Kantong-kantong Muslim di Tengah Kota Buleleng – Bali (Tulisan 18)

Selama tiga hari saya dkk. telah diajak pak Lukman munjelajahi Denpasar – Badung untuk menelusuri  kampung-kampung Islam. Pak Lukman sempat pula mengajak menyinggahi DreamLand,  tempat wisata pantai yang luar biasa indah. Terhitung masih perawan,  terbukti pantai ini –ketika kami datang—masih dalam proses penataan.  Tapi,  DreamLand bagi saya intermeso belaka,  karena tujuan pokok saya bukan berwisata.

Setelah  dirasa cukup,  kami bersiap melanjutkan perjalanan  menuju Buleleng.  ”Terima kasih pak Luqman.  Saya pamit untuk melanjutkan perjalanan”,  kata saya menjelang perpisahan.  Mas Hamdan,  Heru,  dan Indri melakukan hal yang sama,  pamitan.   Maklum,  pada perjalanan berikutnya saya ganti didampingi pak  Kadek Syarifuddin.  Dari namanya sudah jelas,  dia seorang muslim Bali asli,  bukan pendatang atau bali-balian.   ”Pak Syarif”,  demikian saya memanggil.  oarangnya lucu luar biasa.  Tak ada waktu yang kosong dari ketawa. Bahkan,  ketika pak Syarif  bicara serius pun akhirnya ditutup pula dengan ketawa ha..ha…ha…

Tidak terasa,  akhirnya saya sampai di Buleleng dengan ibukota Singaraja.  Pertama sekali, saya diajak ke pelabuhan tua.  Banyak bangunan tua –sepertinya bekas gudang– masih teronggok di sana.  Ada juga bangunan bekas syah bandar yang tampaknya masih terawat baik.  Bongkahan-bongkahan  batu bekas dermaga juga masih tersisa.  Tak ketinggalan lokasi pecinan dengan bangunan tua juga ada,  sebagai tanda bahwa di tempat ini dahulu menjadi sentra niaga.  Lokasi pecinan biasa disebut Kampung Tinggi.  Sayang sekali,  pelabuhan ini tidak difungsikan lagi. Lokasi ini tampaknya hanya jadi lokasi wisata,  itupun menurut saya panorama dan penataannya tidak ada taksu alias pesona,  kecuali bagi orang yang ingin menelusuri sejarah saja. Di tempat ini,  di lokasi inilah dahulu, puluhan bahkan ratusan tahun lalu,  pintu gerbang untuk memasuki tanah Bali.

Ditilik dari sejarahnya, Buleleng dahulu memang menarik banyak pendatang. Hal ini terjadi karena Singaraja mulanya sebagai kota dagang dan pelabuhan. Konon, jaman dulu ada jembatan untuk kapal berlabuh. Tak sedikit dari penumpang kapal itu akhirnya pilih menetap di lokasi ini.  Terbukti,  kampung kampung di Singaraja misalnya,  banyak diberi nama sesuai dengan asal pendatang. ”Karena itu ada Kampung Bugis, Banjar,  Jawa, Kampung Sasak, Kampung Arab, Kampung Tinggi (pecinan)”,  kata pak Syarif menjelaskan. Ada juga Kampung Mumbul karena ada tempat mata air. Bahkan karena terlalu banyaknya kampung non Bali di tengah kota Singaraja,  akhirnya terdapat pula satu lokasi di tengah kampung kampung non Bali yang bernama Banjar Bali. ”Kedengarannya agak aneh, bahwa di Bali ada lokasi bernama Banjar Bali. Tetapi,  itulah realitas Singaraja, sesuatu fenomena yang sangat jaranag ada di tempat-tempat lain”,  tandas pak Syarif.

Perlu digarisbawahi bahwa orang Buleleng dan Bali pada umumnya bukanlah orang Bali asli. ”Orang Bali asli hanya sedikit dan mendiami beberapa wilayah tertentu, seperti: Tenganan (Karangasem), Sukawana dan Trunyan (Kintamani),  Julah – kecamatan Tojuti pule,  Sembiran – kecamatan Tugu Pule,  dan Pedawun (Buleleng)”, kata seorang dosen di sebuah universitas swasta di Singaraja ”Orang Bali umumnya merasa berasal dari Jawa yang datang ke Bali ratusan tahun lampau bersamaan dengan invasi Majapahit ke pulau Bali disusul dengan gelombangan kedatangan berikutnya. Oleh karena itu dapat dipahami jika dalam konteks lama yang disebut wong sunantara, wong duradesa atau orang asing tak mencakup Wong Jawa,  karena mereka umumnya juga dari Jawa”.

Sejarah Buleleng dan Bali umumnya memang mencatat bahwa asal usul penduduk pulau ini dominan dengan pendatang,  baik Hindu maupun  Muslim. Bedanya hanya pada periode kedatangan saja.  Realitas seperti ini absah saja,  mengingat peradaban lama sangat memungkinkan manusia untuk secara bebas bermigrasi ke tempat yang mereka mau. Akibatnya,  tak ada wilayah  yang bisa disebut steril dari pendatang.

Dalam konteks Buleleng,    ketika merunut kaum muslim yang datang era lama,  meski secara pemukiman ada enklave-enklave tertentu,  tetapi maksimal hanya bisa dianalisis pada level sosio kultural itu. Hal ini berlaku  baik yang datang di era Mataram Hindu maupun Mataram Islam, bahkan termasuk yang datang era kolonial.  Gelombang pendatang ke Buleleng memang berkelanjutan termasuk kalangan Muslim. Salah satunya adalah ketika pasukan Mataram jaman Amangkurat ke I menyerbu Blambangan, Jawa Timur. Sebagian pasukan Mataram yang beragama Islam itu kemudian diundang ke  Bali menjadi tentara bayaran dan menetap di Buleleng. Oleh Raja Buleleng  mereka diperlakukan istimewa serta  diberi tanah pelungguh di Pegayaman sekaligus untuk tujuan menjaga wilayah perbatasan.  Inilah cikal bakal dari komunitas Muslim Pagayaman.  Realitas sejarah ini menjadi argumentasi bahwa mereka datang justru diundang kerajaan,  dibutuhkan kerajaan untuk menjadi tenaga inti penjaga keamanan. Dapat dipahami jika ada hubungan historis kultural antara Puri dengan kampung Islam Pagayaman yang terus terikat erat sampai era kekinian.

Buleleng kala itu memang menjadi pintu gerbang kedatangan. Di era kolonial Belanda pun gelombang kedatangan juga melalui lokasi ini.  Pada waktu itu mereka datang sebagai pedagang dan berbagai macam profesi. Keturunan pendatang dari Jawa Timur dan Madura (beragama Islam) misalnya,  banyak berprofesi sebagai penjual dan pembuat masakan khas Jawa Timur seperti sate, rawon dan soto yang sangat mudah ditemui di Singaraja hingga kini. Bahkan,  pasar malam di tengah kota,  pedagangnya kebanyakan   mereka juga. Pasar malam ini biasa dikenal dengan pasar senggol.  Maklum,  lokasinya biasa padat pengunjung,  sehingga secara disengaja atau tidak  akan saling bersenggolan. Karena sang penjual umumnya Jawa dan Muslim,  maka meskipun komunitas Islam adalah sangat minoritas,  tetapi berbelanja makanan di tempat ini tidak meragukan alias ditanggung halal.  Memang, ada satu dua penjualnya orang Hindu Bali,  tetapi lokasinya sengaja dikelompokkan, karena dagangannya banyak yang mengandung Babi.  Pedagang Hindu  pasti ditandai dengan adanya sesajen di atasnya, yang biasa disebut canangsari.

Selain Jawa,  banyak juga pendatang suku Bugis yang secara turun temurun berprofesi sebagai nelayan dan guru agama. Namun,  di era sekarang banyak di antara kaum Bugis berjualan kerajinan perak, yang memajang karya-karya mereka di toko di sepanjang jalan di samping masjid agung Buleleng.  ”Di pertokoan sini umumnya beretnis Bugis”,  kata seorang wanita yang sedang menunggui tokonya. Identitas agama dan status sosial (lini pekerjaan) ini pada akhirnya sedikit banyak bisa dijadikan sebagai indikator analisis sosial tadi. Jaman penjajahan kolonial banyak pendatang yang berprofesi sebagai guru, seperti ayahnya Bung Karno.

Para pendatang muslim ini banyak yang melakukan kawin mawin dengan wanita lokal (Hindu),  sehingga secara genealogis sangat  sulit ditelusuri asal usul aslinya.  Ayahnya bung Karno pun,  pada akhirnya menikahi wanita Hindu setempat.  Mungkin tidak berlebihan jika dikatakan bahwa:  keaslian garis leluhur komunitas Hindu Bali justru lebih murni dan dapat dirunut asal usulnya dibanding kaum muslim,  karena perkawinan di kalangan komunitas Hindu relatif terbatas oleh sekat-sekat wangsa.

Memang, khusus untuk pendatang muslim terutama sejak era kemerdekaan apalagi sejak era 1970an, penelusuran  geneologis maupun kultural masih mungkin dilakukan.  Karena tingkat pembauran geneologis melalui perkawinan (apalagi kultural) belum terlalu banyak dilakukan. Bahkan,  antara Muslim pendatang dengan Muslim asli Bali (baca: dari komunitas kampung Islam lama) pun pembauran geneologis (melalui perkawinan) dapat dikatakan sangat terbatas juga.  Walhasil,  kaum Muslim asli  Bali pun terhadap saudara-saudara Muslim yang datang sejak era kemerdekaan (apalagi sejak era 1970an) pun tetap melihat sebagai pendatang.  Akibatnya,   tetap menjadi relatif mudah misalnya untuk dilakukan penelusuran  guna membedakan antara  penduduk Hindu Bali, Muslim asli Bali,  dan Muslim Bali pendatang.

Terutama sejak 1970an seiring dengan ”ditetapkannya”  Bali sebagai wilayah Wisata andalan,  gelombang imigrasi ke pulau ini menjadi sangat luar biasa besar.  Karena mayoritas penduduk Indonesia adalah Jawa dan Muslim,  maka  menjadi dengan sendirinya para pendatang baru  mayoritasnya adalah Jawa dan Muslim. Realitas inilah yang menyebabkan pertumbuhan penduduk Bali dari komponen Jawa dan atau Muslim menjadi sangat significan.  Perkembangan terbesar tentu saja terutama terjadi di wilayah-wilayah simpul transportasi.

Khusus Bulelang, pada Jaman Belanda pelabuan utama memang berada di tempat ini,  sehingga Singajara kala itu menjadi simpul utama kehadiran para pendatang.  Namun,  di era Indonesia (terutama Orde Baru) Buleleng bukan lagi menjadi pintu gerbang bagi Bali,  sehingga gelombang pendatang tidak sebesar di Denpasar – Badung saat ini.  Meski demikian,  dalam jumlah tertentu comunitas muslim juga tetap merembes, tak hanya di Pagayaman atau Legal Linggah tetapi menyebar terutama di perkotaan. Di Buleleng kota selain terdapat desa-desa muslim yang termasuk kuno seperti Kajangan dan kampung Bugis (di Tanah Tinggi) yng lokasinya hanya berseberangan jalan,  kini telah ada enkalave-enklave comunitas muslim seperti di kampung Baru, kampung Islam, bahkan desa Satelit  yang dibangun oleh para pengembang.

Akulturasi adat kebiasaan  merupakan keniscayaan yang tidak terhindarkan. Proses ini terjadi secara alamiah meski pelan dan dalam waktu lama.  Hal ini terjadi akibat interaksi yang intensif maupun  sebagai akibat prinsip yang dibangun para tokoh agama pendahulu. Realitas ini hakekatnya bukan fenomena eksklusif hanya ada di Bali melainkan sebagai gejala umum di seluruh wilayan nusantara. Dalam konteks Bali pada umumnya, dan Bueleleng khususnya, ikatan genealogis  antar comunitas menjadi factor pendorang utama terjadinya akulturasi. “Sebab,  meski para wanita Hindu yang telah jadi mualaf tidak lagi menjadi bagian eksklusif dari komunitas Hindu,  tetapi secara geneologis wanita itu tetap tidak bisa dilepas dari orang tua yang Hindu. Oleh karena itu,  silaturrahmi (sang anak  berkunjung kepada orang tua) sebagai sesama manusia masih tetap dilakukan. Realitas ini lah yang mampu membangun semangat kekerabatan”,  kata H. Ihsan, seorang pengusaha emas dan  perhotelan di Buleleng.

Akulturasi Hindu – Muslim bahkan tercermin pula dari arsitektur masjid Agung Buleleng.  Pintu gerbang masjid agung itu secara kental merefleksikan kultur Bali yang secara dominan diwarnai tradisi Hindu.  ”Pintu gerbang itu konon diberi raja Buleleng,  ketika masjid ini dibangunan ratusan tahun silam”,  kata seorang pengurus masjid agung,  ketika saya menyempatkan sholat di tempat itu.  Bahkan,  pengurus masjid memberi kesempatan pada saya dkk untuk melihat-lihat Al Qur’an tulisan tangan.  Al Qur’an itu usia nya telah ratusan tahun,  sekaligus sebagai petanda bahwa komunitas Islam  juga telah ratusan tahun keberadaannya.  Karena sudah sangat rapuh,  maka ketika membalik-balikkan kertasnya,  saya harus super hati-hati melakukannya.  Mas Hamdan bahkan sempat mendokumentasikan Al Qur’an kuno itu.

Muslim Buleleng secara historis maupun kekinian secara umum memang sebuah entitas minoritas. Tetapi, terutama di masa lalu,  mereka bisa hidup rukun dan damai bersama mayoritas Hindu Bali. Sebagaimana di wilayah lain di Bali, kaum Hindu Buleleng juga menyebut kaum muslim sebagai nyama slam, saudara Muslim.   Dalam beberapa kegiatan adat terbangun logika kerjasama,  sehingga muncul perasaan bahwa dua komunitas beda agama ternyata tidak harus membatasi mereka untuk bekerjasama dalam urusan dunia.  Pada desa Muslim ”kuno”  seperti Pagayaman misalnya,  mereka  mengaku terlibat aktif dalam organisasi subak, yakni sistem pengairan pertanian khas Bali.  “Organisasi melibatkan lintas agama,  rapat bersama,  iuran bersama,  yang berbeda atau terpisah hanya terkait dengan upacara adat yang bernuansa agama (ketika melakukan acara syukur panenan)”,  kata Syahruddin,  seorang tokoh di Kampung Islam di Tegal Linggah.  Tegal Linggah merupakan pengembangan dari Kampung Pagayaman, sehingga eksistensinya pun tergolong satu dari sekian kampung tua di Buleleng. ***

DHURORUDIN MASHAD

Gambar: Blogger.com

4 responses to this post.

  1. Wah Ane kebetulan tinggal di salah satu kampung itu gan,,,

    Balas

  2. mungkin juga saya waktu itu telah blusukan juga ke kampung anda. terima kasih mas. salam kenal

    Balas

  3. Posted by Lobrak on 17/05/2014 at 12:14 am

    Saya orang buleleng asli (bukan pendatang dari kabupaten atau provinsi apapun) dan kebetulan saya orang asli bali (bali mula/bali aga).

    Balas

  4. senang berkenalan dengan anda. siapa tahu suatu saat bisa ketemu anda, sehingga saya dapat informasi alternatif yang lebih menarik.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: