Nyambangi Kampung Islam Pagayaman di Kabupaten Buleleng – Bali (Tulisan 19)

Dingin menyergap tulang.  Maklum,  semalaman Buleleng diguyur hujan.   Kusedekapkan tangan untuk mencuri kehangatan.  Tetapi,  rasa hangat itu tak kunjung datang.  Akhirnya, tangan ku kibas-kibaskan. Siapa tahu energi kinetik dari hasil kibasan tangan berubah menjadi pemicu kehangatan yang kudambakan.  Ternyata benar,  rasa hangat pelan-pelan mengalir  kurasakan.  Alhamdulillah.

Hari masih sangat pagi,  tetapi pak Syarif telah menghampiri. ”Ke pantai Lovina,  Yuk”,  ajaknya.  ”Sedikit refreshing.  Berperahu ke tengah lautan untuk melihat lumba-lumba berjumpalitan”.  Saya dan semua teman akur saja.  Singkat kata,  saya dkk akhirnya sampai di Lovina.

”Syamsul”,  ucap seorang nelayan muda memperkenalkan diri dengan tangan disodorkan.  Dialah yang mengantar kami ke tengah lautan.  Di Lovina perahu sudah berlalu lalang,  dengan penumpang beraneka kebangsaan.  Ada yang bertampang khas Indonesia meski beda etnis,  tetapi lebih banyak lagi tampang-tampang bule . Tujuan mereka sama,  ingin menyaksikan lumba-lumba.  Semua perahu lalu lalang,  bahkan terkesan berebutan,  untuk mencari moment yang pas menyaksikan lumba-lumba ”atraksi” di laut pagi hari.

Sekitar jam 8 pagi, pak Syamsul membawa perahu agak menepi.  Pak Syarif, Heru,  dan Indri tak menyia-nyiakan kesempatan ini. Mereka langsung nyebur ke lautan. Pak Syamsul ikut pula terjun menyelam,  menangkap beberapa bintang laut lantas diberikan kepada saya.  Maklum,  saat itu saya hanya duduk-duduk saja, karena ikut berenang tidak bisa.   Hadiah dari pak Syamsul itu kuawetkan,  serta kusimpan sampai sekarang. Sayang sekali,  ketika naskah ini saya tulis Pak Syamsul  kudengar telah meninggal akibat kecelakaan. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun: sesungguhnya kita kepunyaan Allah, dan sesungguhnya kita akan kembali kepada Nya.

Setelah menyantap ikan segar yang dibakar,  setelah mandi dan berbaju rapi,  saya dkk kembali pada fokus kedatangan ke Bali:  mengunjungi kampung Islam.  Kali ini Kampung Islam Pagayaman menjadi tujuan.

Desa Pegayaman, terletak di Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng. Desa Pegayaman berdiri pada  1639,  sebagai ekses dari masuknya Agama Islam ke Buleleng sekitar 1587.  Islam makin meluas, salah satunya melalui perkawinan. Di Pagayaman ketika saya berkunjung ada sekitar 30 Musolla tersebar di tiap jalan-jalan kampung. Pegayaman ibarat sebagai kota santri di Bali. Sekitar 100 kilometer dari kota Denpasar, dikelilingi sejumlah bukit, sekitar 5.000 warga desa Pegayaman adalah patung hidup akulturasi agama dan  adat di Bali.

Di Pagayaman saya dkk menyempatkan diri sholat di masjid kuno generasi pertama.  Sayang sekali masjid itu sudah direnovasi dengan gaya arsitektur masa kini.  Oleh,  sebab itu,  saya tidak lagi menemukan bangunan masjid era lama.  Hanya dua  peninggalan kuno yang masih bisa kudapatkan,  yakni: jam pasir, yang di era dahulu dipakai untuk menunjukkan watu.  Kedua,  beberapa keramik tua –dapat ditandai dari motif dan bahannya—yang menempel di pagar halaman masjid.  Saya tak tahu,  apakah pagar dan jam pasir akan dibongkar pula,  setelah masjid modern ini terselesaikan renovasinya.  Itulah bangsa kita, yang secara umum kurang peduli pada situs-situs bersejarah yang nilainya luar biasa.

Salah satu versi sejarah menyebutkan bahwa kampung Pagayaman terbentuk dimulai ketika pasukan Mataram menyerbu Jawa Timur (Blambangan). Setelah Blambangan ditaklukkan (tahun 1635) ,  sebagian pasukan Mataram tadi kemudian diundang raja Buleleng untuk menjadi tentara bayaran. Perlu dicatat bahwa di era lama : antar kerajaan di Bali memang saling bersaing dan selalu ingin menunjukkan keperkasaan.  Pasukan asal Mataram tadi, ternyata menerima tawaran,  sehingga mereka menetap di Bali terutama dengan maksud ingin berperan menyebarkan Islam.   Oleh Raja Bali mereka diperlakukan istimewa dan diberi tanah pelungguhan di lokasi yang sekarang terkenal dengan Kampung  Pegayaman. Inilah cikal bakal dari komunitas Muslim di Buleleng.

Versi kedua menyebutkan bahwa setelah Blambangan ditaklukkan,  Raja Mataram menghadiahkan gajah lengkap dengan pawang dan atau prajurit yang yang mengendalikannya kepada raja Bulelang. Tujuannya konon untuk menjalin persahabatan,  namun ada pula yang menafsirkan sebagai upaya Islamisasi sebab prajurit/pawang yang dikirim umumnya orang bertuah dan atau ahli agama (Islam).  Para pawang sekaligus prajurit tangguh ini lantas diberi tanah pelungguhan,  sekaligus ditugaskan untuk menjaga perbatasan.

Sementara itu versi ketiga menyebutkan bahwa pengiriman Gajah ke Buleleng adalah justru setelah Blambangan direbut kembali oleh raja Bali.  Versi ini memang menyebutkan bahwa Islam masuk Buleleng terjadi sejak  wilayah itu dipimpin I Gusti Ngurah Panji Sakti (1658-1717) raja Singaraja yang tak lain adalah putra dari raja Gel-gel Dalem Sagening.  Kala itu Buleleng secara politik masih di bawah kendali Gelgel.   Blambangan  waktu itu memang sempat dikuasai Mataram,  seiring dengan konflik internal Gelgel (pra Sagening tetapi pasca Waturenggong). Walhasil,  sejak tahun 1635 Blambangan dikuasai tentara Mataram pimpinan Senapati Santa Guna.   Pada Tahun 1660 I Gusti Ngurah Panji beserta para putranya melakukan penyerangan untuk merebut kembali Blambangan.  Upaya ini berhasil,  hanya saja putra I Gusti Ngurah Panji yang masih bujangan gugur dalam peperangan.

Melihat realitas ini,  sebagai taktik alternatif Mataram mengirimkan salam persahabatan (dengan maksud menyebarkan Islam)  dengan mengirimkan Gajah Airawana lengkap dengan 3 penggembalanya,  yang semuanya sebenarnya para tokoh (ahli) agama Islam.  Sampai di Buleleng,  gajah itu lantas dibuatkan kandang (petak) di sebelah utara istana,  sehingga tempat tersebut disebut Banjar Petak.  Dua penggembala  bermukim di sebelah utara Banjar Petak  yang kini dikenal dengan Banjar Jawa.   Seorang lagi tinggal dekat muara Sungai Mala yang akhirnya dikenal dengan kampung Lingga karena orang itu berasal dari Prabu Lingga (probolinggo).  Diantara banjar Petak dan Banjar Jawa sebagai tempat pemandian (jawa: mengguyang) gajah,  sehingga disebut Banjar Pengguyangan.  Ketiga orang tadi kawin dengan orang lokal (serta mengajarkan agama kepada penduduk lokal) sehingga menjadi cikal bakal umat Islam di wilayah itu.   Bahkan, setelah umat Islam di Banjar Jawa berkembang, sebagian dari mereka diperintahkan raja untuk membuka hutan di Pegatepan  dalam rangka menjaga keamanan daerah pegunungan.  Tempat itu sekarang dikenal dengan Pagayaman. Itulah cerita dibalik terbentuknya kampung Pagayaman.

Islam yang berkembang di berbagai daerah di Bali awal mulanya penuh dengan nuansa akulturasi.  Masyarakat Pagayaman dari garis lelaki (kakek) memang mulanya berasal dari Solo alias Jawa.  Tetapi dari garis nenek semuanya adalah wanita Hindu Bali. Oleh karena itu dapat dipahami jika:  sebutan kepada kaum muslim biasa digunakan istilah : Nyamo Slam atau Saudara Islam.  Sebab dalam realitas geneologis antara komunitas Hindu dan Muslim memiliki kaitan  leluhur.

Yang khas di Pagayaman adalah bahwa penduduk di tempat itu memakai nama-nama umat Islam yang berciri lokal, seperti : Wayan, Nengah, Nyoman, dan Ketut. Empat dusun di desa Pegayaman juga bernama identik dengan   Bali.  Dusun atau Banjar Dauh Margi (Barat Jalan), Banjar Dangin   Margi (Timur Jalan), Banjar Kubu Madya, dan Banjar Amertasari. Dua desa terakhir dihuni banyak umat Hindu.

Dari situ tampak bahwa di Pagayaman telah secara bergenerai terjadi akulturasi budaya tanpa mengorbankan akidah.  Kalangan Islam    tidak sedikit masih mempertahankan identitas lama seperti dalam soal nama. Bagi kalangan Hindu,  embel-embel nama khas Bali secara psikologis memunculkan rasa masih ada keterikatan ”kerabat” mengingat mereka memang masih “komunitas Nyoman” yang tak lain saudara sendiri.

Logika akulturasi berupa penggunaan nama-nama berkarakteristik lokal ini merupakan kebesaran jiwa para leluhur kaum Pagayaman untuk membangun harmoni sosial.   Nama-nama khas Bali yang tetap dipertahankan  disamping penambahan nama khas Islam yang dibangun masyarakat  juga contoh dari kearifan lokal dari  leluhur kaum Muslim yang dari garis wanita asal muasalnya mualaf juga.  Ada Nengah Panji Islam, Ketut Maulana, Ketut Kholidah, dan Nengah Maghfiroh. Itulah nama-nama paduan khas Bali dan nama Arab (Islam).  Nama memang berbau lokal yang khas,  tetapi identitas Muslim terlihat dalam keseharian dimana perempuan mengenakan jilbab dan laki-lakinya  kebanyakan berkopiah.  ”Tradisi lama  ini sudah turun temurun ada,  dan dilaksanakan warga desa”,  kata Ketut Rofiki dan Nengah Muslim di Pagayaman.

Secara kasat mata, mereka adalah muslim yang ”taat” beribadah atau setidaknya taat memegang identitas Muslim  Mereka lahir dan besar di Bali, karenanya dengan bangga melekatkan nama-nama khas Bali seperti Wayan, Nengah, Nyoman, dan Ketut. Empat dusun di desa Pegayaman juga bernama identik dengan Bali. Sejumlah tradisi Bali pun bersinergi dalam setiap kegiatan keagamaan seperti perayaan Mauludan dan Isra Mi’raj. Pada Mauludan, ada sekaa (kelompok) zikir yang melantunkan risalah kerasulan dengan cara  mekidung, yakni cara melantunkan doa-doa umat Hindu. Setelah itu perayaan berlanjut dengan Penapean (membuat tape), Pengajaan (membuat beraneka jajan), dan Penampahan (memotong hewan). Realitas ini tidak terlalu aneh,  sebab leluhur mereka berasal dari Jawa,  dan karakteristik keislaman di Jawa memang banyak diwarnai oleh akulturasi semacam itu,  yang jejaknya masih bisa dijumpai baik di acara-acara kraton Jogja-Solo-Cirebon maupun upacara-upacara adat pada masyarakat Jawa. Kampung Pagayapan juga terlibat dalam adat subak, yakni pengaturan air melalui tradisi (Hindu) Bali.  Mereka bekerjasama mengelola subak,  rapat bersama,  sekaligus terlibat dalam iuran perawatan secara gotong royong pula.  Islam dan Hindu juga memiliki tradisi dalam konteks subak ini.  Hanya saja tata cara dan syukuran hasil panen misalnya,  dua komunitas itu jalan sendiri-sendiri agar tidak menyalahi ajaran agama yang dianut antara dua komunitas tadi.

Selain,  Kampung kuno Pagayaman,  di Buleleng ada pula komunitas Muslim  yang juga sudah tua eksistensinya,  yakni desa Tegal Linggih. Namun,  komunitas Tegal Linggih  hakekatnya hanya sebagai pecahan dari kaum muslim Pagayaman. Oleh karena itu, karakteristik komunitas Tegal Linggih tidak jauh berbeda dari Kampung Pagayaman.

Selesai mengunjungi Pagayaman,  pak Syarif (dan Pak Gunawan) mengantarkan saya dkk  menelusuri Kampung Tegal Linggih juga.  Kami bahkan menyempatkan diri sholat di masjid utama Kampung.  Air di masjid itu sangat dingin. Dinginnya bukan saja terasa di pori-pori,  tetapi bahkan sampai menjalar di ulu hati.  Bening,  sebening mata bocah-bocah yang sedang giat mengaji di masjid itu.  Sejuk,  sesejuk hatiku yang mendapatkan pemandangan religius dari anak-anak muslim itu. Subhanallah. ***

DHURORUDIN MASHAD

Foto: jalan-jalan-bali.Com

Iklan

2 responses to this post.

  1. perkampungan muslim bali itu justru yang terbanyak adanya di kabupaten jembrana(kabupaten ter barat prov bali),disana ada dua perkampungan loloan timur dan loloan barat yang kental dengan budaya melayu

    Balas

    • ya mas Hanhan, terima kasih. saya juga sempat mengunjungi kampung loloan, dan sempat shalat di masjid loloan yang kala itu sedang direnovasi dengan gaya modern. Insya Allah komunitas muslim di semua kabupaten Bali, akan saya ulas, meskipun mungkin tidak tuntas. sekali lagi trims atas perhatiannya.

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: