Wisata Budaya Ala Bandung: Saung Anglung Mang Ujo (Tulisan 2)

Siang sebenarnya sudah menjelang Sore.  Namun,  sang surya masih kuat memancarkan sinarnya.  Sengatan sinar mentari masih terasa menggigit di kulit,  menusuk di kepala.  Namun,  untuk waktu tersisa  menjelang sore ini,  rasanya terlalu sayang untuk  saya pergunakan sekedar melepas lelah.  Apalagi ini hari terakhir di Bandung,  sebab besuk siangnya saya akan balik ke Jakarta.

Memang,  berbeda dengan tiga hari sebelumnya, dimana  hari-hariku diwarnai panorama gersang wilayah Bandung  Timur,  maka ketika  pindah Hotel kawasan Cihampelas   kemasygulanku   sedikit terobati.   Karena  di sekitar kawasan ini mulai kutemukan pepohonan kota,  sehingga dapat menyejukkan  mata.   Namun,  khusus untuk soal  kemacetan,  ternyata semua tidak ada beda alias sama. Di pinggiran macet,  di tengah kota juga macet.

Di waktu sisa ini sebenarnya saya ingin sekali mengisinya dengan sebuah wisata budaya dan atau alam yang dapat menetralisir rasa penat setelah  kerja keras lima hari lamanya.  Namun ,  sayang sekali di hotel  bintang tiga  tempat ku menginap baik di  Jati Nangor maupun di Cihampelas –entahlah kalau hotel bintang empat dan bintang lima— sama sekali tak ada  informasi wisata yang kumaksud.  Yang ada informasi/peta  wisata  kuliner dan belanja saja.  Padahal saya super yakin bahwa Bandung pasti memiliki obyek wisata alam dan atau budaya ,  hanya saja  kurang diekspose alias dipromosikan termasuk melalui brosur di hotel –hotel yang ada

Barulah setelah tanya sana-sini  pada orang di luar hotel,  kutemukan informasi tentang  Saung Anglung Mang Ujo.  Mendengar info itu,  langsung saja saya meluncur ke lokasi,  tepatnya menuju  ke arah Cicaheum.  Menuju ke tempat ini tidak susah.  Kita cukup naik angkot  ke arah Cicaheum,  serta minta diturunkan ke lokasi menuju saung anglung Udjo.  Turun dari angkot   naik ojek dengan ongkos  3000 – 5.000 rupiah saja.  Jika tidak mau repot,  langsung naik taksi dari hotel menuju lokasi.

Saung anglung Udjo didirikan mendiang Udjo Ngalagena (akrab dipanggil Mang Udjo) dan istrinya,  Uum Sumiati  di tahun 1966.  Saung Udjo ini merupakan sanggar seni sekaligus s laboratorium pendidikan dan obyek wisata budaya khas Jawa Barat.  Untuk bisa menikmati seni pertunjukan ini  setiap penonton harus membayar Rp. 60.000.  Pertunjukan dilakukan secara reguler setiap hari,  pada jam 15.30 sampai 17.30 WIB.  Meskipun  tiap hari diadakan,  tetapi  jangan menyangka bahwa pertunjukan ini sepi pemirsa.  Ketika saya datang  misalnya,  kerumunan manusia dalam jumlah sangat banyak telah memadati tempat ini.  Saya nyaris tak mendapatkan tiket perseorangan,  karena semua sudah diborong oleh  pengunjung rombongan.  Sebab,  Saung Mang Udjo memang mengutamakan  pengunjung rombongan,  apalagi melalui pemesanan sebelumnya.  Namun,  Alhamdulillah akhirnya saya dapat juga,  meskipun saya  terpaksa merasa kasihan pada  sebuah keluarga (bapak-ibu-anak) yang terpaksa  gigit jari,  tak bisa mendapatkan tiket meskipun telah jauh-jauh datang ke tempat ini.

Sambil menunggu waktu pertunjukan, ku sempatkan diri menyusuri  galeri,   yang memajang  berbagai bentuk  ekonomi  kreatif (kerajinan)  tentu saja termasuk anglung sebagai ciri khas  tempat ini.  Jam 15.15  saya dipersilahkan memasuki lokasi,  tentu saja setelah semua  tamu rombongan masuk  duluan.   Ada yang bertampang bule (Eropa dan Australia),  ada yang bertampang kuning-sipit (Korea-Jepang),  dan Alhamdulillah tidak sedikit yang berkulit sawo matang alis turis domestic,  dan saya salah satunya.

Setelah pengunjuung duduk  sambil menghirup minuman segar yang disajikan ketika  masuk lokasi pertunjukan (welcome drink),   music pun  segera diperdendangkan.   Sebuah Irama yang khas segera berkumandang bertalu-talu.  Merdu.  Mata dan telinga  segera kami pasang dengan seksama.  Singkat kata,  pertunjukan dimulai.   Diawali dengan demonstrasi wayang golek versi singkat selama 15 menit,  lantas disusul panggung helaran,  berupa tetabuhan angklung dengan nada pentatonic/Salendro yang konon sebagai nada asli anglung Sunda.  Helaran konon biasa dimainkan untuk mengiringi upacara tradisional khitanan dan atau pada saat panen.

Pertunjukan  ketiga adalah Tari Topeng ,   yakni rangkaian tari gaya Parahyangan yang menceritakan Ratu Kencana Wungu yang dikejar-kejar Minak Jingga (baca: cerita Majapahit-Jawa Timur).  Tari ini lantas diikuti tari kreatif kontemporer berjudul Tari Merak,  ekspresi dari kelincahan dan keindahan burun itu.

Tampilan berikutnya adalah  pertunjukan music serba bamboo,  dimulai dari Calung (music bamboo,  memainkannya dengan dipukul),  Arumba,  Anglung Mini yang dimainkan anak-anak,  serta Anglung Pa Daeng.  Anglung Pa Daeng diciptkan oleh Daeng Soetigna di tahun 1938,  yang bisa digunakan untuk membawakan lagu-lagu daerah,  bahkan juga lagu nasional dan lagu internasisonal.

Hal paling mengesankan yang paling kurasakan adalah bermain anglung bersama,  dimana setiap pengunjung dipinjami sebuah anglung lantas diajari cara menggunakannya secara super kilat,  dan berikutnya sampai pada titik tertentu pengunjung diajak bernyayi bersama dengan iringan music anglung yang dibawa para tetamu.  Menjelang penghabisan,  Anglung orkresta  dan anglung Jaipong juga ditampilkan.  Sungguh luar biasa indahnya.

Intinya adalah sesuai nama saung anglung mang Udjo,  pertunjukan anglung memang menjadi menu utama.  Semua tampilan dikelola dengan manajemen modern,  tetapi tetap menonjol sisi-sisi humanis,  ramah,  akrab,  berpegang teguh pada sisi tradisional,   dan yang tak kalah penting keserasian dengan alam. Sekali lagi,  sungguh luar biasa.  Menurutku,  pertunjukan ini tidak kalah,  bahkan pada beberapa hal  lebih unggul,  daripada pertunjukan budaya yang pernah saya saksikan di pulau dewata alias Bali.

Tepat jam 17.30 WIB pertunjukan usai.   Rasa puas terasa mengalir,  menelusup,   meresap ke segenap relung dada.  Mataku berbinar bahagia.   Mata hari telah beranjak ke ufuk.  Merah saga membayang,  membias di angkasa.  Indah.  Mempesona.  Hati dan pikiranku juga memerah saga,  dilanda oleh pesona  tampilan budaya khas sunda.  Kabut kecewa  akibat menghadapi  kemacetan dan kegersangan   selama tinggal di tatar  Paris Van Java  akhirnya tersaput oleh  tampilan budaya yang dikelola dengan cara-cara yang luar biasa.

Bandung seharusnya tidak hanya mengandalkan satu-satunya wisata budaya Saung Anglung Mang Udjo.  Banyak potensi wisata seni-budaya lain yang jika dikelola dengan professional seperti “Mang Udjo”,  pasti akan menjadi sedemikian mempesona,   dan pasti akan sangat membludak penggemarnya.  Rumah Jaipong,   Pagelaran Suling-Kecapi,  dan lain sebagainya,  jika dikelola dengan baik lengkap,  dilakukan secara reguler,  dengan promosi  agresif (di setiap hotel bukan hanya perusahaan travel),  niscaya tataran Sunda akan  menginternasional juga pariwisatanya.  Semoga.***

Dhurorudin Mashad

Gambar: bpras.com;  aingkumaha.blogspot.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: