Kejujuran Bawa Keberuntungan

Sobat, pernahkah sampean mendengar seseorang yang mengatakan, “siapa jujur dia akan hancur”? Itulah omongan manusia kesetanan, yang hakekatnya telah menjadi realisasi iblis. Ah, yang benar ?. Mana ada manusia jadi perwujudan  setan bin iblis ? Ada. Coba, sampean baca surat an-nas, disebutkan bahwa alladzi yuwas wisu fii suduurinnaas minal jinnati wannaas: yang membisik-bisiki (kejahatan) di hati manusia, sebagian dari golongan jin dan sebagian lagi manusia. Dari situ terlihat jelas betapa setan yang menjadi penggoda manusia, bisa berupa makhluq halus (jin kafir alias setan bin iblis) yang bisa ikut dan masuk dalam aliran darah manusia, namun bisa pula manusia nyata yang membujuk rayu  agar mengumbar hawa nafsu. Na’udzubillah.

Memang, kejujuran mahal harganya, walaupun sebenarnya sangat gampang diamalkan asal ada kesungguhan. Dia disebut mahal harganya, karena dari masa ke masa menjadi kian sangat langka yang konsisten dengan kejujurannya. Di pasar, banyak pedagang berkata tidak jujur, tak menjelaskan apa adanya. Ketika pembeli menawar 100 rupiah, pedagang berkata: “Tadi telah ditawar  110 rupiah”, padahal belum tentu benar adanya. “Wah, kulakan nya saja belum dapat”, padahal sebenarnya dia kulakan sebesar itu atau bahkan lebih kecil dari itu. Dan seterusnya. Lebih tragis lagi, tak sedikit pedagang yang hobi mengurangi takaran alias timbangan.  Inilah hal yang paling dikutuk dalam Islam.  Wailullilmuthoffifiin, alladziinaktaaluu ‘alannaasi yastaufuun, waidzaa kaaluuhum  au wazanuuhum yukhsiruun: celakalah orang yang menimbang, orang yang bila ditimbang minta tambahan, tapi ketika menimbang untuk orang lain mengurangi timbangan. Itulah manusia pentil yang curang, yang mau masuk tapi tak mau dimasuki.

Tentu saja, potensi ketidakjujuran ini bukan hanya melanda para pedagang, tapi banyak menggejala di segala lini kehidupan. Murid dan atau Mahasiswa tidak jujur dengan cara nyontek. Guru dan dosen memberi nilai tidak berdasar pada keadilan, hobi mbolos tetap ambil gaji. Kontraktor tidak jujur dengan cara mengurangi takaran  kualitas bangunan. Mandor tidak  jujur dengan menguntit barang-barang  kiriman. Bahkan, pejabat juga tidak jujur dengan cara menguntiti uang negara yang berada di bawah tanggungannya. Pokoknya semua lini terbuka kemungkinan ketidakjujuran.

Hanya orang yang sadar –lahir batin, bukan omongan semata– bahwa kekayaan dan kedudukan hanya bersifat sementara dan tak bisa dijadikan bekal kematian, dia akan menjaga kejujuran.  Hanya  dia yang sadar bahwa hidup masih ada lanjutan di alam baka, yang ditempat itu  semua kelakuan pasti dipertanggungjawabkan, dia dapat mengerim sikap tidak jujurnya. Innassam’a wal bashoro wal fuaada kullu ulaaika kaana ‘anhu masuula: Sesungguhnya pendengaran dan penglihatan serta hati semua akan  dimintai pertanggungjawabannya.

Sobat, sangat tepat jika pada kesempatan ini, kita merujukkan persoalan ini pada ungkapan pujangga Jawa Ronggowarsita, bahwa “suatu  saat akan datang jaman edan, yang jika anda tidak ikut ngedan tak akan kebagian. Tapi  ingatlah, seuntung-untungnya orang yang ngedan tetap lebih beruntung orang yang ingat dan selalu waspada”.

Pengalaman imam Syafi’i menikmati buah kejujuran kiranya dapat pula dijadikan  pelajaran, bahwa kejujuran membawa keberuntungan, dan sama sekali keliru ungkapan bahwa jujur akan hancur.

Pada era  Imam Syafi’i, kota Madinah menjadi pusat berkumpulnya para ulama mumpuni. Mereka ada yang ahli hadits alias muhadditsin, ada yang ahli tafsir atau mufassiriin, ada pula yang ahli fiqh  alias fuqoha.  Dapat dipahami jika meski Imam Syafi’i masih kecil, sang ibu sudah berambisi untuk mengutusnya belajar  ke kota Madinah, jauh dari kampung halamannya. Sang ibu mengharap agar sang putra kelak menjadi ahli agama yang bermanfaat bagi umat manusia. Keinginan luhur itulah yang mampu mendorong hati si ibu untuk tega hati melepas anaknya yang masih belia, jauh dari rengkuhan kedua orang tuanya.

Ketika sang  anak hendak berangkat, kepadanya si ibu memberi pesan, wanti-wanti agar Imam Syafi’i selalu menjaga budi, jujur seumur-umur  dalam keadaan apapun, dalam situasi apapun. Sang ibu menekankan agar sang putra senantiasa menjaga lesannya dari ucapan  dusta, meski dalam keadaan darurat juga. Tak lupa, si ibu membekali sang putra dengan uang segala, berjumlah enam puluh dinar.

Akhirnya, tiba waktunya, Imam Syafi’i berangkat bersama suatu kafilah menuju Madinah.  Namun, di tengah perjalanan kafilah bin rombongan itu dicegat segerombolan perompak alias begal bin perampok.   Semua harta benda anggota rombongan kafilah dikuras habis. Akhirnya giliran Imam Syafi’i dihadapkan pada pimpinan begal untuk diinterogasi jumlah perbekalan yang  dibawanya. “Hai, anak kecil“, kata kepala rampok, “berapa uang yang engkau bawa ?!

Mematuhi pesan ibunya, Syafi’i menjawab  apa adanya alias dengan tidak dusta,  “Saya punya  enam puluh dinar”.

Mendengar jawaban anak kecil itu, ketua perompak tertawa terbahak-bahak. Anak buahnya ikut pula terbahak-bahak. Apa pasal?  Mereka tak percaya kalau anak kecil memiliki uang sebesar itu, “Mana masuk akal wahai anak ingusan, kamu punya uang sejumlah itu”, kata sang pimpinan begal, “Tinggalkan  dia, anak pengigau ini”.

Anak kecil yang diwaktu besarnya dikenal sebagai imam syafi’i ini akhirnya selamat dari perompakan akibat kejujuran ucapan. Akhirnya Ia kembali melanjutkan perjalanan hingga selamat mencapai kota tujuan.

Sobat, sampean telah yakin khan bahwa kejujuran itu sangat indah dalam kehidupan ? Dia akan membawa “keberuntungan di alam dunia fana” sekaligus membawa keselamatan di alam  akherat yang baka. Di dunia dia akan dipercaya umat manusia, sebab kepercayaan dan keutamaan seseorang memang berada di ujung lidahnya. Sobat, lancung ke ujian,selama hidup orang tak percaya. Bukankah demikian ? Di  akherat si jujur juga akan mempertangungjawabkan di hadapan Tuhan. Insya Allah.***

 

DHURORUDIN MASHAD

Gambar: Merpatihitam.blogdetik.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: