Mari Mengkaji Kitab Suci

Sobat,  baru saja aku membaca sebuah buku berisi wejangan dari Sayyidina  Ali Bin Abi Thalib.  Figur yang oleh Nabi SAW disebut sebagai pintunya ilmu itu berkata:  Berpeganglah pada Kitab Allah.  Dialah tali yang kuat dan cahaya yang terang. Dialah obat  penyembuh yang berguna. Dialah air sejuk penghilang dahaga. Dialah tempat berlindung bagi orang yang berpegang, dan tempat keselamatan bagi orang yang bergantung. Dia tidak pernah miring sehingga perlu ditegakkan, dan tidak pernah menyimpang sehingga perlu diluruskan. Dia tidak pernah usang walaupun sering dibaca, dan tidak pernah membosankan walaupun sering di dengar. Siapapun yang berbicara dengannya pasti benar,  dan siapapun yang mengamalkannya pasti menang.

Sobat,  sejenak aku renungkan ungkapan dari khalifah keempat dalam Islam itu.  Sungguh mendalam isinya,  sungguh luas jangkauannya. Berikutnya,  aku  kembali membaca. Lagi-lagi Sayyidina  Ali Bin Abi Thalib berkata: “Ketahuilah bahwa Al Qur’an adalah pemberi nasehat yang tidak pernah menipu. Pemberi petunjuk yang tidak pernah menyesatkan. Dan pembicara yang tidak pernah berbohong. Siapapun yang duduk bersamanya (mengamalkannya),  maka Al Qur’an akan menambah sesuatu kepadanya atau mengurangi sesuatu daripadanya, yaitu menambah petunjuk kepadanya atau mengurangi kesesatan daripadanya.  Dan ketahuilah bahwa seseorang tidak akan memerlukan apapun setelah Al Qur’an,  dan seseorang akan tetap memerlukan apapun sebelum Al Qur’an. Maka jadikanlah dia sebagai penyembuh dari penyakit-penyakit kalian, dan jadikanlah dia sebagai peringan kesusahan-kesusahan kalian. Sesungguhnya di dalam Al Qur’an terdapat kesembuhan dari penyakit yang paling berbahaya yaitu penyakit kufur, nifaq, penyelewengan dan kesesatan”.

Sobat,  tahukah sampean,  inti dari buku yang kubaca saat itu ?.  Inti nya adalah kita disuruh untuk mengkaji kitab suci dari Ilahi,  lafalnya maupun substansinya.  Jadi,  tidak hanya membaca,  tanpa paham isinya,  seperti burung beo ketika menirukan ucapan kita.

Sobat, tentu sampean tahu kan bahwa manusia itu dicipta Tuhan dilengkapi dengan akal,  sehingga manusia menjadi makhluq utama.  Nah, dengan modal akal pikirannya itulah manusia lantas dapat berkarya, bahkan sampai melampaui batas kemampuan fisiknya.  Dengan kehebatan akalnya manusia bisa membuat pesawat,  terbang membumbung tinggi ke angkasa,  menerobos langit,  bahkan tingginya jauh melampaui burung yang punya sayap. Dengan kecanggihan pikirannya manusia bisa bikin kapal laut,  kapal selam,  sehingga dapat mengapung ataupun menyelam bahkan pada kedalaman yang melampaui ikan sebagai penghuni lautan. Lha dalah…Itulah kehebatan manusia dengan akal pikirannya.

Tentu sampean pun tahu sobat, bahwa manusia dilengkapi  hawa nafsu yang mendorongnya untuk terus berkeinginan, punya angan-angan, memiliki cita-cita tanpa ada batasnya. Dengan modal hawa nafsu manusia terus berusaha untuk maju,  guna mengoptimalkan akal pikiran yang diberikan Tuhan.  Tapi ketahuilah  sobat,  nafsu acapkali  menjadi tak terkendali,  sehingga bukannya mengajak manusia pada kemajuan, tapi terkadang justru menjerembabkan pada kehinaan.  Dalam soal ini Nabi SAW pernah mengingatkan bahwa nafsu memang ibarat kuda binal yang mesti dikendalikan. Nah, tali kekang alias kendalinya tak lain hanyalah agama.  Melalui sentuhan keagamaan,  nafsu yang garang bisa menjadi tenang, nafsu yang temperamental binal dapat diubah menjadi bijak berlandas budi dan akal. Insya Allah.

Sobat,   kira-kira apa dan bagaimana nilai-nilai agama hadir ?  Untuk agama duniawi,  agama merupakan pengendapan dari ajaran dan tradisi leluhur dalam kehidupan kemasyarakatan.  Baik – buruk,  benar – salah, patut – tak patut,  nilainya dilandaskan pada budaya dan adat kemasyarakatan.  Patokan nilai  didasarkan pada kebiasaan yang akhirnya dianggap sebagai sebuah kepatutan atau bahkan kebenaran.  Nah,  nilai kepatutan yang dikukuhkan bersama sebagai kebenaran ini acapkali lantas dicatat, disosialisasikan, diwariskan,  bahkan dikumpulkan para pemuka adat dalam sebuah buku, yang lantas bahkan disucikan sebagai kitab “keagamaan”. Nilai-nilai yang dianggap kebenaran yang terangkum dalam kitab suci agama  ini akhirnya didekap secara kukuh,  bahkan akhirnya diwariskan pada anak cucu.  Di kalangan Budha ada kitab Tripitaka,  di lingkungan Hindu terdapat kitab Weda, begitu pula pada agama-agama duniawi lainnya lagi,  bahkan dalam konteks yang lebih kecil semisal agama-agama lokal yang biasa disebut agama pelbegu seperti kitab Gatoloco bagi agama Darmogandul.  Tentu masih ada seabrek kitab-kitab serupa bagi agama pelbegu lainnya.

Sementara agama samawi yang datang dari langit, ia bukan hasil kristalisasi kultur-adat masyarakat. Kitab suci yang dimiliki merupakan  kiriman langsung  dari Tuhan,  yakni Tuhan pemberi panduan hidup pada makhluq ciptaan.   Baik -buruk, benar – salah, patut – tak patut, bukan hasil dari kesepakatan nilai antar manusia,  bukan adat kebiasaan,  melainkan merujuk pada ketetapan nilai-nilai Tuhan melalui kitab suci yang “dikirimkan”.  Panduan dibawa para utusan yang disebut Nabi dan atau Rasul lengkap dengan kitab suci yang diwahyukan.  Kawan,  setidaknya ada 4 kitab suci yang kita kenal dan wajib kita imani sebagai  kitab agama samawi, yakni :  Zabur yang dibawa nabi Daud A.S.,  Taurat dibawa nabi Musa A.S.,  Injil nabi Isa A.S., dan Al Qur’an oleh nabi Muhammad SAW. Al Qur’an inilah sebagai kitabnya umat Islam,  yang diyakini sebagai kitab yang sempurna dan paripurna.

Nah,  sobat,  sebagai orang Islam,  apa yang kita harapkan dari Al Qur’an? Jawabnya kembali ke pemikiran awal, bahwa kita punya hawa nafsu yang diibaratkan kuda binal yang mesti dikendalikan.  Sebab tanpa kendali sang nafsu akan menjadi binal atau bahkan liar tak terkendali.  Ia perlu kekang, ia butuh kendali. Dus,  agama lah satu-satunya kekang paling mustajab fungsinya. Kitab suci merupakan kamus yang berisi berbagai ajaran, aturan main,  agar kita dapat secara efektif mampu mengekang sang kuda binal.

Sobat, mobil merek Honda misalnya,  panduan operasional yang paling  tepat agar mobil berfungsi optimal, tentu panduan resmi yang dikeluarkan Honda juga, bukan dari pabrik lain semisal Suzuki dan Toyota.  Kenapa ? Sebab, yang paling tahu tentang Honda adalah penciptanya, yakni pabrik Honda.  Demikian halnya dengan manusia.  Manusia adalah ciptaan Tuhan,  sehingga yang paling tahu tentang kecenderungan,  potensi kekuatan dan kelemahan manusia adalah si pencipta yakni Tuhan.   Nah, agar manusia tak rusak,  maka panduan operasional dalam kehidupan kemanusiaan perlu memakai rambu-rambu dan pedoman buatan Tuhan si pencipta yakni :  kitab suci. Kitab suci ini  merupakan panduan dari sang pencipta,  yang sengaja diberikan agar kehidupan manusia dapat operasional secara tepat dan akurat. Oleh karena itu,  sobat,   “Mari,  mengkaji Kitab suci” yang kita miliki. Nah,  sebagai akhir dari tulisan ini, perlu pula kucantumkan sebuah do’a: Allahummarhamna bil qur’an Waj’alhu lana imaman wa nuron wa hudan wa rohmah Allahumma dzakkirna minhu ma nasina wa ’allimna minhu ma jahilna warzuqna tilawatahu  ana allaili wa atrofannahar waj’alhu lana hujjatan ya robbal ‘alamin: Ya Allah,  kasih sayangilah kami dengan Al Qur’an. Jadikanlah ia bagi kami pemimpin, cahaya penerang,  petunjuk,  dan Ramat. Ya Allah, ingatkanlah darinya (Al Qur’an) apa yang kami lupakan. Ajarkanlah  darinya apa yang kami tak mengerti/bodoh .  Dan karuniakanlah bacaannya di penghujung malam dan penghujung siang.  Dan jadikanlah al Qur’an sebagai hujjah bagi kami wahai Tuhan semesta alam.***

DHURORUDIN  MASHAD

Gambar:  ervakurniawan.wordpress.com

5 responses to this post.

  1. Reblogged this on edysetyono.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: