Jangan Matikan Cita-cita

Sobat, setiap  orang  (termasuk  yang masih bocah)  tentu punya cita-cita, harapan, keinginan yang ingin diwujudkan. Cita-cita  inilah yang hakekatnya menggerakkan kehidupan setiap  manusia. Tanpa harapan dan cita-cita  manusia akan statis alias mandeg dalam kehidupannya. Dia tak  akan bergerak maju, sebab ia tak memiliki keinginan untuk bergerak maju, tak punya harapan   tentang kehidupan yang lebih mapan,  tak punya cita-cita yang menjanjikan di hari  depan. Meski secara fisik ia hidup, namun secara substansi  ia  telah  mati, karena sama sekali tak lagi punya ambisi. Hanya ambisi dan keinginan yang dapat membedakan makhluq hidup dengan makhluq mati. Hanya  harapan  dan cita-cita yang dapat  menggerakkan  manusia untuk selalu  dan selalu  berusaha, berkarya dalam rangka mencapai apa yang dicita-citakannya.

Sobat, cita-cita sebaiknya diselaraskan dengan realitas kemampuan. Cita-cita alias  harapan yang tidak berpijak pada potensi diri, tak berlandas pada kemampuan yang dipunyai, namanya bukan lagi cita-cita tapi  hanya  sebatas angan-angan belaka. Cita-cita yang membumbung  tinggi  yang tak imbang dengan potensi, dalam peribahasa disebut seperti punguk merindukan bulan. Tangeh lamun, untuk tak  disebut mustahil dapat direalisasikan, itulah sebutannya.

Singkat kata, cita-cita silahkan digantung setinggi langit, namun kita tetap perlu menakar   diri, mungkinkah apa yang  dicita-citakan  masuk logika untuk diwujudkan  dalam kenyataan ? Namun, yang lebih penting adalah  cita-cita jangan  hanya diangankan, tapi perlu dirintis untuk diusahakan alias  diupayakan.  Cita-cita bila dibiarkan  tanpa ada upaya itu ngelamun alias berhayal  saja  namanya. Orang yang  dalam  hidupnya selalu berandai-andai tanpa ada upaya rintisan apapun untuk mewujudkan yang diandaikan,  berhayal saja itu namanya. Pun, orang yang berandai-andai  tapi sangat  jauh dari potensi dan kemampuan yang dia punya, dia disebut panjang angan-angan, yang sangat  tidak  sehat bagi  kesehatan  pikiran.

Sobat, angan-angan boleh tinggi,  tapi perlu ditakar  agar sesuai posisi dan potensi,  direncanakan secara penuh kalkulasi, dan diupayakan bertahap sesuai kemampuan diri. Bahkan, Allah sendiri Laa yukallifullaaha nafsan illaa  wus’ahaa: Allah tidak membebani seseorang, kecuali sesuai kapasitasnya. Lahaa maa kasabat, wa ‘alaihaa maktasabat.

Singkat  kata, upaya merealisir keinginan tak bijak untuk dilakukan  secara  hantam  krommo tanpa memperhitungkan kemampuan alias potensi, baik kapasitas berpikir,  takaran usia  dan  kejiwaan, kemampuan fisik, serta potensi lain yang dimiliki.  Ajaran  semacam  ini  persis terefleksi  dari langkah nabi  dalam  menyikapi ambisi bocah bernama  Usamah.

Kala itu, demi mengetahui bahwa Rosulullah dan kaum Muslimin bersiap-siap hendak berangkat perang, Usamah bin Zaid ingin sekali ikut serta alias bergabung di dalam nya. Padahal saat itu ia masih sangat belia, berusia 10 tahun saja. Namun, semangat ingin jihad demikian membara, oleh karena itu ia nekad menemui Rosulullah, serta meminta ijin beliau agar dapat berperan serta.

Rosulullah menjawab dengan kata-kata, bahwa dia masih terlalu belia, sehingga belum diwajibkan dalam berperang.  Mendapat jawaban ini   Usamah pulang dengan sedih hati,  dengan air  mata  mengalir di pipi.

Namun, tidak merasa puas dengan jawaban nabi, Usamaah balik lagi menemui  Nabi kembali. Dia mengulangi permintaan agar  diizinkan terlibat dalam peperangan. Namun, lagi-lagi Nabi menjawab untuk tak merelakan Usamah terlibat dalam peperangan. Alasan yang dikemukakan tetap sama dengan yang permulaan. Usamah kembali pulang dengan sedih hati, lagi-lagi dengan air mata deras berlinang di pipi.

Tak lama kemudian, Usamah balik kembali, lagi-lagi menemui Nabi untuk yang ketiga kali. Intinya, dia ingin disertakan  dalam peperangan. Menyikapi keteguhan dan kekerasan  hati  Usamah untuk andil dalam jihad peperangan, akhirnya Nabi mengijinkan. Namun, Rosul tetap memberi persyaratan bahwa tugas bocah Usamah hanya cukup membantu mengobati pasukan yang terluka di medan peperangan.

Kali ini, pulang lah Usamah dengan ceria alias  suka cita. Hatinya berbunga-bunga, seraya mempersiapkan dirinya untuk ikut peperangan sesuai dengan yang dikehendaki Rosul utusan Tuhan. Dialah Usamah bin Zaid, yang ketika Rosul mendekati hari wafatnya Usamah ditunjuk sebagai panglima, memimpin pasukan ke Negeri Syam. Usamah yang kala itu berusia  sekitar limabelasan tahun diangkat menjadi komandan, memimpin para senior termasuk didalamnya sahabat utama Umar Ibnul Khottob.

Sobat, dari kisah itu setidaknya terdapat satu  ajaran penting  bahwa :

(1). Cita-cita itu seperti bahan bakar bagi mobil, kayu bakar  bagi tungku, angin  bagi layang-layang. Cita-cita sangat   penting untuk membangun  semangat dalam kehidupan, sebab tanpa cita-cita, harapan, dan keinginan, hidup akan menjadi  mandeg,

(2). Cita-cita perlu diukur berdasar potensi dan kapasitas diri, agar tak menjadi  angan-angan kosong dalam kehidupan,

(3). Upaya merealisir cita-cita perlu  dilakukan  secara bertahap sesuai kapasitas. Tapi  yang pasti,  jangan ditunda-tunda, tapi dimulai  dari sekarang  sesuai dengan kemampuan.

(4). Cita-cita bocah tidak boleh dimatikan, meskipun  kelihatannya di luar batas angan-angan. Hal terpenting bagi orang tua adalah mengarahkan agar si bocah tak panjang angan-angan, tapi sebaliknya jangan pula diarahkan menjadi manusia pasif  yang  tak punya inisiatif apalagi cita-cita. Karena hanya dengan cita-cita seseorang menjadi bersemangat dalam kehidupannya.

Salah satu  ciri bahwa kita masih hidup adalah ketika kita masih punya keinginan dan  cita-cita. Tanpa  hal  itu, hakekatnya  kita telah mati di dalam kehidupan.***

 

DHURORUDIN MASHAD

Gambar: Ono Musfihar.Com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: