Archive for Juni, 2012

Kejahatan Dibalas Kebaikan

Sobat, siapa makan cabe  akan kepedasan, ngemut gula akan kemanisan,  mengulum garam akan keasinan, serta mengunyah asam akan kekecutan. Siapa main api kepanasan, main air kebasahan, main minyak wangi kewangian. Pun, dalam tindak tanduk berlaku pula logika serupa, persis seperti ternukil dalam ajaran Islam: In ahsantum  ahsantum lianfusikum wain asa’tum falaha, jika engkau berbuat bajik akan berakibat baik padamu, dan bila engkau berbuat buruk akan berakibat buruk pula padamu. Itulah hukum sebab akibat dalam kehidupan, atau dalam istilah Islami nya disebut Sunnatullah bin hukum karma.  Bukankah demikian sobat ?  Saya rasa  sampean sepakat denganku.

Melalui logika sebab akibat itulah, sobat, manusia diberi akal –disamping kemauan (nafsu bin syahwat) nya — untuk terlebih  dahulu berpikir sebelum melangkah, berpikir sebelum bertindak, lengkap dengan kalkulasi untung rugi alias manfaat dan mudlorotnya.  Semua tingkah laku kita akan ada  akibatnya, akan ada pertanggungjawabannya. Di dunia kita akan mendapat implikasi atas tingkah laku kita, di akherat apalagi, kita akan pula mendapat akibat dari semua tindakan  atau bahkan krentek dalam hati kita.  Faman ya’mal mitsqoola dzarrotin khoiroyyaroh, waman ya’mal mitsqoola dzarrotin syarron yaroh: barangsiapa berbuat kebajikan sekecil apapun akan mendapat balasan, dan barangsiapa berbuat keburukan sekecil apapun akan mendapat balasan pula. Sobat, ingatlah bahwa Tuhan akan memintai pertanggungjawaban kita sampai sedetil-detilnya, termasuk pertanggungjawaban   dari  hati kita.  Innassam’a wal bashoro wal fuaada kullu ulaaika kaana ‘anhu masuulaa: sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati akan dimintai pertanggungjawaban atas  apa yang telah dilakukannya.

Logika sebab akibat tadi, prinsip tanggung jawab atas apa yang  telah dilakukan tadi, hakekatnya mengajarkan manusia untuk senantiasa menggunakan akal pikiran dan atau pertimbangan nya untuk melakukan segala sesuatu, bukan grusa-grusu bin hantam kromo asal-asalan.  Berpikir strategis, dengan landasan forcasting yang jitu, itulah istilah kerennya. Sebab, apapun yang  kita putuskan, apapun  yang kita lakukan, akan membawa implikasi. Baca lebih lanjut

Iklan

Ketaqwaan Seorang Bocah

Sobat, pernahkah anda melihat atau bahkan berteman dengan orang yang suka memata-matai kesalahan, yang selanjutnya malah berghibah (membicarakan) keburukan orang ?  Orang model ini menurut saya perlu diwaspadai atau bahkan dijauhi. Penyakit hobi mematai  dan  berghibah itu persis dengan virus yang dapat menular pada siapa saja yang berdekat-dekatan  dengannya.

Padahal, memata-matai plus berghibah adalah perbuatan buruk yang potensial menumbuhkembangkan  fitnah. Padahal pula, menurut Tuhan –seperti ternukil dalam al Qur’an– fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan  (alfitnatu asyaddu minalqotl).

Memata-matai yang lantas diikuti berghibah tentang keburukan orang memang  sangat mengasyikkan, terutama bagi orang yang tak punya kerjaan atau bahkan  tak punya iman. Sekarang, sampean lihatlah  acara-acara di TV kita, betapa bertebaran acara mengulas seputar kehidupan pribadi dan keluarga orang, apalagi yang namanya selebritis. Anehnya, acara-acara model begini yang justru sangat digandrungi, dengan mendapat  rating tinggi. Ini menjadi bukti betapa nikmat ketika kita berghibah, dan betapa hobi sang wartawan alias kaum Paparazi memata-matai kehidupan orang, meski belum tentu informasi itu mengandung kebenaran.

Kenapa kita sedemikian menikmati tingkah laku menyelidiki sekaligus berghibah tentang  keburukan orang ? Itulah perangkap setan, dimana umpannya memang sangat memikat orang. Itulah kecenderungan pada setiap diri manusia. Manusia pintar sekali melihat keburukan orang, namun terlalu bodoh untuk melihat keburukan apatah lagi sekedar melihat kekurangan diri sendiri.  Tak  berlebihan jika sampai ada sebuah pepatah yang menyatakan, kuman di seberang lautan tampak, tapi gajah di pelupuk mata tiada tampak. Baca lebih lanjut

Kisah dan Hikmah (Jilid 1 -10)

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Ini buku bukan sembarang buku. Ini buku adalah buku santai dan serius.

Buku ini adalah buku santai karena kisahkisah yang dipaparkan merupakan kisah menarik yang cocok  untuk menghabiskan waktu senggang, kapan pun dan dimana pun. Apalagi kalau dibaca pada sat bulan Ramadhan, pas bangetlah pokoknya.  Jadi, kalau pada saat bulan Ramadhan perut harus rela merasakan lapar serta tenggorokan harus sabar menahan haus,  otak dan ruh batin kita tetap boleh mencerna “makanan rohani bergizi” yang disajikan dalam buku ini.

Buku ini juga adalah buku serius karena tema-tema yang diangkat oleh penulisnya dalah tema-tema yang akan tetap relevan sepanjang sejarah kehidupan manusia beada. Tema-tema itu antara lain tentang ketauhidan,  keadilan, kejujuran, kebenaran, dan kepemimpinan. Tapi janganlah  kuatir bahwa buku ini akan membuat kepala jadi pusing tujuh keliling. Dijamin kekuatiran itu tidak akan terjadi.  Bahkan, siapa tahu yang mungkin akan terjadi adalah Anda, sidang pembaca, mendapatkan suatu pencerahan baru, suatu cara pandang baru,  atau minimal suatu penyegaran kembali atas cara pandang kita terhadap kehidupan setelah membaca kisah-kisah dalam buku ini.

Selain itu, yang menarik dari buku (Sepuluh Jilid)  ini adalah bahasa dan pengkalimatannya mengalir, pilihan kata-katanya dikelola secara cerdas, ringan.  Satu lagi yang khas dari buku ini adalah adanya tawaran hikmah, intisari, insight, renungan, ulasan penulis atau apapun namanya boleh saja tentang tema yang diangkat dalam suatu kisah. Nggak percaya ? Coba saja anda baca, baru percaya !.  (Jakarta: Penerbit Erlangga).***

Kejujuran Bawa Keberuntungan

Sobat, pernahkah sampean mendengar seseorang yang mengatakan, “siapa jujur dia akan hancur”? Itulah omongan manusia kesetanan, yang hakekatnya telah menjadi realisasi iblis. Ah, yang benar ?. Mana ada manusia jadi perwujudan  setan bin iblis ? Ada. Coba, sampean baca surat an-nas, disebutkan bahwa alladzi yuwas wisu fii suduurinnaas minal jinnati wannaas: yang membisik-bisiki (kejahatan) di hati manusia, sebagian dari golongan jin dan sebagian lagi manusia. Dari situ terlihat jelas betapa setan yang menjadi penggoda manusia, bisa berupa makhluq halus (jin kafir alias setan bin iblis) yang bisa ikut dan masuk dalam aliran darah manusia, namun bisa pula manusia nyata yang membujuk rayu  agar mengumbar hawa nafsu. Na’udzubillah.

Memang, kejujuran mahal harganya, walaupun sebenarnya sangat gampang diamalkan asal ada kesungguhan. Dia disebut mahal harganya, karena dari masa ke masa menjadi kian sangat langka yang konsisten dengan kejujurannya. Di pasar, banyak pedagang berkata tidak jujur, tak menjelaskan apa adanya. Ketika pembeli menawar 100 rupiah, pedagang berkata: “Tadi telah ditawar  110 rupiah”, padahal belum tentu benar adanya. “Wah, kulakan nya saja belum dapat”, padahal sebenarnya dia kulakan sebesar itu atau bahkan lebih kecil dari itu. Dan seterusnya. Lebih tragis lagi, tak sedikit pedagang yang hobi mengurangi takaran alias timbangan.  Inilah hal yang paling dikutuk dalam Islam.  Wailullilmuthoffifiin, alladziinaktaaluu ‘alannaasi yastaufuun, waidzaa kaaluuhum  au wazanuuhum yukhsiruun: celakalah orang yang menimbang, orang yang bila ditimbang minta tambahan, tapi ketika menimbang untuk orang lain mengurangi timbangan. Itulah manusia pentil yang curang, yang mau masuk tapi tak mau dimasuki.

Tentu saja, potensi ketidakjujuran ini bukan hanya melanda para pedagang, tapi banyak menggejala di segala lini kehidupan. Murid dan atau Mahasiswa tidak jujur dengan cara nyontek. Guru dan dosen memberi nilai tidak berdasar pada keadilan, hobi mbolos tetap ambil gaji. Kontraktor tidak jujur dengan cara mengurangi takaran  kualitas bangunan. Mandor tidak  jujur dengan menguntit barang-barang  kiriman. Bahkan, pejabat juga tidak jujur dengan cara menguntiti uang negara yang berada di bawah tanggungannya. Pokoknya semua lini terbuka kemungkinan ketidakjujuran. Baca lebih lanjut

Kashmir : Derita Tiada Kunjung Akhir

” Perjuangan Kashmir mengalami dilema. Jika kami memakai cara-cara damai dan pendekatan politik,  India mengklaim bahwa orang-orang Kashmir telah menerima status quo,  menjadi bagian India.  Jika kami protes dan mengekspos kesalahan klaim India atas Kashmir,  India melancarakan terornya.  Dan jika kami melakukan perlawanan,  dan mengambil langkah-langkah militer,  maka India akan melabeli para pejuang kemerdekaan sebagai separatais, ekstrimis, fundamentalis, dan teroris, guna menumbuhkan prejudise negatif di berbagai penjuru dunia”.

Demikian penuturan seorang  warga Kashmir kepada penulis saat kunjungan ke wilayah yang dirundung duka dan air mata ini. Kashmir telah menjawi wilayah konflik yang tak terselesaikan sejak tahun 1947 hingga kini.  India ingkar janji untuk memberikan kesempatan kepada rakyat Kashmir untuk menentukan nasib sendiri sesuai dengan resolusi DK PBB yang telah disepakati.  Paskitan tak mampu menolongnnya, PBB diam tak melakukan apa-apa,  dan OKI (Organisasi Konferensi Islam) pun tidak bisa berbuat banyak.

Apakah konflik di anak benua Asia ini dapat menimbulkan konflik yang lebih besar lagi mengingat kedua negara (India dan Pakistan) tersebut sudah memiliki senjata nuklir ?

Jawabannya ada dibuku yang merupakan hasil penelitian langsung penulis di wilayah Kashmir yang masih dipersengketakan antara India dan Pakistan ini. (Jakarta: Khalifa/PT Al Kautsar Group).***