Allah Maha Pengampun, Segeralah Minta Ampun

Sobat, Alinsaanu, itu, mahalulkhoto’ wannisyan, lho. Artinya, manusia itu tempat salah dan lupa. Sehingga, saya super yakin bahwa tak ada manusia di  atas dunia yang maksum alias suci tanpa berbuat kesalahan sama sekali. Namun, sebaik-baik manusia yang punya kesalahan adalah yang segera sadar pada kesalahannya lantas  bertaubat dengan taubatan nasuha. Apa lagi itu ?  Itu lho, taubat yang sebenar-benarnya, yakni kapok pada kesalahan, dan berjanji tak akan mengulangi itu kekeliruan.

Kata guru ngajiku, sebesar apapun kesalahan, bila si pendosa  benar-benar bertaubat, niscaya Allah pasti mengampunkan. Asal saja tak dilakukan persis seperti orang kepedasan, seolah-olah ia jera untuk tak lagi makan cabe  kedua kalinya.  Namun, lain hari ia  cenderung mengulangi lagi, makan cabe  bin sambal lagi.  Itulah yang  disebut kapok  lombok. Taubat model begini sama saja main-main pada Allah Ta’ala, sehingga Allah pasti tak akan mengampuninya, sebab dia sama artinya mentertawakan Allah saja. Attaaibu min adzdzanbi kaman laa  dzanba  lahu, wal mustaghfiru min  adzdzanbi wahuwa muqiimun ‘alaihi kalmustahzi i birobbihi: orang  yang bertaubat itu seperti orang  yang tidak  berdosa.  Orang yang memohon ampun dari suatu dosa sedang ia tetap padanya, maka ia seperti orang yang mentertawakan Tuhannya (H.R. Ibnu Abbas). Orang seperti itu  pasti dapat balasannya. Intaskhoruu  minnaa fainna naskhoru minkum: Jika kamu mengejek kami,  maka sesungguhnya kami (pun) mengejekmu (Q.S. Hud:  38).

Tapi  bagi orang yang benar-benar taubat, Allah memang memiliki sifat ghofuurun rohiimun: Maha Pengampun dan Maha Pengasih.  Wa ridlwaanun minallaahi akbaru dzaalika huwalfauzul ‘adziim: Dan keridhaan Allah adalah lebih besar, itu adalah keberuntungan yang besar.  Soal ini  ulama  Hasan Al Basri  pernah menjelaskan pada seorang preman tengik pada masanya, yang akhirnya bertobat lantarannya. 

Suatu hari di kota Basrah, Ulama agung bernama Hasan Al Basri  duduk di masjid memberi pengajaran pada jamaah pengajian. Kala itu Imam Hasan menafsirkan sebuah ayat dari surat al Hadid, yang artinya berbunyi, “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang beriman untuk tunduk hatinya mengingat Allah (Q.S. Al Hadid: 16).

Penjelasan dari sang imam begitu mendalam, membuat hati jamaah tersentuh, bahkan hampir semua hanyut dalam tangisan. Ya, tangisan tentang kesadaran, tangisaan tentang penyesalan, dan tangisan  penuh keimanan.

Kala syahdu mendayu itu, mak bedunduk alias tiba-tiba datanglah Utbah, seorang lelaki yang terkenal bergajul  seperti preman pasar. Utbah telah dikenal sebagai hobi mabuk dengan minuman, serta zina dengan perempuan. Di akhir pertemuan, Utbah berdiri, lantas berkata  dengan muatan penuh tanya, “Duhai Imam. Mungkinkah Allah masih mau menerima tobat orang bergajul seperti aku. Seorang fasik alias bendol kecu dengan segudang perbuatan tengik “?

Imam Hasan menjawab, “Ya. Allah akan menerima taubatmu”.

Mendengar jawaban sang ulama, wajah Utbah justru berubah pucat. Badannya menggigil, gemetar, lalu dia berteriak melengking tinggi, “Yaa..Allah….!!!!, lantas semaput bin pingsan. Orang sempat mengira si Utbah telah mati. Namun,  si Utbah siuman lagi, dan langsung mengajukan pertanyaan kembali, “Wahai Imam.  Apakah Allah Ta’ala masih mau menerima taubat dari hamba yang penuh cela belepotan dengan dosa?.

Lagi-lagi sang imam menjawab, “Tiada siapapun mau menerima taubat hamba durhaka kecuali hanya dzat yang Pemaaf dan Pemelihara“.

Mendengar jawaban sang Imam, nyata sekali wajah sumringah sang Utbah, refleksi dari  hati yang berbunga-bunga gembira alias bungah. Ia langsung menengadahkan tangan, berdoa, mengajukan  tiga permintaan pada Allah Ta’ala: “Wahai sesembahanku, jika Engkau menerima taubatku, maka muliakan aku dengan kemampuan menghafal dan memahami isi AlQur’an. Duhai sesembahanku, muliakan  pula aku dengan sebuah suara yang merdu. Duhai sesembahanku, muliakanlah aku dengan rezeki yang  halal dari Mu”.

Utbah, mantan preman yang berubah menjadi beriman, akhirnya benar-benar  dimuliakan Allah dengan tiga permintaan yang  dia panjatkan pada tuhan.

Sobat, itulah kisah dalam sejarah yang memberi  satu bukti bahwa Allah tahu dengan hamba Nya  yang berdosa sekaligus tahu mana hamba Nya mengajukan pertaubatan nasuha, sehingga diampuni dosanya dan dikabulkan do’a-do’anya. Khiyaarukum kullu muftinin tawwaabun:  Orang-orang pilihanmu adalah setiap orang yang berbuat dosa lalu bertaubat (H.R. Ibnu Abbas).  Memang, sobat, tak ada manusia yang  sempurna alias bersih terlepas dari perbuatan salah dan lupa. Hanya saja, yang membedakan manusia adalah : sebagian melakukan kesalahan lantas sadar dan bersegera minta ampunan,  namun ada pula sebagian lain yang terus berasyik ria dengan kesesatannya. Itu adalah pilihan, mau terus sesat atau tobat. Allah menandaskan,  waqulil haqqu min robbikum faman syaa a fal yulmin wa man syaa a falyakfur:  Dan katakanlah bahwa kebenaran itu dari Tuhanmu. Maka barang siapa  yang ingin (beriman)  biarlah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (tetap kafir) biarlah ia kafir (Q.S.  Al Kahfi: 29). Bagi golongan yang  ingin tetap kafir hakekatnya  ia : Lahum quluubun laa yafqohuuna bihaa:  mereka mempunyai hati tapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) (Q.S. Al A’rof: 56). Orang model ini disebut oleh Allah telah buta dan sangat sulit  untuk disadarkan, wamaa anta bihaadil ‘umyi ‘andlolaalatihim:  dan kamu sekali-kali tidak  dapat  memimpin (memalingkan) orang-orang buta dari kesesatan mereka (Q.S. An Naml: 81).

Sekali lagi, manusia memang tempat salah dan lupa,  dan sebaik-baik manusia adalah siapa yang segera menyadari kesalahan, dan bersegera pula memohon ampun atas perbuatan dalam kemungkaran. Mungkin ada yang  bertanya, bagaimana tanda-tanda sebuah kemungkaran, termasuk kemungkaran yang paling kecil sekalipun. Dalam hal ini Nabi mengajari, “perbuatan apapun yang menyebabkan hatimu tidak tenang alias resah”, itu  tanda-tanda bahwa perbuatan itu berisi kemungkaran.

Tentu saja, tingkat kepekaan hati untuk menjadi resah ketika berbuat kemungkaran, adalah berbeda antara satu manusia dengan manusia lainnya. Hal ini tergantung pada kebersihan hati seseorang. Makin bersih hati seseorang, maka akan kian peka dalam menentang sebuah kemungkaran. Sebaliknya, makin kotor hati seseorang,  akan kian bebal untuk membedakan kebenaran dengan kemungkaran.   Sebab, hati bisa diibaratkan  cermin, ketika cermin dijaga kejernihannya,  maka  ketika ada setitik kotoran akan langsung terlihat dan “minta” untuk dibersihkan. Namun, ketika cermin dibiarkan buram, maka noda-noda seberapapun banyaknya menjadi tidak terlalu berarti baginya.  Hati dapat pula dibaratkan dengan besi, ketika  ada sedikit karat menempel ia perlu segera dibersihkan, dan tak boleh dibiarkan, sebab bila dibiarkan karat akan menyebar bahkan akhirnya memakan dan menghabiskan sang besi tadi.

Seberapapun besarnya dosa seorang hamba, bila ia benar-benar menyesal, melakukan pertaubatan, dan berjanji tak akan mengulangi kesalahan, maka Allah pasti mengampunkan. Sebab, Allah memang memiliki sifat ghofuurun rohim: maha pengampun dan penyayang, tiada tandingan. Sesungguhnya rahmat Allah itu mendahului kemurkaan Nya, dan rahmat Allah mengalahkan kemurkaan Nya, persis seperti firman Nya dalam  hadits qudsi:  Inna rohmatii sabaqot ghodlobii, wa gholabat ghodlobii.   Perlu dicatat, bahwa mantan preman lebih baik dibanding mantan santri apalagi mantan kyai.***

DHURORUDIN MASHAD

Gambar: kata-eko.blogspot.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: