Pangeran Wilis dan Cikal Bakal Komunitas Islam Di Jembrana – Bali (Tulisan 20)

Siang hari.  Terik.  Sinar surya menyengat.  Saat mentari tepat berada di tengah petala langit itulah  kami menginjak tanah  Jembrana.  Kami memang baru saja  mencapai tujuan setelah mengarungi perjalanan panjang.  Namun,  perjalanan ini tidak kurasa melelahkan,  sebab saya dkk diantar  seorang  humoris,  sehingga sepanjang perjalanan kami justru selalu tertawa cekakan.   Pak Kadek Syarifudin ,  itulah nama yang mengantar  kami.  Seorang Bali muslim asli yang berasal dari Baturiti.

Telah sekian hari lamanya,  saya menelusuri bumi Bali,  bumi yang selain kesohor dengan pusat pariwisata juga terkenal dengan sebutan God’s  Island alias pulau Dewata.  Di tengah mayoritas penduduknya yang dominan beragama hindu dan kuatnya tradisi masyarakat, sering terlontar pertanyaan, bagaimana Islam di Bali. Apakah Islam hanya menjadi agama pelengkap, agama kaum pinggiran atau  justru menjadi mitra masyarakat Hindu Bali dalam membangun dan mempertahankan identitasnya.  Rentetan pertanyaan tadi sedikit banyak sudah berusaha saya jawab melalui serangkaian tulisan tentang komunitas Islam Bali yang cikal bakalnya telah ada sejak tahun 1500 an era Dalem Ketut Nglesir. Kali ini saya ingin mengajak untuk mencermati realitas kehidupan kaum Muslim di kabupaten Jembrana yang biasa dikenal pula dengan sebutan Negara.

Komunitas muslim Jembrana alias Negara jika dirunut sebenarnya sudah mulai ada menyusul runtuhnya kerajaan Mojopahit oleh penyerangan Demak Islam di tahun 1518. Seiring dengan peristiwa itu,  berbagai kerajaan vassal Majapahit yang semula Hindu akhirnya kian banyak yang mendeklarasikan diri sebagai penganut Islam. Akibat realitas yang menggejalanya para raja menjadi Muslim terutama di tanah Jawa ini,  para tokoh agama,  pejabat negara,  dan atau pangeran  yang tak mau menerima Islam akhirnya pilih mengungsi ke berbagai wilayah lain.  Roro Anteng dan Joko Seger dengan para pengikutnya,  misalkan,  mengungsi ke lereng gunung Bromo,  sehingga anak keturunan mereka kini lebih dikenal sebagai suku Tengger (singkatan dari kata gabungan :  AnTENG dan SeGER).   Namun,  jumlah yang lebih banyak justru memilih meninggalkan Jawa menuju Bali termasuk diantaranya Pangeran Wilis dan Pangeran Sepuh asal Blambangan.  Peristiwa pengungsian pangeran Wilis inilah yang ternyata sekaligus menjadi tonggak awal eksistenti komunitas muslim di tlatah Jembrana.

Kalimat terakhir (barusan) tadi memang terasa agak ganjil,  tetapi jika dirunut dari sejarah pelarian Pangeran Wilis dan eksistensi Pura Dang Kahyangan Majapahit di Jembrana niscaya akan ditemukan Jawabnya. Pura Dang Kahyangan Majapahit  terletak di barat kota Negara, tepatnya di Desa Baluk (dulu masuk Desa Banyubiru). Semula luas pura hanya beberapa are, namun setelah direnovasi sebanyak dua kali  kini luasnya  sekitar 47 are. Sebelum renovasi di areal Pura Majapahit  terdapat pohon beringin besar tepat di sebelah utara pura. Pelinggih saat itu masih satu dan sangat sederhana tepat di bawah pohon beringin tersebut. Setelah direnovasi, pintu masuk yang semula ada di sebelah timur dipindah ke di sebelah barat, sehingga terlihat lebih luas karena setiap tahun jumlah pemedek semakin bertambah. Pura  yang terletak di jalan poros Jawa-Bali  pertama direnovasi tahun 1965 dengan melakukan penebangan pohon beringin tua karena diperkirakan akan merusak bangunan, sedangkan tahun 2006 pemindahan kori dan perluasan pura.

Pura Dang Kahyangan Majapahit saat ini memiliki beberapa pelinggih di antaranya pelinggih Padmasana, Meru Lumpang Lima (stana Batara Majapahit), Gedong 1 Batara Dalem Blambangan, Panglurah (pecalang), Pepelik, Meru Tumpang Tiga (Rambut  Sedana), pelinggih stana Empu Kuturan (penyebar agama Hindu pertama kali di Bali) dan Taksu. Pengempon pura ini terdiri atas empat desa yakni Kaliakah  Kangin dan Kauh, Banyubiru dan Baluk.

Pura ini tergolong unik,  sebab untuk menjaga toleransi terhadap umat sekitar pura yang justru mayoritas muslim, kaum Hindu tidak menyembelih babi dalam setiap upacara di pura. Peraturan ini sudah berlangsung turun temurun dan tidak lepas dari sejarah berdirinya pura yang  pujawalinya jatuh pada Kajeng Kliwon Tumpek Wayang.

Sejarah keberadaan Pura Majapahit ini terkait dengan sejarah Pangeran Wilis dari Blambangan yang merupakan keturunan Majapahit. Sejak kerajaan Hindu di Jawa mulai terdesak oleh Islam, Blambangan juga ikut terdesak.  Banyak pembesar kerajaan Blambangan masuk Islam, kecuali dua orang yang tidak masuk Islam, yakni: Pangeran Wilis dan Pangeran Sepuh. Merasa tidak nyaman dengan lingkungan kerajaan yang para pejabatnya kian  dominan Islam,  kedua pangeran ini memilih pindah ke Bali bersama kerabat dan para pengikutnya sekitar 40 orang.

Sesampai di Bali, kedua pangeran ini datang ke Pura Jati dengan membawa patung sakti sebagai oleh-oleh untuk Raja Jembrana. Karena kelelahan memikulnya, maka  patung sakti itu sementara ditaruh di Lateng, lantas ia menghadap Raja Jembrana. Raja menyambut baik mereka dan menitahkan agar oleh-oleh itu ditaruh di Pura Jembrana.

Kedua pangeran lantas melanjutkan perjalanan untuk menghadap raja Mengwi, karena kerajaan Jembrana saat itu memang berada dalam kedaulatan Mengwi.  Sebelum berangkat keduanya diiringkan Raja Jembrana bersama seorang abdi terdekat raja bernama Pan Tabah yang ditugaskan untuk terus mendampingi pangeran. Kepada kedua pangeran itu raja Jembrana berpesan agar segera  lapor bila di Mengwi mengalami masalah.  Ternyata di Mengwi kedua pangeran ini ditangkap, bahkan Pangeran Sepuh dibunuh,  sementara Pangeran Wilis dan Pan Tabah berhasil  lolos dan kembali ke Jembrana.  Mendengar laporan itu, raja merasa malu karena tak bisa melindungi tamu,  sehingga raja  bunuh diri.

Kematian raja ini dikira sebagai kudeta oleh Pan Tabah sebagai orang terdekat raja (parakan sayang).  Pan Tabah dikejar dan ditangkap keluarga kerajaan,  lantas  diikat seperti babi di sebuah desa di wilayah Tegalcangkring. Karena Pan Tabah diperlakukan seperti Babi (celeng) tempat tersebut hingga kini dinamakan Pecelengan. Sementara Pangeran Wilis yang hendak pulang ke Jawa tidak diperkenankan,  dan  kepadanya diberikan sebidang tanah di  Desa Banyubiru (sekarang Baluk) di bawah pohon beringin besar. Di lokasi inilah Pangeran Wilis dan pengikutnya membangun pemukiman serta sebuah pura yang lantas dikenal sebagai Pura Majapahit.

Hal yang cukup unik adalah bahwa diantara pengikut setia Pangeran Wilis ternyata ada yang sudah memeluk agama Islam sejak di Jawa. Meski beda agama,  tetapi abdi yang beragama Islam itu tetap setia mendampingi tuannya.  Walhasil,  untuk menghormati pengiring setianya itu,  pangeran membangunkan pula sebuah masjid di sebelah barat pura. Mereka itulah  yang akhirnya menjadi cikal bakal komunitas Muslim di wilayah Banyubiru. Dus,  melihat sejarah itu berarti keberadaan umat Islam dan Hindu di wilayah Banyubiru  sama tua asal usulnya.

Kala itu pangeran Wilis bahkan membuat perjanjian tentang toleransi antar umat beragama di lokasi barunya itu,  termasuk bahwa: untuk menghormati umat Islam, dalam setiap persembahyangan di pura tidak diperkenankan menggunakan sarana babi dan cukup diganti dengan  itik. Aturan ini terus diikuti secara turun-temurun,  dan tak ada yang berani melanggarnya hingga kini.

Sampai sebelum tahun 1965, bahkan konon kaum tua di kalangan muslim ikut bergabung bila ada upacara umat Hindu di Pura Majapahit, sekedar sebagai penghormatan.  Nah, agar keberadaannya tidak nganggur alias bengong,  kala itu umat Islam ikut dilibatkan melalui acara mekidung  yakni : Kidung Rengganis (dari Jawa).  Sedangkan umat Hindu berme-Kidung Wargasari.  Namun,  seiring dengan merembesnya kesadaran purifikasi Islam termasuk pada komunitas muslim Banyubiru ini,  maka mereka tidak lagi terlibat dalam persembahyangan. Muhammadiah misalnya,  yang masuk Loloan Barat sejak tahun 1936,  merupakan bagian dari gerakan purifikasi Islam di Jembrana. Namun, perlu dicatat bahwa seiring purifikasi ini,  toleransi tetap ada tetapi dilakukan dengan cara tidak merusak kemurnian aqidah mereka lagi. Walhasil,  sejak itulah Kidung Rengganis yang biasa dikumandangkan umat Islam,  akhirnya tidak dipergunakan lagi. ”Namun demikian,  upacara di Pura Majapahit tetap  tidak diperkenankan menggunakan babi dan diganti dengan itik hingga kini ”,  jelas seorang tokoh Hindu setempat kepada kami.

Karena sejak awal pembentukannya  di sekitar wilayah kompleks pura memang ada umat Islamnya,  maka realitas bahwa pura ini sekarang dikelilingi oleh penduduk mayoritas muslim bukanlah hal yang aneh.  Bahkan, beberapa meter terdapat masjid besar yang juga peninggalan era lama. Namun toleransi di antara mereka tetap terjaga hingga  saat ini. Meski masjid dan pura dewasa ini sama-sama menggunakan pengeras suara misalnya, kedua komunitas tidak merasa berpersoalan. Seperti saat odalan, meski warga di sekitar pura adalah umat muslim, namun mereka menghargai dan tidak merasa terganggu oleh para pemedek yang sedang parkir dalam jumlah besar. Umat Islam tetap melakukan aktivitas ke masjid sebelah barat Pura Majapahit.

Dari  penelusuran sejarah itu tampak bahwa cikal bakal komunitas Islam di Jembrana ternyata sudah sangat tua usianya.  Selain komunitas Muslim era lama di Desa Baluk (dulu masuk Desa Banyubiru) ini,  ada pula kampung muslim  era lama namun berusia agak lebih muda dibanding Banyubiru, yakni:  Kampung  Loloan dan Air Kuning  yang akan saya ulas secara khusus pada tulisan berikutnya.

Kampung-kampung Muslim di Jembrana terus berkembang jumlahnya,  terutama  sejak 1970an seiring dengan ”ditetapkannya”  Bali sebagai wilayah Wisata andalan. Karena sejak itu,  gelombang imigrasi ke pulau ini menjadi sangat luar biasa besar.  Mengingat mayoritas penduduk Indonesia adalah Jawa dan Muslim,  maka  menjadi dengan sendirinya para pendatang baru  mayoritasnya adalah Jawa dan Muslim. Realitas inilah yang menyebabkan pertumbuhan penduduk Bali yang Jawa dan atau Muslim menjadi sangat significan.  Perkembangan terbesar tentu saja terjadi di wilayah-wilayah simpul transportasi.

Jika melalui pintu udara,  Denpasar dan Badung (melalui Bandara I Gusti Ngurah Rai) menjadi pintu gerbang pulau dewata,  tetapi jira melalui laut  maka Jembrana (melalui Gilimanuk) merupakan pintu gerbang.  Oleh karena itu, dapat dipahami jika pertumbuhan penduduk Jawa dan Muslim di wilayah Denpasar, Badung, dan Jembrana jauh lebih pesat di banding di tempat-tempat lain.

Kantong-kantong pemukiman Muslim di Jembrana memang dapat dikatakan berkembang lebih pesat dibanding beberapa wilayah lainnya.  “Jika komunitas Muslim lama terutama terdapat di Loloan dan Air Kuning  (berada pada wilayah selatan jalan utama Jembrana), belakangan sudah banyak pula comunitas muslim di kecamatan-kecamatan lain,  seperti : desa Medewi, Pululan, Pekutatan (Kecamatan  Pekutatan), desa Yeh Sumbul (Kecamatan Mendoyo),  Pengambengan, Cupel, Pabuaan, beberapa enklave baru di Banyu Biru (Kecamatan Negara), Wewidangan (Kecamatan Melaya). Bahkan,  kini  sebagian telah menyeberangi wilayah utara jalan yang semula eksklusif menjadi wilayah umat Hindu. Eksistensi mereka yang relatif baru itu umumnya berada di berbagai kompleks perumahan  yang dibangun pengembang”,  kata Ilham seorang tokoh muslim Jembrana yang berhasil saya temui di kantornya.

Sebenarnya tidak hanya di beberapa daerah yang telah tersebut tadi komunitas Islam berkembang.  Keberadaan komunitas Islam Bali yang lebih kecil (termasuk di Jembrana) sebenarnya telah menyebar luas diantara banjar-banjar Hindu. Bahkan ada yang letaknya di antara balik balik Bukit yang agak sulit mengetahuinya jika tidak ”memburunya”. Namun saat ini kampung-kampung itu dan masyarakat di dalamnya seolah tenggelam oleh hiruk-pikuk perkembangan jaman. Bahkan tidak ada yang tahu kalau mereka sebenarnya hidup dalam kesederhanaan dan kesepian dari cahaya Islam.

Di Jembrana saat ini cukup banyak perkembangan fisik terkait dengan eksistensi kampung Islam dan atau komunitas Muslim.  “Di Negara ada beberapa Pondok Pesantren, satu Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT), 168 tempat ibadah,  54 diantaranya sudah berupa Masjid”,  tambah Ilham yang tak lain Rektor STIT menambahi penjelasan.

Berbekal dari penjelasan pak Ilham tadi,  saya dkk minta diantarkan pak Kadek Syarifudin untuk menelusuri lokasi-lokasi yang dikatakan pak Ilham tadi.  “Orientasi wilayah dulu ya,  pak”,  kata pak Sharif,  “Esuk hari kita baru benar-benar menyinggahi”. ***

DHURORUDIN MASHAD

Foto: Pesantrenstudies.blogspot.com

Iklan

2 responses to this post.

  1. Posted by dara on 27/02/2015 at 11:00 am

    Berbeda tetapi satu

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: