Kampung Islam Loloan dan Air Kuning di Jembrana – Bali : Sebuah Entitas Lama (Tulisan 21)

Hari masih pagi, tetapi sinar mentari sudah terang benderang menyinari bumi. Tetapi di sepagi itu saya dkk sudah sampai di wilayah Loloan,  tempat komunitas Islam yang telah sangat lama keberadaannya.  Sangat tepat jika eksistensi kampung itu disebut sebagai kampung kuno saja.

Sejarah keberadaan komunitas muslim Loloan  merupakan keturunan dari tanah Melayu (Kuala Trengganu) dan kaum Bugis yang sudah beberapa abad  lalu masuk Bali.  Eksistensi mereka ini juga menjadi bukti historis bahwa Islam telah lama masuk di wilayah Jembrana ini.  Hingga kini mereka bertahan dengan agama Islam dan adat-istiadat Melayu. Bahkan,  berbeda dengan komunitas muslim yang juga tergolong kuno di lokasi lainnya yang umumnya memakai bahasa Bali sebagai alat komunikasi seharí-hari,  komunitas di tempat ini ternyata tetap menggunakan bahasa melayu sebagai bahasa keseharian di kalangan mereka.

Daerah Lolohan terbagi menjadi tiga wilayah:  Lolohan Selatan, Timur, dan Barat. Masyarakat setempat biasa menyebut Lolohan Selatan dengan Markesari. Penduduk Markesari 95   persennya  memeluk agama Hindu. Adapun Lolohan Barat dihuni penduduk Muslim dan non Muslim. Dengan perbandingan 50 persen Muslim dan 50 persen lainnya non Muslim, campuran antarai: Hindu, Budha, Kristen dan lainnya

Dengan dibatasi sebuah sungai yang membentang dan atau membelah wilayah,  di sebelah  timur lokasi ini membentang wilayah yang disebut Loloan Timur. “Sungai itu dahulu banyak sekali buayanya”,  kata sesepuh kampung yang sempat kami jumpai. Lolohan Timur adalah sebuah kawasan penduduk di pulau Bali yang hampir 96 persen penduduknya memeluk agama Islam. Lolohan Timur masuk wilayah Negara (baca: Negare), Kabupaten Jembrana, Bali. Tempat ini berada kurang lebih 25 km. dari Pelabuhan Gilimanuk, dan berjarak sekitar 84 km. dari Kota Denpasar. Lolohan Timur merupakan desa yang hijau. Bermacam-macam tanaman tumbuh subur disana.  Penduduk Lolohan Timur sebagian besar bekerja sebagai nelayan yang tidak mencari ikan di laut, tetapi di pengambengan. Pengambengan menyerupai danau kecil yang banyak dihuni ikan.  Pengambengan mungkin lebih tepat disebut rawa.  (Ali Romdhoni,, ”Mengintip Aktifitas Masyarakat Muslim Lolohan Timur Bali”,  AMANAT, Edisi 101/ Agustus 2004).

Di Loloan Timur yang dominan Muslim inilah terdapat beberapa pesantren, termasuk Pondok Pesantren Manbaul Ulum. Usia pesantren ini tergolong paling tua. Pondok ini didirikan KH Ahmad Dahlan (tahun 1935) yang asal-usulnya dari  Semarang. Pondok ini pernah besar dan santrinya mencapai ribuan orang. Namun sejak terjadi gempa tahun 1976, yang meruntuhkan seluruh bangunan pondok, jumlah santri tersisa 11 orang. Selang beberapa waktu dari peristiwa gempa itu,  KH Ahmad Dahlan wafat. Kemudian tampuk pimpinan pondok diteruskan menantunya, KH Zaki Abdurrahman, suami Hj Musyarofah, putri tertua dari istri ke-2 KH Ahmad Dahlan.

Masyarakat Muslim Lolohan timur mendapat perlakukan istimewa termasuk dalam hal mendirikan tempat ibadah. Bagi masyarakat Muslim Bali, mendirikan bangunan rumah ibadah (mushola apalagi masjid) tidaklah mudah. Namun,  khusus untuk Lolohan Timur hal itu tidak lagi menjadi masalah. Khusus daerah ini, mendirikan masjid tidak perlu melalui prosedur yang berbelit-belit sebagai mana yang terjadi di daerah lainnya.

Hingga sekarang, Loloan dikenal sebagai daerah muslim terbesar di Bali. Menariknya, peninggalan Islam tersebut masih terpelihara dengan baik. Seperti prasasti dari ukiran kayu dan Al-Qur’an hasil tulisan tangan yang saat ini disimpan di Masjid Jami’ Baitul Qadim, Loloan Timur. Al Qur’an dan ukiran kayu yang berusia lebih dari dua ratus tahun, berbunyi, Hijrah Nabi S.A.W 1268 tahun Wau (arab) kepada tahun Ha (Arab) sehari bulan Zulhijah hari Senin.  Masjid di Loloan Timur usianya juga sama tuanya dengan keberadaan masyarakatnya.  Hanya saja bangunannya sama sekali sudah tidak meninggalkan bekas-bekas aslinya,  karena semua sudah dirubuhkan diganti total dengan bangunan modern.  ”Namun,  beberapa sisa kayu belandar masih tersimpan di lantai dua”,  kata seorang pengurus masjid yang saya temui,  sekaligus mengantarkan ke atas untuk menunjukkan sisa-sisa kayu blandar yang ada.

”Tapi apalah artinya sisa onggokan kayu yang digeletakkan begitu saja.  Pasti tak akan lama lagi  kayu itu akan terbuang juga”,  kata hatiku menyayangkan pembongkaran ini.  Sekali lagi,  inilah bukti bahwa bangsa kita dimanapun lokasinya, apapun pangkat dan derajadnya,  rakyat ataupun pejabat,  tampak  kurang  menghargai segala hal berbau sejarah. Mereka umumnya silau terhadap imitasi kemodernan termasuk dalam segi bangunan. Hanya ketika mereka melancong ke mancanegara dan memperhatikan bangunan-bangunan kuno yang terawat baik,  mereka berdecak kagum tanpa kesadaran mendalam untuk merawat koleksi sejarah yang ada di negaranya.

Selain Loloan,  saya dkk diantarkan pula ke komunitas Muslim tua lainnya yakni di Desa Air Kuning. Desa Air Kuning ini bersebelahan dengan Desa Yeh Kuning yang juga berarti air kuning.  Bedanya, jika Air Kuning komunitas penghuninya adalah muslim,  maka Yeh Kuning ditempati oleh komunitas Hindu. Pada masa perjuangan 1945 desa Air Kuning ini dijadikan tempat persinggahan pejuang yang tergabung dalam Pasukan Sunda Kecil yang dipimpin Kol (Anumerta) I Gusti Ngurah Rai, yang sekarang namanya diabadikan sebagai nama Bandara Internasional di Bali.

Komunitas Muslim Loloan dan Air Kuning di Jembrana alias Jimbarwana ini yang pertama ada  berasal dari Bugis. Mereka datang  dalam dua tahap, pertama tahun 1653-1655,  dan kedua tahun 1660-1661 menyusul berakhirnya perang Makasar antara kerajaan Gowa vs.  VOC.  Kaum Bugis/Makasar ini umumnya merupakan pelarian   menyusul perjanjian Bungaya setelah kekalahan Gowa oleh Belanda.  Kaum pelarian ini  sempat beberapa kali pindah tempat,  sebab mereka memang  dikejar-kejar Belanda.  Mereka nomaden di   sekitar  daerah pantai timur dan utara Sumatera, pantai barat dan selatan Kalimantan (disebut orang Bugis Pegatan),  Jawa Barat (Banten),  Pasuruan (Jawa Timur),  dan terakhir Badung  dan Air Kuning -Jembrana (Bali).

Pelarian asal Sulawesi Selatan itu memang terus dikejar-kejar serdadu VOC (pasukan Spelman) dan Arung Palaka karena sebagian perahu sisa sekuadron Bugis/Makassar itu masih memiliki senjata meriam.  Kala itu VOC kepada masyarakat sengaja membangun image negatif bahwa kaum pelarian itu adalah perompak,  karena mereka memang kerap melakukan serangan terhadap kapal-kapal VOC. Bahkan,  setelah Makassar jatuh di tahun 1667 Belanda membuat sayembara bahwa siapapun yang dapat menangkap sekuadron perahu-perahu keturunan sultan Wajo (berjumlah 4 buah) yang disebut Iinun  alias perompak ini akan diberi hadiah sepuluh ribu ringgit.

Sebelum ke Bali pelarian dari Gowa itu sempat bersembunyi di teluk Panggang Blambangan,  dan bertahan hidup sebagai nelayan. Sebagian dari mereka berikutnya kemudian pindah ke Buleleng (pantai Lingga),  namun ada pula yang ke Jembrana. Kala itu, baik Blambangan maupun Jembrana memang berada di bawah pengaruh kekuasaan Buleleng.  Daeng Nachoda  misalnya,  tertarik untuk pindah ke Jembrana tahun 1669.  Semula mereka mendarat di Air Kuning dan memasuki Kuala Perancak,  serta tinggal untuk sementara di lokasi yang disebut kampung Bali. Peninggalannya sampai kini masih ada berupa sumur yang jernih, yang oleh warga disebut sumur Bajo.  Akhirnya mereka diberi ijin penguasa Jembrana, yakni marga Arya Pancoran (Gusti Ngurah Pancoran),  untuk menetap. Tempat  mereka itu kini dikenal sebagai  pelabuhan Bandar Pancoran (pelabuhan lama di Loloan Barat) (Saleh Saidi & Yahya Anshori (eds), Sejarah Keberadaan Umat Islam di Bali,  Denpasar: MUI, 2002.)..

Eksistensi kaum pengungsi ini dalam kenyataannya tidak menjadi beban melainkan justru menjadi berkah bagi Jembrana dan wilayah-wilayah Bali lainnya.  Untuk di wilayah lain,  saya telah menguraikan bahwa mereka akhirnya menjadi kekuatan keamanan utama.  Khusus untuk di Jembrana ada manfaat khusus yang didapatkannya, yakni: masyarakat muslim asal Sulawesi Selatan itu akhirnya berhasil membangun simpul ekonomi baru berupa pelabuhan.

Berkat  perahu-perahu pedagang jelmaan sekuadron keturunan Sultan Wajo itu,  Jembrana  akhirnya menjadi wilayah yang tak lagi terisolir dari dunia luar. Realitas ini menyebabkan hubungan antara kaum Bugis/Makasar  dan keraton menjadi akrab.  Apalagi,  Daeng Nachoda dan penembak-penembak meriam Bugis/Makasar ini akhirnya menjadi tulang punggung kekuatan Jembrana,  terutama ketika I Gusti Ngurah Panji Sakti (1660) raja Den Bukit,  Singaraja (Buleleng)  menyerang  Jembrana. Jembrana memang kalah,  dan menjadi kerajaan vasal  Buleleng,  namun dukungan kaum Muslim ini tetap tertancap kuat dalam benak keraton.

Di era penguasaan Buleleng ini,  kaum Muslim memanfaatkan situasi untuk memperlebar jaringan dagang sekaligus penyebaran Islam.  Daeng Nachoda dan anak buahnya misalkan,  utuk memperlebar sayap perniagaan ke Buleleng,  sekaligus untuk menyebarkan Islam.  Perahu-perahu yang mereka miliki dijadikan penghubung logistik (perekononian) yang penting antara Buleleng-Jembrana.  Walhasil, meski secara politik berada di bawah kekuasaan Buleleng,  tetapi Jembrana  kala itu justru berkembang maju terutama dalam konteks pelabuhan dan atau perniagaan.

Ketika  I Gusti Ngurah Panji Sakti (raja Buleleng) melepaskan pengaruh  kekuasaannya atas Blambangan,  sehingga  dilepaskan pula pengaruhnya atas Jembrana yang kala itu di bawah kendali Dhalem Dewa Agung Jambe (yang sangat fanatik Hindu bahkan feodalistik).   Kala itulah raja Mengwi mengambil alih Jembrana,  mengingat Mengwi memang ikut  berjasa dalam penaklukan Blambangan.  Apalagi  raja Mengwi  adalah pula ipar Panji Sakti sendiri.

Tahun 1697 terjadi banjir bandang,  Sungai Ijo Gading meluap,  menghancurkan keraton Brambang (pusat kerajaan Jembrana) termasuk keluarga raja I Gusti Ngurah Putu Tapa dan rakyatnya. Meski ikut keterjang banjir,  tetapi perkampungan Bugis di Bandar Pancoran selamat. Wakil Raja (I Gusti Ngurah Made Yasa)  juga selamat, karena kala banjir bandang ia sedang  berkunjung ke Mengwi untuk mengundang Ngeluwur (Pengabenan Besar).  Mengwi sebagai negara ”atasan” membantu patih untuk membangun kembali kerajaan Jembrana,  yang akhirnya dipindahkan dari Brambang ke Jembrana.  Ketika membangun istana yang diberi nama Jero Andol ini kaum ”pelarian” asal Blambangan yang terdesak oleh perkembangan Islam ikut membantu juga.

I Gusti Ngurah Putu Yasa ”dinilai” tak mampu memimpin negeri, oleh karena itu akhirnya diambilkan raja pengganti, yakni  putra bungsu raja Mengwi I Gusti Agung Alit Takmung dengan gelar Anak Agung Ngurah Jembrana. Namun raja baru ini masih kecil,  sehingga ia  didampingi ibu (I Gusti Ayu Ler Pacekan) dan kakeknya ( I Gusti Ngurah Takmung) sebagai patih yang membangun puri Jeroan Pasekan.  Khusus kepada keluarga Marga Arya Pancoran (penguasa lama) diberi jabatan sebagai kepala pasukan perang dengan dibantu Arya Bengkel dan Arya Kelaladian yang datang dari Mengwi bersama raja.  Umat Islam Jembrana menjadi inti dalam pasukan Marga Arya Pancoran ini.

Kala itu para Arya dan umat Islam hidup rukun,  dan Jembrana mencapai puncak kemasyhuran, terutama berkat  pelayaran perdagangan kaum Bugis hingga ke Palembang. Bandar Pancoran menjadi pelabuhan perniagaan, di tengah realitas Jembrana yang masih tertutup hutan belantara..  Oleh karena itu,  perahu-perahu Bugis pun membawa kuda dari  Sumbawa untuk keperluan transportasi darat di Jembrana.

Di era raja ketiga (Anak Agung Putu Handul),  yakni putra I Gusti Agung Lebar,  kerajaan Jembrana diserang raja Cokorde Tabanan. Namun, serangan ini berhasil dihadang pasukan dan atau para pendekar Islam.  Tahun 1670 Raja Badung, Cokorde Pemecutan juga menyerang dari arah selatan desa Perancak,  tetapi juga gagal karena banyak yang dimakan buaya.

Ketika Anak Agung Putu Handul digantikan  putranya,  Anak Agung Putu Sloka (sebagai raja keempat) dan adiknya Anak Agung Nyoman Madangan (wakil raja)  perlakuan kerajaan terhadap umat Islam kian baik.  Bahkan, untuk kian mendekatkan diri dengan komunitas Islam,  maka di tahun 1798 raja membangun  puri baru di sebelah utara Bandar perkampungan Islam,  di sebelah barat sungai Ijo Gading,  yang diberi nama Negeri (Negara). Di era itulah  datang lagi beberapa perahu dari Sulawesi Selatan serta  minta ijin tinggal di Air Kuning.  Mereka dipimpin para mubaligh seperti : H. Sihabuddin dan  H. Yasin (Bugis asal Buleleng), Tuan Lebai (Melayu asal Serawak) dan Datuk Guru Syekh (0rang arab).

Selain perahu Bugis,  datang juga iring-iringan perahu pimpinan Syarif Abdullah Al Qodri yang tak lain  adik Sultan Pontianak Syarif Abdurrahman Al Qodery.  Kala itu Sultan Pontianak takluk pada Belanda  (1799). Karena,  sang adik  (Syarif Abdullah Al Qodery) tidak terima  realitas itu,  ia meneruskan perlawanan di Lautan,  serta berpetualag dengan membawa sekuadron bersenjata meriam. Satu perahu menetap di Lombok Timur,  sisanya sampai di Air Kuning Jembrana.  Syarif Abdullah Al Qodri mengadakan kesepakatan dengan umat Islam di Jembrana. Ketika menyusuri  Sungai Ijo  Gading ke utara menuju Shah Bandar,  Syarif Abdullah memberi aba-aba pada anak buah dengan bahasa kalimantan Liloan (tikungan),  sehingga kampung di sekitarnya lantas diberi nama Loloan hingga sekarang.

Dua ekspedisi (Bugis dan Pontianak) tadi merupakan gelombang kedua kedatangan Islam di Jembrana. Kedatangan dua kelompok muslim ini disambut baik raja.  Ada alasan mendasar kenapa dua kelompok umat Islam ini diterima dengan tangan terbuka: Pertama,  eksistensi umat Islam di Jembrana yang telah ada ternyata mampu menjalin hubungan baik dengan komunitas Hindu.   Kedua,  umat Islam yang telah ada di Jembrana terbukti mampu menjadi tenaga pasukan yang sangat diandalkan serta mempunyai loyalitas tinggi.  Terbukti,  ketika keraton Jembrana hancur dan keluarga raja tumpas oleh banjir bandang,  komunitas Islam tak lantas membangun sebuah kerajaan tersendiri.  Mereka bahkan membantu pembentukan keraton baru yang dilakukan Patih atas bantuan raja Mengwi. Ketiga,  kenyataannya umat Islam memiliki jasa luar biasa dalam pengembangan pelabuhan perniagaan yang memiliki pengaruh sangat positif bagi kemajuan kerajaan. Keempat, kala itu Blambangan telah dikuasi Belanda,  sehingga dapat mengancam pula keamanan bahkan masa depan Jembrana.  Walhasil,  kehadiran para pelarian asal Kalimantan dan Sulawesi yang semuanya bekas pasukan kerajaan ini tentu dapat menampah kekuatan kerajaan.

Menurut aturan kerajaan seluruh meriam sebenarnya harus diserahkan ke raja,  seperti telah dilakukan kaum Bugis yang telah datang duluan pasca perang Makasar.  Tetapi,  Syarif Abdullah menawarkan  cara lain,  yakni:  meriam tetap dikuasai sendiri, tetapi akan digunakan untuk membela Jembrana. Kesepakatan dicapai dan kepada kaum Islam asal Kalimantan ini dipersilahkan tinggal di kanan kiri tebing sungai Loloan seluas 80 hektar.  Lokasinya ada di sebelah utara Bandar Pancoran.

Syarif Abdullah membuat  perkampungan darurat di sebelah timur sungai yang kini disebut Loloan Timur. Perahu perang yang dimiliki diubah menjadi kapal perniagaan,  bahkan akhirnya menjelajah hingga Singapura. Kala itu Loloan Timur dan Loloan Barat akhirnya menjadi desa administratif konsesi untuk umat Islam di Jembrana. Sedangkan,  desa administratif yang berbentuk desa adat Hindu adalah desa Mertasari, Lelaleng, Banjar Tengah, dan Baler Bale Ageng.  Loloan Barat  dan Timur akhirnya  menarik minat umat Islam dari Jawa dan Madura untuk ikut menetap.

Seiring dengan adanya komunitas Islam yang baru tadi,  Jembrana kian mengalami kemajuan terutama dalam perekonomian.  Raja Buleleng (Anak Agung Gde Karangasem) tertarik pada kemakmuran Jembrana,  sehingga di tahun 1828 Buleleng menyerang:  ingin menaklukkan Jembrana untuk kedua kalinya.   Raja Jembrana, Anak Agung Putu Seloka dan adiknya (yang tak lain wakil raja) diungsikan dengan perahu Bugis ke Banyuwangi. Pada penyerangan pertama,  pasukan Jembrana yang diperkuat pasukan Bugis-Pontianak ini berhasil mengalahkan Buleleng,  bahkan panglima Buleleng Anak Agung Gde Karang tewas.  Namun, pada penyerangan yang kedua,   pasukan Jembrana dapat dikalahkan,  meskipun perang gerilya tetap berlanjut (Saleh Saidi & Yahya Anshori (eds), Sejarah Keberadaan Umat Islam di Bali,  Denpasar: MUI, 2002.)..

Umat Islam Jembrana kembali memperlihatkan kesetiaan,  tetap memegang teguh janji persahabatan dengan kerajaan Jembrana. Terbukti, meskipun sampai tahun 1832 selama 4 tahun ada kekosongan  (karena raja dan wakil raja mengungsi),  umat Islam tak lantas melepaskan diri (apalagi mengambil alih kekuasaan)  dari Jembrana.  Mereka bahkan terus membantu rakyat Hindu yang susah karena perang. Baru pada tahun  1835 terjadi kesepakatan damai antara Jembrana – Buleleng,  menyusul penguasaan Buleleng atas Jembrana untuk kedua kalinya. Intinya: raja Jembrana tetap diberi hak memerintah,  tetapi dibawah pengaruh/supremasi Buleleng.

Di era ini hubungan harmonis umat Islam-Hindu (termasuk dengan kerajaan) tetap berlanjut. Itulah realitas seluk beluk Kerajaan Jembrana (Negara) yang sangat erat hubungannya dengan umat Islam. Hingga kini panji-panji Islam bertuliskan kalimat “La Illaha Ilallah” misalnya,  masih disimpan di Puri Negara, sebagai penghargaan atas perjuangan pengikut Syekh Syarif Al Qodri (pemuka Islam) menghadang serangan dari kerajaan lain

Kebersamaan kaum Hindu dengan komunitas lama kampung Islam ini juga terjalin hingga pada sektor sosial dan ekonomi. Orang Islam ada yang menggarap tanah pemeluk agama Hindu, begitu juga sebaliknya. Bahkan,  diantara dua komunitas juga terbangun sebuah akulturasi.  Bentuk lain akulturasi umat Islam dengan masyarakat Hindu  di lokasi ini dapat dilihat melalui kesenian Rebana. Kesenian ini dimainkan oleh beberapa orang yang semuanya mahir memainkan Rebana besar. Lirik dan syairnya bernafaskan Islam menggunakan bahasa Arab ataupun bahasa Melayu. Namun, agar mudah diterima masyarakat sekitar, para seniman Rebana ini mengaransemen lagu-lagu yang mereka mainkan dengan irama khas Bali. Dengan begitu, masyarakat akan lebih menyukai kesenian ini dan makna syiar yang menjadi tujuan utama dapat tersampaikan dengan efektif. ***

DHURORUDIN MASHAD

Gambar AlQur’an Kuno di Masjid Baitul Qodim Loloan : Qur’annusantara.blogspot.com

2 responses to this post.

  1. Posted by Hasan bin abud bin abdulqadir algadri. on 24/12/2014 at 9:52 pm

    hmmmm cerita sejarah yg menarik….dan tertulis sejarah, hanya saja ada kesalahan penyebutan,, sultan pontianak pertama bernama syarif abdulrahman bin hb hussain algadri. sedangkan syarif tua bernama syarif abdulloh bin yahya algadri,,,kerabat benar….adik beradik tidak tepat,,,hanya saja cerita diatas benar,,,adik sultan pontianak yg keluar dari negri pontianak karna ketidak setujuan nya pada perjanjian damai sultan usman bin sultan syarif abdulrahman pada pihak belanda (tahluk) menyebabkan adik beliau yg bernama syarif abu bakar bin hb husain algadri tuan besar negri mempawah keluar dan melanjutkan peperangan di laut dan berpindah pindah dari negri satu ke negri lain nya….sepak terjang beliau membuat beliau terkenal dgn gelar pangeran laksamana tua (harimau wakkar) dan di negri natuna pulau sembilan ranai beliau di gelari tuan ku ncek panglime ribut…beliau memiliki salah seorang anak yg beliau beri nama sayid yussuf (ranai pulau sembilan)…dari sini lah nasab al waliyulloh shohibul loloan al habib syarif tua abdulloh bin yahya bin Yusuf bin abu bakar bin habib hussain algadri (mempawah) keturunan beliau masih ada di loloan negare bali….banyuwangi…ranai natuna…kuching sarawak…juga di mempawah -sungai pinyuh kalbar. trimaksih telah mengangkat cerita tersebut, syarif tua adalah ulama yg berjasa menyebarkan agama islam di kampung melayu loloan negare BALI.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: