Jangan Salah Gunakan Kedudukan

Sobat, ketika sekolah saya punya seorang teman yang anggak  alias arogannya luar biasa. Memang sih, dia anak orang kaya bahkan pejabat pula, sehingga dengan berbekal harta ortu nya dia dapat selalu tampil gaya. Pakaian yang dikenakan selalu trendy mengikuti mode masa kini. Namun, yang membuat orang kurang menyukai dia adalah  Hobinya yang suka mencela  setiap kali melihat “kelemahan” pada diri orang yang ditemuinya. Padahal mencela sangat buruk sifatnya. Wailul  likulli humazatin lumazah: celakalah orang yang hobi mencela dan mengumpat.

Saya pun, sempat mengalami peristiwa  cemoohan bin  celaan dari teman satu ini.  Dia berkata, “kamu selalu pakai baju itu-itu saja. Apa tak ada pakaian lain yang kau punya“. Maklum, selama kuliah saya memang tak punya cukup  uang untuk “ganti” pakaian, sehingga pakaian yang kukenakan memang hanya itu-itu saja. Namun, merasa diremehkan langsung saja saya menanggapinya lewat sindiran keras. Sarkastis, mungkin itulah istilah gaya bahasanya, “pakaianku memang hanya ini, tapi kubeli dari hasil keringatku  sendiri. Sedangkan pakaianmu selalu trendy dan berganti-ganti, tapi semua hasil ngatong  menengadahkan tangan pada ortu tidak mandiri“. Jawabanku sangat mengena, yang dalam bahasa  caturnya Skak Ster.  Dia langsung cep-klakep alias langsung bungkam beribu bahasa.  Sejurus kemudian, lantas menyodorkan tangan meminta maaf pada saya.

Ternyata dia masih memiliki nurani untuk mengakui kesalahannya. Itulah satu hal yang aku suka dari dia, sehingga aku tetap  mau berteman dengannya, sambil sesekali menasehati agar jangan lagi suka mencela orang di  sekitarnya. Sebab, tak ada orang yang sempurna. Karena, setiap orang pasti punya kelebihan dan pasti punya kekurangan. Alinsaanu mahalulkhoto’ wannisyan, Alinsaanu  dlo’iifun. Oleh  karena itu dapat dipahami jika  dalam masyarakat muncul peribahasa: tak ada gading yang tak retak.

Sobat, jika sampean  lebih jeli melihat kanan kiri niscaya akan makin banyak menemukan generasi muda yang bergaya hanya bermodal kekayaan dan kedudukan  ortu nya. Kemana-mana petentang  petenteng dengan gaya Wah nya, namun hanya bermodal memeras orang tua. Dia pamer kepada kiri kanan dengan tampilan menterengnya, tapi lagi-lagi hanya bermodal cadongan dari  bokap-nyokap  nya. Sobat, bagaimana sampean  menilai generrasi model begini ?

Sobat, jika sampean  ketemu orang model tadi, kalau bisa mbok dinasehati agar tak mengulangi perbuatan tak terpuji tadi. Syukur-syukur kalau dia mau mendengarkan, pasti sampean yang memberi saran, akan memperoleh keutamaan di hadapan sang Pangeran alias Tuhan.  Tawaa shoubilhaqqi watawaa shoubisshobri: nasehat  menasehati atas dasar kebenaran dan kesabaran. Kalaupun toh dia tak menggubris sampean punya saran, setidaknya kewajiban untuk mencegah kemungkaran telah ditunaikan.  Bukankah begitu sobat ?  Sebab, orang yang diam terhadap sesuatu kekeliruan bin kemungkaran, kata Nabi, ia ibarat setan  bisu.

Sobat, bermegah-megahan  dan bergagah-gagahan dengan cara menyalahgunakan kekayaan dan atau kekuasaan orang tua memang sesuatu yang justru telah menjadi jamak  alias hal yang biasa dalam kehidupan umat manusia. Akibatnya apa  ?  Orang cenderung menjadi kurang peka untuk menyadari bahwa diri telah menyalahgunakan nama/kedudukan orang tua untuk kepentingan dirinya. Kesalahan model ini sudah sering terjadi,  bahkan sejak lama sekali. Sobat, pernahkah sampean mendengar cerita yang bernuansa sama terjadi pada masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz ?

Umar bin Abdul  Aziz adalah seorang khalifah masa daulah Umayyah. Dia  terkenal adil dalam menegakkan kebenaran, serta sangat sederhana dalam kehidupan pribadi dan keluarga keseharian. Salah  seorang putra dari penguasa bijak itu bernama Abdul  Malik.

Suatu hari, ketika Abdul Malik sedang bersama seorang menteri bernama Maimun bin Dharan, tiba-tiba  datang seorang abdi lantas berkata pada Abdul Malik, “Tuan, kami sudah selesai menjalankan tugas“.

Mendengar laporan  itu, si Menteri bertanya pada Abdul Malik, “Pekerjaan  apa yang engkau tugaskan dan mereka telah menyelesaikan?.

Tempat pemandian umum“, jawab putra khalifah itu singkat.

“Maksudnya  ?”, tanya menteri lagi, minta penjelasan lebih jauh lagi.

Mereka kutugaskan menyingkirkan semua orang dari kamar mandi umum itu“, lanjut sang putra khalifah.

Mendengar penjelasan putra sang khalifah ini, kontan sang Menteri bicara meninggi, “wahai anakku  !  sungguh aku terkejut sekali mendengar informasi ini“.

Mendengar ucapan itu, Abdul Malik langsung menimpali, “Innalillahi. Ada apa di dalam perintahku wahai pamanku ?

Sang Menteri menjawab, “Semoga Allah mengampunimu. Bukankah kau tahu bahwa tempat mandi umum itu bukan milik  pribadimu ?”

Engkau  benar  wahai pamanku “, tukas Abdul Malik.

“Lantas, kenapa engkau mempergunakan kekuasaan ayahmu untuk mengalahkan  hak orang lain mempergunakan kamar mandi umum itu ?.

Abdul Malik berkata, “Wahai pamanku, bukan begitu maksud yang terkandung di dalam hatiku. Sungguh, aku hanya tak ingin melihat aurat orang lain, dan akupun tak ingin orang lain melihat auratku.  Sedangkan, kepada pemilik kamar mandi aku tetap ridlo kepadanya”.

Mendengar penjelasan itu  sang menteri berkata lagi, dengan maksud meluruskan, mengajari, “Sikapmu itu sama saja merupakan pajak yang melampaui batas kewajaran, sekaligus sebagai refleksi sebuah kesombongan“.

Mendengar ucapan itu Abdul  Malik segera menukas, “kalau begitu wahai pamanku, tolong berikan nasehat kepadaku”.

“Tunggulah sampai semua orang keluar dari kamar mandi itu di waktu malam. Setelah itu barulah kamu memanfaatkannya”.

            “Terima  kasih paman. Mulai hari ini aku tak  akan memasuki kamar mandi di waktu siang, dan hanya akan menggunakan di waktu malam. Namun,aku punya satu permintaan  wahai paman. Tolong jangan engkau sampaikan kepada ayah tentang kesalahan yang telah aku lakukan“, kata Abdul Malik.

Sang menteri berkata, “Apakah aku harus membohongi bapakmu tentang ini persoalanmu ?

Tidak paman. Cukup katakan kepada Ayah bahwa engkau melihat kesalahan yang telah ku lakukan,  lalu engkau menasehatiku dan aku menurutinya. Katakan  pula  bahwa aku telah merasa sedemikian berat menanggung kesalahan ini, sehingga aku merasa perlu bertaubat kepada Ilahi“.

Sobat, memperhatikan kisah agung ini, saya ingat kojahan dari guru ngaji kita dahulu, bahwa sebaik-baik  pemuda adalah dia yang mengatakan “inilah” saya dan bukan lah dia yang mengatakan “inilah bapak saya”. Singkat kata, sehebat apapun seorang pemuda, jika kehebatannya hanya diperoleh dari berlindung dibalik ketiak orang tuanya dia bukanlah apa-apa. Keberhasilan akan lebih nikmat, jika diperoleh dari perjuangan setengah mati, dan bukan hasil pemberian babe sendiri.

Kebiasaan nebeng kemasyhuran, harta dan tahta orang tua agar kelihatan gagah, hakekatnya memperlihatkan kelemahan itu pemuda. Dan, akan lebih menyedihkan lagi, jika ada pemuda menyalahgunakan posisi alias pangkat orang tua hanya untuk merugikan orang-orang di sekelilingnya. Misal, melakukan berbagai pelanggaran hukum, karena berharap orang tua dapat melindungi. Naudzubillah.***

DHURORUDIN MASH

Gambar: Waspada.Co.Id

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: