Konflik Hindu – Muslim Jembrana Era Kolonial Belanda: Tragedi yang Tak Perlu Terulang (Tulisan 22)

Sore hari.  Mentari telah condong ke arah Barat.  Pak Syarif mengajak kami mengunjungi pelabuhan ikan yang armada kapalnya sebagian besar dimiliki juragan nelayan muslim.  “Kapal-kapal ini harganya satu diatas seratus juta lho”,  kata  nelayan yang sempat saya temui,  “tetapi dalam beberapa pelayaran,  jumlah itu akan segera terbayarkan oleh hasil tangkapan ikan. Sebab,  sekali  melaut selama seminggu, jika sedang beruntung kita bisa mendapat untung 30 jutaaan ”. Para juragan kapal ini bahkan ada yang memiliki beberapa kapal.  Bahkan,  ”H. Dahlan (?),  sampai mewakafkan salah satu kapal agar hasilnya dipakai untuk keperluan operasional masjid di Loloan”,  jelas pengurus masjid di Loloan Timur.    Subhanallah.  Itulah kontribusi ekonomi secara luar biasa bagi Jembrana dari para nelayan yang umumnya memiliki darah Bugis/Makasar ini.

Secara historis komunitas muslim lama memang punya hubungan saling ketergantungan (saling dukung) secara kokoh,  terutama pada era konflik antar  kerajaan Bali di masa silam.  Sejarah klasik hubungan erat antar di keraton Negara (Jembrana) dengan komunitas muslim Loloan dan Air Kuning merupakan contoh harmoni yang luar biasa. Betapapun kecil kuantitas masyarakat Islam Bali, tetapi ralitasnya mereka telah ikut mewarnai khazanah kebudayaan Bali. Bahkan,  dalam wujud agak ekstrim pengakuan eksistensi masyarakat Islam oleh masyarakat Hindu ada yang sampai teraktualisasi dalam wujud pendirian tempat pemujaan (pura) yang melarang disajikannya hal-hal yang dilarang Islam,  seperti : Banten yang mengandung Babi.

Sebaliknya,  kaum Muslim Bali yang berinteraksi dengan Hindu secara mendalam, pada perkembangan dipengaruhi pula oleh unsur-unsur kultur komunitas Hindu. Bagaimana wujud dari unsur ”kaum Hindu” mempengaruhi kultur Muslim Bali ? “Pembauran itu misalnya terlihat dari lembaga adat yang tumbuh di masyarakat muslim Bali sama dengan lembaga adat masyarakat Hindu. Sistem pengairan Subak, pola pengaturan air yang dilakukan petani Hindu misalnya, dilakukan juga oleh petani Muslim, meski cara mensyukuri saat panen berbeda, sesuai kepercayaan dan agama yang dianut”, kata H. Olong Ibrahim,  seorang Muslim asli Banyubiru-Jembrana. Kaum Muslim du daerah ujung barat Pulau Bali itu (seperti Yeh Sumbul, Medewi, Pekutatan, dan Yeh Santang), menerapkan sistem pengairan Subak secara teratur seperti umumnya dilakukan petani Pulau Dewata.

Di tengah harmoni hubungan Muslim – Hindu di kampung-kampung Islam lama tadi,  Belanda yang telah menguasai Blambangan  berusaha menaklukkan Bali.  Pada 8 Juni 1848 Belanda menyerang Buleleng (Singaraja) yang kala itu menjadi kerajaan “atasan”  Jembrana (Negara) yang memang telah ditaklukkan” patih Buleleng, I Gusti Ketut Jelantik.  Walhasil, Jembrana (Negara) yang kala itu dipimpin Anak Agung Putu Ngurah tentu saja ikut mengirimkan pasukan di bawah pimpinan Pan Kelap. Kepala perang Jembrana Anak Agung Made Rai juga memperkuat pertahanan kerajaan Jembrana. Mengwi dan Karangasem ternyata ikut pula mengirimkan bala bantuan, mengingat Belanda dianggap sebagai musuh bersama.  Kaum Muslim Jembrana juga tidak ketinggalan untuk mengirim pasukan. Pasukan-pasukan Islam di benteng Fatimah meski kala itu sedang sibuk membangun masjid pertama di Loloan Timur, namun segenap rakyat Muslim tetap diperintahkan siap untuk perang melawan Belanda.

Walhasil,  dengan bersatunya kekuatan beberapa kerajaan yang juga didukung kekuatan Islam,   pasukan Belanda dapat dipukul mundur dan sisa-sia pasukannya kembali ke kapal. Namun, tahun berikutnya tepatnya April 1849,  Belanda menyerang Buleleng lagi dengan beda strategi.   Pasukan Buleleng banyak korban, dan Patih Gusti Ketut Jelantik  menyuruh mundur pasukannya.  Pasukan Pan Kelap bantuan Jembrana  yang dipusatkan di benteng Jagaraga juga berhasil di kalahkan Belanda. Sejak itulah Bali (Buleleng-Jembrana) takluk pada pemerintahan Hindia Belanda (Saleh Saidi & Yahya Anshori (eds), Sejarah Keberadaan Umat Islam di Bali,  Denpasar: MUI, 2002).

Apapun hasil dari peperangan,  yang pasti sejarah telah mencatat bahwa secara historis umat Hindu – Muslim memperlihatkan kerjasama dalam banyak hal,  termasuk ketika melawan penjajah.  Bahkan, selama perang kemerdekaan pun realitas kerjasama tetap tampak kental. Pada masa perjuangan 1945 misalnya,  Desa Air Kuning yang penduduknya Muslim bahkan dijadikan tempat persinggahan pejuang yang tergabung dalam Pasukan Sunda Kecil yang dipimpin Kol (Anumerta) I Gusti Ngurah Rai.

Memang,  dalam catatan sejarah pernah terjadi konflik antara komunitas muslim Loloan vs. sebagian elit Hindu di Jembrana.  Tetapi jika dicermati hal itu terjadi bukan murni akibat sentimen keagamaan,  tetapi lebih disebabkan oleh kebijakan politik yang kurang aspiratif pada masyarakat. Terbukti,  sebagian elit kerajaan Jembrana justru bekerjasama dengan umat Islam dalam kemelut ini. Konflik bermula ketika ada ulama Jawa melakukan jasa pengobatan.  Mungkin karena banyaknya warga yang berhasil disembuhkan,   tanpa dipungut biaya pengobatan,  sehingga banyak kaum Hindu tertarik masuk Islam. Kaum mualaf ini terutama banyak dijumpai di pedesaan pantai Ketapang Kombing.  Bahkan,  Ketapang Kombing sendiri diambil dari asal kata orang mebading yang artinya kaum Hindu Bali beralih menjadi Muslim.

Perlu dicatat bahwa pada tahun 1850 Belanda mengadakan sensus. Hasilnya adalah di Jembarana terdapat: 15 desa dengan komunitas Hindu,  sedangkan  6 desa lainnya berpenduduk kaum muslim,  antara lain: Loloan Barat, Loloan Timur,Air kuning, Banyubiru (Yeh Anakan), Cupel, dan Pengambengan.  Mengingat jumlah Muslim ternyata sangat signifikan,  maka pemerintah kolonial Belanda membentuk Raad van Keracht (pengadilan)  khusus di bidang Agama dan Hukum adat yang menyangkut bukan hanya untuk Hindu tetapi juga untuk umat Islam.  Kala itu   diputuskanlah adanya: Ida Pedanda Agung yang menangani umat Hindu Bali dan seorang penghulu untuk menangani Umat Islam.

Di era kolonial ini kerajaan Jembrana  menjadi regenschap di bawah residensi Banyuwangi. Kala itulah  beberapa ulama Jawa datang melakukan pengobatan gratis.  Karena jasa sosial itulah akibatnya banyak rakyat jelata (kalangan sudra atau Jaba) tertarik untuk masuk Islam,  terutama di pedesaan pantai Ketapang Kombing.

Raja Anak Agung Putu Ngurah  (di Puri Agung Negara) secara halus melarang kaum Hindu masuk Islam,  dengan meminjam tangan Ida Pedanda Agung.  Kebetulan pada saat itu,  kerajaan sendiri,  juga sedang mengalami friksi internal akibat Raja memiliki tabiat buruk dan otoriter.  Banyak pejabat kecewa kepada raja, sehingga mereka  kembali ke Puri Gde Jembrana.

Kala itu akhirnya terbangun dua kekuatan yang saling berhadap-hadapan.  Kubu pertama, Wakil Raja Jembrana , Ida Anak Agung Putu Raka dengan tentara I Gusti Agung Made Rai dan seluruh Ksatrya yang pro raja.  Kubu Kedua, kelompok anti raja,  terdiri  Punggawa Jembrana I Gusti Ngurah Made Pasekan yang sejak lama bersahabat dengan Syarif Abdullah bin Yahya Al Qodry serta Prajurit Pan Kelab. Ketika Made Pasekan (Jembrana) ditanya kenapa kelompoknya pro Muslim dia menjawab:  kami bersepakat bersama ingin hidup damai meski dengan orang Islam.  Pasekan sama sekali tak berhasrat mengubah pemerintahan (menjadi Islam), tetapi menentang kesewenang-wenangan.

Tingkah laku raja yang buruk sebenarnya telah dilapurkan ke Gubernur Jendral melalui surat Gugatan kepada Komisaris Hindia Belanda,  13 Oktober 1855 No. 85 di Residen Banyuwangi.  Karena penguasan Belanda tak kunjung memberikan tanggapan,  akhirnya tanggal 2 Desember 1855 meletus perang antara dua kubu. Meriam-meriam Syarif tua dari benteng Fatimah di Loloan Timur dan meriam-meriam Pan Kelab menyalak.  Sedangkan, pihak kerajaan menyalakkan meriam yang semula milik pasukan Bugis/Makasar yang dahulu telah diserahkan kepada raja.

Meski jumlah pasukan Muslim sangat kecil dengan satu banding tiga dibanding pasukan kerajaan,   tetapi karena mendapat dukungan dari rakyat jelata (termasuk umat Hindu yang muak pada kebijakan arogansi raja) akhirnya kelompok anti raja berhasil unggul.  Adik I Gusti Agung Made Rai tewas. Puri Gde Jembrana berhasil ditaklukkan.  Raja  Anak Agung Putu Raka dan wakil raja yang menjadi pendukungnya mengungsi ke Negara,  bergabung dengan Raja Anak Agug Putu Ngurah. Oleh karena itu,  Negara pun akhirnya dikepung pasukan Islam.

Syarif Tua kala memberi ultimatum. ”Maaf tuanku yang mulia,  anda telah diambang pintu keruntuhan.  Sesungguhnya kami terlarang membunuh orang yang menyerah. Kami mengangkat senjata bukan hendak merebut kekuasaan,  tetapi  kami  akan menyebarkan agama sambil berniaga dan menolak sekeras-kerasnya perbuatan dzalim yang menghambat agama kami”.

Walhasil,  raja akhirnya takluk, lantas dipersilahkan meninggalkan puri Negara menuju Buleleng dan menyusul pula Anak Agung Made Rai. Raja Jembrana lantas menyerahkan diri kepada pemerintah Gubernur Hindia Belanda, sebagaimana tercatat dalam buku Raad van Bestuur Oost Indische Gouverment (Saleh Saidi & Yahya Anshori (eds), Sejarah Keberadaan Umat Islam di Bali,  Denpasar: MUI, 2002.). Sedangkan,  Jembrana akhirnya dipimpin  I Gusti Made Pasekan,  dimana masa itu menjadi era keemasan perkembangan Islam dan perniagaan sekitar bandar Loloan. Islam akhirnya meluas hingga ke Tegal Badeng, Rening, dan Pabuahan. Muslim di Air Kuning membuka hutan di Air Sumbul. Juga dibuat jalan menghubungkan Jembrana – Loloan Timur,  sehingga benteng Fatimah terpaksa harus dibongkar karena kena jalur jalan.

Hubungan Muslim – elit Hindu kembali harmonis. Namun, Pasekan sempat juga melakukan kesalahan fatal terhadap umat Islam. Kesalahan itu antara lain : Pertama, Menghancurkan dan merampas isi kapal persahabatan yang diutus Sultan Sumbawa karena raja mengira Putu Ngurah yang masih berkuasa.  Kedua,  raja memerintahkan untuk menghancrukan kapal bahkan membunuh seluruh awak.  Tragedi ini terutama disulut oleh keengganan para utusan yang beragama Islam itu untuk menghaturkan sembah sebagai tanda hormat.

Menyusul pembantaian sadis ini  keluarga raja terserang penyakit, sehingga raja berinisiatif baha: utusan sultan Sumbawa itu dibuatkan rumah keramat di tepi sungai desa Perancak.  Namun,  pembantaian terhadap umat Islam asal Sumbawa atas perintah raja Jembrana ini  tetap menimbulkan rasa terhina bagi umat Islam Jembrana,  karena mereka meski beda daerah tetapi tetap merasa sebagai saudara seagama. Oleh sebab itu, Pemekel Mustika (tokoh Islam suku Bugis) Jembrana kirim surat pengaduan ke residen Belanda di Banyuwangi. Akibat pengaduan itu,  ditambah kesalahan lain dimana  Raja menyewakan tanah 20.000 bau kepada Demay Van Derwen tanpa ijin pemerintah (bahkan punggawanya sendiri)  akhirnya  raja  Pasekan ditangkap lantas diasingkan ke Banyumas.

Di tengah kekosongan kekuasaan ini  wakil rakyat Hindu (I wayan Ucap) dan wakil Islam (Pembekel Mustika)  datang ke Buleleng. Namun, di tengah perjalanan keduanya bertemu I Gusti Agung Made Rai,   yang kepadanya lantas diminta menjadi raja  Jembrana.  Peristiwa ini kembali memberi bukti tentang loyalitas komunitas Islam Jembrana yang tidak menginginkan diri untuk tampil sebagai komunitas terpisah, melainkan tetap berkehendak hidup dalam sebuah pemerintahan yang dipimpin  raja Hindu yang memiliki prinsip keadilan untuk semua. Berbekal pengalaman kelabu masa lalu,  raja baru Rai memerintah Jembrana secara adil hingga 1906 (Saleh Saidi & Yahya Anshori (eds), Sejarah Keberadaan Umat Islam di Bali,  Denpasar: MUI, 2002.)..

Itulah sejarah kelabu konflik Hindu – Muslim yang pernah terjadi,  yang sangat tidak diharapkan untuk terjadi kembali di masa lainnya lagi. Kini komunitas Muslim memang tersebar di banyak lokasi di Jembrana dengan segala profesi yang digelutinya.  Di Loloan Timur penduduknya kebanyakan berprofesi sebagai:  nelayan, petani, pedagang,  dan kusir dokar.  Adapun penduduk Loloan Barat umumnya bekerja sebagai: nelayan, pedagang,  pertukangan, pegawai, buruh,  kerajinan tangan, pembuat roti, bengkel,  petani sawah dan  kebon kelapa,  serta penarik dokar.  Sementara itu penduduk Desa Pengambengan  mayoritas bekerja sebagai:  nelayan, petani kelapa, buruh, pedagang.  Penduduk Desa Tegal Badeng Islam umumnya bekerja sebagai: petani kelapa, nelayan.  Sementara penduduk Cupel kebanyakan: petani kelapa dan  nelayan. Untuk kampung Tukadaya penduduk muslimnya : terutama petani kelapa dan sawah.  Sedangkan di Banyubiru kebanyakan:  petani kelapa dan  nelayan. Adapun di Tuwed kebanyakan : petani kelapa, nelayan.  Candi Kusuma-Melaya : nelayan, petani kelapa.  Melaya: nelayan, petani kelapa, pedagang. Untuk Sumbersari penduduk muslim berprofesi petani kelapa, buruh. Sedangkan di Klatakan: petani kelapa, buruh.  Untuk daerah Air Kuning mereka menjadi : petani kelapa, nelayan.  Adapun Sumbul dan Pekutatan umumnya: nelayan, buruh, pedagang.

Terkait dengan sisi historis tadi,  maka dapat dipahami jika hubungan antar dua komunitas  sampai kini terhitung cukup harmoni, terutama dalam soal agama dan budaya. Hanya saja persoalan-persoalan baru bernuansa ekonomi acapkali  bermetamorfosis alias dieksploitasi menjadi problem dalam hubungan sosial budaya. Problem itupun umumnya bukan terjadi antara komunitas muslim lama vs. Hindu,  melainkan dengan muslim pendatang baru (sejak era industrialisasi pariwisata di Bali tahun 1970 an).  Namun,  soal ini acapkali disalahmengertikan juga menjadi problem umum : komunitas Hindu vs. Muslim. Karena pendatang baru muslim mayoritas dari Jawa,  akhirnya semua muslim disebut Nak Jawa.  Walhasil,  sebutan Nak Jawa yang semula eksklusif positif,  belakangan konon telah mengandung nuansa generalisasi negatif.  Sebutan slam (Islam) yang semula bernuansa nyama (persaudaraan) sebagian bergeser ke arah kecurigaan.

Pada tataran tertentu generalisasi negatif atas kaum Muslim melalui sebutan nak Jawe ini bahkan dialami pula oleh komunitas Muslim kuno. Namun,  secara umum kampung lama Islam di Jembrana ini tetap jauh relatif lebih aman,  sebab mereka memang memiliki kaitan genealogis, kaitan kekerabatan,  dengan komunitas Hindu akibat proses kawin-mawin yang berlangsung ratusan tahun. Bravo Bali. ***.

DHURORUDIN MASHAD

Foto: beritabali.Com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: