Archive for Juli, 2012

Jangan Matikan Cita-cita

Sobat, setiap  orang  (termasuk  yang masih bocah)  tentu punya cita-cita, harapan, keinginan yang ingin diwujudkan. Cita-cita  inilah yang hakekatnya menggerakkan kehidupan setiap  manusia. Tanpa harapan dan cita-cita  manusia akan statis alias mandeg dalam kehidupannya. Dia tak  akan bergerak maju, sebab ia tak memiliki keinginan untuk bergerak maju, tak punya harapan   tentang kehidupan yang lebih mapan,  tak punya cita-cita yang menjanjikan di hari  depan. Meski secara fisik ia hidup, namun secara substansi  ia  telah  mati, karena sama sekali tak lagi punya ambisi. Hanya ambisi dan keinginan yang dapat membedakan makhluq hidup dengan makhluq mati. Hanya  harapan  dan cita-cita yang dapat  menggerakkan  manusia untuk selalu  dan selalu  berusaha, berkarya dalam rangka mencapai apa yang dicita-citakannya.

Sobat, cita-cita sebaiknya diselaraskan dengan realitas kemampuan. Cita-cita alias  harapan yang tidak berpijak pada potensi diri, tak berlandas pada kemampuan yang dipunyai, namanya bukan lagi cita-cita tapi  hanya  sebatas angan-angan belaka. Cita-cita yang membumbung  tinggi  yang tak imbang dengan potensi, dalam peribahasa disebut seperti punguk merindukan bulan. Tangeh lamun, untuk tak  disebut mustahil dapat direalisasikan, itulah sebutannya.

Singkat kata, cita-cita silahkan digantung setinggi langit, namun kita tetap perlu menakar   diri, mungkinkah apa yang  dicita-citakan  masuk logika untuk diwujudkan  dalam kenyataan ? Namun, yang lebih penting adalah  cita-cita jangan  hanya diangankan, tapi perlu dirintis untuk diusahakan alias  diupayakan.  Cita-cita bila dibiarkan  tanpa ada upaya itu ngelamun alias berhayal  saja  namanya. Orang yang  dalam  hidupnya selalu berandai-andai tanpa ada upaya rintisan apapun untuk mewujudkan yang diandaikan,  berhayal saja itu namanya. Pun, orang yang berandai-andai  tapi sangat  jauh dari potensi dan kemampuan yang dia punya, dia disebut panjang angan-angan, yang sangat  tidak  sehat bagi  kesehatan  pikiran. Baca lebih lanjut

Suka Memberi, Tak Suka Diberi

Alyadil’ulya khoirun min alyadissufla, tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah”.  Sobat, ingatkah sampean pada itu petuah dari nabi utusan Allah ? Subhanallah, itu hadits  sangat dalam  makna yang dikandungnya. Apa itu ? Nabi mengajari umatnya agar membiasakan diri dan  mengembangkan hobi  memberi (baca: tangan di atas) alias brehweh bin loma. Namun, sebaliknya Nabi mengajari agar umat tak suka meminta untuk diberi (baca: tangan di bawah) alias menengadahkan tangan bin ngatong.

Sobat, dari ajaran itu secara substantif Islam mengajari atau  bahkan menyeru  umatnya agar bersikap merwiro, menjaga harga  diri  dan kehormatan untuk berpantang dari bergantung pada orang lain, apalagi sampai minta-minta alias mengemis. Bersikap merendahkan  diri dengan mengharap kemurahan orang lain (bahkan  termasuk pada saudara), baik dalam skala paling rendah (mengemis di jalanan, minta sedekah  dari rumah ke rumah) atau dalam skala besar dan dibalut istilah  keren  seperti istilah  minta sumbangan bin bantuan,   Keduanya tak ada beda.

Islam, setahu saya lebih menghargai orang yang berusaha meskipun sangat kecil hasilnya dan sangat berat  bebannya. Menjaga harga diri diutamakan dalam Islam,   sedangkan merendahkan diri  dilarang oleh  Islam. Memang sih, tolong menolong dalam kehidupan sangatlah  dibutuhkan. Namun, ta’awanu (tolong-menolong) dilakukan berdasar kerelaan dan kesadaran, bukan dilandaskan pada permintaan alias ngatong kecuali hanya dalam kondisi sangat terpaksa dan super darurat saja. Baca lebih lanjut

Kaligrafi : Hanya Permainan Warna (2)

Inilah Celupan Allah.  Dan adakah yang lebih indah daripada celupan Dia (Q.S. Al Baqarah: 138)

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Jangan Salah Gunakan Kedudukan

Sobat, ketika sekolah saya punya seorang teman yang anggak  alias arogannya luar biasa. Memang sih, dia anak orang kaya bahkan pejabat pula, sehingga dengan berbekal harta ortu nya dia dapat selalu tampil gaya. Pakaian yang dikenakan selalu trendy mengikuti mode masa kini. Namun, yang membuat orang kurang menyukai dia adalah  Hobinya yang suka mencela  setiap kali melihat “kelemahan” pada diri orang yang ditemuinya. Padahal mencela sangat buruk sifatnya. Wailul  likulli humazatin lumazah: celakalah orang yang hobi mencela dan mengumpat.

Saya pun, sempat mengalami peristiwa  cemoohan bin  celaan dari teman satu ini.  Dia berkata, “kamu selalu pakai baju itu-itu saja. Apa tak ada pakaian lain yang kau punya“. Maklum, selama kuliah saya memang tak punya cukup  uang untuk “ganti” pakaian, sehingga pakaian yang kukenakan memang hanya itu-itu saja. Namun, merasa diremehkan langsung saja saya menanggapinya lewat sindiran keras. Sarkastis, mungkin itulah istilah gaya bahasanya, “pakaianku memang hanya ini, tapi kubeli dari hasil keringatku  sendiri. Sedangkan pakaianmu selalu trendy dan berganti-ganti, tapi semua hasil ngatong  menengadahkan tangan pada ortu tidak mandiri“. Jawabanku sangat mengena, yang dalam bahasa  caturnya Skak Ster.  Dia langsung cep-klakep alias langsung bungkam beribu bahasa.  Sejurus kemudian, lantas menyodorkan tangan meminta maaf pada saya.

Ternyata dia masih memiliki nurani untuk mengakui kesalahannya. Itulah satu hal yang aku suka dari dia, sehingga aku tetap  mau berteman dengannya, sambil sesekali menasehati agar jangan lagi suka mencela orang di  sekitarnya. Sebab, tak ada orang yang sempurna. Karena, setiap orang pasti punya kelebihan dan pasti punya kekurangan. Alinsaanu mahalulkhoto’ wannisyan, Alinsaanu  dlo’iifun. Oleh  karena itu dapat dipahami jika  dalam masyarakat muncul peribahasa: tak ada gading yang tak retak. Baca lebih lanjut

Benazir Bhutto: Profil Politisi Wanita di Dunia Islam

Terdapat tiga faktor utama (troika) dalam perpolitikan Pakistan: militer, presiden dan perdana menteri.  Namun,  banyak analis berpendapat bahwa sentrum dari ketiga kekuasaan tadi tetap dikendalikan militer.  Oleh sebab itu, siapapun yang ingin menjadi pemimpin Pakistan,  dia harus mendapatkan ”restu” dahulu dari militer.  Di sinilah mendiang Benazir Bhutto  diuji ketika berambisi untuk meraih dan atau mempertahankan kekuasaan.

Hal yang menarik,  pertentangan politik dalam negeri Pakistan yang bersumber dari visi agama (Islam) telah menyumang andil potensial bagi disintegrasi Pakistan sebagai suatu bangsa. Sukses mendiang Benazir Bhutto dahulu untuk keluar dari berbagai kemelut politik telah memperkokoh namanya sebagai negarawati Islam di sebuah negara Muslim.  Namun,  kepemimpinan Benazir kala itu tampaknya  tidak berjalan mulus. Pepecatan Benazir sebagai Perdana Menteri oleh Presiden Farooq Ahmad Leghari  menunjukkan sekali lagi bahwa ia berhadapan dengan berbagai ”batu sandung”.

Buku yang ditulis Dhurorudin Mashad ini menarik untuk menelusuri dan melihat bagaimana dan siapa Benazir Bhutto ini. Memang Benazir telah lama mati,  tetapi substansi dari buku ini tetap sangat relevan untuk mencermati politik Pakistan di era kekinian (Jakarta: Pustaka CIDESSINDO).***