Entitas Lama Kampung Islam Kepaon di Kabupaten Badung – Bali (Tulisan 16)

Hari terang, sama sekali tak ada awan. Udara cerah.  Langit cerah. Mentari memancarkan cahaya dengan leluasa. Sinar sang surya berpendar menerangi cakrawala.  Bahkan,  meski hari masih pagi,  pancaran surya sudah agak menggigit terasa di kulit. Setelah sarapan pagi, saya dkk telah bersiap meluncur ke Kampung Islam Kepaon.  Selama di Kabupaten Badung,  saya didampingi pak Luqman,  seorang muslim asal Jawa tetapi telah belasan tahun tinggal di Denpasar.  ”Sudah siap,  Pak ?  Tanya pak Luqman yang sudah duduk di belakang kemudinya.  ”Sipp..”,  jawab saya singkat.  Dengan diiringi bacaan bismillah mobil kijang silver langsung  meluncur menapaki jalanan menuju tujuan.

Sejarah Islam Bali memang bisa ditelusuri dari komunitas muslim yang telah eksis bahkan sejak abad ke 15, sejak jaman kerajaan Gelgel.  Namun, sejarah eksistensi muslim sebenarnya juga bisa ditelusuri dari prasasti, bangunan-bangunan penting kerajaan di Puri Pemecutan (Denpasar), atau cap kerajaan Klungkung (Hindu) yang menggunakan huruf Arab, karena pada zaman Raja Ida Bagus Jambe kerajaan ini telah menjalin hubungan diplomatik dengan salah satu kerajaan Islam di Jambi. Semua bukti historis tadi menjadi bagian argumen bahwa Islam dan komunitas muslim di Bali hakekatnya bukanlah fenomena kekinian, melainkan telah menjadi entitas lama yang berusia ratusan tahun silam,  sama tuanya dengan komunitas muslim di berbagai daerah lain di Indonesia. 

Di Kabupaten Badung  komunitas Islam yang telah tua eksistennya juga ada, seperti yang tinggal di Kampung Islam Kepaon,  lokasi yang sedang saya tuju ini.  Komunitas muslim Kepaon  ini terletak di wilayah desa Pemogan, namun  masuk dalam desa adat Kepaon. Warga Islam Kepaon diperkirakan berjumlah 300 KK atau sekitar 2.000 jiwa (data  tahun 2010). Aqidah Islam warga Kepaon masih terjaga dengan baik sampai saat ini, bahkan sebagian diantara mereka membawa menjadikan wanita Hindu lokal menjadi istrinya melalui proses muallaf.  Kekuatan aqidah ini terbentuk tentu saja melalui pendidikan keagamaan yang kokoh termasuk dengan mengirim anak-anak mereka belajar di berbagai pesantren.  Bahkan,  sebagian generasi muda Kampung Islam Kepaon banyak yang menimba ilmu agama di pondok-pondok pesantren di Jawa, seperti Pondok Gontor, Tambak Beras, Asem Bagus, Genteng, Paiton,  yang ketika pulang kampung mereka lantas membina komunitas Islam di Bali.

Profesi kaum muslim Kepaon kebanyakan petani sawah disamping banyak pula  yang menjadi sopir. Sementara  kaum ibu lebih banyak menekuni usaha garmen dan berdagang. Guna menunjang roda perekonomian, kaum muslim juga menjadi nasabah Lembaga Pemberdayaan Desa (LPD) desa adat Kepaon, berbaur bersama nasabah umat Hindu yang tersebar di sembilan banjar.  Aturan yang diterapkan kepada komunitas Kepaon juga sama sebagaimana aturan nasabah LPD lain yang diikat awig-awig (aturan adat).  Semua punya kedudukan sama, dan ikut memiliki LPD. Warga Kampung Islam yang ingin meminjam bisa mengajukan permohonan dengan mengetahui kepala dusun, sekdes, atau kelian adat (Bambang Supeno @balimuslim.com/Daniel Fajri, Bali Post 8 Desember 2001)).

Di Kepaon terdapat sebuah masjid besar, Al Muhajirin, disamping ada juga 5 musholla.  Masjid  itu sebelumnya bernama Hamsul Mursalin. Namun,  seiring kehadiran tokoh Islam asal Gujarat Haji Abdurahman –disamping aspirasi para pendatang susulan lainnya asal Madura,  Bugis, Melayu termasuk muslim Bali sendiri–,  tempat peribadatan umat Islam itu diubah namanya menjadi masjid Jami’  Al-Muhajirin.  Disebut ”masjid jami’ berarti tempat ibadah itu menjadi masjid kecamatan serta setiap minggu dipakai untuk jum’atan.  Pada level kabupaten biasanya  diubah dari masjid jami’ menjadi masjid agung”,  kata seorang ta’amir di masjid Kepaon yang berhasil saya jumpai.

Nah, bagaimanakah sejarah eksistensi Kampung Islam Kepaon ? ”Kepaon terbentuk dan berkembang sejak tahun 1891,  yakni setelah jatuhnya kerajaan Mengwi ke tangan kerajaan Badung”,  kata pak Luqman menjelaskan,  meski saya pribadi meragukan tahun peristiwanya. Badung meraih kemenangan karena ketika perang pasukannya dibantu kaum muslim pimpinan Raden Sosroningrat.  Atas jasanya itulah,  Sosroningrat akhirnya diambil menantu, dikawinkan dengan putri Raja Pemecutan,  berikutnya diberi pelungguhan sebagai cikal bakal kampung Kepaon.  Tentang siapa dan bagaimana kiprah Raden Sosroningrat, konon bisa ditelusuri dari tulisan-tulisan yang tertuang dalam lontar Bali seperti    Kisah Kamaruzzaman (peralihan zaman) serta Kisah Zul Ambiyak (kisah para nabi).

Konon, suatu hari ada sebuah rombongan perahu dari  Jawa yang diterjang badai di sekitar perairan Bali, mengakibatkan perahu rusak parah lantas mendarat darurat secara terpencar-pencar. Ada yang terdampar di pesisir Benoa, Tuban, ada pula di sekitar Sanur. Pimpinan rombongan diketahui bernama Raden Sastroningrat seorang pejabat asal kota gudeg Yogyakarta (baca: Mataram),  tetapi beretnis Madura.  Meski mendarat secara illegal,  rombongan Sastroningrat diterima dengan baik (baca: tidak ditahan) oleh raja Badung Raja Cokorda Pemecutan III, bergelar Betara Sakti,  asalkan mereka mendukung Badung dalam perseteruannya melawan kerajaan Mengwi.  Para pendatang dari Jawa yang perahunya mengalami kerusakan dan terdampar itu tenaganya dimanfaatkan oleh raja Pemecutan sebagai prajurit untuk menggempur  kerajaan Mengwi. Walhasil,  berkat dukungan sepenuh hati dari kaum muslim pimpinan Sastroningrat ini Badung akhirnya berhasil menaklukkan Mengwi. Atas kemenangan ini, Raden Sastroningrat akhirnya diambil menantu,  dinikahkan dengan putri Raja Pemecutan III bernama Anak Agung Ayu Rai.

Setelah menikah, Raden Sastroningrat memboyong istrinya ke Mataram (Yogyakarta) lokasi dia menjadi prajurit, kemudian diajak ke Madura sebagai tempat kelahiran dan atau kampung halamannya.  Di Madura Anak Agung Ayu Rai akhirnya resmi menjadi muallaf alias muslimah.  Kepada Anak Agung Ayu Rai akhirnya diberi gelar Raden Ayu  Mas Mirah.

Ketika pemahaman keislaman Agung Ayu Rai sudah cukup baik, Sastroningrat mengajak istrinya kembali ke Bali.  Ayu Rai oleh Puri diberi tanah pelungguhan di Kebon, yang sekarang lebih dikenal dengan  nama Kepaon. Lokasi ini terkenal angker alias tenget, karena konon dihuni oleh banyak mahluk halus. Sedangkan,  kepada menantunya,  Raden Sastroningrat, juga diberi tanah  di sekitar Ubung.  Sosroningrat tinggal di lokasi itu  sampai wafatnya,  serta dimakamkan di tempat yang sama. Bagaimanakah nasib Istrinya,  Anak Agung  Ayu Rai alias Raden Ayu Mas Mirah sepeninggal Sosroningrat ?.  Menurut Kelian Adat H. Abdul Hadi, Ayu Rai dibunuh saat salat dan mengenakan rukuh, busana salat wanita  Islam yang berwara serba putih. Gara-gara memakai baju serba putih itu, Anak Agung Ayu Rai dikira akan melakukan prosesi ngeleak. Apalagi saat shalat mengucapkan Allahu Akbar, yang di telinga orang-orang Hindu dikira mengucap lakar mekeber.  Oleh karena itu, A.A. Ayu Rai secara spontan ditebas kepalanya hingga meninggal.

Selama tinggal di Ubung dan atau Kepaon,  banyak kerabat Sosroningrat berdatangan alias ikut tinggal di tanah pelungguhan.  Nah,  keturunan pasangan suami istri A.A. Ayu Rai – R. Sosroningrat lengkap dengan para pengikut dan kerabatnya ini lantas menjadi cikal-bakal  komunitas kampung Islam Kepaon dan Ubung di Kabupaten Badung. Namun,  tak sedikit juga keturunan mereka menyebar ke tempat lain, karena perkawinan maupun pekerjaan,  sehingga bersama umat Islam lain  yang datang belakangan membentuk enklave-enklave komunitas muslim baru di berbagai lokasi di daerah Badung.

Sejarah kampung Kepaon serta keterikatannya dengan Puri Pemecutan ini memang sungguh menarik. Realitas ini mendorong umat Islam Kepaon  untuk  menginventarisasi bukti-bukti otentik peninggalan sejarah setempat. Secara bersama mereka berniat mendirikan pusat kajian Islam (Islamic Center)  yang terdiri atas pusat pendidikan mulai taman kanan-kanak hingga perguruan tinggi, dilengkapi perpustakaan mini serta museum kecil,  agar generasi muda Kepaon mengetahui asal usul mereka.  Agar mereka tahu bahwa eksistensi mereka secara kesejarahan bukan datang mencari penghidupan,  tetapi mereka memang sangat dibutuhkan Badung dalam konteks menjaga dan mempertahankan keamanan kerajaan. Agar mereka juga tahu bahwa secara ginealogis dalam diri mereka terdapat pula darah keluarga raja Badung,  darah salah satu pemimpin komunitas Hindu di Bali.

Karena eksistensi Kampung Kepaon terkait erat dengan kerajaan Badung dan atau Puri Pamecutan,  maka hinga kini mereka tetap menjalin hubungan dengan Puri Pemecutan. Jika di Puri ada hajatan seperti Pitra Yadnya, atau potong gigi (masangih) tokoh Kampung Islam Kepaon pasti  diundang. Tokoh-tokoh Islam juga rajin berkunjung ke puri. Status mereka bahkan diistimewakan, dengan posisi duduk dalam setiap hajatan berada setingkat dengan raja. Kesenian asal kampung Kepaon, seperti rodat, rebana hadrah sering juga ditampilkan di Puri Pemecutan untuk mengiringi upacara.

Memang  secara substansi keagamaan,  nilai-nilai aqidah tetap dipegang secara kokoh oleh komunitas Islam Kepaon hingga kini. Dalam keseharian apalagi di bulan puasa masjid Al-Muhajirin di Kepaon selalu dimanfaatkan sebagai sentra segala aktivitas, mulai dari berbuka puasa dengan cara Magibung (makan bersama-sama), salat  taraweh, tadarus (membaca kitab suci Al Qur’an secara bersama), dan acara khataman (tamat  membaca Al Quran) setiap sepuluh hari sekali.  ”Namun,  secara kultural dan atau adat unsur Hindu pada akhirnya ikut pula mewarnai kehidupan Muslim. Di  bulan suci Ramadan misalnya,  warga setempat biasanya punya tradisi menyediakan cendana, gergaji kayu, minyak wangi, sampalan, kemudian dibakar dan ditaruh di sudut-sudut bangunan rumah.  Pada bakaran berikutnya ditaburi aneka bunga  : mulai dari cempaka, melati, sampai mawar. Memang,  di era sekarang gerakan pemurnian Islam telah merembes pula ke komunitas Islam Kepaon,  sehingga tradisi sinkretis semacam tadi tak lagi semarak seperti era dulu”,  jelas Pak Lukman.  Namun,  tradisi magibung (makan bersama) meski diambil dari adat Hindu,  karena tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam,  maka  tetap dilanjutkan  sampai kini.

Akulturasi  adat kebiasaan memang telah lama terjadi di kampung Islam Kepaon. Sebagai komunitas muslim yang memiliki hubungan erat dengan Puri Pamecutan yang Hindu,  tentu saja komunitas Kepaon memiliki identitas keagamaan yang khas sebagai wujud akulturasi. Mereka hidup rukun berdampingan dengan umat   Hindu setempat. Dalam upacara kematian misalnya, para pelayat yang mengantarkan ke kuburan membaur antara yang berpakaian adat Bali dan muslim yang mengenakan songkok (kopiah).

Selama akulturasi sifatnya artifisial semacam itu  oleh para leluhur yang memiliki kearifan lokal dianggap tidak bermasalah.  Akulturasi baru problematik jika secara substansial telah menyerempet untuk  mengorbankan nilai akidah. Akultural yang kadangkala berlangsung ekstrim tadi bisa memunculkan agama-agama lokal yang secara substantif bisa menyimpang dari nilai universalisme  Islam.

Identitas kaum muslim Kepaon yang penuh akulturasi,  dalam jalur genealogis dan kultural, ini  menjadi akar keharmonian dalam hubungan dengan komunitas Hindu di sekelilingnya. Nyaris tak ada konflik berarti  antara mereka. Meski demikian,  toleransi antar komunitas tetap dilakukan tanpa harus mengorbankan nilai-nilai aqidah, karena toleransi hanya berkisar pada tradisi kesenian  dan atau bangunan-bangunan.  Meski substansi berbeda sekali,  tetapi secara fisik terakulturasi.  Realitas yang khas ini telah menumbuhkan kenyamanan bagi komunitas muslim Kepaon yang hidup di tengah kaum hindu yang mayoritas.

Harmoni dalam hubungan antar komunitas memang sungguh luar biasa dalam kehidupan kampung kuno Muslim Kepaon ini. Banyak adat yang bisa dijadikan titik tolak untuk membangun semangat toleransi dan persaudaraan ini. Tradisi Ngejot misalnya,  ternyata sejak lampau telah menjadi satu tonggak dalam menciptakan kemesraan dan persaudaraan Hindu – Muslim di berbagai wilayah di Bali,  termasuk di Kepaon.  Tradisi “Ngejot” menjelang Idul Fitri di Bali memang masih lestari, tetapi khusus pada komunitas pedesaan,  yang menunjukkan adanya kekerabatan yang akrab dengan umat Hindu.  Umat Islam di pedesaan Bali melaksanakan tradisi itu sejak zaman kerajaan, seperti di Pegayaman Kabupaten Buleleng, Budakeling Kabupaten Karangasem, Serangan di Denpasar, Desa Loloan di Kabupaten Jembrana,  dan tentu saja di Kampung Kepaon Kabupaten Badung ini. Umat Islam  Ngejot dengan  kirim makanan menjelang Idul Fitri ke tetangga-tetangga Hindunya, dan sebaliknya umat Hindu pun melakuan hal yang sama menjelang Nyepi – Galungan – Kuningan. Untuk mencegah munculnya keraguan tentang kehalalan,  makanan yang dikirimkan umat Hindu biasanya tidak berupa masakan,  tetapi berupa buah-buahan. Adat ini mencerminkan keakraban dalam kehidupan yang secara tak langsung memberi dampak positif dalam memantapkan kerukunan hidup antar umat beragama yang bertetangga (Remmy Silado: Tradisi “Ngejot” Jelang Idul Fitri di Bali, Denpasar, ANTARA News, Jumat, 3 Oktober 2008).

“Ngejot” bagi umat muslim di perkotaan yang kini hilang sebenarnya bisa dihidupkan kembali guna mendorong semangat  persaudaraan sekaligus bukti toleransi antar umat. Sebab, sebagaimana pepatah : Pagar mangkok pasti lebih kokoh dibanding Pagar Tembok. Artinya,  saling memberi sekedar makanan antar tetangga lebih mampu membangun keamanan dibanding dengan membuat pagar tinggi seperti benteng yang justru menghalangi jalinan silaturrahmi secara lebih leluasa.***

DHURORUDIN MASHAD

Gambar: republika.co.id

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: