Archive for Agustus, 2012

Beberapa Kampung Islam di Gianyar : Dari Semebaung Sampai Pas Dalam (Tulisan 12)

Setelah seharian menelusuri Kampung Islam Keramas, dua hari berikutnya secara berturut-turut saya mengunjungi beberapa kampung Islam yang keberadaannya terhitung lebih muda, seperti: Kampung Semebaung, Kampuing Jawa/Pas Dalam,  Samplangan, dan komunitas muslim di wilayah Ubud. “Komunitas muslim ini relatif lebih baru, dan  datang secara bergelombang  terjadi sejak awal kemerdekaan. Sebagian kecil datang karena tugas,  baik sebagai PNS, polisi atau tentara”,  kata  Khalid Mawardi, seorang tokoh kampung Kramas,  “Tetapi kebanyakan bahkan lebih dari 95 persen datang sendiri dan menjadi pekerja sector informal,  terutama berdagang.  Mayoritas pedagang makanan kelas kaki lima”.  Penjelasan Khalid Mawardi ini akhirnya memang saya  buktikan. Ketika mencari makan malam misalnya,   saya  tidak terlalu sulit  menemukan warung makan khas kaki lima yang terjamin kehalalannya, baik di lokasi pasar senggol atau  di lokasi lainnya.

Hari masih pagi.  Kulihat anak-anak dengan baju seragam lalu lalang berangkat menuju sekolah.  Begitu juga,  banyak pria-wanita paruh baya dengan berseragam pula bersliweran berangkat menuju tempat kerja.  Saya dkk santap pagi di warung pak Lukman,  warga Gianyar  keturunan Pakistan tetapi ibu asli kampung Keramas.  Selama di Gianyar saya  memang sering makan di tempat ini.  Maklum,  lokasinya tidak jauh dari penginapan, plus menunya dijamin halal alias tak meragukan.   Letak warung dan atau rumah pak Luqman tepat di samping alun-alun kota,  dengan karakteristik bangunan yang tergolong era lama. “Komplek bangunan ini usianya sudah lebih 100 tahun pak,  peninggalan kakek saya”, kata pak Luqman menjelaskan. Baca lebih lanjut

Iklan

Hanya BoToL BeKas (2)

Tidakkah engkau perhatikan betapa Allah telah membuat perumpamaan: bahwa sesuatu kalimah yang baik itu serupa dengan pohon yang baik, pangkal akarnya terhujam dalam dan cabang rantingnya  menjulang ke langit.Ia berikan buahnya setiap masa atas ijin tuhannya dan Allah membuat tamsil itu bagi manusia agar mereka menyadari.Dan gambaran kalimat yang jelek itu adalah serupa pohon yang jelek yang tercabut dari bumi  tiada baginya akar bertahan.Allah teguhkan pendirian mereka yang beriman dengan kata pasti dalam kehidupan di dunia dan di akherat,  dan Allah sesasatkan mereka yang aniaya serta Allah lakukan apa saja yang Ia kehendaki.(Q.S. Ibrahim: 24-27).

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Tragedi Minoritas Muslim di Myanmar

Sobat,  berikut ini saya tampilkan tulisan lama tentang Muslim Myanmar yang pernah saya kirimkan ke Media Dakwah Agustus 2006 silam. Semoga tulisan sederhana ini bisa memberi sedikit gambaran tentang   apa, bagaimana,  dan mengapa Muslim Myanmar,  yang saat ini mengalami tragedi genosida di  negaranya. Selamat membaca.

Myanmar atau yang dulu kita kenal dengan Burma bagi sebagian masyarakat Indonesia merupakan negara yang sangat asing kedengarannya. Padahal, Myanmar  adalah negara tetangga dekat, masuk dalam deretan negara-negara asia tenggara yang tergabung dalam ASEAN. Ketidakpopuleran ini dapat dipahami mengingat Myanmar menganut paham politik “tertutup” di samping eksistensi dan peran ekonomi dalam konteks regional memang sangat terbatas.

Akhir-akhir ini nama Myanmar memang acap disebut dalam kerangka  ASEAN. Namun, sebutan itu tampak didominasi konteks “negatif”. Maklum, hanya karena Myanmar masih dikuasai rejim militer, hanya sebab Myanmar belum menerapkan demokrasi –tentu saja menurut parameter Barat– maka negara itu dinilai telah memberi  bopeng pada wajah ASEAN yang lagi berusaha mempersolek diri untuk menarik kerjasama negara-negara ekstra regional. Myanmar dinilai telah menjadi batu sandungan terbesar ASEAN dalam upaya menjalin hubungan yang bersifat global. Baca lebih lanjut

Soedjono Djoened Poesponegoro: Menteri Riset Pertama di Indonesia

Biografi Soedjono Djoened Poesponegoro ini bukan sekedar bicara seputar human interest seperti buku biografi pada umumnya.  Tetapi,  sesuai latar belakang intelektual Soedjono yng menghabiskan sebagian besar hidupnya dalam memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi,  buku ini pun lebih diarahkan  kepada kiprah tadi. Pemikiran-pemikirannya sengaja ditonjolkan, dan kiprahnya sebagai institutional builder di berbagai tempat sengaja diutamakan.  Berpijak pada perspektif ini, maka dalam buku ini konteks sosial politik dimana dan pada saat Soedjono hidup sengaja ditonjolkan.  Situasi politik ketika Soedjono mengenyam pendidikan, konstelasi politik kebangsaan tatkala Soedjono beranjak dewasan,  dan dinamika politik nasional ketika Soedjono menjadi dokter, dosen, serta menteri era Soekarno dijadikan landasan penting ketika memeparkan jalan kehidupan sang tokoh.

Kendati demikian, biografi ini tetap diupayakan tersaji dalam tutur bahasa yang tidak teralu kaku dan tetap merefleksikan sebuah buku biografi tentang seorang anak manusia bernama Soedjono Djoened Poesponegoro.  Semoga bermanfaat. (Jakarta: LIPI Press).***