Suka Memberi, Tak Suka Diberi

Alyadil’ulya khoirun min alyadissufla, tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah”.  Sobat, ingatkah sampean pada itu petuah dari nabi utusan Allah ? Subhanallah, itu hadits  sangat dalam  makna yang dikandungnya. Apa itu ? Nabi mengajari umatnya agar membiasakan diri dan  mengembangkan hobi  memberi (baca: tangan di atas) alias brehweh bin loma. Namun, sebaliknya Nabi mengajari agar umat tak suka meminta untuk diberi (baca: tangan di bawah) alias menengadahkan tangan bin ngatong.

Sobat, dari ajaran itu secara substantif Islam mengajari atau  bahkan menyeru  umatnya agar bersikap merwiro, menjaga harga  diri  dan kehormatan untuk berpantang dari bergantung pada orang lain, apalagi sampai minta-minta alias mengemis. Bersikap merendahkan  diri dengan mengharap kemurahan orang lain (bahkan  termasuk pada saudara), baik dalam skala paling rendah (mengemis di jalanan, minta sedekah  dari rumah ke rumah) atau dalam skala besar dan dibalut istilah  keren  seperti istilah  minta sumbangan bin bantuan,   Keduanya tak ada beda.

Islam, setahu saya lebih menghargai orang yang berusaha meskipun sangat kecil hasilnya dan sangat berat  bebannya. Menjaga harga diri diutamakan dalam Islam,   sedangkan merendahkan diri  dilarang oleh  Islam. Memang sih, tolong menolong dalam kehidupan sangatlah  dibutuhkan. Namun, ta’awanu (tolong-menolong) dilakukan berdasar kerelaan dan kesadaran, bukan dilandaskan pada permintaan alias ngatong kecuali hanya dalam kondisi sangat terpaksa dan super darurat saja.

Oleh karena itu, sebaliknya, setiap Muslim perlu mengasah nurani agar peka untuk melihat saudaranya yang mana, yang perlu dan pantas ditolong, tanpa menunggu dimintai pertolongan. Kepedulian (dengan tanpa diminta) inilah esensi  dari Islam, karena antar Muslim memang bersaudara. Bahkan persaudaraan dalam Islam  sampai diibaratkan bak satu tubuh (kaljasadil waahid), jika satu bagian tubuh terkena sakit, bagian yang lain akan ikut merasakan sakitnya. Kaki tersandung misalnya, disamping  akan merasakan  sakit di kaki, mulut pun otomatis ikut menanggung beban dengan  berucap “aduh!!!. Bahkan, terkadang, luh alias  air mata ikut pula keluar dari kelopak mata. Esensi solidaritas yang sama berlaku dalam konteks persaudaraan Islam. “Tidaklah menjadi bagian umatku orang yang tak peduli pada problema yang dihadapi saudaranya (baca: sesama Muslim”, itulah kira-kira ucapan  Nabi SAW.

Sobat, hanya kepada Allahlah kita boleh bahkan harus merendahkan diri, karena memang hanya Dia satu-satunya dzat yang Maha Besar, Maha Utama dalam segala. Adalah sudah sepantasnya bahwa Iyyaaka na’budu waiyyaaka nasta’in: hanya kepada Engkau (duhai Allah) kami menyembah dan hanya kepada Engkau pula (wahai Robb) kami mohon pertolongan.  Allah adalah dan hanyalah satu-satunya tempat bergantung (Allahusshomad), tempat meminta-minta, tempat mengemis  kita. Hanya orang  yang mempunyai pemahaman model inilah dia mempunyai kemuliaan  dan harga diri, karena dia tak mau merendahkan pada (apalagi direndahkan oleh) orang lain.

Orang yang  telah menempati pemahaman puncak model itu, dia akan  selalu merasa cukup dengan apa yang dipunya, merasa cukup hanya  dengan Allah sebagai pelindung dan membantunya. Dia tak akan meminta bantuan pada orang lain (yang pasti terbatas harta dan kepemilikannya), dan hanya akan meminta pada Allah (dzat yang tak terbatas kuasa dan kepunyaanNya). Orang model ini cenderung enggan (baca: bukan karena sombong)  menerima sumbangan apatah lagi untuk meminta sumbangan. Sobat, apakah profil seperti ini  memang benar-benar ada, ataukah hanya hayalan  belaka ?. Lha dalah, orang  seperti itu ada sejak  jaman dahulu kala  dan masih ada hingga sekarang, meskipun  satu dua jumlahnya.

Kala dahulu misalnya, pernah hidup seorang anak manusia model tadi bernama Dawuud At-Thai. Dia seorang miskin, tapi senantiasa merasa cukup akan dirinya, sehingga  merasa pantang untuk menengadahkan tangannya. Pada masa paceklik, kehidupan Dawuud At-Thai menjadi  lebih miskin lagi, sehingga menumbuhkan simpati, salah satunya adalah  simpati dari putra Imam Abu Hanifah.  Suatu hari, lelaki ini datang ke rumah Dawuud at Thai dengan membawa uang empat ratus dirham warisan dari bapaknya, mendiang Imam Abu Hanifah.

Dia berkata kepadanya, “Wahai saudaraku. Aku ingin menyerahkan uang  ini  kepadamu. Harta ini berasal dari seseorang yang hampir tiada seorang melebihinya dalam  bersikap wara’. Dia sangat zuhud serta bersih penghasilannya“.

Menyikapi bantuan dari saudara semuslim ini Dawuud langsung menimpali, “Andai aku mau menerima  sedikit pemberian orang, niscaya aku akan menerima pemberianmu ini  guna menghormati  orang yang telah mati, sekaligus memuliakan orang yang masih hidup.  Tapi ketahuilah wahai saudaraku. Aku lebih memilih hidup dalam  kemuliaan qona’ah, menerima apa adanya, serta iffah, menerapkan keperwiraan diri  dalam hidup ini”.

Sobat, orang  model Dawuud tadi memang sangat sulit kita temui, bahkan mungkin hanya satu dua dari jutaan  orang di jagad ini. Sikap semacam ini hanya mungkin terimplementasi jika dalam hati meyakini firman Ilahi bahwa wa malhayaatud dunyaa  illaa mataa’ul ghuruur: Kesenangan dunia  ini  tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan  (Q.S. Ali Imron: 185), sehingga dia menjadi tak kemaruk alias serakah atasnya, tak suka dikasih apalagi  meminta-minta. Yang pasti orang yang berusaha menjaga harga diri  dari diberi apalagi meminta alias ngatong bin menengadahkan tangan  tadi memang ada  faktanya alias bukan hayalan saja.

Mungkinkah kita mampu mengikuti langkah kehidupan orang wara’ dan qonaah ala Dawuud tadi ? Untuk manusia sekelas kita yang  masih hidup pada level keimanan yang pas-pasan tampaknya memang sangat  sulit untuk  mengamalkan perbuatan yang persis bin jiblles  dengan Dawuud tadi. Kalaupun  toh  kita tak mampu  mengikutinya, setidaknya perlu diingat satu hadits penting, yang   kurang lebih artinya begini: “Orang yang mampu namun meminta pada orang lainnya (baca: termasuk saudaranya), pada hari kiamat nanti  akan dibangkitkan dalam keadaan muka penuh noda. Seorang sahabat bertanya, mampu itu batasannya apa ? Rosul menjawab, orang yang memiliki 20 dirham perak (pen, atau harta yang seharga dengannya)”.  Sobat, seandainya harga perak 1 dirham 100 ribu rupiah, maka 20 dirham sama jumlahnya dengan dua juta rupiah.         Dus, seandainya di  rumah kita apalagi yang ada pada badan kita  (seperti apa   yang  kita kenakan) harga  jualnya mencapai  angka sama besarnya dengan  20 dirham perak, dan kita tetap  melakukan “minta-minta”  niscaya kita akan menjadi  bagian si muka penuh  noda tadi. Naudzubillah.***

 

DHURORUDIN  MASHAD
Gambar: Abufawaz.wordpress.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: