Nasehat Anak Pada Bapak

Sobat, telah berulangkali kukirimkan padamu tulisan-tulisan yang isinya menggambarkan plus mengajarkan bahwa keutamaan seseorang bukan terletak pada usia (tua atau muda), kepemilikan harta (kaya atau papa)  kedudukan tahta (berpangkat  alias pejabat ataupun rakyat), kelamin (pria atau wanita) dan berbagai parameter  lainnya. Keutamaan seseorang  intinya hanya terletak  pada adab kelakuan (asyyarafu bil adabi laabin nasabi) dan ketakwaan (inna akromakum ‘indallaahi atqookum).

Melalui kesadaran  ini, maka untuk memperoleh keutamaan kita dianjurkan untuk mengambil hikmah dari manapun sumber bin asal muasal alias sangkan nya, meskipun dari orang yang lebih muda  atau bahkan anak-anak, meski pula dari orang miskin papa. Islam mengajarkan  undzur maa qoola walaa  tandzur man qoola: lihatlah apa yang dikatakan jangan melihat siapa yang mengatakan.  Sobat, bukankah ajaran ini senada dengan sebuah peribahasa: meskipun keluar dari dubur ayam  jika namanya telur ambillah, tapi  meski keluar dari dubur raja jika namanya kotoran tinggalkanlah.

Namun, seringkali ajaran bijak itu lebih banyak berhenti pada tataran  teori. Sebab, betapa banyak orang di sekeliling kita,  memperlihatkan sikap penegasian dari kebijakan tadi.  Ketika orang tua diberi saran anak-anak misalnya, tatkala profesor diberitahu mahasiswa (apalagi baru),   pejabat diajari rakyat, konglomerat dinasehati orang  miskin,  mereka pasti cenderung mengabaikannya, cuek bebek terhadapnya. Lebih tragis lagi,  si orang tua akan berkata, “anak kemarin sore, tahu apa kamu”,  itulah ujarnya.  Juga tak kalah tragis, si kaya, si pangkat, si profesor  bila berkata, “urusi diri  kamu sendiri, agar bisa hidup sedikit lebih mapan lagi”

Sikap menolak kebenaran karena gengsi ini bertentangan  dengan ajaran Islam, bahkan secara umum dapat menghambat sebuah “kemajuan dan perbaikan”. Kiranya penting bagi kita  untuk mencermati sikap seorang khalifah yang  wilayah kekuasaannya membentang seluruh jazirah Arab  bahkan telah merambah ke Afrika dan Eropa Timur, yang  cukup santun dan lapang hati untuk mendengar  nasehat dari anaknya. Begini ceritanya,

Amirul Mu’minin Sulaiman bin Abdul Malik meninggal, dan posisinya digantikan oleh sepupunya bernama Umar bin Abdul Aziz. Oleh karena itu, Umar bin Abdul Aziz ini pula yang akhirnya sibuk mengurusi pemakaman Sulaiman. Setelah seharian bahkan juga  semalaman mengurusi segala sesuatu yang berkaitan  dengan jenazah, termasuk menerima orang-orang yang datang ta’zizah, Umar bin  Abdul Aziz merasa penat, sehingga bermaksud istirahat. Dia masuk kamarnya, lantas meluruhkan badannya.

Namun, baru saja membaringkan diri, pintu kamar telah ada yang mengetok minta permisi. Setelah tahu bahwa  yang mengetuk adalah putranya  bernama Abdul  Malik bin Umar, dia mengijinkannya. “Ada  apakah gerangan  wahai putraku ?, tanya umar langsung saja.

“Wahai amirul mu’minin, apa yang hendak kau kerjakan di kamar ini ?, tanya sang putra.

Aku hendak istirahat sejenak“, jawab Umar.

Mendengar jawaban sang  bapak Abdul Malik langsung menukasnya, “Apakah Engkau hendak tidur siang dan tidak mencegah kezaliman dari pelakunya ?

Wahai anakku. Sungguh badanku terasa penat sekali. Aku telah berjaga semalaman tadi, guna mengurusi jenazah pamanmu kembali ke hadirat Ilahi. Insya Allah, setelah sholat dluhur nanti aku akan kembali guna mencegah kezaliman dari pelakunya“, kata Umar meminta pengertian dari sang putra kesayangan.

Namun, Abdul Malik lagi-lagi menimpali, “Saya tidak tahu pasti, apakah engkau akan tetap hidup sampai dzuhur nanti. Berdirilah sekarang wahai amirul mu’minin. Tolaklah kedzaliman dari pelakunya secara dini, sebelum engkau istihat nanti“.

Mendengar peringatan dari sang putra, Umar bin Abdul Aziz lantas berkata bahagia, “mendekatlah padaku wahai putraku”.

Sang anak mendekati sang bapak. Lalu Umar mencium keningnya seraya berkata, “Alhamdulillah, Tuhanku telah menjadikan dari tulang sulbiku seorang manusia yng mampu membantuku dalam urusan  agamaku.”

Sobat, itulah sikap manusia bijaksana, yang mau menerima saran kebijakan atau bahkan kritik koreksian dari orang yang jauh lebih muda usianya (bahkan anaknya), tanpa ada rasa gengsi atau takut runtuh kewibawaannya.  Orang model ini justru lebih terhormat  dan terjaga wibawanya dibanding manusia arogan yang merasa paling benar sendiri atau bahkan paling  utama di  atas bumi.

Ingatlah bahwa di atas langit ada  langit. Ingat pula bahwa alinsaanu mahalul khoto’ wannisyan: manusia tempat salah dan  lupa. Atas dasar kesadaran itulah, maka sebaik-baik manusia adalah orang  yang dengan rendah hati  mau menerima kritik dan saran yang  membangun dari manapun sumbernya.***

DHURORUDIN MASHAD

Gambar: Blog.Herbafarma.Com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: