Paris Van Java: Gersang, Berdebu, dan Macet (Tulisan 1)

Udara Bandung sangat gerah.   Keringat tidak henti membasahi tubuhku.  Deru dan debu seolah menyatu,  menjadi  “hiburan” yang sangat tidak mengenakkan bagiku,  selama  enam hari  (akhir Juni 2013) tinggal di kota ini. “Inikah yang disebut Paris Van Java ?. Hatiku bersungut-sungut.  Nuraniku kecewa.   Sebab,  sebutan itu tampaknya terlalu indah dibanding realita yang kurasa.  Dahulu mungkin benar,  dan saya yakin  akan hal itu. Tapi kini ?  tampaknya sebutan itu  menjadi terlalu berlebihan,  tentu saja menurut penilaianku.  Sebab hampir di setiap ujung jalan,  hanya kemacetan dan kemacetan yang kurasakan.  “Ini sih,  tidak jauh berbeda dengan Jakarta”,  gerutuku.

Selama tiga malam,  saya menginap  di sebuah Hotel bintang tiga di  Jati Nangor. Pilihan ini kuambil kerena dua pertimbangan: (1).  Saya ingin mengunjungi beberapa institusi pendidikan tinggi yang memang  banyak berlokasi di kawasan ini.  (2). Jati Nangor merupakan wilayah pinggiran Bandung yang berbatasan dengan kabupaten Sumedang.  Dengan posisi seperti ini,  saya menduga  wilayah ini tidak terlalu ramai, tidak macet,  dan saya bayangkan lingkungannya masih “hijau” karena  tidak akan sepadat tengah kota.

Namun,  harapanku yang  kedua buyar berantakan,  sebab kemacetan ternyata  telah menjadi  ciri khas kawasan  pinggir ini pula.  Bahkan, tepat di depan hotel  ku menginap,  kemacetan menjadi pemandangan biasa.  Ketika menikmati  istirahat sore,  setelah seharian keluyuran menyusuri  Bandung misalnya,   yang kulihat tidak lebih dari antrian panjang bus,  truk,  angkot,  dan mobil pribadi entah ke mana tujuan mereka. 

Hal yang lebih mengecewakanku adalah  suasana hijau yang ku harapkan,  sama sekali  tidak saya jumpa di lokasi pinggiran ini.  Hanya ketika mengunjungi kampus Universitas Padjajaran di Jati Nangor,  saya merasa  terhibur oleh suasana teduh pepohonan.   Namun,     ketika saya menuju kea rah sebaliknya,  yakni menuju  Ujung Berung ,  mengarah ke jalan A.H. Nasution,   gersang   luar biasa yang justru kurasakan.  Sepanjang jalan dari hotel   menuju kampus  UIN  Gunung Jati  misalnya,    sangat jarang pohon  kutemukan .   “Amat sangat”  jarang kujumpa rumah yang  halamannya di tanami pohon apalagi sampai rindang.  Begitu juga,  di sepanjang pinggir jalan yang kulalui,   pemerintah daerah sangat minim menanam pepohonan penghijauan apalagi  bisa untuk berteduh dari terpaan sinar sang surya.    Gersang.  Panas.  Debu.  Campur aduk menjadi satu.

Dalam hati saya protes pada Gubernur Ahmad Heryawan,  seorang ustadz  yang berasal dari partai Islam PKS.   Pak ustadz  tentu lebih tahu dibanding saya:  tentang  arti penting  penghijauan  menurut ajaran Islam,   tentang arti penting memelihara dan menghidupkan semesta.  Intinya adalah,  Akhlak terhadap alam dan atau lingkungan di sekitarnya sejatinya adalah bagian besar dari akhlak yang wajib dimiliki seorang Muslim, selain akhlak kepada sesama manusia.  Perlu diketahui,  dahulu,  setiap kali hendak berperang  Rasulullah SAW  -yang kemudian diikuti oleh para Khulafaur Rasyidin- senantiasa memberikan wasiat  tentang etika yang harus ditaati dalam perang, salah satunya adalah larangan untuk menebang pepohonan -kecuali untuk strategi perang (Q.S. Al-Hasyr: 5),  membunuh binatang tanpa alasan yang jelas semisal untuk dimakan, dan meracuni sumber-sumber air.   Nah,  jika dalam situasi perang saja,  tanaman tidak boleh dipotong,  lantas bagaimana dengan tanaman yang ditebangi  hanya untuk memperbanyak perumahan ? Saya yakin betul,  bahwa wilayah pinggiran Bandung ini semula teduh dengan pepohonan,  namun pembangunan perumahan yang menyebabkan kondisi berubah jadi gundul alias gersang.

Padahal,  rajin menanam  adalah akhlaq Islami,  sedangkan hobi menebang pepohonan tentu menempati posisi sebaliknya lagi.  Berkenaan dengan menanam pohon ini,  ada sebuah Hadits bahwa menanam pohon itu bukan hanya anjuran, tetapi tuntutan, yang memfaedahkan hukum wajib. ”Rasulullah SAW bersabda, sekiranya kiamat datang, sedang di tanganmu ada anak pohon kurma, maka jika dapat (terjadi) untuk tidak berlangsung kiamat itu sehingga selesai menanam tanaman, maka hendaklah dikerjakan (pekerjaan menanam itu)” (H. R. Ahmad, dari Anas bin Malik). Hadis ini menunjukkan betapa pentingnya kegiatan tanam  pohon  dalam ajaran Islam,  meskipun sudah tahu bahwa esuk hari kiamat. Subhanallah.  Dari segi kemanfaatan, mungkin kita mempertanyakan, apa gunanya menanam bibit pohon kurma, yang rentang waktu berbuahnya tahunan, padahal kiamat sudah segera datang. Jawabnya : pertama, Islam menekankan terhadap kewajiban menanam pohon setiap kali ada kesempatan, tanpa perlu mempertimbangkan bahwa manfaat dari pohon itu akan dapat dinikmati langsung oleh si penanam. Kedua,  penegasan Islam tentang pentingnya reboisasi (menanam pohon) sekalipun kesempatannya sangat terbatas, asal masih sempat, maka kita harus melakukannya.”.

”Subhanallah..”,  itulah ajaran Islam. Dalam Islam, menanam tumbuhan mengandung substansi ibadah dan pahala,  apalagi ketika tanaman memberikan hasil yang bermanfaat bagi manusia. ”Rasulullah SAW bersabda, tiadalah seseorang dari kalangan orang Islam yang menanam tanaman atau menanam (menabur) benih tanaman, kemudian burung ataupun binatang ternak memakan (buah) tanaman itu, kecuali baginya memperoleh pahala sedekah” (H.R. Bukhari, Muslim dan Tirmidzi, dari Anas).

Saya yakin,  Gubernur  (Ustadz Ahmad Heryawan Lc)  lebih mafhum dalam masalah ini dibanding saya.  Namun,  ilmu kepahaman yang tidak diamalkan tentu  menjadi ibarat pohon yang tidak ada buahnya.  Al ilmu bilaa amalin kassajari bilaa tsamarin.  Dengan  ingat kembali kepada pepatah itu,  Insya Allah pak Gubernur akan  bersemangat  untuk menghijaukan  Bandung.  Apalagi,  ketika saya berkunjung ke  Bandung,  tepat selepas Pilkada untuk Wali Kota yang juga dimenangkan calon usungan PKS.  Maka,  dengan wali kota dan dan gubernur dari partai Islam seharusnya bisa mencerminkan etika Islami termasuk dalam menjaga lingkungan seperti  reboisasi tadi.

Namun,  itu hanyalah harapan dan harapan.  Kembali pada kenyataan,  jalan yang kulalui selama tiga hari memang amat sangat jarang dengan tanaman.  Gersang. Panas. Debu.  Ditambah macet.  Semua menjadi satu,  menjadi ciri khas kota yang disebut secara bombastis sebagai Paris Van Java ini.  Quo Vadis Bandung ?***

Dhurorudin Mashad

Gambar: belantaraindonesia.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: