Keutamaan Bukan Karena Usia


Sobat, telah banyak perasaan bin uneg-uneg telah kutumpahkan dalam tulisan yang kepadamu kukirimkan. Namun,  menurutku itu belum ada apa-apanya sebagai upaya mengupas sebagian ilmu Tuhan. Sebab, ilmu dan pengetahuan manusia memang sangat terbatas (bounded) jumlahnya.   Wamaa uutiitum minal ‘ilmi illaa   qoliilaan: dan tidaklah kamu memperoleh ilmu kecuali hanya sedikit. Padahal ilmu tuhan bersifat tanpa batas (boundless). Tuhan, bahkan mengibaratkan, seandainya lautan dijadikan tintanya, pohon-pohon dijadikan penanya, dan daun-daun dijadikan kertasnya, untuk mencatat ilmu tuhan  pasti tak bakalan  mencukupi. Bahkan, semua itu bila ditambah lagi jumlahnya sampai sepuluh kali lipatnya, tetap tak mencukupi untuk mencatat dan membahas ilmu-ilmu tuhan tadi.

Oleh karena itu, Sobat, saya masih jauh dari merasa  puas dari capaian hasil diskusi kita selama ini. Namun demikian, hendaknya kita, yakni saya dan sampean perlu sadar, bahwa sedikit demi sedikit lama-lama bisa  menjadi bukit, asal saja tak masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Artinya, untuk mendapatkan akumulasi ilmu pengetahuan, kita perlu melakukan secara bertahap. Meskipun sedikit, yang penting berkesinambungan. Hal ini persis dengan ajaran Islam, bahwa, sebaik-baik  amal adalah meskipun sedikit tapi kontinyu.  Ingat kan, sampean, pada hadits itu.

Hal yang tak kalah penting, dari pengetahuan yang sedikit itu kita meski berusaha mengamalkannya.  Apalah artinya  ilmu banyak,  tumpuk undung, namun sama sekali tak pernah diamalkan, tapi cukup merasa puas hanya untuk koleksian  agar  disebut orang sebagai pakar-cendekiawan. Na’udzubillah min dzalik: semoga Allah menjauhkan kita dari sikap itu. Kenapa ? Sebab, al ilmu bilaa ‘amalin kasysyajari bilaa tsamarin: ilmu yang tidak diamalkan,  tidak dimanfaatkan, bagaikan  pohon tidak berbuah.  Amit-amit.

Memang, alangkah lebih baik banyak ilmu,  dan banyak amal. Bukankah demikian sobat ?. Sobat, untuk kesekian kali saya ingin  cerita sebuah kisah keutamaan anak muda yang tingi ilmunya, luas cakrawala pengetahuannya,  sehingga dia dipercaya menjadi  pemimpin bagi orang-orang yang terbilang generasi tua. Kisah ini  terjadi telah lama sekali, namun masih  dan selalu relevan untuk terus dan terus diceritakan, karena hikmah yang dikandungnya memang sangat dalam. Begini ceritanya,

Setelah Umar bin Abdul Aziz dilantik sebagai khalifah datanglah silih berganti delegasi mengucapkan salam kepadanya, sekaligus mendo’akannya. Dari sekian rombongan bin kafilah yang datang, salah satu diantaranya menampilkan seorang anak belia sebagai juru bicaranya. Padahal dalam rombongan itu terdapat banyak orang dewasa, bahkan ada yang telah berumur senja alias lanjut usia.

Melihat tampilnya anak belia di hadapannya  mewakili kaum tua, Umar terdorong untuk berkata, “sebentar wahai  anak muda.  Sebaiknya, yang bicara diantara kamu adalah orang yang lebih tua darimu”.

Mendengar sikap sang khalaifah, si anak belia langsung menukas tangkas, “Wahai Amirul Mu’minin. Sesungguhnya keutamaan seseorang dapat diukur lewat lesan dan hatinya. Jika Allah telah memberi karunia kepada seorang hamba dengan lesan yang fasih dalam bicara, serta hati yang senantiasa terjaga, maka sungguh Allah telah memberi mutiara keutamaan kepadanya.  Duhai sang khalifah.  Kalaulah seseorang ditampilkan ke depan hanya karena pertimbangan umurnya, maka sungguh di kalangan umat ini terdapat orang yang lebih tua darimu, sehingga lebih pantas menduduki jabatanmu”.

Menyimak sanggahan dari anak belia tadi, Umar bin Abdul Aziz langsung menyadari kekhilafan pekerti. Umar lantas berkata, “Bicaralah, nak”.

Setelah mendapat ijin dari tuan  rumah, si anak lantas bertutur teratur. “Wahai Amirul Mu’minin”, katanya memulai, “kami sengaja datang untuk memberi ucapan selamat kepadamu, bukan menyampaikan penghinaan atasmu.  Kami datang untuk memuji Ilahi karena telah memberi nikmat kepadamu dan kepada kami. Yang mendorong kami berangkat menemuimu bukanlah ketakutan, bukan pula harapan. Sebab, harapan itu telah datang kepada kami  darimu sampai ke wilayah kami. Sedangkan, ketakutan sungguh telah sirna, sebab kami  telah diberi keamanan oleh Allah dengan sebab keadilanmu kepada tetanggamu”.

Sang Khalifah berkata, “tambahkan nasehatmu untukku wahai anakku“.

Dan si anak belia itu melanjutkan, “baiklah wahai tuanku. Sungguh telah banyak orang  tertipu oleh kemurahan Allah pada  mereka, panjangnya angan-angan mereka, bagusnya sanjungan manusia kepada mereka. Maka, wahai Amirul Mu’minin, janganlah engkau terpedaya oleh kemurahan Tuhan, oleh panjangnya angan-angan, oleh  bagusnya sanjungan, sehingga membuatmu tergelincir dari kebenaran.”

Dengan do’a dari remaja belia itu, Amirul Mu’minin menimpali dengan berkata, “Semoga Allah memberkahimu wahai anakku“.

Sobat, dari kisah tadi tampak, sekali lagi, adanya ajaran  tentang posisi dan porsi seseorang menurut Islam. Kenapa saya ingin menegaskan kembali soal ini ? Alasannya jelas, karena selama  ini masyarakat banyak yang salah kaprah dalam  mengkategorisasi keutamaan seseorang. Apa pasal ?  Sebab,  umumnya parameter dan atau tolok ukur yang selama ini diterapkan lebih bersifat duniawi, yakni harta, tahta, dan usia. Akibat kelumrahan tadi, sampai-sampai muncul peribahasa  : ada gula ada semut, atau dalam bahasa jawa: kadang kunang,  yang semua merefleksikan tolok ukur kehidupan bersifat keduniawian  semata. Ketika orang berpunya, dia langsung dianggap sebagai orang terkemuka. Ketika berpangkat tinggi, apalagi bertahta  sebagai raja, otomatis dinilainya sebagai orang mulia.  Pun, orang yang berusia lebih tua, dia hampir selalu dianggap lebih  utama atau setidaknya diutamakan, karena dianggap lebih banyak makan garam (baca: banyak pengalaman)   kehidupan.

Sikap  salah kaprah seperti itu sering kali membuat kecele alias menyesatkan. Sebab, tak sedikit orang Kaya ternyata diperoleh dari korupsi ataupun cara tak halal lainnya. Raja bisa saja sama sekali tak mulia akibat perbuatannya yang semena-mena, kebusukan isi kepala hanya ditutupi mahkota sehingga tampak indah di  permukaannya. Tua usia bisa saja bak tua-tua keladi, makin tua makin menjadi-jadi, yakni dalam maksiatnya dan  tak jelas juntrungan kebijakannya.

Sobat, sekali lagi usia tak ada jaminan tentang keutamaan  seseorang. Bahkan, Nabi pernah bersabda dalam haditsnya, syabbun syakhiyyun, hasanaul khuluqi ahabbu ilallaahi min syaikhin bakhiilin, aabidin sayyi il khuluqi: pemuda yang dermawan lagi berkelakuan  baik  lebih disukai Allah dibanding orang  tua yang taat beribadah tapi mempunyai akhlaq buruk dan bersikap  kikir  bin bakhil  alias medit.

Ditambah satu hal  lagi, bahwa keimanan dan kedalaman keilmuan juga sangat menentukan  derajad alias makom kehormatan seseorang, lagi-lagi  tak memandang usia dan jenis kelamin. Yarfaillahu lladizina amanu walladziina  uutul ilma darojatan, demikian ternukil  dalam  Al Qur’an, yang maknanya:  Allah akan mengangkat kehormatan orang-orang beriman  dan berilmu beberada derajad (baca:baik di hadapan manusia maupun dihadapan  tuhannya).  Tapi,  sekali lagi perlu dicermatai, yakni orang yang beriman plus berilmu, satu paket alias jadi satu. Hanya beriman saja tapi tanpa memiliki ilmu  dia akan lumpuh,  tapi berilmu saja tanpa disertai iman dia akan buta.

Lumpuh dalam konteks ini bermakana mandeg  tanpa ada inovasi kemajuan,  bahkan imannya bisa  awur-awuran bin awut-awutan. Beriman  tanpa diimbangi ilmu, semua implementasi  keimanan cenderung bersikap menduga dan mengira  (illaa amaniyya wainhum illaa  yadzunnuun) saja,  atau bahkan bisa menjadi sesat akibat ketidak tahuannya.

Buta dalam konteks  ini berarti sang ilmuwan menjadi ngaco tanpa ada pegangan nilai kebenaran dalam mengeimplementasikan ilmu pengetahuannya. Bal gedual, semua hal dianggap  halal. Dia tak memiliki ideologi tentang  waleri alias batas-batas  antara kesesatan dengan kebenaran, antara keberadaban  dan  kebiadaban. Pun, dia hanya mengandalkan akal pikiran di atas segala-galanya, sehingga ketika mencapai titik kebuntuan dalam pikirannya, dia akan mudah putus asa akibat marah benci pada diri sendiri yang tak mampu membuka sebuah (atau bahkan banyak) misteri. Sebab,apapun argumentasinya manusia memiliki keterbatasan, sedangkan  fenomena alam  semesta  (sebagai refleksi ilmu Tuhan) terhampar luas tanpa batasan.

Sobat, singkat kata, ilmu dan iman adalah kunci keutamaan manusia, siapapun orangnya, berapapun usianya, apapun kelaminnya,  darimanapun asalanya. Memang, Islam mengajarkan bahwa orang muda perlu menghormati yang  tua.  Budaya yang bersifat universal pasti juga mengajarkan hal seperti itu. Itu, memang benar. Namun, soal keutamaan, bukan tergantung pada usia, tapi terletak pada adab bin  keimanan serta kemampuan  ilmunya.

Namun, ajaran  pengutamaan yang tua memang seringkali dipahami secara rancu,  sehingga dalam dunia pekerjaan bahkan pendidikan seringkali si muda ditempatkan pada level kedua. Jika senior masih ada maka si yunior cukup jadi asisten saja, meski mungkin saja si yunior lebih berkualitas dibanding seniornya.  Dus, prinsip siapa  memperoleh apa bila dilandaskan pada karya adalah yang paling tepat untuk diterapkapkan. Sobat,kultur penghormatan  pada ilmu dan karya (tentu saja lengkap dengan akhlaq pekertinya) perlu dikembangkan dalam kehidupan kita.***

DHURORUDIN MASHAD

Gambar: mercusuar.ac.id

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: