Beberapa Kampung Islam di Gianyar : Dari Semebaung Sampai Pas Dalam (Tulisan 12)

Setelah seharian menelusuri Kampung Islam Keramas, dua hari berikutnya secara berturut-turut saya mengunjungi beberapa kampung Islam yang keberadaannya terhitung lebih muda, seperti: Kampung Semebaung, Kampuing Jawa/Pas Dalam,  Samplangan, dan komunitas muslim di wilayah Ubud. “Komunitas muslim ini relatif lebih baru, dan  datang secara bergelombang  terjadi sejak awal kemerdekaan. Sebagian kecil datang karena tugas,  baik sebagai PNS, polisi atau tentara”,  kata  Khalid Mawardi, seorang tokoh kampung Kramas,  “Tetapi kebanyakan bahkan lebih dari 95 persen datang sendiri dan menjadi pekerja sector informal,  terutama berdagang.  Mayoritas pedagang makanan kelas kaki lima”.  Penjelasan Khalid Mawardi ini akhirnya memang saya  buktikan. Ketika mencari makan malam misalnya,   saya  tidak terlalu sulit  menemukan warung makan khas kaki lima yang terjamin kehalalannya, baik di lokasi pasar senggol atau  di lokasi lainnya.

Hari masih pagi.  Kulihat anak-anak dengan baju seragam lalu lalang berangkat menuju sekolah.  Begitu juga,  banyak pria-wanita paruh baya dengan berseragam pula bersliweran berangkat menuju tempat kerja.  Saya dkk santap pagi di warung pak Lukman,  warga Gianyar  keturunan Pakistan tetapi ibu asli kampung Keramas.  Selama di Gianyar saya  memang sering makan di tempat ini.  Maklum,  lokasinya tidak jauh dari penginapan, plus menunya dijamin halal alias tak meragukan.   Letak warung dan atau rumah pak Luqman tepat di samping alun-alun kota,  dengan karakteristik bangunan yang tergolong era lama. “Komplek bangunan ini usianya sudah lebih 100 tahun pak,  peninggalan kakek saya”, kata pak Luqman menjelaskan.

Keluarga pak Luqman –meski leluhurnya asli Pakistan—memang tergolong pelopor untuk penghuni di wilayah yang sekarang menjadi  pusat kota ini.  Oleh karena itu banyak sekali informasi yang dapat digali dari pak Luqman terkait tentang apa dan bagaimana komunitas Islam di Gianyar. Bahkan,  akhirnya saya sempat pula mampir ke rumah orang tua pak Lukman untuk mendapat informasi lebih dalam tentang Islam dan Muslim Gianyar. Dari jalur lelaki,  orang tua pak Luqman beretnis Pakistan,  tetapi dari jalur ibu asli warga lokal kampung Keramas.

Selepas sarapan,  saya  meluncur ke komunitas Muslim di Kampung Jawa.  Kampung ini lebih dikenal dengan sebutan Desa Pas Dalam.  Komunitas ini konon berkembang seiring dengan didirikannya Yayasan Nurul Hikmah di tahun 1987.  Sebelum yayasan didirikan sebenarnya sudah ada  beberapa keluarga Muslim yang tinggal di sekitar lokasi.  Mereka lah yang lantas berinisiatif mendirikan yayasan,  dengan maksud untuk membangun dan atau mempertahankan identitas Islam di tengah kehidupan masyarakat yang sangat kental dengan kultur Hindunya.

Keluarga Muslim yang jumlahnya hanya beberapa itu bersepakat mencari dana dengan menyebar sekitar 6000 proposal kepada umat Islam di seluruh Bali. Hasil sumbangan yang masuk  lantas dibelikan tanah di tengah-tengah sawah.  Mereka membangun kesepakatan dengan warga Hindu pemiliki sawah untuk membuat jalan umum membentang di persawahan.  “Dengan jalan umum yang membelah sawah, harga tanah diproyeksikan akan meningkat. Prediksi ini terbukti,  pelan tapi pasti banyak orang berdatangan membeli lokasi ini.  Pelan tapi pasti pula,  persawahan ini akhirnya berubah menjadi perkampungan.  Lokasi ini (tahun 2010) dihuni sekitar 80 KK. Mereka umumnya datang dari Jawa (Banyuwangi, Jember),  Sumatera, Lombok, dan Madura. Karena etnis Jawa sangat dominan,  maka wilayah ini  lebih dikenal sebagai Kampung Jawa”,  jelas Abdul Muhri Mulyono,  salah satu tokoh Kampung Jawa sekaligus Sektretasis Yayasan Nurul Hikmah.

Yayasan Nurul Hikmah bentukan warga kampung Jawa ini sangat besar pengaruhnya bagi pembinaan keagamaan umat Islam di sekitar kota Gianyar.  Yayasan ini memiliki Madarasah Diniah, Taman Pendidikan Al Qur’an,  bahkan juga pesantren malam.  Yayasan juga memiliki Majelis Taklim,  termasuk punya Rukun Suka Duka Amaliah yang secara umum menangani berbagai persoalan yang dihadapi komunitas Muslim, termasuk khususnya dalam soal kematian. “Kematian di Gianyar memang bukan masalah sederhana, tetapi sangat problematic terutama terkait dengan soal penguburan. Sebab, kuburan  Muslim di Beng sudah super padat,  sementara untuk membuka lokasi baru sulit diwujudkan,    karena terbentur alasan adat”,  kata pak Mulyono mengakhiri penjelasan. Setelah cukup banyak mendapat informasi seputar Desa Pas Dalam, dan setelah melihat-lihat  lingkungan lokasi yang dikenal pula sebagai kampung Jawa ini,   saya  bersegera mencari sasaran makan siang, karena jam makan sebenarnya telah jauh terlewatkan.

Menjelang sore  pak Hasan Bick sudah mengantar kami ke Semebaung, sentra komunitas muslim laindi kota Gianyar. Sejarah komunitas Muslim Semebaung  tampaknya lebih lama  dibanding kampung Jawa.  Kampung Semebaung secara administrative masuk wilayah Banjar Marga Sengkala. Komunitas ini mulai “dibangun“ sejak tahun 1960 an oleh sejumlah pendatang Muslim dari Jawa Timur (Banyuwangi).  Komunitas kecil ini membentuk kelompok pengajian di sebuah bengkel sepeda motor,  yang statusnya masih kontrak.  Kelompok  ini terus berkembang.  Walhasil,  “Di tahun 1976 umat Islam lantas mendirikan sebuah musholla  di sepetak tanah yang luasnya hanya 10 are.  Tanah itu dibeli dengan harga satu juta rupiah  dari dana hasil patungan”,  kata seorang tokoh sepuh “pendiri” kampung Semebaung.  Setelah lokasi itu berhasil didaftarkan sebagai tanah Wakaf di tahun 1989,  musholla lantas dikembangkan menjadi masjid Jami’ Semebaung,  dengan bantuan dana dari Jakarta (dan Arab Saudi).   “Bersama dibangunnya masjid Semebaung,  kami juga membentuk Yayasan As Syu’la”, kata H. Amru,   seorang pengusaha mebel keturunan Arab yang sejak tahun 2010 dipercaya menjadi pemimpin yayasan.

Sejak  berdirinya masjid Semebaung,   para keluarga Muslim yang semula terpencar di banyak lokasi,  akhirnya pelan tapi pasti mendekat ke kampung ini.  Masjid Semebaung ibarat magnit  bagi kaum Muslim sekitar untuk berdatangan menuju dan tinggal di tempat ini.   Alasan mereka tentu bukan karena semangat eksklusivisme,  melainkan dalam rangka untuk mendapatkan pembinaan keagamaan,  serta tersedianya fasilitas ibadah yang sangat mereka butuhkan untuk hidup keseharian.  Di tahun-tahun inilah (terutama sejak 1996) muslim Semebaung telah berubah menjadi sebuah komunitas dengan warna berbhinneka, sebab  etnis dan daerah penghuninya memang beraneka ragam asal usulnya. Di tahun 2010 diperkirakan komunitas muslim Semebaung sekitar 830 KK.  Namun,  dari seluruh warga muslim  itu hanya 30 % yang memiliki KTP,  sementara 70 persen hanya punya Kipem (Kartu Identitas Pendatang Musiman) ”,  tandas H. Amru.

Menurut berbagai informasi,  wilayah Gianyar merupakan kabupaten yang paling problematic untuk mendapatkan KTP.  KTP dimungkinkan terutama bagi mereka yang dapat menunjukkan kepemilikan rumah dan atau sertifikat tanah.  “Karena kebijakan ini bahkan banyak dari penduduk yang telah belasan tahun tinggal di Bali,  bahkan lahir dan besar di Gianyar,  hanya karena tak mempunyai tanah apalagi rumah,  akhirnya tak bisa mendapatkan KTP.  Malahan yang tadinya punya KTP,  ketika memperpanjang tidak lagi bisa didapatkan,  karena tidak memiliki persyaratan aneh tadi.  Ini terjadi terutama sejak era otonomi daerah.  Otonomi daerah dalam prakteknya tidak membawa kebaikan,  tetapi banyak menimbulkan kerusakan.  Akibatnya,  banyak dari kami yang notabene WNI,  namun tidak memiliki KTP sebagai identitas WNI”,  tambah H. Amru.  Informasi ini ternyata dibenarkan pula sumber alternatif  lain yang saya  dapatkan di lokasi-lokasi lain.

Selain di Kampung Jawa dan Semebaung,  komunitas Muslim di Gianyar terdapat pula di desa Samplangan. Komunitas ini benihnya sudah lama ada,  tetapi semula tersebar di berbagai tempat.  Mereka baru membentuk sebuah komunitas terutama seiring dengan berhasil didirikannya sentra Yayasan Pendidikan Anak Yatim (Yapenatim) di lokasi ini.   Yapenatim dibentuk tahun 1981 oleh sejumlah tokoh dari Departemen Agama dan Depdiknas seperti KH Munajat (Ketua MUI Gianyar), Mukhson Efendi, Abdurrohim, dan Ansori.  Namun,  aktivitas Yapenatim mulai optimal sejak 17 Agustus 1985,  ketika para pendiri yayasan secara terbatas mendata anak-anak miskin dan yatim untuk dibina.

Di awal kegiatan, yayasan menampung 17 anak  dengan lokasi pertamakali kontrak di desa Pas Dalem (kampung Jawa).  Dua tahun berikutnya, Yapenatim pindah ke Desa Ketewel, lantas pindah lagi ke Sukowati.  Di Sukowati inilah Yayasan memiliki lokasi sendiri,  dengan membangun sebuah rumah di sebuah tanah wakaf.  Namun,  warga Hindu sekitar Yayasan protes alias mengajukan keberatan terhadap yayasan Islam,  sehingga Yapenatim terpaksa pindah lokasi,   kontrak di  daerah Beng dekat pekuburan Muslim.  Namun, atas dukungan donatur  pada tahun yang sama (1987) Yapenatim membeli tanah di Desa Samplangan,  lantas didirikan lembaga pendidikan dan panti asuhan.  Hanya saja sampai sekarang,  jalan menuju lokasi ini statusnya masih sewa pada warga Hindu lokal,  sehingga sewaktu-waktu bila timbul konflik,  akses jalan  bisa ditutup kembali. Kekhawatiran ini beralasan, sebab  diawal pendirian Yapenatim dilokasi ini (tahun 1987) prosesnya juga tidak gampang,  bahkan sempat mengalami pengepungan. “Masalah bahkan sempat dibawa  ke level bupati.  Setelah melalui negosiasi dan penjelasan logika historis:  bahwa mereka hakekatnya sama-sama pendatang asal Jawa hanya saja beda periodenya,  bahwa mereka secara historis adalah bersaudara,  akhirnya dicapai kesepakatan untuk mengijinkan”,   kenang KH Munajad.  Salah satu cara yang ditempuh untuk merangkul komunitas Hindu, Yapenatim yang telah memiliki fasilitas pendidikan MI, MTsN, MA,  serta pesantren ini,  sengaja mengangkat  dua staf yayasan dari kalangan Hindu (satu lelaki satu perempuan).

Di Gianyar terdapat satu lagi lokasi komunitas muslim yang cukup unik yakni di wilayah wisata : Ubud.  Bahkan,  di tempat ini berdiri sebuah yayasan Islam bernama Yayasan Ubudiah.  Komunitas di lokasi ini dipelopori sejumlah pelukis muda muslim yang datang dan bermukim di Ubud sejak 1960-1970an.  Salah satu tokohnya yang berhasil saya temui adalah W. Hardja, seorang pelukis asal Surabaya yang menetap di Ubud sejak tahun 1969.     Kaum seniman muslim di Ubud ini  berkehendak mendirikan sebuah musholla.  “Alasannya : pertama, umat Islam memang memerlukan tempat ibadah untuk menjalankan kewajiban keagamaan di tengah realitas bahwa mereka adalah minoritas.  Kedua,  umat Islam mulai memikirkan masa depan pemahaman agama anak-anak mereka,  ketiga,  banyak wisatawan muslim yang datang ke Ubud menanyakan dan atau memerlukan tempat untuk beribadah”,  kata . W. Hardja yang kawin dengan wanita hindu lokal. Atas pertimbangan itulah lelaki yang  lebih dikenal dengan mbah Hardja ini lantas menjadikan mushola yang semula hanya untuk keluarga,  akhirnya difungsikan pula untuk  umum.  Bahkan,  karena dalam perkembangan waktu mushola tidak lagi mampu menampung jumlah jama’ah,  akhirnya dikembangkan menjadi masjid dengan “mengorbankan”  beberapa kamar yang sebelumnya dijadikan penginapan.

Tempat ibadah yang diberi nama masjid Ubudiah tersebut didirikan tahun 1991.  Dana pembangunan diperoleh dari lelang lukisan para pelukis muslim, termasuk W. Hardja.  Lelang diselenggarakan ICMI yang kala itu mengadakan pameran lukis hasil karya pelukis muslim se Indonesia.  Masjid yang berada di bawah naungan Yayasan Ubudiah,  kini telah dilengkapi dengan TPA sebagai sarana penanaman nilai keislaman di kalangan generasi muda Islam yang dalam konteks Bali sangat minoritas jumlahnya

Masjid Ubudiah ini sebenarnya tidak penuh mengantongi izin dari banjar, karena izin yang dimiliki hanya mendirikan TPA dan bukan tempat ibadah.  Langkah ini tentu bukan tanpa alasan,  karena jika ijin yang diajukan adalah tempat ibadah, hampir pasti akan mendapat tantangan. Karena statusnya inilah,  maka pasca peristiwa Bom Bali tahun 2002,  masjid Ubudiah sempata ditutup  paksa.  Sampai  kini perintah penutupan masjid secara formal  belum pernah dicabut.  Tetapi dalam realitas, masjid sudah mulai difungsikan kembali,  terutama dilakukan melalui komunikasi informal antar pemuda (Islam – Hindu) yang sejak kecil memang  telah berteman. Apalagi,  komunitas Islam di lokasi  ini hakekatnya memiliki jalinan genealogis dengan warga Hindu akibat terjadinya kawin mawin antara kedua komunitas. W. Hardja sendiri misalnya,  istrinya seorang mualaf,  sehingga secara genealogis anak keturunannya memiliki hubungan darah dengan keluarga besar pihak istri yang tak lain warga Hindu.

Tidak jauh dari lokasi Yayasan Ubudiah,  atau sekitar 12 km dari Ubud ke arah utara juga terdapat sebuah komunitas muslim di daerah Tegalalang. Meskipun jumlahnya sangat kecil,  tetapi  di tempat itu terdapat TPA  ( sekaligus  sebagai musholla) yang terutama beraktivitas di Sore hari. Hal yang unik dari TPA ini adalah : pertama, lokasi nya di tempat pencucian mobil milik orang Hindu. Warga Hindu pemilik pencucian merelakan sebagian tempatnya  dijadikan TPA, karena untuk memenuhi kebutuhan anak-anak karyawannya yang kebanyakan muslim. Kedua, pelanggan cuci umumnya tentu warga Hindu juga,  sehingga mereka setiap sore melihat aktivitas  pengajian di lokasi ini.

Kasus di Tegalalang ini menunjukkan manisnya sebuah toleransi,  sebuah realitas yang sayangnya tidak bisa dirasakan warga perumahan BTN Bega.  Padahal lokasi itu penghuninya para pegawai pengadilan agama sehingga mayoritas warganya adalah muslim.  Tetapi ketika mereka mendirikan mushola dan atau TPA untuk memenuhi kebutuhan rohani internal warga penghuninya,  mereka mendapat resistensi  dari warga Hindu di sekitarnya.

Langit kelabu. Hati saya juga kelabu mendengar informasi itu.  Langit turun gerimis.  Mata hatiku juga gerimis,  menangis, mendapat kabar tentang kasus  intoleransi di negeriku  tersayang ini.  Ya Tuhan,  taburkanlah sinar kasih Mu ke dalam hati semua saudara ku (se bangsa dan se negara ini)  agar  jantung hati mereka senantiasa menebarkan benih-benih kasih sayang pada sesama,  seperti dalam kasus toleransi di Tegalalang tadi. Amin. ***

DHURORUDIN MASHAD

Gambar Masjid Agung Gianyar,  Sumber : Semangat Berbagai.Wordpress.Com

4 responses to this post.

  1. Posted by andi on 04/03/2013 at 9:48 am

    pak tentang kampung yg disemabaung kayanya bisa di crosschek lagi,.karena setahu saya tahun 80an lokasi masjid itu masih sawah dan baru 4 rumah saja yg ada itupun tahun 1983-1984, kayanya bukan tahun 1976 dibangun musalanya, dan aja juga saudara dari lombok yang merintis pengajian door-to-door di semabaung.

    Balas

    • terima kasih banyak mas Andi info alternatifnya. Semoga saya berkesempatan mengunjungi bali kembali, sehingga bisa memperdalam informasi, dan bisa menulis lagi dengan data yang lebih kaya. sekali lagi terima kasih.

      Balas

  2. Posted by Siska on 07/03/2016 at 2:45 pm

    Mohon maaf pak. Untuk daerah komplek pemukiman alm.pak lukman hakim itu sebenarnya daerah pecinan. Kalo bapak lihat dari bangunanya itu seragam dari ujung barat ke selatan tepatnya di jalan kapten dipta. Tanah tersebut milik dari puri gianyar. Dan hanya mendapatkan hak guna pakai saja sampai sekrang. Pak lukman hakim hanya 2 blok saja yg di tempati. Yg di jadikan warung dan di depan lapangan 1 blok ( punya mbah Ali ) sisanya kebanyakan keturunan cina yg asli gianyar dan warga asli gianyar bermukim. Silahkan kroscek ulang dahulu.

    Balas

    • mbak siska benar, tempat pak lukman memang sama sekali bukan kampung muslim. Kampung muslim yang saya kunjungi adalah keramas, semebaung, pas dalam/kampung jawa, tegalallang, dan sekitar yayasan ubudiah (di ubud). sedangkan tempat tempat jualan pak lukman yang dekat alun-alun hanya menjadi tempat persinggahan untuk makan (makanan halal) tepat disamping hotel saya menginap… adapun rumah orang tua pak lukman ada di dekat masjid agung, bukan di dekat alun-alun..trims. sukses ya mbak..

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: