di Puri apalagi dalam hubungan kehidupan sehari-hari Muslim-Hindu.  Sebab umat Islam Keramas dalam kegiatan Puri  turut membantu dan membaur dalam warga Hindu,  misalnya ketika membuat anyaman atau janur. “Bahkan,  berpijak pada sejarah itu pula,  maka eksistensi kampung Keramas  sampai kini dianggap sebagai kampung khusus dan tidak tersentuh oleh ketentuan adat alias Banjar.   Kaum Keramas sejak dahulu hingga kini memiliki kebebasan dalam mengekpresikan kehidupan keberagamaan. Ketika puasa Ramadan misalnya, warga bebas memukul beduk tanda sahur,  dan tak ada teguran dari masyarakat banjar sekitar.  Hal ini sangat sulit dilakukakan oleh muslim di lokasi lain,  terutama di kabupaten  Gianyar”, jelas Kholid Mawardi tokoh Keramas lain yang juga berhasil saya temui.

Kampung Keramas   jumlah penduduk muslimnya hanya 50 jiwa (tahun 2010). Sebagian warganya ada yang pindah ke lokasi lain,  baik karena alasan menikah maupun karena bekerja.  “Saya juga berasal dari kampung keramas,  tetapi setelah kawin diajak suami tinggal di sini”,  kata seorang wanita,  ibu dari pak Luqman hakim yang berhasil juga saya jumpai di rumahnya, di Gianyar kota.  Sementara itu,  untuk lokasi kampung Keramas sendiri,  mungkin dapat saya katakan terhitung steril dari pendatang muslim,  mengingat sangat sedikitnya pendatang muslim yang ikut bergabung tinggal di lokasi ini.  Kalaupun ada pendatang,  maksimal disebabkan oleh adanya jalur perkawinan.  Singkat kata,  komunitas muslim kampung keramas tampaknya lebih banyak menjalin hubungan dengan komunitas hindu di sekitarnya dibanding kontak sosial dengan komunitas Islam di tempat-tempat lain yang memang lebih jauh jaraknya.

Mungkin karena interaksi kurang optimal terhadap komuntas muslim lain di Gianyar menyebabkan warga Kampung keramas mengalami dua hal: “Pertama,  secara ekonomi lambat berkembang, bahkan dapat  dikatakan sebagai kampung tertinggal.  Kedua,  pembinaan keagamaan terhadap masyarakatnya juga kurang”.   Jika saya perhatikan Kampung keramas secara fisik  memang didominasi oleh pemukiman sangat sederhana.  Oleh karena itu,  bahwa kampung Keramas disebut sebagai kampung miskin oleh kebanyakan warga Islam yang saya wawancarai di banyak tempat tidaklah terlalu keliru.  Bahkan,  “image” ini diakui juga oleh tiga sesepuh kampung Keramas sendiri yang berhasil saya temui.  Bahkan mereka mengakui pula bahwa realitas itu berimplikasi pula pada ghirah keagamaan.  “Ketika hari Jum’at misalnya,  dari 50 warga muslim yang ikut jumatan maksimal hanya dua shaf  (barisan)”, kata Syamsuddin yang diamini Khalid Mawardi.

Setelah menyempatkan shalat dluhur di masjid Keramas yang tergolong sederhana,  pak Hasan segera mengantar kami mencari rumah makan untuk mengisi perut yang sudah keroncongan. Quo vadis kampung Keramas ?***

DHURORUDIN MASHAD

Iklan

4 responses to this post.

  1. Posted by lubu on 27/10/2012 at 4:34 pm

    assalamualaikukum.. bleh post gambar kampung islam keramas x?

    Balas

  2. Posted by karem on 03/06/2014 at 12:05 pm

    kiranya banyak muslim di keramas ya pak

    Balas

    • waktu saya wawancara di masjid kampung kramas dengan tiga tokoh/sesepuh iinformasikan bahwa jumlah muslim di lokasi itu 50 orang mas. lumayan wakau tidak cukup banyak

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: