Menyusuri Lokasi Komunitas Muslim Soko – Senganan di Tabanan – Bali (Tulisan 15)

Di Kabupaten Tabanan,  selain Kampung Candi Kuning-Baturiti dan kampung Jawa-Tabanan Kota,  masih ada kampung kuno muslim lainnya.  Hanya saja komunitasnya jauh lebih sedikit  dan dari sejarahnya  lebih muda.  Komunitas muslim itu antara lain ada di Soko (kecamatan Baturiti) dan Senganan (kecamatan Penebel).  Meski Soko secara administratif masuk dalam kecamatan Baturiti,  tetapi secara wilayah lebih dekat ke Penebel,  sehingga banyak orang yang mengira Suko bagian dari Penebel. Jumlah Muslim di seluruh kecamatan Penebel pada tahun 2010 hanya sekitar 65 KK. ”Tetapi, itupun yang merupakan komunitas  lama hanya sekitar 11 KK di Senganan dan 8 KK di Soko.  Sementara sisanya adalah muslim yang datangnya lebih belakangan”,  jelas Solihin,  seorang muslim asli Senganan yang beristri seorang muallaf Hindu.

Karena eksistensi Muslim di kedua lokasi tadi telah bersifat kelampauan, maka meski sedikit jumlah mereka,  tetapi  masing-masing telah mempunyai satu masjid: di Soko satu dan di Senganan Satu.  Keberadaan sebuah masjid di Bali  memang sebuah kemewahan, sebab masjid umumnya menjadi sebuah realitas yang tak gampang didapatkan oleh komunitas-komunitas muslim baru di pulau dewata ini.  ”Masjid di Senganan ya itu,  di pojokan pertigaan jalan itu”, kata pak Hasan menunjukkan. ”Untuk masjid Soko,  nanti akan saya antar kesana”.  Pak Hasan Bick tidak hanya bicara,  sebab setelah beberapa saat istirahat di sebuah warung yang ternyata milik ”paman” pak Hasan,  saya dkk di antar menuju masjid Soko.  Masjid itu kecil,  tetapi mungil. 

Sejarah komunitas muslim Soko di kecamatan Penebel dimulai sekitar awal abad 20. ”Mulanya hanya  seorang mualaf  berama Hamzah.  Dia seorang Hindu yang diambil anak oleh keluarga muslim Pagayaman. Ketika dewasa, Hamzah menikah dengan wanita Hindu Penebel.  Suami istri muallaf ini lantas menetap di Soko.  Anak turunan mereka menyebar,  yang semula hanya di Soko sebagian akhirnya bergeser ke Senganan”,  jelas Solihin yang tak lain adalah keturunan dari Hamzah leluhur komunitas Muslim di Soko dan Sengananan,  Penebel.

Hari masih siang. Mentari menebarkan sinar terang benderang. Udara memang cerah,  meski awan tipis sesekali melintas secara tergesa-gesa.  Setelah puas menyusuri dua kampung tua di Penebel:  Soko dan Senganan,  pak Hasan mengajak saya dkk kembali ke Tabanan kota.  ”Kita kembali ke kota.  Bapak akan saya antar menyusuri komunitas muslim baru di sana”,  kata Pak Hasan menerangkan sembari menyetir mobil ke arah kota.

Ternyata,  disamping empat kampung tua muslim  (Kampung Jawa, Candi Kuning, Soko dan Senganan),  ternyata di kabupaten Tabanan telah tumbuh beberapa komunitas muslim yang tergolong baru.  Sejak era kemerdekaan  memang telah bermunclan enklave-enklave komunitas Muslim lain yang dapat diidentifikasi dari eksistensi masjid dan atau Mushola. Tetapi,  sekali lagi,  komunitas ini dapat digolongkan baru,  terjadi di era kemerdekaan atau bahkan baru beberapa dekade terakhir.  Komunitas yang terbilang baru ini antara lain : di Banjar Joko Sateru,  Kediri,  di Banjar Gerang, Pasekan,  di kampung Persiapan, Sangglan, Tanahbang.  Selain itu,  ada pula di Bajera, kecamatan Selemadeg. Muslim di Bajera yang lebih dikenal sebagai komunitas Muslim Banjar Taman Sari ini jumlahnya sekitar 35 KK plus 10 KK pengontrak. Selain itu ada pula di Banjar Tegal, yang secara umum berasal dari Pulau Raas, Madura.

Sebagian terbesar kaum muslim di Banjar Tegal bekerja sebagai penjual baju bekas, maka lokasi itu akhirnya dikenal sebagai kampung OB: Obral Bekas. Sementara umat Islam yang tinggal di Pasekan kebanyakan dari Jawa Barat, sehingga lokasi itu lebih dikenal sebagai kampung Persib: persatuan orang Bandung.  Adapun muslim di wilayah kediri,  umumnya berasal dari Jawa (terutama Demak dan Rembang)  dan Madura.

Mencermati komunitas Muslim era lama di Tabanan terdapat satu hal yang sangat menarik, yaitu: berbeda dengan para pendatang dari Sulawesi (Bugis) atau asal lokasi lain (termasuk Arab dan Cina)  yang oleh masyarakat Bali disebut wong sunantara, wong duradesa, atau wong nusantara yang artinya orang asing, orang Jawa kala itu tidak digolongkan sebagai asing, tetapi sebagai nak Jawe (saudara Jawa). Sebutan bernuansa kedekatan dan persaudaraan ini sama sekali tidak mencerminkan soal agama, tetapi lebih terkait dengan etnisitas dan kewilayahan. Orang Jawa apapun agamanya adalah saudara,  mengingat asal usul orang Bali terkait erat dengan Jawa (baca: mayoritas asli Mojopahit). Bukan sekedar itu, kerajaan tertua di Jawa Timur (baca: kerajaan Airlangga) diyakini pula sebagai keturunan dan atau berasal dari Bali.  Realitas historis ini pula menyebabkan,  Bali dan Jawa (dengan segenap penduduknya) hakekatnya merupakan sebuah entitas ”tunggal”.

Realitas ini disadari betul terutama oleh orang Bali sendiri yang paham akan sejarah.  Bahkan,  karena keterkaitan yang sedemikian kuat,  secara ekstrim mendiang penulis babad terkenal,  Jero Mangku Ketut Subandi,  misalnya  memperkuat ”esensi kesatuan”  wilayah dalam logika yang dibalut legenda.  Ketika menulis tentang babad Bali senantiasa ia memulai dari Bali yang sunyi dan labil.  Menurutnya,  Pulau Bali terombang-ambing di lautan. Realitas ini mendorong Hyang Pasupati memotong Gunung Semeru di Jawa Timur, yang lantas ditancapkan di Bali. Walhasil, Bali menjadi tenang (tidak gonjang-ganjing) seperti sekarang adalah hasil dari tancapan potongan gunung di Jawa Timur Tadi.  Gunung yang ditancamkan di pulau Bali itu dinamakan Gunung Agung.

Selain itu,  ada pula legenda alternatif tentang  “manunggalnya” asal usul Bali dan Jawa.  Banyak,  babad Bali lain yang dimulai dari kisah perjalan resi asal tanah Jawa. Agar perjalannnya tak diikuti bromocorah,  sang resi konon menggoreskan tongkatnya. Goresan garis yang dibuat sang resi  sakti itu secara ajaib  menjadi segara cupet alias selat Bali.  Walhasil,   Bali yang semula menyatu dengan Jawa akhirnya terpisah. Menjadi pulau sendiri (Lihat Putu Setia,  Bali yang Meradang, (Denpasar: Pustaka Manikgeni, 2006), hlm. 170).

Selain argumentasi yang berpijak pada sejarah bernuansa legenda,  ada pula argumentasi historis  yang sifatnya lebih rasional,  yakni: Raja pertama di Jawa Timur yakni Prabu Airlangga  tidak lain adalah  keturunan Bali,   putra Darma Udayana Warmadewa bersama isterinya Mahendradata/Gunapriya Darmapatni (989-1001 M). Bahkan, dalam konteks yang lebih baru, Bali hakekatnya sebagai manifestasi dari Mojopahit. Prof. Ng Poerbatjarakan mengatakan: bali adalah penyimpanan warisan budaya yang berasal dari majapahit. Bedanya, meminjam pendapat Hildred Geertz,  apa yang dulu masih sebatas konsep-konsep filosofis di jawa, pada akhirnya menjadi praktek di Bali (Yudhis M. Burhanuddin,  Bali Yang Hilang: Pendatang Islam dan Etnisitas di Bali, (Yogyakarta: Kanisius, 2008).hlm. 52 dan 55).

Akibat logika historis (legenda maupun nyata) ini maka jalinan komunitas Bali dan Jawa secara klasik menjadi sedemikian kuat, bahkan termasuk komunitas Islamnya. Sebutan Nak Jawe, dan bukan wong sunantra,  terhadap Muslim asal Jawa dahulu merupakan refleksi dari semangat kedekatan itu. Meski demikian,  secara makro hubungan antara komunitas Muslim lama (dari berbagai suku) dengan penduduk Hindu di Bali tidak ada perbedaan yang spesifik. Semua sama dalam corak hubungan, yakni terbangun apa yang disebut sebagai  nyame slam,  saudara Islam.  Tidak berlebihan  jika akulturasi budaya terjadi secara alamiah  yang bukti-buktinya masih dapat ditemuai hingga saat ini.

Dalam konteks sosiologis kultural era lama ini, yang  terwujud adalah komunitas Muslim Bali dan Hindu Bali,  dan bukan dalam kerangka  penduduk asli dan pendatang.  Alasannya,  kedua komunitas umumnya sama-sama pendatang,  perbedaannya hanya terletak pada periode kedatangan saja. Oleh karena itu,  tanggung jawab dalam membangun  wilayah  menjadi perhatian bersama,  dan ketika menghadapi musuh dari luar adalah pula menjadi tanggung jawab bersama.  Sejarah mencatat, ketika Bali diancam kolonialisme Belanda misalnya,  penduduk Muslim Bali  dan Hindu Bali bahu membahu dalam mempertahankan kemerdekaan wilayahnya.

Kalaupun terminologi pendatang tetap diberlakukan, pada istilah itu tak dapat diterapkan secara umum dan gegabah dalam konteks Tabanan. Komunitas muslim Candi Kuning, Soko-Senganan, dan Kampung Jawa sulit disebut sebagai pendatang.  Apalagi ikatan geneologis Hindu – Muslim sudah sedemikian berurat berakar dalam keempat komunitas tadi. Hanya kepada komunitas muslim di lokasi-lokasi lain,  pada tataran tertentu mungkin bisa diterapkan terminologi pendatang. Sebab, umumnya periode kedatangan mereka terjadi  seiring dengan pentasbihan Bali sebagai kota Wisata di tahun 1970 an atau paling lama di awal era kemerdekaan.  Sejak saat itulah,  komunitas-komunits Muslim baru mulai bermunculan.

Sebenarnya,  realitas pendatang lengkap dengan kantong-kantong pemukimannya bukan fenomena khas Bali.  Ia merupakan fenomena umum di berbagai wilayah di Indonesia, terutama di wilayah  perdagangan seperti  di Singaraja sebagai gerbang terdekat dengan Jawa. Di era Indonesia,  gelombang pendatang ke wilayah Bali tetap terjadi.  Gelombang pendatang ini datang dengan segala profesi yang dimiliki. Keturunan pendatang dari Jawa Timur dan Madura misalnya,  banyak berprofesi sebagai penjual dan pembuat masakan khas Jawa Timur seperti sate, rawon dan soto yang sangat mudah ditemui di Singaraja hingga kini. Banyak juga pendatang dari suku Bugis yang secara turun temurun berprofesi sebagai nelayan dan guru agama.  Jaman kolonial banyak pendatang yang berprofesi sebagai guru (seperti ayahnya Bung Karno). Di Kabupaten Tabanan terutama di wilayah wisata tentu banyak didatangi pekerja dan atau pedagang barang seni atau cendera mata.  Selain itu, banyak pula pendatang yang akhirnya bergerak pada industri makanan/jajanan yang tersebar di restoran, pasar dan warung. Para pedagang warung senggol yang buka di malam hari mayoritas pula terdiri atas kaum Muslim. Namun, gelombang pendatang berlangsung sangat masif terutama sejak awal 1970-an ketika Bali telah menjadi pulau pariwisata. Gelombang pendatang sejak era 70 an ini terutama didorong oleh motivasi ekonomi.

Keberadan umat Islam Tabanan sebenarnya dapat ditelusuri dari keberadaan masjid di sekitar mereka,  mengingat masjid atau musholla merupakan kebutusan dasar disamping kebutuhan materi yang harus dipenuhi. Di Tabanan  setidaknya tercatat beberapa masjid seperti Masjid Agung di Kampung Jawa,  Masjid Al Huda di Kediri,   Masjid Al Hidayah,  Masjid Miftahul Mubin, masjid Al Hikmah yang semua ada di Candi Kuning,   Masjid di Pasekan, masjid di Persiapan,  masjid Muhajirin di Sanggulan,  Masjid Misykatul Huda di Bajera-Selemadeg,  atau dua masjid di Soko dan Senganan Penebel,  serta masjid di Tanahbang.   Selain itu tercatat pula banyak mushola seperti Baitur Rahman, Al Amin dan Ar Rohman yang semua di Candi Kuning, disamping beberapa musholla di tempat lain.

Mengenai jumlah penduduk Muslim di Tabanan,  tampaknya sangat sulit ditemukan data yang akurat. Namun,  setidaknya berdasar  data pada pemilu 2009 misalnya, jumlah pemilih Islam – atau yang ber KTP — di Kabupaten Tabanan berjumlah 17.000 pemilih.  Walhasil, jika ditambah dengan jumlah anak dari KK yang ber KTP tadi, dengan asumsi setiap keluarga punya dua anak di bawah usia 17 tahun,  maka jumlah Muslim bisa dua kali lipatnya.  Apalagi jika ditambah dengan para muslim yang tidak ber KTP tetapi memiliki Kipem yang jumlahnya justru sangat banyak,  maka jumlah Muslim menjadi lebih berlipat lagi.

Sekali lagi. Realitas pendatang lengkap dengan kantong-kantong pemukimannya sebenarnya bukan fenomena khas Bali.  Ia merupakan fenomena umum di berbagai wilayah di Indonesia. Orang Hindu Bali sendiri banyak pula yang menjadi  komunitas pendatang di beberapa wilayah lain di Indonesia.  Mereka juga membentuk kantong-kantong komunitas Hindu.  Saya,  misalnya beberapa kali sempat melewati kantong-kantong komunitas Hindu Bali di sepanjang jalan dari kota Palu menuju Kabupaten Poso, di Sulawesi Tengah. Komunitas Hindu Bali di luar Bali ini umumnya datang melalui program Transmigrasi di era Orde Baru. Itulah Indonesia, negeri yang kaya dengan etnis lengkap dengan keragaman agama dan budayanya.  Indonesia memang ber Bhinneka Tunggal Ika, yang senantiasa menyelaraskan antara keragaman dengan kesatuan.  ***

DHURORUDIN MASHAD

Foto masjid di Soko Senganan,  sumber: Alimmahdi.Com

11 responses to this post.

  1. Posted by Andika Saputra on 23/11/2012 at 1:28 pm

    Bapak, apakah masjid di komunitas Muslim di Soko dan Sengananan terlihat mencirikan arsitektur Bali?
    Informasi dari Bapak sangat berarti untuk saya.

    Balas

    • tidak mas, masjid di dua tempat itu sudah gaya modern. Di kampung kuno yang lain juga sudah direnovasi dengan gaya modern semua. Itulah orang kita, yang tampaknya kurang menghargai nilai sejarah. Baru kalau berkunjung ke negara-negara lain, melihat peninggalan kuno lantas terkagum-kagum. Masjid agung di Buleleng gapuranya saja yang merupakan peninggalan lama, menyerap kultur Bali, konon sebagai hadiah dari raja Bali.

      Balas

      • Posted by Andika Saputra on 28/11/2012 at 8:16 pm

        Sangat memprihatinkan sekali kondisinya pak, kemungkinan karena belum sadar akan pentingnya nilai sejarah mereka.

        Saya sangat tertarik bahwa Hamzah adalah seorang mualaf yang diangkat anak oleh seorang Muslim dari Desa Pegayaman. Bapak mendapatkan sumbernya dari mana ya? Saya ingin mendalami cerita tersebut Pak, untuk itu saya harus bertemu dengan siapa?

      • ketika saya dkk ke Soko dan Senganan sempat bertemu seorang keturunan Hamzah, bernama Solihin. Istrinya juga seorang muallaf. Tinggal hanya selang tiga rumah dari masjid Senganan, Penebel. Asal bisa sampai Penebel anda insya Allah bisa ketemu beliau, sebab muslim di situ sedikit, apalagi beliau orang asli, sehingga banyak yang tahu.

      • Posted by Andika Saputra on 15/12/2012 at 4:18 pm

        Terima kasih banyak Bapak Dhurorudin. Alhamdulillah informasi dari Bapak sangat bermanfaat buat saya. Ditunggu tulisan-tulisannya yang lain ya Pak.

      • terima kasih mas andika

  2. Posted by Yoen on 20/07/2013 at 7:15 am

    Cerita menarik tentang keberadaan masjid di Penebel, terima kasih pak

    Balas

  3. Saya/tyang Nak Bali, dari Banjar Pagi, Senganan, Penebel, Tabanan, Terimakasih banget telah mengulas tentang nyama/semeton muslim ring Tabanan (Baturiti, Penebel, Selemadeg lan Kediri). Sejak kecil saya memang akrab dengan Dadong Minah (asal Candi Kuning, sdh almarhum) beliau sering mederep di Banjar Pagi ketika musim panen. Saat itu memang tyang gak tahu agama. Nah semenjak kejadian BOM Bali 2002, kita jadi tersekat / terasa ada stigma negatif, terutama dari para pendatang yg telah mendptkan pemahaman dari Luar Indonesia rupanya. Kalau saya sih tetap ingin rasakan nuansa yang dulu itu. Terimakasih. Bapak Dhurorudin dimana tinggalnya?

    Balas

    • Terima Kasih Pak Putu Nogata atas sambutan positifnya. Saya menulis naskah tersebut juga bertujuan agar kita kembali kepada kearifan lokal kita, sehingga dapat hidup sebagai saudara terlepas apapun agama dan sukunya. acapkali ambisi kekuasaan-kekayaan lah yang menyebabkan keharmonian menjadi terganggu…saya tinggal di bogor pak.

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: