Penghasilan 25 Ribu Sehari, Pemulung Qurban 2 Kambing


pemulung-di-tebet-
Sobat,  berikut sebuah kisah yang terjadi pada lebaran Idzul Adha Oktober 2012 lalu.  Kisah ini patut dijadikan renungan bersama, untuk berusaha diambil hikmahnya.  Yakni: (1). hikmah semangat berkorban,  bersedekah tanpa harus menunggu diri  kerkecukupan,  memiliki harta berlimpah. (2). hikmah bahwa tangan di atas lebih utama dari pada tangan di bawah,  sehingga malu untuk selalu minta sehingga senantiasa berjuang untuk sekali waktu untuk ganti bisa memberi. (3). hikmah bahwa dibalik kesuksesan harus ada perjungan,  bahwa siapa bersungguh-sungguh akan berhasil. Berikut kisahnya.

Kamis (25/10/2012) siang, pengurus Masjid Al Ittihad di kawasan elit Tebet Mas, Jakarta Selatan (Jaksel) kedatangan seseorang bernama Maman. Dia menyerahkan dua ekor kambing untuk qurban. Mungkin ini biasa saja jika Maman adalah warga sekitar kawasan elit itu. Tapi ternyata tidak, Maman adalah seorang pemulung.

“Bawanya pakai bajaj. Dia kasih dua ekor kambing untuk qurban. Dia bicara tegas, justru saya yang menerimanya tak kuat. Saya menangis,” kata Juanda, pengurus Masjid Al Ittihad.

Dua kambing qurban yang diserahkan Maman berwarna cokelat dan putih. Kambing itu malah yang paling besar di antara kambing-kambing lain.

“Man jadda wajada, siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil,” ujar Juanda.

Siapa sebenarnya Maman? Pria berumur 35 tahun ini hidup bersama sang istri, Yati (55) hanya tinggal di gubuk triplek kecil di tempat sampah Tebet, Jakarta Selatan. Kedua pemulung ini susah payah menabung untuk berqurban. Yati mengaku, sempat ditertawakan saat bercerita seputar niatnya berqurban.

“Pada ketawa, bilang sudah pemulung, sudah tua, nggembel, ngapain qurban,” cerita Yati, Jumat (26/10/2012) seperti dilansir dari merdeka.com.

Tapi Yati bergeming. Dia tetap meneruskan niatnya membeli hewan qurban. Akhirnya setelah menabung tiga tahun, Yati bisa berqurban tahun ini.

“Pada bilang, apa tidak sayang, mending uangnya untuk yang lain. Tapi saya pikir sekali seumur hidup masak tidak pernah qurban. Malu cuma nunggu daging kurban,” beber Yati.

Pendapatan mereka jika digabung cuma Rp 25 ribu per hari. Tapi akhirnya mereka bisa membeli dua ekor kambing. Masing-masing berharga Rp 1 juta dan Rp 2 juta.

Wanita asal Madura ini bercerita soal mimpinya bisa berqurban. Dia malu setiap tahun harus mengantre meminta daging. “Saya ingin sekali saja bisa berqurban. Malu seumur hidup hanya minta daging,” katanya.

Yati mengaku sudah lama tinggal di pondok itu. Dia tak ingat sudah berapa lama membangun gubuk dari triplek di jalur hijau peninggalan Gubernur Ali Sadikin itu.

“Di sini ya tidak bayar. Mau bayar ke siapa? Ya numpang hidup saja,” katanya.

Setiap hari Yati mengelilingi kawasan Tebet hingga Bukit Duri. Ia pernah kena asam urat sampai tak bisa jalan. Tapi Yati tetap bekerja, dia tak mau jadi pengemis.

“Biar ngesot saya harus kerja. Waktu itu katanya saya asam urat karena kelelahan kerja. Maklum sehari biasa jalan jauh. Ada kali sepuluh kilo,” akunya. [rnz]

Sumber: IndonesiaRayaNews.Com/Saturday, October 27, 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: