Ketaqwaan Seorang Bocah

Sobat, pernahkah anda melihat atau bahkan berteman dengan orang yang suka memata-matai kesalahan, yang selanjutnya malah berghibah (membicarakan) keburukan orang ?  Orang model ini menurut saya perlu diwaspadai atau bahkan dijauhi. Penyakit hobi mematai  dan  berghibah itu persis dengan virus yang dapat menular pada siapa saja yang berdekat-dekatan  dengannya.

Padahal, memata-matai plus berghibah adalah perbuatan buruk yang potensial menumbuhkembangkan  fitnah. Padahal pula, menurut Tuhan –seperti ternukil dalam al Qur’an– fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan  (alfitnatu asyaddu minalqotl).

Memata-matai yang lantas diikuti berghibah tentang keburukan orang memang  sangat mengasyikkan, terutama bagi orang yang tak punya kerjaan atau bahkan  tak punya iman. Sekarang, sampean lihatlah  acara-acara di TV kita, betapa bertebaran acara mengulas seputar kehidupan pribadi dan keluarga orang, apalagi yang namanya selebritis. Anehnya, acara-acara model begini yang justru sangat digandrungi, dengan mendapat  rating tinggi. Ini menjadi bukti betapa nikmat ketika kita berghibah, dan betapa hobi sang wartawan alias kaum Paparazi memata-matai kehidupan orang, meski belum tentu informasi itu mengandung kebenaran.

Kenapa kita sedemikian menikmati tingkah laku menyelidiki sekaligus berghibah tentang  keburukan orang ? Itulah perangkap setan, dimana umpannya memang sangat memikat orang. Itulah kecenderungan pada setiap diri manusia. Manusia pintar sekali melihat keburukan orang, namun terlalu bodoh untuk melihat keburukan apatah lagi sekedar melihat kekurangan diri sendiri.  Tak  berlebihan jika sampai ada sebuah pepatah yang menyatakan, kuman di seberang lautan tampak, tapi gajah di pelupuk mata tiada tampak.

Orang terlalu gampang metani (baca: menyelidiki, melihat) kesalahan orang meski kecil sekali, namun senantiasa gagal melihat keburukan diri sendiri meski  besar  sekali. Melihat orang lain dari sisi kelemahannya, namun melihat diri sendiri hanya dari sisi kelebihannya. Dus, sikap seperti ini pada gilirannya menghasilkan sebuah sikap arogansi, merasa diri paling  utama di antara sesama. Berikutnya, orang model ini hobi mengkritik, tetapi cenderung tak mau dikritik.

Perbuatan memata-matai yang paling  tercela bila dilakukan untuk kepentingan penguasa, yang berpijak pada mata-mata itu akhirnya dibuat sebuah hukuman pada orang bersangkutan. Itulah sebuah perbuatan yang biasanya dilakukan intelijen negara. Implikasi pekerjaan ini lebih berbahaya lagi, karena jika keliru maka hukuman yang dijatuhkan si penguasa adalah sebuah kezaliman. Dalam konteks inilah si mata-mata alias intel tadi harus bertanggung jawab di dunia dan  akherat. Keakuratan sebuah sikap memata-matai adalah tipis sekali, sebab sebenarnya hanya diri sendiri (selain Allah, tentunya) yang paling tahu tentang siapa dia punya diri.

Sobat, betapa banyak bersliweran di hadapan kita  kaum munafik yang hobi memata-matai orang, mengritik dan meng ghibah orang, padahal dirinya tak lebih baik dari orang  yang dighibahinya.  Ke berbagai media dia hobi mengritik orang, meski dirinya tak lebih  baik, atau bahkan lebih buruk dari orang yang dighibahi.  Kemana-mana ngomong ketuhanan yang Maha Esa, tapi tingkah laku pribadi kesetanan yang luar biasa. Dia bicara  anti korupsi, mencerca orang lain yang dituduh korupsi, tapi diam-diam  dia melakukan korupsi di lingkungan kerjanya, bahkan  ada satu dua kasus yang akhirnya terungkap juga plus mempermalukannya. Na’udzubillah mindzaalik.

Sobat, pernahkah sampean dengar atau bahkan baca cerita tentang  Imam Hambali, satu diantara orang-orang langka yang dimasa hidupnya meliki sifat ihsan merasa selalu “diawasi Ilahi”, tapi dia sendiri tak merasa gembira untuk mengawasi orang. Dia lebih suka menghitung dosa-dosa pribadinya, dibanding menghitung dosa orang lain di sekelililingnya. Siapa dia dan bagaimana sikapnya? Inilah ceritanya.

Imam Ahmad bin Hanbal ditakdirkan menjadi seorang yatim. Ayahnya telah  meninggalkannya ketika dia masih berada pada susuan ibunya.  Sebagai orang tua tunggal, akhirnya si ibu menjadi sangat sibuk mencari nafkah untuk menghidupi anak-anaknya.

Ketika Ahmad bin Hambal sedikit beranjak remaja (baca: remaja kencur  alias remaja tanggung) dia mulai menyadari plus kasihan pada sang ibu yang  membanting tulang untuk membiayai pendidikannya.  Akhirnya  ia bertekad bulat, memutuskan diri untuk meninggalkan majelis ilmu, agar tak lagi membebani sang ibu.  DO alias Drop Out itulah bahasa kekiniannya.

Ahmad muda bertekad mencari kerja, sehingga dia  datang  ke tukang tenun untuk belajar menenun, dan berikutnya ia pun menjual hasil kain tenun. Upah kerja yang dilakukannya akhirnya sedikit membantu menutupi kebutuhan dirinya, sekaligus kebutuhan sang bunda.

Sebenarnya dia memiliki seorang  paman yang bekerja melayani khalifah Harun al Rashid. Tugasnya menghimpun berbagai kabar tentang rakyat yang lantas  disampaikan pada  khalifah, yang memberi gaji padanya. Suatu hari sang paman minta tolong pada Imam Ahmad bin Hanbal untuk mengantarkan surat kepada sang khalifah. Semula Ahmad muda tak tahu isi suratnya, oleh karena itu dia menyanggupi untuk mengantarkannya. Namun, ketika dia mendapat informasi bahwa substansi surat dipenuhi oleh “hasil memata-matai” kehidupan rakyat dari pamannya, Ahmad membatalkan niatnya alias memboikot tak mengantarkan surat kepada sang baginda.

Tunggu punya tunggu, sang khalifah akhirnya memanggil dan bertanya pada pamannya bahwa dia belum dan tidak lagi  mendapat kabar tentang  keadaan  rakyatnya,  baik yang berisi ketaatan maupun indikasi mbalelo penentangan. Sang paman berkata, bahwa ia telah mengirimkan kabar berita melalui sang keponakan, Ahmad bin Hanbal, seorang anak yang baru beranjak remaja alias remaja kencur.

Sang paman lantas memanggil keponakan, dibawa menghadap sang khalifah, Harun Al Rasyid. “Kenapa kamu tak menyampaikan suratku pada sang Khalifah, wahai keponakanku ?”.

Imam Ahmad menjawab, “Ketika aku  tahu bahwa surat titipan itu berisi  berita-berita manusia, aku takut kepada Allah Ta’ala, sehingga aku melemparkan surat itu ke sungai wahai pamanda“.

Mendengar jawaban anak belia itu sang khalifah bukannya marah, tapi langsung sadar sambil  berujar, “Inna lilllaahi waainna ilaihi roji’un. Anak sekecil ini sudah bertakwa dan takut pada Allah. Lantas bagaimana dengan kita ?.

Sobat. Hanya orang bijak, dia mampu bertindak bijaksana, mau mengevaluasi  diri (muhasabah), kendati pada saat yang sama mampu mengevaluasi orang lain untuk diajak pada kebaikan. Haasibuu qobla antuhaasabuu. Evaluasilah dirimu sendiri  sebelum  engkau mengevaluasi orang lain, itulah ajaran dalam Islam. Sikap model ini tak tergantung pada umur, tapi lebih tergantung pada kesadaran diri sendiri. Ihsan itulah kuncinya, yakni senantiasa merasa diri melihat Allah atau setidaknya merasa dilihat (diawasi) oleh Nya. Al ihsanu anta’budallaaha ka  annaka taroohu, fainlam taroohu fainnahu yarooka.  Muhsin alias orang yang memiliki sifat ihsan dia akan selalu berkata  kepada tuhannya, ta’lamu maa fii nafsii walaa a’lamu maa fii nafsika:  Engkau mengetahui apa yang ada dalam diriku, dan aku tidak mengetahui apa yang  ada dalam diri  Engkau (Q.S. Al Maidah: 116). Orang   Ihsan selalu merasa wahuwa ma’akum ainamaa kuntum : Dia Allah bersamamu di mana saja kamu berada,  dalam arti mengetahui dan meliputi kamu. Hanya dengan sifat ihsan ini, hidup manusia menjadi lebih terpelihara, terjaga, karena terus merasa  diawasi oleh Dzat yang Maha Melihat, baik dalam kesendirian maupun dalam keramaian.***

 

DHURORUDIN MASHAD

Gambar: Ihaqishop.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: