Tiga Pancuran Tak Pernah Kering Airnya

Sobat,  di tengah malam tiga hari lalu, aku terbangun dari tidurku. Entah mengapa,  kala itu mataku terus memicing tak bisa diajak tidur kembali untuk menelusuri mimpiku lagi. Suasana gerah,  badanku pun pelan-pelan terasa lungrah. Sedangkan hatiku tiba-tiba gelisah. Sobat,  dalam kondisi seperti ku ini, biasanya apa yang sampean lakukan?

Semula beberapa saat aku tak tahu harus berbuat apa. Mataku terus menerawang langit-langit kamar. Nafasku pun sesekali mendesah. Resah.  Miring ke kiri salah,  balik ke kanan juga salah.  Serba salah.  Pelan kuberanjak dari ranjangku,  lantas duduk di atas bangku. Di atas mejaku,  berjejer beberapa buku.  Kutatap buku-buku itu,  lantas ku raih sebuah secara acak. Ternyata kudapat sebuah buku bertema agama yang lama sekali tak sempat kusentuh apalagi kubaca. Pelan-pelan kubuka secara acak pula. Nah di halaman yang ku dapatkan lantas kubaca sebuah ulasan: Idzaa maatabnu aadama inqoto’a amaluhu  illaa min tsalaatsin, shodaqotin jaariyatin, au ‘ilmin yuntafa’u  bihi, au waladin shoolihin yad’uulahu: jika seorang anak Adam meninggal  maka terputuslah semua amalnya kecuali tiga hal : shodaqoh jariah, ilmu yang  bermanfaat karenanya, atau anak sholeh yang selalu mendo’akannya.

Sobat, itulah sebuah hadits nabi, yang ku pikir  super penting untuk selalu diingat  agar dapat diamalkan dalam kehidupan. Kenapa demikian ?  Apakah sampean tahu arti penting hadits Nabi sang utusan ? Jawabnya: dengan mengingat hadits ini, kita akan selalu memperbanyak ketiga amal kebajikan tadi. Ketiga amal itu bukan sekedar menjadi bekal yang akan dibawa ke alam  baka nanti, tapi malahan  sebagai investasi  yang akan terus memberi deviden (bagi hasil) meskipun si pelaku sudah tak lagi hidup di dunia ini.

Dengan demikian, melalui ketiga amalan tadi apa yang diharapkan adalah di alam barzah alias alam penantian   — yakni jeda antara kematian  (kiamat kecil) dan hari pembalasan (besar)– aliran-aliran  ganjaran alias pahala dapat membantu si manusia tak kunjung berhenti. Bahkan, Insya Allah, ketiga  hal itu dapat menjadi tabungan “kebajikan” di alam  baka nanti. Insya Allah.

(1). Amal jariah,  apa itu ? Amal maknanya perbuatan, jariah dari kata jara-yajri, yang artinya mengalir. Dengan demikian amal jariah punya pengertian perbuatan (yang implikasinya,  pahalanya)  terus mengalir. Mendirikan dan  atau nyumbang pembangunan masjid misalnya, merupakan satu contoh amal jariah  tadi. Selama masjid hasil sumbangannya terus termanfaatkan untuk  kebajikan, selama itu pula si penyumbang akan terus dan terus mendapat bagian dari  kebajikan, bahkan meskipun dia  telah menghadapi kematian.

Tapi, awas, sobat, “amal jariah” bisa pula berupa keburukan, yakni  ketika  kita ikut andil –apapun bentuknya– dalam membangun  tempat  kemaksiatan, seperti lokalisasi judi, prostisusi, tempat ajojing, dan lain-lain sejenisnya. Dus, selama tempat maksiat itu masih  dimanfaatkan, maka kita akan terus  pula  ngunduh bagian dosa, meski kita sudah koid tinggal di alam barzah  sana.

(2). Ilmu yang bermanfaat, apa pula maksudnya ? Ilmu adalah pengetahuan baik dalam makna pemikiran, atau contoh perbuatan, dan bahkan karya nyata untuk dipakai dalam kehidupan. Sedangkan, kata manfaat, adalah yang berguna bagi kesejahteraan dan kebahagiaan manusia, tentu saja yang  tak bertentangan dengan nilai-nilai ketuhanan. Kita mengajarkan budi pekerti  alias kebajikan misalnya,  ketika orang yang diajari (baca: murid) melakukan kebajikan seperti yang diajarkan, maka kita dapat deviden alias luberan dari pahala  kebajikan.  Bahkan, ketika si murid  mengajarkan pada orang lain (baca: cucu murid) yang akhirnya diamalkan alias termanfaatkan, maka kita tetap dapat  luberan kebajikan, meskipun kita telah wafat tinggal di alam  baka.   Begitu pula, ketika mampu menghasilkan karya (menemukan bibit  unggul padi, hasil penelitian  misalnya), maka selama  penemuan itu termanfaatkan  menunjang kesejahteraan  manusia,  kita  dapat terus dan  terus memetik buah  deviden (bagi hasilnya).

Tapi, ingat, sobat, di sebalik itu ada pula lawanannya.  Misalnya ?  Yakni, ketika kita mengajarkan dan mensosialisasikan ilmu-ilmu yang menyesatkan. Maka, ketika kesesatan yang diajarkan tetap terjadi,  ngombro-ombro, ndodro tak karuan alias meluas kemana-mana, maka  dosa akibat  pemikiran akan mengalir pada diri kita, dimana saja dan kapan  saja, meski kita telah koid tinggal  di alam baka. Na’udzubillah.  Begitu pula, ketika kita menjadi pelopor karya nyata barang-barang kemaksiatan pembuat  kerusakan, seperti pembuatan narkoba plus khomr, maka selama barang itu tetap diproduksi, dikonsumsi, dan terus membawa korban lagi, bagian dosa terus kita dapati. Tentu  masih banyak karya lain  untuk kemaksiatan,  mulai alat-alat perjudian, alat-alat penunjang perzinahan,  alat-alat pembunuhan, dan segala lainnya yang bertentangan dengan nilai-nilai kemanusian dan ketuhanan. Naudzubillah.

(3). waladin  sholihin alias Anak  sholeh, apa  lagi itu ?  Anak  maknanya keturunan yang berarti benar-benar darah dagingnya, dan bukan anak angkat  hasil adopsian.  Sholeh dalam terminologi keagamaan maknanya orang yang taat  pada aturan-aturan Allah, sehingga perbuatannya berguna bagi diri dan keluarganya, serta bermanfaat bagi lingkungan masyarakatnya. Ketika  kita berhasil mendidik keturunan menjadi figur sholeh-sholehah, maka apapun  kebajikan yang anak lakukan akan berimplikasi pada orang tuanya, bahkan  termasuk ketika telah meninggal dunia.  Robbighfirli waliwaalidayya warhamhuma kamaa robbayaani shoghiiron: Duhai tuhanku, ampunilah aku, ampuni pula kedua   orangtuaku, sayangi keduanya sebagaimana mereka  menyayangiku di masa kecilku.  Subhanallah,  itulah do’a yang pasti akan senantiasa dipanjatkan anak-anak sholeh/sholehah bagi orang tuanya. Padahal, do’a  anak sholeh pada orang tuanya  merupakan permohonan yang kontan dikabulkan, tanpa ada hijab alias batasan, meski alam kehidupan telah berlainan.

Tapi, waspadalah, sobat,  selain anak bisa menjadi berkah,  namun bisa pula menjadi laknat, terutama ketika si anak menjadi  anak salah (baca: bukan sholeh), yakni anak mrosal  yang tingkah lakunya bergajulan persis seperti bendol kecu alias preman pasar. Terjadinya  anak semacam  ini pasti akan  dimintakan pertanggungjawaban pada orang tuanya sebagai pemimpin  keluarga. Kullukum masuulun ‘an roiyyatihi: Setiap kamu pasti akan dimintai pertanggung jawaban atas kepemimpinanmu. Apakah orang tua telah  berusaha mengamalkan perintah quu  anfusakum wa ahliikum naaron :  menjaga diri dan keluarganya  dari api  neraka alias  dosa ? Nah, jika orang tua gagal  mendidik atau bahkan tak pernah  mendidik soal-soal kebajikan dan ketaqwaan,  tapi hanya diumbar oleh pemikiran harta kekayaan,  maka apapun kelakuan penyimpangan baik hanya sekelas preman  pasar  apalagi  sekualitas bajingan tengik,  perbuatan anak akan berimplikasi pada  orang tua, termasuk dosanya, meski si orang  tua telah mati, disiksa di alam baka. Naudzubillah.

Perkecualian satu saja, yakni orang tua telah setengah mati mengajari dan mencontohi keimanan dan kebajikan, namun si  anak tetap bersikap sebagai preman kesetanan. Hanya dalam konteks ini orang tua tak bertanggung jawab  lagi pada perbuatan anaknya yang secara esensi bukan lagi putra alias keluarga, persis seperti yang terjadi pada anak nabi Nuh yang ingkar. “Yaa nuuhu innahuu laisa min ahlika: wahai Nuh, sesungguhnya dia (baca: anak  biologismu yang  kafir) bukanlah termasuk keluargamu (Hud: 46).

Atas dasar itu, dengan sisa waktu yang ada, alangkah baiknya kita bersegera mempersiapkan investasi tiga  kebajikan tadi agar aliran pahalanya dapat terus membantu “mengurangi  dahaga” di alam baka. Pada saat yang sama, kita perlu bersikap super hati-hati agar  terhindar  dari perbuatan “menginvestasi” tiga keburukan yang dosanya juga  akan terus mengalir, dapat menjerembabkan dalam  kubangan  dosa yang kian dalam. ***

DHURORUDIN MASHAD

Foto : Tuahna.blogspot.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: